0

Bersabarlah…

Tulisan ini dikutip dari renungan hari kedelapan dari buku Ketenteraman Sejati (30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual: Thomas a Kempis)

IMG_20160904_151148

Bila kita tidak bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita sendiri atau pada orang lain, kita wajib bersabar, sampai Tuhan memutuskan lain.

Hendaklah kita ingat bahwa barangkali lebih baik demikian, untuk mencoba dan melatih kesabaran kita.

Sebab, tanpa pencobaan-pencobaan serupa itu, jasa-jasa kita tidak seberapa artinya. Marilah kita berusaha supaya kita tetap sabar dalam menghadapi kekurangan dan kelemahan orang lain sebab orang-orang lain juga ikut menderita karena kekurangan-kekurangan kita yang banyak junlahnya.

Apabila kita tidak mampu mengubah diri kita sesuai dengan kehendak kita sendiri, bagaimana kita dapat menginginkan supaya orang lain berubah sifatnya seperti yang kita kehendaki?

Kita menginginkan supaya orang-orang lain sempurna, tetapi kita sendiri tidak bersedia membuang kekurangan-kekurangan kita.

Kita mengharapkan supaya orang lain ditegur dengan keras, tetapi kita sendiri tidak mau ditegur. Continue reading

Advertisements
0

Meditasi untuk Mempertajam Kesadaran (Awareness)

Hai! Wah rasanya sudah lama sekali saya tidak memposting apa pun di blog ini ya hehehe. Memang sudah sekitar satu tahun ini saya vakum dari dunia blogger karena satu dan lain hal. Bukan berarti tidak ada sesuatu yang ingin dibagikan selama setahun kemarin…justru sebenarnya banyak yang ingin saya sharingkan, namun saya mulai menyadari juga beberapa hal yang membuat saya lebih selektif dan akhirnya memutuskan untuk vakum dulu dari menulis blog.

Tahun 2016 hingga saat ini adalah saat-saat penuh berkat, perjuangan, tantangan, dan penuh kasih dalam hidup saya, sama seperti tahun-tahun yang telah saya alami selama ini. Bukankah pada dasarnya kehidupan pun seperti itu, selalu berubah dari saat ke saat. Namun tentu saja setiap waktu memiliki kenangan tersendiri. Pun di tahun 2016 hingga saat ini saya banyak belajar dan disadarkan akan hal-hal yang masih harus saya perhatikan, saya koreksi dan saya terima sebagai bagian dari kehidupan saya. Seorang kudus dari gereja Katolik, Santa Theresia Avilla berkata, “Terkadang jiwa diizinkan untuk jatuh supaya ia menjadi lebih rendah hati.” Kutipan ini saya rasakan sungguh pas dengan banyak hal yang saya alami dalam kehidupan saya beberapa waktu terakhir. Semua tantangan, cobaan, juga kelemahan dalam diri saya yang ada dan selama ini saya tutup-tutupi ternyata akhirnya terkuak juga. Meski saya seringkali sedih dengan keadaan diri saya yang ternyata lemah—seperti semua orang yang juga punya kelemahan—tetapi di sisi lain hal ini membawa sebuah pembebasan untuk hati saya: saya pun tidak sempurna. Karena saya lemah, maka saya butuh Tuhan yang akan menguatkan saya. Setiap kelemahan, ketidaksempurnaan, kelalaian, dan ketidakmampuan saya mengendalikan diri dan melakukan hal yang baik dan benar dalam beberapa kesempatan membuat saya semakin rendah hati, dan untuk itu saya harus meminta maaf sedalam-dalamnya untuk siapa pun yang baik secara sadar maupun tidak, telah terlukai akibat ketidaksempurnaan saya.

Nah kembali ke topik..apa hubungannya uraian di atas dengan judul tulisan saya kali ini?

