Menghormati Santa Pelindung

katarina-dari-siena2

Pada tanggal 27 September 2012 yang lalu, saya mengikuti rekoleksi Kelompok Kategorial Keuskupan Surabaya dengan tema “Ut omnes unum sint”. Rekoleksi tersebut sangat menarik dibawakan oleh Romo Benny Phang, O. Carm. Akan tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai rekoleksi itu. Saya ingin membagikan sebuah pengalaman iman pribadi yang saya alami secara tak terduga dalam rekoleksi tersebut. Hari itu Romo Benny memperkenalkan kami pada tulisan-tulisan Santa Theresia Avilla. Saya teringat bahwa Santa Theresia dari Avilla ini adalah nama santa pelindung kakak saya. ia memilih Santa Theresia dari Avilla sebagai pelindungnya ketika menerima Sakramen Baptis dulu. Pada saat Romo Benny menyampaikan bahwa Santa Theresia adalah seorang wanita yang cantik dan tegas, saya langsung teringat karakter kakak saya juga yang tegas dan keras sekali kemauannya.

Kemudian Romo Benny juga mengatakan bahwa Santa Theresia adalah salah satu dari tiga orang wanita yang merupakan Doktor Gereja. Para “Doktor Gereja” ini adalah para tokoh yang banyak membuat tulisan-tulisan bagi Gereja. Ketika Romo Benny mengatakan ada tiga orang wanita yang menjadi Doktor Gereja, entah kenapa tiba-tiba jantung saya berdegup lebih kencang. Saya tiba-tiba saja teringat santa pelindung saya yang saya pilih ketika saya menerima Sakramen Krisma, yaitu Santa Katarina dari Siena. Ternyata benar, Romo Benny mengatakan bahwa Santa Katarina dari Siena adalah salah satu perempuan yang menjadi Doktor Gereja. Seketika saya merasa sangat kaget.

Selama ini saya sering menuliskan pengalaman-pengalaman rohani saya maupun resensi buku-buku rohani dan buku motivasi yang telah saya baca. Banyak teman saya yang memuji tulisan-tulisan saya itu dan puji Tuhan kumpulan tulisan saya itu juga telah diterbitkan menjadi sebuah buku. Jujur, selama ini saya bisa dibilang kurang menghormati santa-santa pelindung saya. Meski setiap mengakhiri doa saya selalu memohon doa dan perlindungan dari Santa Elisabeth dan Santa Katarina dari Siena, tetapi saya merasa itu hanya terucap saja. Saya juga tidak merayakan hari peringatan santa-santa pelindung saya. Riwayat santa pelindung yang saya ingat pun samar-samar. Saya hanya ingat Santa Katarina dari Siena adalah seorang biarawati yang mendamaikan raja-raja dan para uskup Gereja pada waktu terjadi banyak pertikaian.

Tiba-tiba seolah saya disadarkan bahwa selama ini—tanpa saya sadari—Santa Katarina dari Siena, santa pelindung saya yang namanya saya pakai sebagai nama penguatan saya, telah menginspirasi diri saya untuk membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat. Bakat menulis yang selama ini dipuji oleh teman-teman saya, ternyata tidak lepas juga dari doa santa pelindung saya. Saya merasa sangat terharu. Saya pun berpikir, jangan-jangan dulu sewaktu saya memilih nama santa pelindung, Roh Kudus juga telah membimbing saya untuk memilih Santa Katarina dari Siena.

Pengalaman iman yang sederhana namun menyentuh itu sekaligus mengingatkan saya akan peran santa pelindung. Mungkin tidak sedikit orang-orang seperti saya yang hanya sekedar menggunakan nama santa maupun santo pelindung. Hari itu saya benar-benar merasa diingatkan Tuhan, bahwa tidak ada satu pun kebetulan yang terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Hari itu saya diingatkan bahwa meskipun sering tidak kita sadari, santo dan santa pelindung kita turut mendoakan kita. Ketika kita berkata, “Santa Katarina doakanlah kami,” atau “Santo Ignatius doakanlah kami,” maupun nama santo dan santa yang lain, sesungguhnya kita tidak hanya sekedar berbicara. Dengan mengucapkan kalimat itu kita sebenarnya telah meminta doa dari santo dan santa pelindung kita. Meskipun tidak kita sadari, percayalah bahwa doa dari santa dan santo pelindung kita turut memberi kekuatan dan dukungan dalam hidup kita.

Marilah kita berusaha untuk lebih menghargai dukungan dan doa dari santo dan santa pelindung kita—yang namanya kita sandang seumur hidup kita—dengan merayakan hari peringatan mereka, menghormati mereka, mengingat dan menghayati kisah hidup mereka, dan bersyukur atas doa serta dukungan mereka. Jangan sampai nama yang kita sandang hanya sekedar menambahkan nama kita saja, tetapi hendaknya sikap hidup dan teladan dari santo dan santa pelindung kita menginspirasi kita untuk hidup lebih kudus.

Respect your guardian saint 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s