Senja Paling Cerah

(Hanya sebuah cerita fiksi)

Suara rintik hujan di luar terdengar jelas di telingaku. Mataku masih jua terpejam. Aku tidak ingin membukanya…tidak. Tidak, setelah apa yang terjadi kemarin. Adalah lebih baik bagiku untuk tidak melihat semua itu. Aku tidak ingin mengetahui apa pun. Tidak! Biarkan aku sendiri! Biarkan aku mengunci diri di sini, tanpa ada seorang pun yang mengusik persembunyianku. Aku ingin diam selamanya di sini, di tempat di mana tak ada seorang pun yang akan datang dan menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, di mana tidak ada seorang pun yang akan datang dengan penghiburan-penghiburan wajar yang sama sekali tak kubutuhkan. Saat ini aku hanya ingin sendirian. Tidak, mungkin akan lebih baik jika dari dulu aku hidup seorang diri.

Bayang-bayang kejadian itu semakin jelas teringat meski aku telah berusaha untuk menghapusnya dari pikiranku. Aku mengerang, berteriak, menangis, dan sesekali aku berusaha membenturkan kepalaku ke dinding, berharap kenangan-kenangan itu lenyap—sebelum akhirnya perawat datang dan mengembalikanku ke tempat tidur. Aku seperti tidak mengenal diriku yang sekarang. Siapa aku? Siapa orang yang ada di dalam diriku sekarang? Siapakah dia yang terus mengerang, berteriak, menangis dan membenturkan kepalanya itu? Lihat betapa bodohnya ia! Bukankah lebih baik ia mati saja? Toh sekarang ia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak lagi punya alasan untuk hidup. Ia hanya sesosok ‘manusia’ yang masih bernapas. Namun, apalah artinya napas itu tanpa orang-orang yang ia sayangi?

Aku kembali memejamkan mata. Dalam hati aku berharap ketika aku membuka mata, aku akan terbangun dari ‘mimpi buruk’ ini dan kembali bersama dengan keluargaku. Ah…sepertinya itu hanya imajinasiku. Logikaku sudah berkali-kali berusaha menyadarkanku bahwa inilah dunia yang nyata. Inilah tempat di mana aku hidup. Aku dan keluargaku telah terpisahkan oleh kehidupan.

Di tengah lamunanku, tiba-tiba seseorang datang dan langsung membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kurang ajar, siapa orang yang tidak sopan itu? Amarahku yang muncul karena terganggu dengan perilaku tidak sopan itu luluh seketika saat kulihat pengunjung istimewaku hari ini. Pria setengah baya bertubuh tinggi dan kekar itu tampak agak terkejut melihatku. Perlahan ia melepaskan topi dan jasnya lalu menutup pelan pintu kamarku. Kami tidak saling mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya menatapnya, melihat sebuah bingkisan yang dibawanya di tangan kanannya. Sementara aku memandanginya dari atas ke bawah, menyelidiki apa yang dibawanya, pria itu justru tak memalingkan pandangannya dari satu titik bagian tubuhku. Bungkusan yang dibawanya nyaris terjatuh ketika ia terlalu lama termangu memandang tempat di mana kaki kananku seharusnya berada. Untungnya dengan cepat ia sadar dan segera meletakkan bungkusan itu di atas meja. Pria itu pun berjalan pelan mendekatiku. Ia begitu dekat sampai kini kami bisa memandang wajah masing-masing hanya dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter.

Pria itu duduk di sisi tempat tidurku dan tangan kanannya tampak hendak menepuk bahuku. Namun mendadak ia bangkit berdiri lalu memelukku sambil terisak. Ia mengucapkan sesuatu dalam tangisnya, yang tak bisa kudengar dengan jelas. Setelah puas memelukku, ia memegang kedua bahuku dan menatapku tajam. “Kamu akan baik-baik saja,” katanya tanpa ragu. Aku tidak bergeming. Pria itu kembali duduk dan melepaskan bahuku. Tatapan tajamnya tadi sudah tak tampak. Kini ia tampak seperti seorang laki-laki biasa yang sedang menjenguk kerabatnya di rumah sakit.

Aku masih tidak berkata-kata. Hanya tatapan kosong, menerawang seolah menembus batas ruang dan waktu, membayangkan saat-saat aku harus kehilangan seluruh anggota keluargaku. Kecelakaan keparat! Teriakku dalam hati. Di mana Tuhan pelindungku? Di mana Dia yang seharusnya menjaga kami sekeluarga? Setelah semua doa yang kami panjatkan setiap hari, setelah semua perbuatan baik yang keluarga kami lakukan selama ini…inikah balasannya, Tuhan? Inikah balasan dariMu untuk hamba-hambaMu yang setia? Hati dan pikiranku pun memberontak. Keyakinanku kepada Yang Esa telah terkoyak habis. Mengapa tidak Kau biarkan saja aku mati? Setidaknya aku tidak harus menanggung perih kehilangan semua orang yang kucintai. Aku mengutuk nasib, aku mengutuk orang-orang yang telah menyelamatkanku, aku mengutuk Dia! Kepedihan yang teramat sangat karena kehilangan semua alasanmu untuk tetap hidup…apa lagi yang lebih buruk daripada itu?

Tamu istimewaku itu tersenyum ketika ia melihatku melamun.

