MENGIKUTI TUHAN (1)

Jesus-calls-disciples-500x332

Selama beberapa waktu terakhir, saya merasa sedang diuji dengan sebuah pertanyaan, “Maukah kamu mengikuti Aku (Tuhan)?” Sebuah pertanyaan yang mungkin akan dengan mudah saya jawab, “Tentu saja!” Sebuah pertanyaan yang mungkin dulu tidak pernah saya pikirkan dengan sungguh-sungguh dan mendalam seperti sekarang.

Beberapa hari yang lalu saat saya berefleksi sebelum tidur, tiba-tiba saya diantar kepada sebuah kesadaran, kenyataan, dan sebuah kebenaran tentang arti dari mengikuti Tuhan. Tuhan Yesus pernah berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” (Yoh 15:16). Fakta bahwa hingga saat ini saya masih menjadi seorang kristiani adalah sebuah kenyataan yang sangat saya syukuri. Terlepas dari pandangan orang lain, bagi saya menjadi seorang Kristen adalah sebuah rahmat. Meskipun saya memilih untuk dibaptis secara Katolik, tetapi setiap kali membaca ayat Yoh 15:16 tersebut saya diingatkan bahwa sebenarnya Tuhan-lah yang memilih saya. Sungguh, betapa saya sangat bersyukur karena Allah yang Mahabaik itu telah memilih saya menjadi salah satu pengikutnya. Namun, kemudian saya pun sadar bahwa menjadi anak-anak pilihan Allah tidak serta merta memastikan saya akan hidup kudus dan suci. Mengakui diri sebagai pengikut Kristus tidak secara otomatis membuat saya bebas dari dosa dan kelemahan, dari pencobaan dan penderitaan. Bahkan, Tuhan Yesus justru mengatakan kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24).

Pada awalnya, kebanggaan diri sebagai pengikut Kristus meluap dalam diri saya. Mengetahui rupa-rupa karunia dan kebahagiaan kekal yang dijanjikanNya bagi orang-orang yang mengikutiNya sempat membuat saya berpikir bahwa saya pun secara otomatis pasti akan menerima semuanya itu. Saya sudah dibaptis, saya rajin beribadah, berdoa, membaca Kitab Suci, saya juga hampir tidak pernah melewatkan perayaan Ekaristi setiap minggu. Semua hal yang saya anggap sebagai ‘syarat-syarat’ untuk menerima rahmat Allah yang kekal telah saya lakukan dan usahakan dengan sebaik-baiknya. Namun, hati saya selalu gundah ketika saya membaca ayat dalam Mat 16:24. Setiap kali saya membacanya, saya merasa gelisah dan takut. Saya berpikir, “Apakah Tuhan ingin saya menderita?” Bayangan bahwa saya harus memikul salib dan menyangkal diri begitu menakutkan. Saya merasa takut dan bahkan menghindari kebenaran yang disampaikan dalam firman tersebut. Kemudian saya pun kembali menghibur diri dengan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa, “Toh saya sudah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Saya tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Saya tidak perlu khawatir, pasti saya akan menerima janji Tuhan.”

Butuh bertahun-tahun untuk menempa diri saya dan terlebih berkat kasih karuniaNya, Tuhan perlahan membuka pikiran saya. “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:14). Kalimat itu diucapkan Yesus ketika Ia menceritakan perumpamaan tentang perjamuan kawin. Dalam kisah itu, diceritakan bagaimana seorang raja mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia mengutus hamba-hambanya untuk mengundang banyak orang, tetapi orang-orang yang diundang itu justru tidak mau datang. Akhirnya Ia menyuruh hamba-hambanya untuk mengundang setiap orang yang mereka jumpai di jalan, siapa pun yang mau datang ke perjamuan itu. Dari orang-orang yang datang ke pesta itu pun ternyata ada orang yang tidak berpakaian pesta dan akhirnya ia pun dihukum.

Ketika merenungkan kembali rentetan ayat dari Injil Yoh 15:16, dimana Tuhan sendiri berkata bahwa Ia yang memilih umatNya, Mat 16:24, dimana Tuhan berkata bahwa siapa yang mau mengikutiNya harus mau memikul salib dan menyangkal diri, kemudian dilanjutkan dengan ayat dari Mat 22:14 dimana Tuhan berkata bahwa banyak orang yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilihnya…saya mulai menyadari bahwa rancangan Tuhan sungguh tidak pernah mengabaikan peran dan pilihan bebas kita. Saya memang telah terpanggil untuk menjadi pengikut Kristus. Tidak ada seorang pun yang memaksa saya untuk dibaptis. Semua itu adalah pilihan saya dan ketetapan hati saya untuk tetap menjadi orang Kristen hingga saat ini pun saya anggap sebagai sebuah rahmat dari Allah. Lalu saya disadarkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati, saya harus mau memikul salib, menyangkal diri, dan mengikutiNya. Mengenai penyangkalan diri telah saya bahas dalam tulisan saya sebelumnya, sedangkan memikul salib bisa diartikan memikul beban hidup dan penderitaan dengan rela. Pada akhirnya, hanya mereka yang benar-benar mau menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan saja yang akan benar-benar dipilih untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan kekal.

Mengikuti Tuhan berarti mau dengan rela hati dan rendah hati menaati semua perintahNya, semua ajaranNya, dan dengan rendah hati mau menerima segala yang dibiarkanNya terjadi dalam hidup saya karena keyakinan bahwa semua itu adalah bagian dari penyelenggaraan Ilahi. Mengikuti Tuhan berarti mau menjadi muridNya. Seorang murid akan mengikuti teladan dan cara hidup gurunya. Meneladan Tuhan Yesus berarti meneladan cara hidupNya, cara pandangNya, dan semua yang dinyatakanNya. Romo Daniel Manik dalam renungan harian yang ditampilkan di e-Katolik: Daily Fresh Juice yang saya dengarkan tadi pagi mengatakan, “Banyak orang menjadi Kristen, tetapi sedikit yang mau memutuskan untuk menjadi murid Tuhan Yesus.” Renungan ini semakin memperkuat saya bahwa apa yang disampaikan Tuhan dalam refleksi saya sejak beberapa waktu yang lalu sungguh nyata dan benar adanya.

Bersambung ke Mengikuti Tuhan (2)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s