0

“Ia Harus Makin Besar, tetapi Aku Harus Makin Kecil”

 john3-30-1024x576

Ketika membaca ayat tersebut pada Injil Yoh 3:30, Tuhan memberikan sebuah perenungan pribadi yang sangat menyentuh hati saya. Kutipan ayat Injil tersebut adalah kata-kata yang diucapkan Yohanes Pembaptis ketika murid-muridNya bertanya kepadanya tentang Yesus. Pada waktu itu banyak orang yang menganggap bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang suci. Bahkan beberapa orang menduga bahwa mungkin Yohanes adalah Sang Mesias. Namun, alih-alih mengaku-aku sebagai Mesias dan menerima penghormatan dari orang-orang, Yohanes Pembaptis justru berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Ini adalah bukti kerendahan hati dari Yohanes Pembaptis. Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah Sang Mesias. Ia adalah seorang utusan yang bertugas ‘membuka jalan’ bagiNya. Sungguh luar biasa melihat kerendahan hati Yohanes Pembaptis!

Kalimat Yohanes Pembaptis tersebut kemudian membawa saya lebih jauh pada pemahaman dari ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil’. Kalimat ini rupanya tidak hanya berlaku bagi Yohanes Pembaptis. Bahkan, ketika saya merenungkan kalimat ini dalam hati, Roh Kudus telah memberikan hikmat bahwa kalimat itu pun berlaku untuk diri saya maupun untuk setiap dari kita para makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan-lah yang harus semakin besar. Hanya Ia yang patut ditinggikan dan dipuji. Lalu bagaimana dengan kita? Kita harus semakin kecil. Menjadi kecil bukan berarti kita menjadi orang yang tidak berarti. Saya memahami makna ‘menjadi kecil’ ini lebih pada sebuah penyangkalan diri. Continue reading

Advertisements
0

MENGIKUTI TUHAN

Selingan dulu ya…(maaf postingan wisata ke Bawean tertunda lama..masih mencari ‘mood’nya hehehe)

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah pergumulan yang mengusik hati dan pikiran saya. Saya merasa marah, sedih, kecewa, dan kesal dengan kondisi yang ada. Pikiran saya pun tidak tenang. Saya jadi mudah terpancing emosi karena kekeliruan-kekeliruan kecil dan kedamaian jiwa saya pun terusik.

Pada saat sulit seperti itu biasanya saya mencurahkan isi hati saya kepada Tuhan. Saat malam tiba, saya pun mengungkapkan betapa beratnya mengikuti Tuhan. Tuhan telah meminta banyak hal dari saya, yang mana semua itu rasa-rasanya mustahil untuk bisa saya penuhi. Ia ingin saya mengasihi tanpa batas, mengampuni tanpa batas, selalu memilih untuk melakukan yang benar dan sesuai dengan apa yang Ia ajarkan alih-alih mengedepankan kepentingan pribadi dan ego saya. Tak jarang pula Ia meminta saya untuk merendahkan diri di hadapan lawan atau orang-orang yang melakukan kesalahan kepada saya.

Sebagai manusia biasa, tentu saja hal-hal itu terasa berat dan logika saya pun terus memberontak. Saya tidak tahu mengapa permintaan-permintaan Tuhan begitu sulit. Apakah Ia ingin saya menderita? Apakah saya harus selalu berkorban seumur hidup saya?

Pada sebuah acara persekutuan doa yang saya ikuti kemarin, saya kembali diingatkan untuk hidup dengan meneladan cara hidup Tuhan Yesus. Berat memang, semua peserta pun mengakuinya. Namun, kalau saya ingat-ingat lagi ya memang seperti itulah cara hidup seorang kristiani sejati. Mungkin apa yang dilakukan seorang murid Kristus sejati akan dianggap bodoh dan lemah oleh dunia, tetapi sesungguhnya memang itulah yang diajarkan oleh Tuhan. “Apa yang lemah akan dipakai Tuhan untuk mengalahkan yang kuat. Yang bodoh akan dipakai untuk meniadakan yang berhikmat.” Sebuah intisari dari perikop dalam Alkitab yang digemakan kemarin malam membuat saya kembali tersadar: memang menjadi orang Kristen/Katolik itu sulit!

Continue reading