Melukai dan Dilukai

Seorang pengusaha yang sedang buru-buru berangkat ke kantor mengendarai mobilnya dengan kencang di jalan tol. Di tengah ketergesaannya itu, mobil yang ada di depannya melaju dengan tak beraturan. Jika Anda berada di posisi si pengusaha, apa yang Anda rasakan? Pengusaha itu menebak bahwa si pengemudi mobil di depannya itu sedang mabuk. Setelah cukup lama berusaha menghindari mobil yang ngawur itu, akhirnya kedua mobil itu bertabrakan. Si pengusaha yang sudah sejak tadi memendam marah pun bergegas turun dan menyuruh pengemudi mobil di depannya tadi untuk keluar. Pengusaha itu semakin marah karena ternyata pengemudi mobil itu adalah seorang bocah usia SMP dan tidak memiliki SIM. Si pengusaha bertanya mengapa bocah itu nekad mengendarai mobil sendirian di jalan tol. Jawaban dari bocah itu membuatnya tertegun. “Maafkan saya, Om. Saya tadi diberi tahu bahwa ayah saya kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit. Tidak ada orang lain di rumah, hanya saya sendiri dan saya harus segera sampai di rumah sakit. Karena itulah saya nekad menyetir sendiri, Om. Saya ingin segera tiba di rumah sakit untuk melihat kondisi ayah saya,”. Jika Anda ada di posisi si pengusaha, apa yang akan Anda rasakan? Seketika hati si pengusaha pun berubah. Ia merasa kasihan kepada bocah itu lalu bahkan menawarkan untuk mengantar bocah itu ke rumah sakit.

know-love-serve-tan-and-serve

Rekan-rekan terkasih, kisah di atas saya dapat ketika mengikuti WEPP (Weekend Powered Personality) yang diadakan oleh komunitas Choice Distrik Surabaya beberapa waktu yang lalu. Kisah itu terus terngiang dalam benak saya. Om Bachrun sang pembicara waktu itu mengatakan, “Kita merasa marah seringkali karena kita tidak tahu.”. Dari kisah di atas, tampak ada perubahan emosi yang begitu radikal. Apabila kita memposisikan diri sebagai si pengusaha yang sedang tergesa-gesa, kita cenderung akan marah dan kesal karena mobil di depan kita menghalangi jalan kita. Lebih-lebih ketika akhirnya mobil itu bertabrakan. Namun, ketika mengetahui alasan mengapa seorang bocah SMP yang belum memiliki SIM itu nekad mengendarai mobil sendiri, hati kita mungkin akan tersentuh dan dipenuhi belas kasih. Ini adalah salah satu ilustrasi yang menggambarkan banyak keadaan serupa yang mungkin pernah kita alami. Kita marah karena kita tidak tahu.

Seringkali kita merasa kesal dan marah karena perilaku orang lain yang tidak menyenangkan. Tidak jarang kita merasa sakit hati yang amat dalam akibat perkataan atau perilaku dari orang lain yang kita anggap telah melukai hati kita. Jika demikian, apakah masih mungkin hati kita akan berbalik dari rasa marah, kesal, benci, dan dendam menjadi hati yang penuh belas kasih seperti kisah ilustrasi di atas?

Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti YSF (Youth Spiritual Fellowship) 2015: Extreme Make Over, mata saya telah dibukakan oleh Tuhan terkait rasa marah tadi. Om Pakis yang menjadi pembicara dalam salah satu sesi YSF menyampaikan bahwa kita semua adalah orang-orang yang terluka. Selanjutnya dia menambahkan, “Orang-orang yang terluka cenderung melukai.”. Pernyataan itu sangat membekas dalam benak saya. Inilah yang menjadi jawaban dari sakit hati dan dendam di seluruh dunia. Ya, mau kita akui atau tidak, kita semua memang adalah orang-orang yang terluka. Kita mungkin terluka oleh kata-kata dan perlakuan orang tua kita, keluarga kita, teman-teman kita, atau siapa pun yang kita jumpai. Ketika hati kita terluka, sering kali kita merasa marah, sedih, kecewa, dan bahkan bisa juga timbul dendam dan benci.