Hari Jumat yang lalu tanggal 28 April hingga hari Senin, 1 Mei 2017 saya mengikuti retret meditasi di Wisma retret Dharmaningsih, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Retret meditasi lintas agama yang dipimpin oleh Rm. Sudrijanta, SJ ini adalah retret meditasi pertama yang saya ikuti. Sebelumnya, saya lebih sering mengikuti retret di Tumpang yang bernuansa karmelit.

Pengalaman pertama mengikuti retret ini sangat menarik, membuat saya menyadari banyak hal. Dari sisi akomodasi bagi saya tidak ada masalah. Tempat retret sangat nyaman, masakannya juga enak. Satu kamar diisi oleh satu orang untuk mendukung proses retret yang berjalan silensium (tanpa bicara) selama empat hari dan tiga malam ini. Continue reading

0

MENGIKUTI TUHAN (2)

 bible-films-christ-walking-disciples-1426507-gallery

Dalam tulisan saya sebelumnya, “Mengikuti Tuhan (1)”, saya telah menyampaikan bahwa rancangan Tuhan tidak pernah mengabaikan pilihan bebas manusia. Seperti telah saya sampaikan juga bahwa mereka yang akan menerima kebahagiaan dalam kehidupan kekal adalah mereka yang dipilihNya, mereka yang mau memikul salibnya, menyangkal dirinya, dan mengikutiNya.

Menyadari bahwa tidak mudah untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan membuat saya sempat merasa akankah saya mampu. Saya merasa saya tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu. Hati saya begitu rapuh dan mudah tersakiti. Saya mudah tersinggung dan sakit hati karena perkataan dan perlakuan orang lain kepada saya. Saya sulit mengampuni. Saya mudah merasa iri dan cemburu. Saya sering menghakimi orang lain. Saya sering merasa sombong dan memandang rendah pada diri sesama saya. Apakah saya yang seperti ini akan mampu mengikuti Tuhan? Jika Tuhan meminta ‘membaca Alkitab setiap hari’ sebagai syarat untuk mengikuti Dia, maka saya akan menyatakan dengan cukup yakin bahwa saya akan mampu melakukannya. Akan tetapi, ketika yang Dia minta adalah kemauan untuk dengan rela hati menyangkal diri, memikul salib, dan mengikutiNya…saya merasa begitu rendah diri.

Saya berkata dalam hati, “Tuhan, apakah aku akan bisa melakukannya?” Cobaan, rintangan, dan penderitaan hidup yang terbayang maupun yang telah saya alami membuat saya gentar. Saya cemas, saya takut, dan saya gelisah. Saya tidak yakin saya akan bisa memenuhi syarat yang diajukan Tuhan. Saya sadar saya berkali-kali gagal dalam ujian iman. Saya berkali-kali mengabaikan nurani saya, mengabaikan kasih dan memilih untuk mengikuti ego dan pikiran saya sendiri. Saya sering mengandalkan diri saya sendiri dan kurang mengandalkan Tuhan. Terlebih lagi, saya begitu takut bahwa saya akan mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan dan saya tidak yakin saya akan mampu menanggungnya. Namun, ketika saya mau melihat dengan lebih jujur, sebenarnya bukan masalah ‘mampu’ atau ‘tidak mampu’. Bukan masalah takut akan kemampuan dan daya tahan saya terhadap pencobaan dan ujian. Pada akhirnya, pilihannya adalah antara ‘mau’ atau ‘tidak mau’. Continue reading

0

MENGIKUTI TUHAN (1)

Jesus-calls-disciples-500x332

Selama beberapa waktu terakhir, saya merasa sedang diuji dengan sebuah pertanyaan, “Maukah kamu mengikuti Aku (Tuhan)?” Sebuah pertanyaan yang mungkin akan dengan mudah saya jawab, “Tentu saja!” Sebuah pertanyaan yang mungkin dulu tidak pernah saya pikirkan dengan sungguh-sungguh dan mendalam seperti sekarang.

