Belajar dari Dengkuran

Ini adalah sebuah pengalaman sederhana yang saya alami pada akhir bulan Desember 2015 yang lalu. Pada waktu itu saya pulang ke kampung halaman saya untuk merayakan Natal bersama keluarga. Pada suatu malam, saya hendak berdoa malam dan membaca renungan harian untuk hari itu di dalam kamar. Saat itu kakak saya sudah tertidur pulas. Saya pun mulai berdoa di samping kakak saya yang sudah tertidur. Tak lama saya berdoa tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Rupanya kakak saya yang mendengkur. Memang kakak saya kadang-kadang mendengkur ketika tidur. Konsentrasi doa saya pun terpecah. Saya merasa terganggu dengan suara dengkuran itu. Namun, semakin saya merasa kesal dan terganggu, saya semakin tidak bisa fokus berdoa. Tiba-tiba saja saya disadarkan, “Apakah kamu ingin mengubah semua orang yang kamu anggap mengganggumu?” Begitu lembut pemikiran itu menyelinap dalam benak saya. Saya pun tersadar. Setiap orang diciptakanNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan kebiasaan dan tabiatnya masing-masing, dan dibiarkanNya berkembang dengan jalan hidup masing-masing. Apakah seumur hidup saya, saya akan memaksa orang lain untuk berubah jika saya merasa terganggu dengan mereka? Kakak saya mendengkur bukan untuk sengaja mengganggu saya. Apakah saya akan memaksanya berhenti mendengkur atau menutup mulutnya agar suara itu tak terdengar dan tidak lagi mengganggu saya?

Betapa piciknya pemikiran saya itu. Ini hanya hal sederhana: sebuah dengkuran. Bagaimana saya bisa berharap untuk hidup bersama orang lain, jika sebuah dengkuran saja begitu mengganggu saya sampai membuat saya ingin meminta kakak saya untuk berhenti mendengkur? Sungguh tidak adil apa yang saya pikirkan. Saya hanya menginginkan semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada yang mengganggu saya. Itukah cinta? Itukah kasih? Inikah sikap seseorang yang ingin menjadi serupa dengan Yesus? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus menahan diri ketika Ia disiksa dan bahkan hingga disalibkan. Bagaimana Ia mengampuni orang-orang yang menyiksaNya dan mengolok-olok Dia. Sungguh saya menyadari betapa selama ini saya telah keliru berpikir. Selama ini saya menganggap diri saya adalah orang yang baik, yang jarang sekali marah, orang yang murah hati, dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya disadarkan: mudah sekali untuk berlaku baik ketika segalanya berjalan baik. Bagaimana jika saya terus dihadapkan pada situasi yang menjengkelkan, orang-orang yang menyebalkan, kondisi hidup penuh tekanan? Masihkan saya akan bisa tersenyum dengan tulus dan berbuat baik seperti biasanya? Bisakah saya bersikap baik kepada orang-orang yang saya anggap telah menyakiti hati saya?

Ya Tuhan, inilah aku, sang manusia yang tidak sempurna. Aku yang begitu sombong dan menganggap diriku baik. Aku yang tidak menyadari bahwa seperti yang Engkau katakan, “Jika kamu berbuat baik kepada orang yang baik kepadamu, apakah jasamu? Bukankah pemungut cukai dan orang Farisi pun berbuat demikian?”, aku telah lupa akan ajaran kasihMu yang sejati.

Mencintai berarti menerima seseorang sebagaimana adanya dirinya. Mencintai berarti melakukan sesuatu bukan semata untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Untuk bisa mencintai dengan tulus, perlu adanya kerendahan hati. Bahkan menurut saya, syarat mutlak dalam cinta adalah kerendahan hati.

Semoga kita semua selalu disadarkan bahwa ketika kita marah, ketika kita kesal, sedih, dan kecewa kita tidak perlu berusaha mengubah orang lain atau situasi untuk menghilangkan perasaan-perasaan negatif itu. Cukuplah kita menerimanya dan memahami perasaan itu kemudian membiarkannya berlalu dan perlahan lenyap dengan sendirinya.

Ketika saya mulai tidak menghiraukan dengkuran kakak saya, perlahan suara itu seperti menghilang dan saya pun bisa kembali fokus pada doa saya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s