MENGARAHKAN HUBUNGAN PADA SANG SUMBER CINTA SEJATI

IKissedDatingGoodbye

  1. Judul buku              : I Kissed Dating Goodbye
  2. Penulis                   : Joshua Harris
  3. Penerjemah             : Claudia Kristanti
  4. Nama penerbit         : Immanuel
  5. Cetakan/tahun terbit : VIII / 2014
  6. Jumlah halaman       : 222 halaman
  7. Dimensi                   : 155 mm x 225 mm

Drama percintaan romantis yang sering ditampilkan di layar kaca telah membius jutaan remaja di seluruh dunia. Kisah cinta yang dipenuhi adegan-adegan romantis, kata-kata puitis dan pemain film yang menarik telah menciptakan bayangan tersendiri mengenai hubungan cinta antara dua orang insan. Bayangan akan adegan-adegan romantis seringkali justru menjebak anak-anak muda dalam menjalani hubungan pacaran yang seharusnya tidak sekedar berfokus pada romantika belaka.

Joshua Harris melalui bukunya yang cukup kontroversial, I Kissed Dating Goodbye, mengajak para pembaca untuk melihat kembali kesejatian dari pacaran dan hubungan cinta antara pria dan wanita. Apakah fokus dari hubungan itu cukup pada kencan, menghabiskan waktu berdua, saling menggoda dan memuji penampilan satu sama lain? Ataukah ada hal lain yang lebih penting, sesuatu yang seharusnya menjadi inti dari sebuah hubungan cinta yang justru seringkali dilupakan banyak orang?

Judul buku yang menarik, sesuai dengan isinya, membuat saya pun tergerak untuk membaca buku ini. Penjelasan yang logis dan Alkitabiah membuat saya merasa ‘ditegur’ pada beberapa bagian dalam buku ini. Joshua Harris mengajak kita untuk mengarahkan fokus hubungan itu kepada Tuhan, Sang Sumber Cinta yang sejati. Daripada memikirkan apa yang akan membuat pasangan Anda kagum dan semakin mencintai Anda, cobalah untuk mengarahkan pikiran kepada apa yang akan membuat Tuhan semakin mencintai Anda dan pasangan Anda, semakin memberkati hubungan Anda berdua.

“Sesuatu yang benar pada waktu yang tidak tepat adalah sesuatu yang salah” adalah salah satu judul bab dalam buku I Kissed Dating Goodbye yang menjadi favorit saya. Rela menunggu adalah salah satu bukti cinta yang sejati. Cinta yang sejati tidak akan terburu-buru dalam mengekspresikan cintanya, juga tidak akan memaksa pasangan untuk membuktikan cintanya dengan ekspresi fisik yang berlebihan. Cinta sejati seharusnya memperhatikan kepentingan pasangannya, bersama-sama berusaha untuk menjaga kesucian dan kemurnian masing-masing agar tidak ada pihak yang terluka.

Meskipun tergolong unik, tema dan ide yang diangkat oleh Joshua Harris menyadarkan saya bahwa ada banyak hal yang keliru dalam fokus pencarian cinta yang selama ini dipahami dunia. Tidak salah mengejar cinta, tetapi yang salah adalah ketika dalam pengejaran itu kita kehilangan fokus dan sumber dari cinta sejati itu sendiri: Tuhan. Melalui enam belas bab yang diuraikan secara singkat, jelas, dan mengena, ide tentang melihat pacaran dari sudut pandang yang baru telah membuka mata saya dan juga banyak pemuda-pemudi di seluruh dunia tentang pacaran yang sehat. Bagi sebagian orang, mungkin pemikiran Joshua Harris terlalu kolot dan kaku, tetapi bagi sebagian orang lainnya pemikiran ini justru adalah pemikiran yang paling logis dan layak untuk diikuti.

I Kissed Dating Goodbye sangat cocok untuk dibaca para remaja, muda-mudi, atau siapa pun yang sedang mencari cinta maupun yang sedang berada dalam hubungan cinta. Hilangkan prasangka akan pemikiran kuno yang tak berdasar, tetapi cobalah untuk membaca halaman demi halaman hasil pemikiran Joshua yang diilhami oleh pemahamannya akan ayat-ayat Alkitab. Siapa pun yang tidak berniat serius dalam menjalin hubungan cinta, jangan coba-coba memulainya. Hubungan tanpa komitmen hanya akan membawa kekecewaan dan sakit hati yang bisa menjadi sumber kepahitan. Keintiman adalah buah dari komitmen; bersabarlah dalam memberikan hati, pikiran, jiwa, dan ragamu sampai ketika Tuhan sendiri yang mempersatukan. Masih banyak kata-kata bijak dan tips-tips lain yang bisa diperoleh dari buku yang menginspirasi ini.

Dunia membawa kita ke sebuah layar perak di mana gambaran-gambaran kerlap-kerlip tentang gairah dan cinta dimainkan, dan ketika kita sedang menonton, dunia berkata, “Inilah cinta”. Allah membawa kita ke kaki sebuah pohon di mana seseorang yang telanjang dan berlumuran darah tergantung dan berkata, “Inilah kasih”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s