Kembali pada pernyataan “Rasa marah muncul karena ketidaktahuan”, pengetahuan yang saya peroleh di YSF membuka pikiran saya akan hal ini. Mari kita bayangkan seandainya kita mengetahui bahwa orang yang telah melukai kita itu ternyata memiliki kehidupan dan masa lalu yang sangat menyakitkan? Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh untuk menjawab pertanyaan itu. Saya mengalami sendiri bagaimana sebagai seorang anak, saya merasa tersakiti oleh perkataan dan perilaku papa saya. Sejak kecil, saya selalu mengingat papa sebagai seseorang yang galak, cenderung kasar dan tidak peduli dengan orang lain. Semua yang dilakukannya hanya untuk kepentingannya sendiri. Ia tidak menyayangi kami anak-anaknya, apalagi mama saya. Papa sering mengatakan ucapan kasar dan menyakitkan baik kepada saya, kakak-kakak saya, maupun mama. Saya memandang papa sebagai seseorang yang tidak pernah mau disalahkan, tidak pernah mau mendengar dan menerima pendapat orang lain. Sekalipun ia melakukan kesalahan, ia tidak pernah meminta maaf dan bahkan selalu mencari kambing hitam atas kesalahan yang dia lakukan. Bayangan figur papa yang begitu buruk telah menguasai saya selama bertahun-tahun. Namun demikian, saya mengasihi papa saya. Saya menangis ketika papa saya dikabarkan mengalami kecelakaan (untungnya itu hanya kabar bohong yang diberikan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab), ketika papa saya merasa sesak di dadanya malam-malam dan dicurigai terkena serangan jantung, atau ketika papa saya begitu terpuruk karena kejatuhan dalam penghasilan keluarga. Akan tetapi, saya masih juga tidak bisa menghilangkan bayangan figur papa yang galak, egois, dan kekanakan.

Saya sering sekali merasa marah dan sakit hati atas kata-kata dan tindakan papa saya. Satu hal yang saya tidak sadar adalah: saya tidak tahu sama sekali apa yang telah dialami papa saya selama hidupnya dulu. Dari cerita mama, barulah saya tahu bahwa papa kehilangan ayahnya sejak ia kecil. Sejak kecil, kehidupan keluarga papa memang sulit. Nenek saya harus seorang diri membesarkan tujuh orang anak—bisa saya bayangkan dengan kondisi perekonomian yang tidak cukup baik, hal itu tentu sangat sulit. Ketika remaja, papa saya tinggal bersama kakaknya yang sudah lebih dewasa. Papa lulus SMA dan masuk ke sekolah seni untuk belajar musik. Musik adalah salah satu hobi papa. Hingga sekarang, papa masih suka bermain alat musik (flute) di waktu senggangnya. Saya menemukan banyak buku-buku musik papa, bahkan ada buku yang saya duga sebagai bukul lagu ciptaan papa sendiri. Sejak kecil, sepertinya papa memang termasuk anak yang bandel. Mungkin karena papa termasuk anak yang paling kecil di antara saudara-saudaranya dan nenek juga jadi lebih memanjakan papa dibandingkan anak-anaknya yang lain, maka papa menjadi orang yang egois dan sulit sekali mengakui kesalahan.

Perlahan saya pahami bahwa papa telah membawa luka-luka yang mendalam sejak kecil. Dibandingkan mama yang dibesarkan dalam keluarga yang utuh dan relatif bahagia, masa lalu papa mungkin telah memberikan goresan luka dalam yang disembunyikannya hingga dewasa dan ditutupinya dengan berusaha bersikap galak. “Rasa marah timbul akibat ketidaktahuan”. Dengan mengetahui sebagian dari masa lalu papa, sebagian dari hal-hal yang mungkin menjadi penyebab lukanya—saya menjadi lebih bersimpati kepada papa. Kadang-kadang saya melihat pribadi seorang anak yang rindu dan begitu haus akan kasih sayang dalam diri papa. Sikap galak dan egoisnya menjadi cermin akan rasa laparnya akan perhatian dan kasih sayang yang mungkin tidak cukup diperolehnya sejak masa kecilnya. Dari pengetahuan itu muncullah simpati dan dari simpati itu tumbuhlah kasih. Saya menyadari bahwa kepribadian papa saat ini sangat dipengaruhi oleh responnya terhadap hal-hal yang telah terjadi padanya.

“Orang yang terluka cenderung untuk melukai”. Orang yang menyimpan begitu banyak luka akan cenderung untuk menyakiti orang lain dan menimbulkan luka pada diri orang lain. Mungkin sebenarnya hal itu mereka lakukan tanpa sadar, tetapi pikiran dan perasaan mereka yang terluka telah mendorong mereka untuk berperilaku melukai. Mengetahui dan menyadari akan hal ini membuat hati saya bisa lebih mengasihi. Meskipun hati saya mungkin masih terluka ketika mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan dari papa, saya bisa lebih bersikap bijak dan memahami papa. Rasa sakit hati itu perlahan terbalut oleh belas kasih. Saya rasa ini adalah hal yang menakjubkan. Kesadaran bahwa kita semua adalah orang yang terluka, dan pengetahuan akan luka yang dimiliki orang lain akan membuat hati kita menjadi lebih lembut dan lebih maklum ketika orang itu melakukan sesuatu yang menyakiti hati kita.

