“Ia adalah Pendusta”

a13500ecd7a050433e9d24a9422ba181

Renungan ini saya peroleh pada tanggal 14 Januari 2016. Entah mengapa saya sengaja menuliskan tanggal tersebut dalam catatan refleksi saya. Sayangnya, saya tidak ingat peristiwa apa yang mengawali munculnya renungan ini. Akan tetapi, apa pun peristiwa yang mengawali atau memicunya, yang lebih penting adalah isi renungan itu sendiri, bukan?

Ayat Alkitab yang mendasari renungan ini adalah 1 Yohanes 4:20: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Perikop pada surat Santo Yohanes Penginjil ini adalah tentang kasih. Judul perikopnya pun jelas: Allah adalah kasih. Mengapa ayat ini begitu berkesan buat saya? Jawabannya adalah karena hati saya terasa tertusuk ketika membaca ayat tersebut. Saya bersyukur karena semakin hari hati saya semakin terbuka untuk mengakui kelemahan-kelemahan saya. Salah satu kelemahan saya yang beberapa kali sudah pernah saya ungkapkan adalah saya sulit memaafkan. Ketika seseorang melukai hati saya, saya bisa jadi membenci orang itu. Apa pun yang dilakukannya tidak akan membuat saya terkesan. Saya akan menganggapnya orang yang jahat dan membencinya. Mungkin saya bisa berkata bahwa saya memaafkannya—dan mungkin saya memang memaafkan kesalahannya—tetapi jauh dalam hati saya, saya tidak bisa mengasihi orang itu sama seperti sebelumnya (sebelum saya merasa tersakiti olehnya).

Saya tidak mengalami hal ini sekali atau dua kali, dengan seorang atau dua orang. Jujur saja, saya cukup sering mengalami hal ini. Saya bisa menjadi orang yang sangat mudah berbelas kasih, tetapi saya juga bisa menjadi orang yang sangat mudah mendendam. Saya sadar bahwa hal itu tidak baik. Saya sadar dan tahu bahwa menyimpan kesalahan orang dan menyimpan rasa sakit hati hanya akan menyakiti diri saya sendiri. Namun, selalu ada pemberontakan dalam hati saya yang berkata, “Bukankah orang itu juga harus belajar untuk mengasihi saya?” Kalimat penyangkalan seperti itu seringkali muncul dan membuat saya sulit untuk memaafkan. Maka ketika membaca ayat 1 Yoh 4:20 itu, saya benar-benar merasa sedang ditegur oleh Tuhan. Rupanya kebencian saya kepada beberapa orang merupakan sebuah tanda dan bukti bahwa saya mungkin tidak benar-benar mengasihi Tuhan.

Jika kita mencermati kalimat dalam 1 Yoh 4:20 tadi, secara logika kita pun dapat membenarkannya. Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi sesuatu yang kita lihat, jika terhadap apa yang bisa kita lihat saja kita tidak bisa mengasihi? Bagaimana saya bisa memastikan saya akan bisa bekerja dengan baik di perusahaan yang lebih besar, jika dalam pekerjaan sehari-hari saya saja belum mampu memberikan yang terbaik? Bagaimana saya bisa menjadi seorang perawat, jika merawat diri sendiri saja saya tidak mampu? Bagaimana saya bisa berkata saya akan menjadi seorang yang pemaaf, jika saat ini saya masih sulit mengampuni? Bagaimana saya bisa berkata bahwa saya mengasihi Tuhan, jika saat ini saya masih sulit mengasihi orang-orang di sekitar saya?

Sebuah pernyataan yang sangat logis dan masuk akal. Kita tidak akan mampu melakukan sesuatu di masa depan jika kita belum mampu melakukannya sekarang. Butuh latihan, proses, dan tentu saja waktu untuk memampukan kita melakukan sesuatu. Mengasihi Allah bukanlah sebuah angan-angan. Mengasihi Tuhan adalah sebuah kerinduan. Disadari atau tidak, ada kerinduan dalam hati kita untuk menyenangkanNya. Akan tetapi, kerinduan itu seringkali kalah oleh berbagai godaan, dosa, dan kelemahan kita.

