0

Arem-arem di Bus

Arem-Arem-300x202dapuranda


Dalam perjalanan pulang menuju ke kampung halaman saya, saya membeli dua buah arem-arem dari penjaja makanan di bus karena saya merasa kelaparan. Arem-arem pertama saya buka dan saya makan. Wah, ternyata arem-arem ini enak juga, isinya pun banyak. Dengan harga seribu rupiah untuk setiap arem-arem saya rasa harga ini termasuk murah. Kemudian saya pun membuka arem-arem kedua. Tidak seperti dugaan dan harapan saya, arem-arem kedua ini sama sekali tidak ada isinya! Saya jadi merasa tertipu, saya seperti makan nasi putih saja. Namun kemudian sebuah pesan moral muncul dalam pikiran saya: seperti itulah hidup! Continue reading

0

Menyadari Kehadiran Tuhan

credit to artikelkristen.com

Pada masa libur Natal dan Tahun Baru yang lalu, sebuah bacaan Injil tentang orang-orang majus yang datang mencari Tuhan memberi saya sebuah bahan renungan. Jujur, saya heran mengapa ada reaksi yang sangat berbeda antara ketiga orang dari negeri yang jauh itu dengan reaksi dari para imam dan ahli taurat pada waktu itu. Aneh, karena seharusnya mereka yang berada lebih dekat dengan tempat lahirnya Sang Mesias bisa lebih mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganNya. Bukankah ini adalah kelahiran Mesias yang telah lama dinanti-nantikan? Lalu mengapa sekalipun telah mendapat petunjuk dan kabar dari orang-orang majus, masih juga tidak tampak tanda-tanda antusiasme pada diri mereka? Sungguh ironis, mereka yang dekat justru tidak menyadari dan tidak peduli dengan kelahiran Sang Juruselamat, sedangkan mereka yang berada jauh justru dengan antusias mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiranNya.

Kisah tentang orang-orang majus itu memberi teguran secara pribadi bagi saya. Saya merasa sedang diingatkan bahwa saya sendiri sering tidak menyadari kehadiranNya di sekitar saya. Setiap orang diciptakan menurut citraNya, dan itu berarti seharusnya saya bisa melihat Dia dalam diri orang-orang di sekitar saya. Pertanyaannya, sadarkah saya bahwa setiap saat saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan citra Tuhan? Setiap orang yang diciptakanNya adalah gambaran dariNya. Itu juga termasuk keluarga kita, teman-teman, sahabat, dan setiap orang yang kita jumpai setiap hari. Orang-orang di sekitar kita. Sudahkah saya menyadari bahwa Yesus hadir dalam diri setiap orang yang saya temui? Apakah saya akan mempersiapkan diri dan bersikap antusias untuk membantu dan melayani orang-orang yang saya jumpai? Atau jangan-jangan saya sama saja dengan para pemuka agama dan ahli taurat yang tidak peduli dengan kelahiran Sang Juruselamat? Apakah saya membiarkan setiap orang yang saya jumpai, bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu akan kebutuhan mereka? Continue reading

0

Belajar dari Dengkuran

Ini adalah sebuah pengalaman sederhana yang saya alami pada akhir bulan Desember 2015 yang lalu. Pada waktu itu saya pulang ke kampung halaman saya untuk merayakan Natal bersama keluarga. Pada suatu malam, saya hendak berdoa malam dan membaca renungan harian untuk hari itu di dalam kamar. Saat itu kakak saya sudah tertidur pulas. Saya pun mulai berdoa di samping kakak saya yang sudah tertidur. Tak lama saya berdoa tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Rupanya kakak saya yang mendengkur. Memang kakak saya kadang-kadang mendengkur ketika tidur. Konsentrasi doa saya pun terpecah. Saya merasa terganggu dengan suara dengkuran itu. Namun, semakin saya merasa kesal dan terganggu, saya semakin tidak bisa fokus berdoa. Tiba-tiba saja saya disadarkan, “Apakah kamu ingin mengubah semua orang yang kamu anggap mengganggumu?” Begitu lembut pemikiran itu menyelinap dalam benak saya. Saya pun tersadar. Setiap orang diciptakanNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan kebiasaan dan tabiatnya masing-masing, dan dibiarkanNya berkembang dengan jalan hidup masing-masing. Apakah seumur hidup saya, saya akan memaksa orang lain untuk berubah jika saya merasa terganggu dengan mereka? Kakak saya mendengkur bukan untuk sengaja mengganggu saya. Apakah saya akan memaksanya berhenti mendengkur atau menutup mulutnya agar suara itu tak terdengar dan tidak lagi mengganggu saya?

