Arem-arem di Bus

Arem-Arem-300x202dapuranda


Dalam perjalanan pulang menuju ke kampung halaman saya, saya membeli dua buah arem-arem dari penjaja makanan di bus karena saya merasa kelaparan. Arem-arem pertama saya buka dan saya makan. Wah, ternyata arem-arem ini enak juga, isinya pun banyak. Dengan harga seribu rupiah untuk setiap arem-arem saya rasa harga ini termasuk murah. Kemudian saya pun membuka arem-arem kedua. Tidak seperti dugaan dan harapan saya, arem-arem kedua ini sama sekali tidak ada isinya! Saya jadi merasa tertipu, saya seperti makan nasi putih saja. Namun kemudian sebuah pesan moral muncul dalam pikiran saya: seperti itulah hidup!

Ibarat arem-arem yang dibuat oleh tukang masaknya, hidup kita pun diciptakan Tuhan menurut rancanganNya. Kadang-kadang kita mengalami masa-masa kelimpahan, penuh berkat dan sukacita, seperti arem-arem yang banyak isiannya. Akan tetapi, kadang-kadang kita pun mengalami masa-masa kekeringan, kesedihan, kekecewaan, seperti arem-arem tanpa isi. Pertanyaannya, apa yang akan kita lakukan? Mau tidak mau kita pasti akan mengalami dan melewati masa-masa itu. Memang secara manusiawi tentu kita berharap kita hanya akan mengalami masa-masa bahagia saja, tetapi kenyataannya tidak bisa begitu tuh. Lalu bagaimana? Ya tidak ada pilihan selain menjalaninya. Seperti kedua arem-arem yang saya makan sampai habis, dan toh kedua arem-arem itu mengenyangkan perut saya. Demikian pula peristiwa yang kita anggap peristiwa sedih, maupun peristiwa sukacita, keduanya akan membentuk kepribadian kita dan mempersiapkan diri kita untuk menjadi semakin dewasa.

Satu hal yang sedang saya usahakan setiap saat, adalah mengingatkan diri saya bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Hal-hal baik dan buruk, masa-masa kelimpahan dan kekurangan, semua itu dibiarkanNya terjadi untuk kebaikan saya. Mungkin sekarang saya belum mengetahui maksud dari peristiwa-peristiwa itu—terutama peristiwa yang mengecewakan dan menyedihkan—tetapi kelak saya akan melihat tujuanNya dan bersyukur atas setiap peristiwa yang telah saya alami dalam kehidupan saya.

Seperti halnya tidak mungkin saya mengembalikan arem-arem yang tidak ada isinya itu kepada si penjual, tidak mungkin kita bisa menghindar dari setiap pengalaman yang membuat kita kecewa dan sedih. Pilihannya ada di tangan kita: mau membuang arem-arem yang tidak berisi dan menanggung rasa lapar atau melahap keduanya—baik arem-arem yang berisi penuh maupun arem-arem yang tidak berisi—agar kita pun kenyang?

Semoga kita selalu diingatkan untuk bersyukur setiap saat, bersukacita pada masa gembira sambil mengingat juga saat-saat kita kecewa, serta tabah pada masa sedih sambil mengingat berkat-berkat Tuhan pada masa-masa gembira. Dan semoga kita selalu percaya bahwa rencanaNya adalah selalu yang terbaik untuk kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s