Awal yang Baru

Jika tanggal 1 Januari selalu dianggap istimewa oleh banyak orang karena merupakan awal dari tahun yang baru, tahun ini saya disadarkan bahwa setiap hari pun dapat menjadi sebuah awal yang baru. Saya akan mengawali refleksi ini dari pengalaman saya ketika mengikuti retret penyembuhan luka batin di Pertapaan Karmel Tumpang, Malang pada tanggal 10~13 Desember 2015 yang lalu.

Saya tidak akan menceritakan detail kegiatan yang saya ikuti, tetapi yang ingin saya bagikan adalah pengalaman ketika mengikuti retret tersebut: hal-hal yang sungguh menyentuh saya secara pribadi. Awalnya saya mengikuti retret tersebut karena saya merasa penasaran dengan retret PLB (penyembuhan luka batin) dan saya merasa sepertinya saya juga memiliki luka batin dengan beberapa orang, meskipun sampai saya mengikuti sendiri retret itu saya tidak tahu akar dari luka batin saya. Saya mengikuti setiap pengarahan dan acara dengan teratur. Pada hari ketiga saat acara ‘pertobatan’, saya benar-benar tersentak dengan apa yang disampaikan Tuhan saat itu. Selama ini saya merasa bahwa saya tidak pernah berbuat dosa yang berat. Bahkan ketika diajak untuk merenungkan dosa-dosa kami, saya berkata dalam hati, “Ah, apa sih dosaku? Paling-paling ngomongin orang, iri hati….” baru saja pikiran itu muncul dalam benak saya tiba-tiba suster yang memimpin acara tersebut berkata “Hai kamu yang suka menghakimi sesamamu, siapakah kamu sehingga kamu berhak untuk menghakimi orang lain? Siapakah kamu di hadapan Allah?” Seketika saya tersentak. Saya baru menyadari bahwa selama ini saya begitu sering menghakimi orang lain: teman-teman, keluarga, bahkan orang tua saya. Tak terasa air mata saya pun mengalir. Saya menyesali sikap saya yang sering menghakimi itu, yang selama ini saya anggap biasa saja dan sering tidak saya sadari bahwa sikap itu bisa sangat melukai orang-orang di sekitar saya. Kemudian perlahan saya dibawa kepada pemahaman bahwa ternyata sikap suka menghakimi itu berakar dari apa yang saya alami sejak saya masih anak-anak. Karena seringnya mendapat perlakuan otoriter dari papa saya, akhirnya saya terbentuk menjadi seseorang yang selalu berusaha untuk melakukan tindakan yang benar. Karena saya selalu berusaha berbuat benar, maka ketika ada orang lain yang melakukan sesuatu yang saya anggap tidak benar, saya dengan cepat akan menghakimi orang itu. Lebih jauh lagi rupanya Tuhan ingin supaya saya juga tidak menyalahkan orang tua saya atas apa yang saya alami. “Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua” itulah kalimat yang muncul dalam pikiran saya ketika saya disadarkan akan akar dari kepahitan saya. Seperti apapun orang tua saya, mereka adalah orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya hingga saya bisa menjadi diri saya seperti sekarang. Saya kembali menangis, bahkan sampai pada acara pembasuhan kaki. Saya tidak tahu kenapa air mata saya terus mengalir. Namun, bukan air mata itu yang terutama. Yang paling penting adalah munculnya sebuah kesadaran dan pemahaman baru tentang kehidupan saya.

Bagi saya, retret penyembuhan luka batin yang saya ikuti itu adalah sebuah awal dari usaha dan komitmen saya untuk mengampuni dan mencintai orang tua saya. Seperti yang telah disampaikan dalam pengarahan-pengarahan sebelumnya, bahwa mengampuni adalah sebuah keputusan; bukan perasaan. Saya sadar bahwa saya pun memiliki tanggung jawab untuk setia pada komitmen saya untuk mengampuni dan mencintai, jika saya benar-benar ingin sembuh dari luka-luka batin saya. Mengampuni bukan soal perasaan semata. Mengampuni adalah sebuah tindakan yang berlandaskan pada komitmen.

Setelah itu pada malam harinya saat pengakuan dosa, saya juga disadarkan dan diingatkan akan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri saya. Kesombongan, iri hati, serakah, dan ternyata banyak dari dosa-dosa pokok yang saya lakukan juga. Sungguh saya bersyukur karena saya diingatkan akan dosa-dosa itu sehingga saya dapat mengakukannya dan menerima sakramen pertobatan.

Beberapa waktu pun berlalu setelah saya mengikuti retret PLB itu. Saya kira saya akan lebih mudah mengampuni dan mencintai setelah mengikuti retret. Memang saya berdoa setiap hari agar hati saya diubahkan dan semakin dijadikan serupa dengan hati Yesus. Saya kira semuanya akan berjalan lebih mudah, tetapi ternyata saya salah. Untuk memiliki hati yang serupa dengan hatiNya, tidak serta merta Tuhan mengubah hati saya seperti seorang pesulap yang mengubah kain menjadi bunga. Tidak ada proses yang instan. Alih-alih menyulap hati saya menjadi hati yang selalu welas asih, saya merasa ada ‘ujian’ yang harus saya miliki untuk bisa memiliki hati seperti hati Yesus. Saya akui kerap kali saya gagal dalam ujian-ujian itu. Saya masih saja mengedepankan ego, sombong, menolak merendahkan diri, menolak bersikap rendah hati, dan masih saja saya menuruti keinginan daging saya. Saya baru menyadari hal ini setelah beberapa kali saya merasakan emosi negatif begitu menguasai saya. Saya pun menyesal dan saya menyadari bahwa saya tidak bisa melakukan semua perubahan hati ini seorang diri. Saya butuh rahmat Tuhan, saya butuh karuniaNya untuk bisa menghadapi setiap cobaan dan ujian. Di sini saya disadarkan sesuatu yang sangat berharga: kebaikan tidak diciptakan dalam sekejap. Kebaikan perlu disadari, dibiasakan, dan dimohonkan rahmat dari Allah. Tidak mungkin saya memiliki hati yang welas asih, hati sebagai hamba jika saya tidak mau menyerahkan diri saya sepenuhnya kepada penyelenggaraanNya.

Inilah awal dari refleksi saya mengawali tahun 2016 ini. Semoga kita semua anak-anak Allah selalu diingatkan dan disadarkan akan kelemahan kita, bukan untuk semata menghakimi kita, melainkan untuk menyadarkan bahwa kita adalah manusia yang lemah. Kita tidak akan mampu mencapai keselamatan tanpa berkat dari Allah. Kita sering kali berdosa, tetapi kita sering kali menyangkal dan menganggap dosa-dosa itu sebagai hal yang biasa. Ya Tuhan, ingatkanlah dan sadarkanlah kami bahwa dosa-dosa kami, sekecil apa pun, itu pun telah Engkau tanggung sebagai silih dosa kami. Semoga kami selalu ingat akan kasihMu dan semakin mendekat kepada Mu. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s