Betapa piciknya pemikiran saya itu. Ini hanya hal sederhana: sebuah dengkuran. Bagaimana saya bisa berharap untuk hidup bersama orang lain, jika sebuah dengkuran saja begitu mengganggu saya sampai membuat saya ingin meminta kakak saya untuk berhenti mendengkur? Sungguh tidak adil apa yang saya pikirkan. Saya hanya menginginkan semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada yang mengganggu saya. Itukah cinta? Itukah kasih? Inikah sikap seseorang yang ingin menjadi serupa dengan Yesus? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus menahan diri ketika Ia disiksa dan bahkan hingga disalibkan. Bagaimana Ia mengampuni orang-orang yang menyiksaNya dan mengolok-olok Dia. Sungguh saya menyadari betapa selama ini saya telah keliru berpikir. Selama ini saya menganggap diri saya adalah orang yang baik, yang jarang sekali marah, orang yang murah hati, dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya disadarkan: mudah sekali untuk berlaku baik ketika segalanya berjalan baik. Bagaimana jika saya terus dihadapkan pada situasi yang menjengkelkan, orang-orang yang menyebalkan, kondisi hidup penuh tekanan? Masihkan saya akan bisa tersenyum dengan tulus dan berbuat baik seperti biasanya? Bisakah saya bersikap baik kepada orang-orang yang saya anggap telah menyakiti hati saya? Continue reading

0

Awal yang Baru

Jika tanggal 1 Januari selalu dianggap istimewa oleh banyak orang karena merupakan awal dari tahun yang baru, tahun ini saya disadarkan bahwa setiap hari pun dapat menjadi sebuah awal yang baru. Saya akan mengawali refleksi ini dari pengalaman saya ketika mengikuti retret penyembuhan luka batin di Pertapaan Karmel Tumpang, Malang pada tanggal 10~13 Desember 2015 yang lalu.

Saya tidak akan menceritakan detail kegiatan yang saya ikuti, tetapi yang ingin saya bagikan adalah pengalaman ketika mengikuti retret tersebut: hal-hal yang sungguh menyentuh saya secara pribadi. Awalnya saya mengikuti retret tersebut karena saya merasa penasaran dengan retret PLB (penyembuhan luka batin) dan saya merasa sepertinya saya juga memiliki luka batin dengan beberapa orang, meskipun sampai saya mengikuti sendiri retret itu saya tidak tahu akar dari luka batin saya. Saya mengikuti setiap pengarahan dan acara dengan teratur. Pada hari ketiga saat acara ‘pertobatan’, saya benar-benar tersentak dengan apa yang disampaikan Tuhan saat itu. Selama ini saya merasa bahwa saya tidak pernah berbuat dosa yang berat. Bahkan ketika diajak untuk merenungkan dosa-dosa kami, saya berkata dalam hati, “Ah, apa sih dosaku? Paling-paling ngomongin orang, iri hati….” baru saja pikiran itu muncul dalam benak saya tiba-tiba suster yang memimpin acara tersebut berkata “Hai kamu yang suka menghakimi sesamamu, siapakah kamu sehingga kamu berhak untuk menghakimi orang lain? Siapakah kamu di hadapan Allah?” Seketika saya tersentak. Saya baru menyadari bahwa selama ini saya begitu sering menghakimi orang lain: teman-teman, keluarga, bahkan orang tua saya. Tak terasa air mata saya pun mengalir. Saya menyesali sikap saya yang sering menghakimi itu, yang selama ini saya anggap biasa saja dan sering tidak saya sadari bahwa sikap itu bisa sangat melukai orang-orang di sekitar saya. Kemudian perlahan saya dibawa kepada pemahaman bahwa ternyata sikap suka menghakimi itu berakar dari apa yang saya alami sejak saya masih anak-anak. Karena seringnya mendapat perlakuan otoriter dari papa saya, akhirnya saya terbentuk menjadi seseorang yang selalu berusaha untuk melakukan tindakan yang benar. Karena saya selalu berusaha berbuat benar, maka ketika ada orang lain yang melakukan sesuatu yang saya anggap tidak benar, saya dengan cepat akan menghakimi orang itu. Lebih jauh lagi rupanya Tuhan ingin supaya saya juga tidak menyalahkan orang tua saya atas apa yang saya alami. “Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua” itulah kalimat yang muncul dalam pikiran saya ketika saya disadarkan akan akar dari kepahitan saya. Seperti apapun orang tua saya, mereka adalah orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya hingga saya bisa menjadi diri saya seperti sekarang. Saya kembali menangis, bahkan sampai pada acara pembasuhan kaki. Saya tidak tahu kenapa air mata saya terus mengalir. Namun, bukan air mata itu yang terutama. Yang paling penting adalah munculnya sebuah kesadaran dan pemahaman baru tentang kehidupan saya. Continue reading

