ANTING YANG HILANG

lectvu1408356387986

Beberapa hari yang lalu, saya kehilangan sebuah anting-anting. Saya baru menyadari hal itu ketika saya masuk ke kamar mandi. Saya mencari anting-anting itu di kamar mandi dan di daerah yang saya lewati sebelumnya, tetapi saya tidak bisa menemukan anting-anting itu juga. Akhirnya saya pun pasrah dan menyimpan anting-anting saya yang sebelah. Saya tidak terlalu memusingkan hal itu meskipun sayang juga karena anting itu—walaupun tidak mahal—sudah saya pakai sejak lama dan saya juga menyukainya. Sehari berlalu setelah anting-anting saya hilang. Saya tidak memikirkan lagi tentang anting-anting itu atau menyesali kehilangannya. Hari itu saya masuk ke kamar mandi dan saya merasa kaki saya menginjak sesuatu yang kecil dan keras. Saya tidak tahu benda apa itu. Saya pikir benda itu mungkin batu kecil yang tersisa setelah kemarin saya membersihkan kamar mandi. Bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan yang saya injak tadi adalah tulang belulang cicak (sebelumnya saya menemukan tulang cicak kecil di kamar mandi saya). Saya yang terbiasa melepas kacamata saat berada di kamar mandi tidak begitu peduli juga dengan benda yang saya injak itu. Namun, saya juga tidak serta merta menyiram benda itu ke lubang pembuangan. Hari berikutnya, saya kembali menginjak benda itu. Saya masih tidak berpikir macam-macam tentang benda itu dan saya hanya menganggapnya kotoran biasa, tetapi sekali lagi saya juga tidak menyiramnya atau melihatnya. Siang harinya ketika saya bekerja, tiba-tiba terbesit dalam pikiran saya, “Jangan-jangan benda yang saya injak kemarin dan dua hari yang lalu adalah anting saya yang hilang,” Pikiran itu tiba-tiba saja muncul setelah dua hari saya menginjak benda keras yang tidak pernah saya pedulikan itu. Namun, karena banyaknya hal yang saya lakukan, saya pun melupakan pemikiran itu. Pagi hari berikutnya setelah saya bangun tidur saya kembali masuk ke kamar mandi. Kali ini saya tidak merasa menginjak benda keras itu, tetapi pikiran tentang kemungkinan benda itu adalah anting saya tiba-tiba kembali terbesit. Saya pun memakai kacamata saya dan melihat apakah anting saya memang ada di sekitar tempat saya menginjak benda keras misterius itu kemarin. Rupanya benar! Saya menemukan anting saya di pinggir bak mandi, dekat tempat saya menginjak benda keras itu sejak dua hari yang lalu. Saya begitu takjub. Bukan karena saya menemukan anting saya yang saya sukai, tetapi karena saya merasa Tuhan begitu memperhatikan hal sekecil apa pun dalam hidup saya!

Saya pernah mendengar cerita seorang ibu yang berdoa kepada Tuhan, memohon agar lensa kontak anaknya ditemukan. Sebuah lensa kontak! Apakah Anda pernah meminta sesuatu yang sederhana kepada Tuhan seperti itu? Ada pula cerita seorang narapidana yang kehabisan pasta gigi dan memohon kepada Tuhan agar diberikan pasta gigi. Baik lensa kontak maupun pasta gigi itu pada akhirnya diberikan oleh Tuhan. Kejadian anting-anting yang hilang dan ditemukan kembali mengingatkan saya bahwa Tuhan memperhatikan hidup saya, bahkan dalam hal yang kecil sekalipun: sebuah anting-anting.

Selain itu, saya juga belajar sesuatu yang penting. Tuhan mengingatkan saya bahwa Ia bekerja menurut cara dan waktuNya ketika saya mempercayakan hidup saya kepadanya. Ketika saya kehilangan anting-anting saya, saya merelakannya dan tidak mempermasalahkannya. Saya melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat ketimbang berkutat mencari anting-anting yang hilang itu seharian. Di sini saya merasa bahwa Tuhan mengingatkan saya untuk tidak terlalu memikirkan atau mempersoalkan permasalahan yang saya alami. Cara terbaik untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan adalah dengan mempercayakan persoalan yang kita alami dan tidak lagi memusingkannya. Lakukan apa yang bisa kita lakukan dan sisanya serahkanlah kepada Tuhan. Kita lakukan apa yang menjadi bagian kita dan biarlah Tuhan melakukan apa yang menjadi bagianNya. Sekali kita menyerahkan persoalan kita kepadaNya, janganlah lagi mengkhawatirkan persoalan itu. Khawatir adalah tanda kekurangpercayaan. Saya menghayati kejadian kecil ini sebagai sebuah peristiwa iman di mana Tuhan mencoba mengingatkan saya akan beberapa sikap hidup yang perlu saya terapkan. Jika dalam hal kecil Tuhan memperhatikan kebutuhan kita ketika kita menyerahkan persoalan kepadaNya, maka dalam hal lain pun Tuhan pasti juga akan mampu. Mungkin Tuhan ingin menguji saya dalam hal kecil dan ketika saya melewatinya, Tuhan mengingatkan saya untuk bertindak yang sama dalam perkara yang lebih besar.

Saya sangat bersyukur karena melalui kejadian sederhana ini Tuhan telah membuka mata saya akan kuasaNya dan akan sikap yang harus saya miliki sebagai umatNya. Barangsiapa setia pada perkara kecil maka ia akan diberi kepercayaan untuk perkara yang lebih besar. Dengan menyerahkan persoalan kita kepada Allah, percaya akan kuasaNya dan mengisi waktu kita dengan kegiatan-kegiatan yang positif alih-alih menyibukkan diri dengan berusaha menyelesaikan sendiri persoalan kita, niscaya rahmat Tuhan Yang Mahaadil akan dikaruniakanNya kepada kita. Marilah kita memaknai setiap persoalan yang ada sebagai kesempatan Tuhan untuk memuliakanNya.

Jalani hidup, maknai setiap peristiwa dan belajarlah darinya. AMDG!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s