Mungkin saat ini hati kita sedang terluka. Mungkin orang tua kita mengatakan hal-hal yang menghancurkan hati kita. Mungkin seorang teman atau sahabat memperlakukan kita dengan buruk atau mengucapkan sesuatu yang membuat kita marah dan sakit hati. Mungkin atasan atau rekan kerja kita bertindak tidak adil kepada kita. Ada begitu banyak orang di sekitar kita dan ada begitu banyak hal yang bisa melukai kita. Ketika hati kita terluka oleh perkataan maupun tindakan orang lain, sekalipun sulit, ingatlah hal ini: kita semua adalah orang yang terluka. Mereka semua yang melukai kita pun sebenarnya adalah orang-orang yang terluka. Kita tidak pernah tahu dengan pasti apa yang ada dalam pikiran orang lain. Kita tidak tahu apa yang dialami orang itu dalam hidupnya. Bisa jadi orang tua kita sebenarnya hanya ingin menasihati kita. Bisa jadi teman atau sahabat kita sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya sehingga tanpa sadar ia bersikap dan berkata buruk kepada kita. Bisa jadi atasan atau rekan kerja kita sedang mengalami cobaan dalam kehidupan keluarganya. Sekali lagi, kita mungkin tidak akan pernah tahu apa yang dialami orang lain dalam hidupnya, apa yang mengusik pikirannya, apa yang membuatnya sedih dan terluka. Namun, satu hal yang harus selalu kita ingat dan kita usahakan setiap saat adalah menanamkan dalam diri kita keinginan untuk MEMAHAMI lebih daripada ingin DIPAHAMI; keinginan untuk MENCINTAI lebih daripada ingin DICINTAI; dan keinginan untuk MELAYANI lebih daripada ingin DILAYANI.

Cinta kasih adalah kekuatan yang luar biasa. Cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah dunia. Ketika hati kita terluka, mungkin kita akan cenderung lebih mudah membenci dan melenyapkan cinta dari hati kita. Akan tetapi, janganlah sampai cinta itu hilang dari diri kita. Ingat, lawan dari kasih bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian. Seseorang yang menyakiti hati kita bukan berarti ia tidak mengasihi kita. memang orang-orang terdekat, orang-orang yang sangat kita cintai itulah yang sangat rawan untuk melukai kita, demikian juga sebaliknya kita rawan melukai mereka. Terlebih lagi, luka yang ditimbulkan dari orang-orang terdekat, orang-orang yang kita cintai itu akan membekas lebih dalam daripada luka yang ditimbulkan oleh orang lain di luar lingkaran terdekat kita.

Mengatasi luka hati memang bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan hal yang sulit. Tuhan telah menjanjikan untuk tidak memberi pencobaan tanpa pertolongan dariNya. Ketika merasa hati kita terluka, carilah Tuhan, baca dan resapi firmanNya, berdoa kepadaNya, dan mohon rahmat kekuatan dariNya. Rendahkan hati dan diri kita di hadapanNya dan berkomitmenlah untuk mau memahami, mencintai dan melayani lebih daripada keinginan untuk dipahami, dicintai, dan dilayani. Meskipun mungkin pada mulanya terasa sulit, percayalah dengan berpegang pada iman dan kasih Tuhan segalanya akan dimungkinkan dan dimudahkanNya. Tuhan adalah Tuhan yang Mahabaik. Ia tidak pernah akan memberikan batu kepada anak yang minta roti; ular kepada anak yang mencari ikan. Percayalah bahwa kebaikan Tuhan selalu ada dan tidak pernah berubah. Karena itu, apapun yang dibiarkanNya terjadi dalam hidup kita, percayalah bahwa itu demi kebaikan kita. Ketika disakiti, berkatilah dan jangan mengutuk (Roma 12:14), berdoalah untuk orang-orang yang menganiayamu (Mat 5:44), ampunilah setiap orang yang bersalah kepadamu tanpa batas (Mat 18:21).

Rasa marah dan sakit hati seringkali muncul dan menyebabkan luka berkepanjangan akibat ketidaktahuan kita; ketidaktahuan kita akan kenyataan bahwa kita semua memiliki luka dalam diri kita yang menyebabkan kita pun cenderung untuk melukai. Setiap orang terluka dan setiap orang yang terluka cenderung melukai orang lain maupun dirinya sendiri. Dekatkan diri kepada Sang Pencipta dan taatilah perintah-perintahNya. Hiduplah dengan ikhlas dan penuh kasih. Milikilah keinginan untuk memahami, mencintai, dan melayani orang lain lebih daripada keinginan untuk dipahami, dicintai, dan dilayani. Yang terpenting, apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan kasih lenyap dari hati kita.

Semoga dengan sikap dan kesadaran kita yang baru, kita akan mampu semakin memuliakan nama Tuhan dalam hidup kita. AMDG. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s