Saya secara pribadi mengimani bahwa Tuhan tidak ingin saya setengah-setengah dalam mengasihiNya. Dalam firman Tuhan tidak pernah dikatakan, “Barangsiapa mengasihi seribu orang dan hanya membenci sepuluh orang, ia tetap dikatakan mengasihi Tuhan.” Tuhan tidak pernah bicara soal jumlah. Apa yang disampaikan dalam firman Tuhan sudah sangat jelas: barang siapa berkata bahwa ia mengasihi Allah tetapi ia membenci saudaranya, maka orang itu adalah pendusta. Seorang pendusta. Bayangkan, siapa sih yang suka disebut sebagai pendusta? Saya rasa tidak ada orang yang suka disebut sebagai pendusta, walaupun kenyataannya banyak di antara kita yang merupakan pendusta. Saya mengakui bahwa saya masih sering bersifat munafik dan menjadi salah satu ‘pendusta’. Saya rajin mengikuti ibadah di gereja, mengikuti komunitas dan retret, membaca Alkitab, berdoa secara teratur, dan melakukan hal-hal yang dipandang baik. Namun, itu semua tidak menjamin bahwa saya sungguh-sungguh mengasihi Allah. Itu semua tidak menjadi bukti konkret bahwa saya mengasihi sesama saya. Tuhan tidak mewajibkan saya untuk melakukan hal-hal lain selain MENGASIHI. Itu saja cukup.

Jujur, mengasihi orang lain bisa jadi sangat mudah dan bisa jadi sangat sulit. Ketika kita dihadapkan pada orang-orang yang menerima diri kita, berbuat baik kepada kita, dan mau menolong kita tentu akan mudah mengasihi mereka. Akan tetapi, ketika kita dihadapkan pada orang-orang yang menolak kita, membuat kita merasa sakit hati, mengucapkan kata-kata yang merendahkan diri kita, melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita, suka mencari kesalahan kita, mengkritik kita, berlaku sewenang-wenang kepada kita, menempatkan kita pada posisi yang sulit, mudahkah kita mengasihi mereka? Atau seandainya orang-orang yang sebelumnya kita kenal baik dan kemudian berubah menjadi menjengkelkan dan menyusahkan hati kita, masihkah mudah bagi kita untuk mengasihi mereka?

Saya masih sering gagal dalam ujian kasih. Saya masih sering mudah untuk membenci orang-orang yang menyakiti hati saya. Namun seperti yang sudah-sudah dan selalu terjadi, Tuhan tidak pernah berhenti untuk percaya kepada saya. Meski telah seirng gagal dan jatuh, Tuhan tetap membantu saya untuk bangkit. Ia menyadarkan saya bahwa mengasihi seseorang bukan hanya terkait dengan perasaan. Mengasihi adalah sebuah keputusan dan tindakan. Kita bisa jadi tidak menyukai seseorang, tetapi kita sangat mungkin untuk mengasihi orang itu. Kasih tidak ada kaitannya dengan suka atau tidak suka. Kasih lebih besar daripada perasaan. Oleh karena itu, kebencian pada dasarnya adalah penolakan diri kita untuk mengasihi. Jika kasih memfokuskan diri pada Allah, maka kebencian memfokuskan diri pada ego kita sendiri. Mungkin pembahasan tentang kasih secara lebih mendalam akan saya sampaikan pada kesempatan yang lain. Dalam renungan ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa jika kita sungguh-sungguh menyatakan diri mengasihi Tuhan, maka hal itu dapat kita tunjukkan dengan pertama-tama mengasihi sesama kita.

Semoga kita semua dimampukan untuk mengasihi sesama kita dan dengan demikian kita pun akan semakin diarahkan untuk mengasihi Allah. AMDG. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s