“Alex,” kata pria itu. “Aku tahu semua ini sangat berat. Aku tidak akan mengatakan apapun untuk berusaha menghiburmu karena aku tahu itu semua percuma. Kau tahu aku pernah mengalami hal ini: kehilangan seluruh anggota keluargaku. Lebih parah, aku bahkan tidak bersama mereka pada saat-saat terakhir. Menurutku kau cukup beruntung bisa bersama mereka di penghujung kehidupan. Kau tahu, aku sangat menyukai kau dan keluargamu. Kalian benar-benar keluarga yang baik dan penuh kasih. Selama masa-masa terberat dalam hidupku, saat aku memutuskan untuk tidak lagi percaya kepadaNya, kau dan istrimu tetap tidak meninggalkanku. Alih-alih menasihatiku untuk kembali mempercayaiNya, keluargamu telah menunjukkan bahwa Dia memang punya rencana tersendiri. Aku mungkin tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, tetapi mengetahui ada orang-orang yang begitu kuat meyakini akan keberadaanNya dan percaya akan rencanaNya, jujur saja aku merasa lega. Aku mulai memiliki harapan lagi meski aku belum bisa menerima keputusanNya untuk memisahkanku dari keluarga yang kucintai. Saat ini pasti semua terasa begitu berat bagimu, tidak apa-apa. Semua akan berbeda sekarang, tapi bukan berarti kau tidak bisa melanjutkan hidup. Kita berdua telah mengalaminya: kehilangan alasan untuk berjuang dalam kehidupan kita sebelumnya. Namun, kenyataan bahwa kita masih berada di dunia ini membuat kita mau tak mau harus menemukan alasan lain untuk hidup. Kau ingat saat kau dan istrimu mengatakan kepadaku bahwa ‘selalu ada sesuatu di balik setiap peristiwa’? Kurasa itu benar. Sejak kehilangan keluargaku, aku semakin fokus pada pekerjaan dan pelayananku. Meski aku belum bisa menerima rencanaNya, aku tidak punya alasan untuk berhenti berbuat baik kepada orang lain. Aku tidak tahu apa ‘alasan’mu yang baru, tapi yang jelas alasan itu selalu ada. Sekarang semuanya ada di tanganmu. Apakah kau ingin menghabiskan waktu menangisi kepergian keluargamu dan meratap sepanjang hidup, mengasihani diri dalam keterpurukan dan keputusasaan…atau kau mau mencari alasan yang baru untuk berjuang? Bersamaku, bersama orang-orang lain yang bernasib sama dengan kita. Tak masalah kau kehilangan sebelah kakimu, sebelah tanganmu, atau bahkan keduanya. Kau tahu kan bagaimana seorang pemuda tanpa lengan dan tungkai bisa menjadi motivator handal yang menggugah dunia? Kurasa tidak ada yang bisa membatasi hidup kita jika kita sudah memutuskan untuk berjuang. Nah, sekarang pertanyaannya, apakah kau mau melakukan perjuangan itu lagi? Apakah kau mau memulainya dari awal lagi? Sama seperti saat ketika kau dilahirkan, anggaplah ini adalah kelahiran keduamu. Maukah kau memulai lagi perjuangan itu?”

Aku termenung mendengar kata-katanya. Tanpa kusadari air mata kembali mengalir dari pelupuk mataku. Bukan air mata kesedihan, bukan air mata keputusasaan. Ini adalah air mata haru, karena apa yang dikatakan pria itu benar-benar merasuk ke dalam hati dan pikiranku. Kata-katanya seperti sebuah pisau yang mengoyak tabir kepalsuan dan perlindungan diri semu yang kuciptakan sendiri. Ia telah membuka pikiranku, menyingkapkan semua hal yang menghalangiku menatap kebenaran, memaksaku menyadari kenyataan dan melihat peluang akan masa depan.

Aku masih tidak berkata-kata. Aku hanya menangis dalam diam. Pria itu hanya duduk diam di sisiku, membiarkanku larut dalam suasana hati penuh haru. Pria itu adalah sahabatku yang telah kehilangan seluruh anggota keluarganya beberapa tahun silam. Seorang perampok masuk ke rumah mereka, mengambil barang-barang berharga dan membunuh seluruh anggota keluarganya—ketika ia sedang pergi bertugas di luar kota.

Matahari telah beranjak pergi, bersiap untuk membenamkan diri di ufuk barat. Namun, senja itu adalah senja paling cerah dalam hidupku. Ketika semua pembohongan diri, rasa mengasihani diri sendiri, dan kebingungan akan apa yang dilakukan takdir dalam hidup telah tersingkap, tak ada lagi marah, tak ada lagi kecewa. Semua terasa begitu terang dan jelas. Meski aku tak tahu apa yang akan terjadi esok, meski aku harus memulai lagi perjuanganku, aku tahu bahwa selalu ada alasan bagiku untuk hidup. Entah apa tujuanku diciptakan, yang jelas tujuan itu selalu ada. Dia yang memberi dan mengambil segalanya dariku mungkin ingin mengajarkanku hal ini: bahwa hidup akan terus berjalan apapun yang terjadi. Ketika sebuah alasan telah lenyap, selalu ada alasan lain yang bisa kau temukan untuk terus menjalani hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s