SEPENGGAL KISAH untuk Direnungkan Bersama

Lagi-lagi kejadian itu terulang. Aku sudah berusaha untuk bersabar. Sabar, sabar, dan sabar…namun, sampai kapan aku harus bersabar? Aku keluar dari ruangan atasanku dengan muka masam. Sesampainya di depan mejaku, aku membanting berkas dokumen yang kubawa. Kertasnya berserakan di atas mejaku. Aku tak peduli. Aku pun duduk bersandar di kursiku dengan mata terpejam. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan untuk membantu mengendalikan emosiku. Jantungku masih berdetak cukup cepat seakan darah sudah naik ke ubun-ubun.

Di tengah amarahku yang masih tak terlampiaskan, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Rupanya dia adalah Bidin, rekan kerjaku. “Ada apa, Diq, kok kamu kesal sekali kelihatannya,” tanya Bidin. Aku sadar semua orang di ruanganku pasti heran mengapa aku datang dan langsung membanting dokumen. “Biasa, si Bos tuh, permintaannya aneh-aneh melulu, suka nggak jelas dan nggak masuk akal. Kalau Cuma sekali sih mending..ini sudah kesekian kalinya. Mana beliau juga sebenarnya nggak paham apa yang beliau perintahkan lagi…bikin pusing aja nih….” keluhku. Bidin menepuk bahuku pelan.

“Sabar, Diq. Memang Bos kita seperti itu. Kita sebagai bawahan ya hanya bisa sabar dan mengerjakan apa yang diperintahkan,” kata Bidin. Aku hanya bisa menghela napas. Ya kata-kata Bidin ada benarnya juga. Memang selama kita bekerja pada orang lain, mau tak mau kita harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan. Selama hal itu tidak melanggar norma agama dan kesusilaan sih sebetulnya tak masalah, hanya saja ketika perintah itu muncul tanpa petunjuk yang jelas dan terkesan mengeksploitasi bawaan, gejolak amarah mudah sekali bangkit dan tersulut dalam diriku.

“Sampai kapan kita harus seperti ini ya, Din?” tanyaku. Bidin mengangkat kedua bahunya. “Entah, Diq. Mungkin selama kita bekerja di sini atau selama atasan kita masih sama, system kerja di sini masih tak berubah…selama itu mungkin tidak akan ada perubahan yang berarti,” jawab Bidin. Aku pun tertunduk kemudian dengan malas kukumpulkan dan kurapikan lagi berkas yang sempat tercecer di atas mejaku tadi. Bidin membantuku merapikannya.

“Tenang, Diq. Selama kita bekerja dengan ikhlas dan berusaha semampu kita, Allah pasti akan membuka pintu rezekinya untuk kita. Dia tidak menutup mata atas apa yang terjadi sekarang. Mungkin kita memang sedang diajari untuk ikhlas,” ucap Bidin. Kata-kata Bidin terasa menusuk jiwaku. ‘Belajar ikhlas’…sesuatu yang memang amat sulit untuk kulakukan. Aku terbiasa hidup dengan mengejar keinginan dan ambisiku. Aku terbiasa bekerja keras untuk mencapai hasil yang tertinggi. Maka ketika apa yang kuusahakan seakan tak sebanding dengan apa yang kudapat, aku merasa kecewa dan marah. Entah pada diriku, atasanku, atau bahkan kepada Allah. Aku merasa sangat berdosa. Mungkin saat ini memang aku sedang dilatih untuk belajar ikhlas. Memang tak mudah, apalagi buatku. Namun, ‘tak mudah’ tidak berarti ‘tak mungkin’.

Aku menoleh ke arah Bidin yang masih membantuku merapikan dokumen. Ia tampak tenang dan tak tersirat kejengkelan pada raut wajahnya. Sejenak aku berpikir, beberapa hari ini bahkan pekerjaan Bidin lebih banyak dan tak kalah ‘tidak masuk akal’ dibandingkan pekerjaanku. Namun, ia tampak selalu berusaha bersikap tenang dan santai. Ia bahkan berusaha menenangkanku yang tampak marah, padahal aku tahu dia juga punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Beban pekerjaannya tidak lebih ringan daripada beban pekerjaanku. Aku merasa malu. Aku pun menepuk bahu Bidin seraya berucap pelan, “Terima kasih sudah mengingatkanku, kawan,”. Bidin tersenyum. Setelah itu dia kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya, sementara aku pun mulai berusaha menyelesaikan pekerjaanku.

Selalu ada alasan sesuatu dibiarkan terjadi. Kalau kita percaya bahwa Yang Mahakuasa berkuasa atas apapun, berarti ada alasan di balik masalah yang tidak kunjung selesai. Ada alasan di balik doa yang belum juga terjawab. Ada alasan di balik setiap pertemuan dan perpisahan. Semua mengandung alasan Ilahi yang mungkin saat ini belum bisa kita pahami. Namun, kita sebagai manusia tak perlu berpikir terlalu keras tentang ‘alasan-alasan’ itu. Yang lebih penting dan terutama adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ini dengan ikhlas, sabar, dan senantiasa percaya kepada rencana Allah. RencanaNya adalah yang terbaik. Apapun yang kita kerjakan, di mana pun kita ditempatkan, dengan siapa kita dipertemukan, marilah berusaha melakukan yang terbaik dalam segala yang disediakanNya saat ini. Perkara suatu saat semua itu akan berubah: pekerjaan, tempat tinggal, orang-orang di sekitar kita…itu perkara di masa depan: sesuatu yang belum terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berfokus pada apa yang ada saat ini. Jadilah manusia ‘saat kini’. Sebuah kata-kata bijak berbunyi demikian:

Kapankah waktu yang paling penting? Jawabannya adalah SAAT INI.

Siapakah manusia yang paling penting? Jawabannya adalah SIAPA SAJA YANG BERADA BERSAMAMU SAAT INI.

Apakah yang paling penting untuk dikerjakan? Jawabannya adalah APA YANG BISA KAMU LAKUKAN SAAT INI.

Jika kita telah berhasil menjadi manusia ‘saat ini’, niscaya jalan untuk menuju masa depan akan dibuka dan ditunjukkanNya pada kita. Entah itu melanjutkan apa yang kita lakukan saat ini atau mengantar kita pada sesuatu yang berbeda…yang penting sekarang marilah berusaha menjadi manusia ‘saat ini’ sebaik mungkin!

jam-pasir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s