Menyadari Kehadiran Tuhan

credit to artikelkristen.com

Pada masa libur Natal dan Tahun Baru yang lalu, sebuah bacaan Injil tentang orang-orang majus yang datang mencari Tuhan memberi saya sebuah bahan renungan. Jujur, saya heran mengapa ada reaksi yang sangat berbeda antara ketiga orang dari negeri yang jauh itu dengan reaksi dari para imam dan ahli taurat pada waktu itu. Aneh, karena seharusnya mereka yang berada lebih dekat dengan tempat lahirnya Sang Mesias bisa lebih mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganNya. Bukankah ini adalah kelahiran Mesias yang telah lama dinanti-nantikan? Lalu mengapa sekalipun telah mendapat petunjuk dan kabar dari orang-orang majus, masih juga tidak tampak tanda-tanda antusiasme pada diri mereka? Sungguh ironis, mereka yang dekat justru tidak menyadari dan tidak peduli dengan kelahiran Sang Juruselamat, sedangkan mereka yang berada jauh justru dengan antusias mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiranNya.

Kisah tentang orang-orang majus itu memberi teguran secara pribadi bagi saya. Saya merasa sedang diingatkan bahwa saya sendiri sering tidak menyadari kehadiranNya di sekitar saya. Setiap orang diciptakan menurut citraNya, dan itu berarti seharusnya saya bisa melihat Dia dalam diri orang-orang di sekitar saya. Pertanyaannya, sadarkah saya bahwa setiap saat saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan citra Tuhan? Setiap orang yang diciptakanNya adalah gambaran dariNya. Itu juga termasuk keluarga kita, teman-teman, sahabat, dan setiap orang yang kita jumpai setiap hari. Orang-orang di sekitar kita. Sudahkah saya menyadari bahwa Yesus hadir dalam diri setiap orang yang saya temui? Apakah saya akan mempersiapkan diri dan bersikap antusias untuk membantu dan melayani orang-orang yang saya jumpai? Atau jangan-jangan saya sama saja dengan para pemuka agama dan ahli taurat yang tidak peduli dengan kelahiran Sang Juruselamat? Apakah saya membiarkan setiap orang yang saya jumpai, bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu akan kebutuhan mereka?

Kita semua diajak untuk menyadari kehadiran Tuhan di dunia ini. Tuhan mungkin tidak kita jumpai dalam angin topan, badai, atau gempa bumi. Tuhan hadir dalam diri sesama kita; mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir; mereka yang tidak berdaya, mereka yang kelaparan: lapar akan makanan maupun lapar akan kasih; mereka yang mudah menyakiti karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terluka; mereka yang membenci sesamanya karena mereka tidak percaya akan cinta; maupun mereka yang kita anggap berdosa. Mungkin akan sulit melihat citra atau gambar diri Tuhan dalam diri orang-orang di sekitar kita, terlebih dalam diri mereka yang menyakiti kita, mereka yang tidak bisa membalas kebaikan kita, mereka yang tidak peduli dengan diri kita. Namun, justru di situlah tantangan kita: maukah kita untuk tetap peduli? Maukah kita untuk selalu percaya dan menyadari kehadiran Tuhan dalam diri orang-orang di sekitar kita?

Saya masih sering gagal menyadari kehadiran Tuhan dalam diri sesama saya. Saya masih sering menyangkal kehadiran Tuhan dalam diri mereka. Akan tetapi, kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Saya rasa itulah mengapa Tuhan mengingatkan saya: Ia ingin saya menyadari kegagalan saya dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga kita semua selalu dikaruniai dengan kepekaan dan kesadaran akan Tuhan yang hadir dalam diri sesama kita. AMDG.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s