Beberapa hari yang lalu saat saya berefleksi sebelum tidur, tiba-tiba saya diantar kepada sebuah kesadaran, kenyataan, dan sebuah kebenaran tentang arti dari mengikuti Tuhan. Tuhan Yesus pernah berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” (Yoh 15:16). Fakta bahwa hingga saat ini saya masih menjadi seorang kristiani adalah sebuah kenyataan yang sangat saya syukuri. Terlepas dari pandangan orang lain, bagi saya menjadi seorang Kristen adalah sebuah rahmat. Meskipun saya memilih untuk dibaptis secara Katolik, tetapi setiap kali membaca ayat Yoh 15:16 tersebut saya diingatkan bahwa sebenarnya Tuhan-lah yang memilih saya. Sungguh, betapa saya sangat bersyukur karena Allah yang Mahabaik itu telah memilih saya menjadi salah satu pengikutnya. Namun, kemudian saya pun sadar bahwa menjadi anak-anak pilihan Allah tidak serta merta memastikan saya akan hidup kudus dan suci. Mengakui diri sebagai pengikut Kristus tidak secara otomatis membuat saya bebas dari dosa dan kelemahan, dari pencobaan dan penderitaan. Bahkan, Tuhan Yesus justru mengatakan kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24).

Pada awalnya, kebanggaan diri sebagai pengikut Kristus meluap dalam diri saya. Mengetahui rupa-rupa karunia dan kebahagiaan kekal yang dijanjikanNya bagi orang-orang yang mengikutiNya sempat membuat saya berpikir bahwa saya pun secara otomatis pasti akan menerima semuanya itu. Saya sudah dibaptis, saya rajin beribadah, berdoa, membaca Kitab Suci, saya juga hampir tidak pernah melewatkan perayaan Ekaristi setiap minggu. Semua hal yang saya anggap sebagai ‘syarat-syarat’ untuk menerima rahmat Allah yang kekal telah saya lakukan dan usahakan dengan sebaik-baiknya. Namun, hati saya selalu gundah ketika saya membaca ayat dalam Mat 16:24. Setiap kali saya membacanya, saya merasa gelisah dan takut. Saya berpikir, “Apakah Tuhan ingin saya menderita?” Bayangan bahwa saya harus memikul salib dan menyangkal diri begitu menakutkan. Saya merasa takut dan bahkan menghindari kebenaran yang disampaikan dalam firman tersebut. Kemudian saya pun kembali menghibur diri dengan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa, “Toh saya sudah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Saya tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Saya tidak perlu khawatir, pasti saya akan menerima janji Tuhan.” Continue reading

0

“Ia adalah Pendusta”

a13500ecd7a050433e9d24a9422ba181

Renungan ini saya peroleh pada tanggal 14 Januari 2016. Entah mengapa saya sengaja menuliskan tanggal tersebut dalam catatan refleksi saya. Sayangnya, saya tidak ingat peristiwa apa yang mengawali munculnya renungan ini. Akan tetapi, apa pun peristiwa yang mengawali atau memicunya, yang lebih penting adalah isi renungan itu sendiri, bukan?

Ayat Alkitab yang mendasari renungan ini adalah 1 Yohanes 4:20: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Perikop pada surat Santo Yohanes Penginjil ini adalah tentang kasih. Judul perikopnya pun jelas: Allah adalah kasih. Mengapa ayat ini begitu berkesan buat saya? Jawabannya adalah karena hati saya terasa tertusuk ketika membaca ayat tersebut. Saya bersyukur karena semakin hari hati saya semakin terbuka untuk mengakui kelemahan-kelemahan saya. Salah satu kelemahan saya yang beberapa kali sudah pernah saya ungkapkan adalah saya sulit memaafkan. Ketika seseorang melukai hati saya, saya bisa jadi membenci orang itu. Apa pun yang dilakukannya tidak akan membuat saya terkesan. Saya akan menganggapnya orang yang jahat dan membencinya. Mungkin saya bisa berkata bahwa saya memaafkannya—dan mungkin saya memang memaafkan kesalahannya—tetapi jauh dalam hati saya, saya tidak bisa mengasihi orang itu sama seperti sebelumnya (sebelum saya merasa tersakiti olehnya).

