0

MENGIKUTI TUHAN (2)

 bible-films-christ-walking-disciples-1426507-gallery

Dalam tulisan saya sebelumnya, “Mengikuti Tuhan (1)”, saya telah menyampaikan bahwa rancangan Tuhan tidak pernah mengabaikan pilihan bebas manusia. Seperti telah saya sampaikan juga bahwa mereka yang akan menerima kebahagiaan dalam kehidupan kekal adalah mereka yang dipilihNya, mereka yang mau memikul salibnya, menyangkal dirinya, dan mengikutiNya.

Menyadari bahwa tidak mudah untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan membuat saya sempat merasa akankah saya mampu. Saya merasa saya tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu. Hati saya begitu rapuh dan mudah tersakiti. Saya mudah tersinggung dan sakit hati karena perkataan dan perlakuan orang lain kepada saya. Saya sulit mengampuni. Saya mudah merasa iri dan cemburu. Saya sering menghakimi orang lain. Saya sering merasa sombong dan memandang rendah pada diri sesama saya. Apakah saya yang seperti ini akan mampu mengikuti Tuhan? Jika Tuhan meminta ‘membaca Alkitab setiap hari’ sebagai syarat untuk mengikuti Dia, maka saya akan menyatakan dengan cukup yakin bahwa saya akan mampu melakukannya. Akan tetapi, ketika yang Dia minta adalah kemauan untuk dengan rela hati menyangkal diri, memikul salib, dan mengikutiNya…saya merasa begitu rendah diri.

Saya berkata dalam hati, “Tuhan, apakah aku akan bisa melakukannya?” Cobaan, rintangan, dan penderitaan hidup yang terbayang maupun yang telah saya alami membuat saya gentar. Saya cemas, saya takut, dan saya gelisah. Saya tidak yakin saya akan bisa memenuhi syarat yang diajukan Tuhan. Saya sadar saya berkali-kali gagal dalam ujian iman. Saya berkali-kali mengabaikan nurani saya, mengabaikan kasih dan memilih untuk mengikuti ego dan pikiran saya sendiri. Saya sering mengandalkan diri saya sendiri dan kurang mengandalkan Tuhan. Terlebih lagi, saya begitu takut bahwa saya akan mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan dan saya tidak yakin saya akan mampu menanggungnya. Namun, ketika saya mau melihat dengan lebih jujur, sebenarnya bukan masalah ‘mampu’ atau ‘tidak mampu’. Bukan masalah takut akan kemampuan dan daya tahan saya terhadap pencobaan dan ujian. Pada akhirnya, pilihannya adalah antara ‘mau’ atau ‘tidak mau’. Continue reading

0

Belajar dari Dengkuran

Ini adalah sebuah pengalaman sederhana yang saya alami pada akhir bulan Desember 2015 yang lalu. Pada waktu itu saya pulang ke kampung halaman saya untuk merayakan Natal bersama keluarga. Pada suatu malam, saya hendak berdoa malam dan membaca renungan harian untuk hari itu di dalam kamar. Saat itu kakak saya sudah tertidur pulas. Saya pun mulai berdoa di samping kakak saya yang sudah tertidur. Tak lama saya berdoa tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Rupanya kakak saya yang mendengkur. Memang kakak saya kadang-kadang mendengkur ketika tidur. Konsentrasi doa saya pun terpecah. Saya merasa terganggu dengan suara dengkuran itu. Namun, semakin saya merasa kesal dan terganggu, saya semakin tidak bisa fokus berdoa. Tiba-tiba saja saya disadarkan, “Apakah kamu ingin mengubah semua orang yang kamu anggap mengganggumu?” Begitu lembut pemikiran itu menyelinap dalam benak saya. Saya pun tersadar. Setiap orang diciptakanNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan kebiasaan dan tabiatnya masing-masing, dan dibiarkanNya berkembang dengan jalan hidup masing-masing. Apakah seumur hidup saya, saya akan memaksa orang lain untuk berubah jika saya merasa terganggu dengan mereka? Kakak saya mendengkur bukan untuk sengaja mengganggu saya. Apakah saya akan memaksanya berhenti mendengkur atau menutup mulutnya agar suara itu tak terdengar dan tidak lagi mengganggu saya?

Betapa piciknya pemikiran saya itu. Ini hanya hal sederhana: sebuah dengkuran. Bagaimana saya bisa berharap untuk hidup bersama orang lain, jika sebuah dengkuran saja begitu mengganggu saya sampai membuat saya ingin meminta kakak saya untuk berhenti mendengkur? Sungguh tidak adil apa yang saya pikirkan. Saya hanya menginginkan semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada yang mengganggu saya. Itukah cinta? Itukah kasih? Inikah sikap seseorang yang ingin menjadi serupa dengan Yesus? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus menahan diri ketika Ia disiksa dan bahkan hingga disalibkan. Bagaimana Ia mengampuni orang-orang yang menyiksaNya dan mengolok-olok Dia. Sungguh saya menyadari betapa selama ini saya telah keliru berpikir. Selama ini saya menganggap diri saya adalah orang yang baik, yang jarang sekali marah, orang yang murah hati, dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya disadarkan: mudah sekali untuk berlaku baik ketika segalanya berjalan baik. Bagaimana jika saya terus dihadapkan pada situasi yang menjengkelkan, orang-orang yang menyebalkan, kondisi hidup penuh tekanan? Masihkan saya akan bisa tersenyum dengan tulus dan berbuat baik seperti biasanya? Bisakah saya bersikap baik kepada orang-orang yang saya anggap telah menyakiti hati saya? Continue reading