0

Menghormati Santa Pelindung

katarina-dari-siena2

Pada tanggal 27 September 2012 yang lalu, saya mengikuti rekoleksi Kelompok Kategorial Keuskupan Surabaya dengan tema “Ut omnes unum sint”. Rekoleksi tersebut sangat menarik dibawakan oleh Romo Benny Phang, O. Carm. Akan tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai rekoleksi itu. Saya ingin membagikan sebuah pengalaman iman pribadi yang saya alami secara tak terduga dalam rekoleksi tersebut. Hari itu Romo Benny memperkenalkan kami pada tulisan-tulisan Santa Theresia Avilla. Saya teringat bahwa Santa Theresia dari Avilla ini adalah nama santa pelindung kakak saya. ia memilih Santa Theresia dari Avilla sebagai pelindungnya ketika menerima Sakramen Baptis dulu. Pada saat Romo Benny menyampaikan bahwa Santa Theresia adalah seorang wanita yang cantik dan tegas, saya langsung teringat karakter kakak saya juga yang tegas dan keras sekali kemauannya.

Kemudian Romo Benny juga mengatakan bahwa Santa Theresia adalah salah satu dari tiga orang wanita yang merupakan Doktor Gereja. Para “Doktor Gereja” ini adalah para tokoh yang banyak membuat tulisan-tulisan bagi Gereja. Ketika Romo Benny mengatakan ada tiga orang wanita yang menjadi Doktor Gereja, entah kenapa tiba-tiba jantung saya berdegup lebih kencang. Saya tiba-tiba saja teringat santa pelindung saya yang saya pilih ketika saya menerima Sakramen Krisma, yaitu Santa Katarina dari Siena. Ternyata benar, Romo Benny mengatakan bahwa Santa Katarina dari Siena adalah salah satu perempuan yang menjadi Doktor Gereja. Seketika saya merasa sangat kaget.

Selama ini saya sering menuliskan pengalaman-pengalaman rohani saya maupun resensi buku-buku rohani dan buku motivasi yang telah saya baca. Banyak teman saya yang memuji tulisan-tulisan saya itu dan puji Tuhan kumpulan tulisan saya itu juga telah diterbitkan menjadi sebuah buku. Jujur, selama ini saya bisa dibilang kurang menghormati santa-santa pelindung saya. Meski setiap mengakhiri doa saya selalu memohon doa dan perlindungan dari Santa Elisabeth dan Santa Katarina dari Siena, tetapi saya merasa itu hanya terucap saja. Saya juga tidak merayakan hari peringatan santa-santa pelindung saya. Riwayat santa pelindung yang saya ingat pun samar-samar. Saya hanya ingat Santa Katarina dari Siena adalah seorang biarawati yang mendamaikan raja-raja dan para uskup Gereja pada waktu terjadi banyak pertikaian. Continue reading

0

MEDITASI: METODE MELEPASKAN UNTUK MENCAPAI KEDAMAIAN

Jpeg

 

  1. Judul buku                : Bukan Siapa Siapa
  2. Penulis                     : Ajahn Brahm
  3. Penerjemah              : Tasfan Santacitta
  4. Nama penerbit          : Awareness Publication
  5. Cetakan/tahun terbit  : I / Februari 2013
  6. Jumlah halaman        : 220 halaman
  7. Dimensi                    : 140 mm x 210 mm

Apakah Anda pernah merasa lelah dengan semua kekecewaan, penderitaan, hingar bingar dan kesenangan duniawi yang ada di sekitar Anda? Semakin berkembangnya zaman membuat dunia seolah bergerak semakin cepat. Hal ini menyebabkan pikiran dan jiwa kita pun seolah harus mengikuti pergerakan zaman yang semakin cepat itu. Kondisi seperti ini seringkali membuat kita kehilangan kesadaran terhadap kehidupan itu sendiri dan bahkan hilangnya kesadaran terhadap diri sendiri. Kita terlalu larut dalam hiruk pikuk dan kesibukan dunia sehingga rasanya begitu sulit menghadapi saat hening sejenak saja. Berdiam diri sejenak saja menimbulkan perasaan aneh dan tak nyaman yang membuat kita selalu  haus akan kegiatan, haus akan kesibukan, dan haus akan orang atau benda yang dapat membuat diri kita menghindari saat-saat hening dan sepi.