Saya tidak mengalami hal ini sekali atau dua kali, dengan seorang atau dua orang. Jujur saja, saya cukup sering mengalami hal ini. Saya bisa menjadi orang yang sangat mudah berbelas kasih, tetapi saya juga bisa menjadi orang yang sangat mudah mendendam. Saya sadar bahwa hal itu tidak baik. Saya sadar dan tahu bahwa menyimpan kesalahan orang dan menyimpan rasa sakit hati hanya akan menyakiti diri saya sendiri. Namun, selalu ada pemberontakan dalam hati saya yang berkata, “Bukankah orang itu juga harus belajar untuk mengasihi saya?” Kalimat penyangkalan seperti itu seringkali muncul dan membuat saya sulit untuk memaafkan. Maka ketika membaca ayat 1 Yoh 4:20 itu, saya benar-benar merasa sedang ditegur oleh Tuhan. Rupanya kebencian saya kepada beberapa orang merupakan sebuah tanda dan bukti bahwa saya mungkin tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Continue reading

0

“Ia Harus Makin Besar, tetapi Aku Harus Makin Kecil”

 john3-30-1024x576

Ketika membaca ayat tersebut pada Injil Yoh 3:30, Tuhan memberikan sebuah perenungan pribadi yang sangat menyentuh hati saya. Kutipan ayat Injil tersebut adalah kata-kata yang diucapkan Yohanes Pembaptis ketika murid-muridNya bertanya kepadanya tentang Yesus. Pada waktu itu banyak orang yang menganggap bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang suci. Bahkan beberapa orang menduga bahwa mungkin Yohanes adalah Sang Mesias. Namun, alih-alih mengaku-aku sebagai Mesias dan menerima penghormatan dari orang-orang, Yohanes Pembaptis justru berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Ini adalah bukti kerendahan hati dari Yohanes Pembaptis. Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah Sang Mesias. Ia adalah seorang utusan yang bertugas ‘membuka jalan’ bagiNya. Sungguh luar biasa melihat kerendahan hati Yohanes Pembaptis!

Kalimat Yohanes Pembaptis tersebut kemudian membawa saya lebih jauh pada pemahaman dari ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil’. Kalimat ini rupanya tidak hanya berlaku bagi Yohanes Pembaptis. Bahkan, ketika saya merenungkan kalimat ini dalam hati, Roh Kudus telah memberikan hikmat bahwa kalimat itu pun berlaku untuk diri saya maupun untuk setiap dari kita para makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan-lah yang harus semakin besar. Hanya Ia yang patut ditinggikan dan dipuji. Lalu bagaimana dengan kita? Kita harus semakin kecil. Menjadi kecil bukan berarti kita menjadi orang yang tidak berarti. Saya memahami makna ‘menjadi kecil’ ini lebih pada sebuah penyangkalan diri. Continue reading

0

Arem-arem di Bus

Arem-Arem-300x202dapuranda


Dalam perjalanan pulang menuju ke kampung halaman saya, saya membeli dua buah arem-arem dari penjaja makanan di bus karena saya merasa kelaparan. Arem-arem pertama saya buka dan saya makan. Wah, ternyata arem-arem ini enak juga, isinya pun banyak. Dengan harga seribu rupiah untuk setiap arem-arem saya rasa harga ini termasuk murah. Kemudian saya pun membuka arem-arem kedua. Tidak seperti dugaan dan harapan saya, arem-arem kedua ini sama sekali tidak ada isinya! Saya jadi merasa tertipu, saya seperti makan nasi putih saja. Namun kemudian sebuah pesan moral muncul dalam pikiran saya: seperti itulah hidup! Continue reading