Kesadaran bahwa hidup seharusnya tidak perlu bergerak begitu cepat mengikuti arus dunia dan bahwa hakikat kita sebagai manusia dan makhluk ciptaan Ilahi justru dapat disadari dalam keheningan menjadi kerinduan yang perlu kita tumbuhkan kembali dari tidur. Ajahn Brahm dalam buku Bukan Siapa Siapa mengajak pembaca untuk lebih mengenal dan menghayati momen meditasi. Meditasi dipandang sebagai satu-satunya jalan keheningan untuk membawa manusia menemukan pencerahan. Meditasi akan membantu seseorang untuk lebih mampu menghadapi kehidupan yang seringkali semakin semrawut. Meditasi menjadi latihan yang sangat baik untuk membantu orang melepaskan apa saja yang melekati hati dan pikirannya. Meditasi adalah satu-satunya jalan untuk menemukan kesatuan alami manusia dengan alam semesta. Continue reading

0

MENJADI DIBERKATI SECARA RADIKAL

Jpeg

 

  1. Judul buku                : How to Be a Blessing Magnet
  2. Penulis                     : Bo Sanchez
  3. Penerjemah              : Sianita Widjaya
  4. Nama penerbit          : Fiat Lux Publishing
  5. Cetakan/tahun terbit  : I / Juli 2015
  6. Jumlah halaman        : 153 halaman
  7. Dimensi                    : 128 mm x 176 mm

“Tidak ada kekurangan berkat di alam semesta Tuhan”. Mengingat kalimat ini jauh lebih mudah daripada mempercayainya. Meskipun sebenarnya kita telah menerima berkat Tuhan setiap hari dan kesaksian dari orang-orang di sekitar kita pun kerap kali mengingatkan bahwa berkat Tuhan itu berlimpah, hati kecil kita seringkali skeptis dan sulit untuk mempercayainya, terlebih ketika persoalan hidup begitu berat mendera.

Bo Sanchez, pewarta awam dan pengusaha dari Filipina, mencoba memberikan penjelasan dan pemahaman yang baru bahwa berkat yang disediakan Tuhan bagi kita benar-benar melimpah dan kita bahkan bisa menarik berkat-berkat itu untuk datang kepada kita. Bahkan bukan hanya diri kita, kita juga bisa menarik berkat-berkat itu untuk orang lain!

Dengan pemaparan yang menarik diselingi humor-humor ringan khas Bo Sanchez, buku How to Be a Blessing Magnet mengajak setiap pembacanya untuk menyadari bahwa berkat itu tersedia dan kita bisa menerima semua berkat itu. Halangan untuk menerima berkat tidak berasal dari Tuhan. Tuhan telah menyediakannya—berkat-berkat itu—secara berlimpah. Hanya bagaimanakah sikap kita dalam menanggapi ketersediaan berkat yang melimpah itu? Bo Sanchez tidak mengajak pembacanya untuk mengikuti teologi kemakmuran—bahwa dengan percaya dan mengikuti Tuhan, hidup kita pasti sejahtera—tetapi ia memaparkan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menerima berkat-berkat itu, serta hal-hal yang menghalangi kita untuk menerimanya.

Di dalam delapan langkah praktis yang dijelaskan dengan singkat, padat, dan mengena, pembaca diajak untuk mengubah pemikiran lama yang acuh tak acuh terhadap berkat. Bersyukur atas berkat di masa lalu dan masa depan, mencari luka untuk menemukan keinginan kita, menciptakan mukjizat kita, percaya bahwa semua hal akan baik adanya, melihat kegagalan bukan sebagai penolakan melainkan sebagai arah yang baru, tetap melangkah maju, dan mengharapkan masa depan yang indah menjadi delapan langkah praktis yang ditawarkan Bo Sanchez untuk mengubah diri kita menjadi magnet-magnet berkat. Memang butuh usaha dan melakukan apa yang dituliskan Bo tidak semudah menyelesaikan membaca buku ini. namun, Bo Sanchez telah membagikan pengalamannya untuk membuat orang-orang terberkati secara radikal. Continue reading