My Trip My Story: Explore Bawean (Final Words)

Pulau Bawean…mungkin belum banyak orang yang mengenal pulau dengan potensi wisata pantai dan danau yang menawan ini. Mungkin orang-orang yang sudah pernah datang atau menyaksikan video wisata di Bawean akan membandingkan keindahan wisata di bawah air Bawean dengan objek wisata serupa seperti Kepulauan Seribu dan Kepulauan Karimunjawa, dan…mungkin dari perbandingan itu akan ada yang mengatakan bahwa pulau Bawean tak seindah Karimunjawa maupun Kepulauan Seribu. Saya sendiri berpendapat memang keindahan pemandangan bawah air di Bawean tidak seindah Karimunjawa, tetapi Bawean memiliki ciri khasnya sendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: pantai pasir putih yang masih alami, susunan batu karang yang mempesona, danau di atas bukit yang dikelilingi pemandangan alam perbukitan nan hijau, dan masih banyak lagi….

Berkunjung ke Bawean memberi saya banyak hal baru: pengalaman baru, teman-teman baru, dan pemahaman baru hehehe. Menikmati keindahan alam selalu menjadi sebuah pengalaman perenungan rohani yang istimewa buat saya. Entah di atas gunung maupun di tepi pantai. Di manapun kita bisa menikmati keindahan alam, di situ kita juga bisa bersyukur atas ciptaan Yang Kuasa yang telah dianugerahkanNya kepada kita.

Betapa indah alam ini jika kita mau melangkahkan kaki keluar dan melihatnya. Menikmati keindahan alam hanya bisa dilakukan jika kita memandangnya apa adanya; tanpa prasangka atau ekspektasi apapun. Ketika kita mulai membandingkan keindahan alam di satu tempat dengan tempat yang lain, saat itu sebenarnya kita telah kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan alam tempat itu dengan potensi maksimalnya.

Hanya dengan memandang laut yang tenang dan sesekali berombak, pasir putih di pantai yang luas membentang, danau yang tenang dan tampak menyegarkan di tengah terik siang hari, rasanya cukup ampuh untuk membunuh rasa galau, khawatir, sedih, marah, dan kecewa. Mengapa alam ini begitu ajaib? Mengapa hanya dengan berdiam dan menikmati suasana alami bisa membuat perasaan-perasaan negatif yang ada dalam hati dan pikiran kita sirna? Mungkin jawabannya adalah, karena di dalam keindahan alam itu sendiri ada kuasa dan penghiburan Tuhan. Pilihannya ada pada kita: maukah kita mencari dan menemukan penghiburan dari Tuhan itu? Atau masihkah kita cukup bebal untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan dan rutinitas, berkutat dengan semua persoalan kantor dan menghabiskan delapan puluh persen kehidupan kita di depan komputer dan dokumen-dokumen? Sekali lagi, kita semua punya pilihan. Memang setiap pilihan selalu berisiko, tetapi saya bisa menjamin bahwa jika kita tidak pernah menerima undangan dari Sang Ilahi untuk datang menikmati penghiburanNya yang disediakan melalui alam ciptaanNya, kita akan menyesal seumur hidup!

Menerima alam sebagaimana adanya dan menikmati keindahannya tanpa banyak berpikir atau membandingkannya dengan tempat lain akan membuat kita lebih mampu untuk bersyukur atas ciptaanNya yang luar biasa. Ketika menuliskan renungan ini sebagai kata-kata penutup tulisan saya tentang pengalaman kami selama di Pulau Bawean, saya diingatkan bahwa seperti halnya Dia menciptakan alam yang indah—yang selalu tak sama keindahannya satu dengan yang lain—demikian juga Dia menciptakan setiap orang berbeda dengan karakter dan ciri khasnya masing-masing. Ketika kita belajar untuk tidak memberikan nilai atau peringkat pada setiap tempat yang kita kunjungi, sebenarnya secara tidak sadar kita sedang dilatih pula untuk tidak memberi nilai atau peringkat pada ciptaanNya yang lain—yang tak lain dan tak bukan—adalah sesama kita manusia. Setiap orang diciptakanNya menurut citraNya, mengandung keindahan dan sifat Ilahi yang mungkin belum bisa kita temukan dan masih tersembunyi. Jika saja kita mau mencoba membiasakan diri untuk melihat orang sebagaimana adanya mereka—tanpa menilai dan membandingkannya dengan yang lain—di situ niscaya kita akan mampu menemukan dan melihat keindahan serta sifat Ilahi yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri sesama kita. Memang tidak mudah untuk tidak memberi penilaian pada sesuatu, karena kita telah terbiasa dan dibiasakan oleh keadaan di sekitar kita untuk selalu memberi nilai dan peringkat dalam banyak hal. Namun sekali lagi, ketika kita berjalan keluar dan melihat keindahan alam ciptaanNya, kita bisa mulai belajar untuk menerima pemberian dan ciptaanNya apa adanya.

Perjalanan ke Bawean telah memberi saya banyak hal baru. Terima kasih sedalam-dalamnya dan penghargaan saya untuk trip leader kami, Mas Vickie yang telah mempersiapkan perjalanan ke Bawean ini dengan sangat baik (sampai survei naik angkot segala hahaha)…great efforts bring great result, right? You’ve done great job! (Maybe you should think seriously to make a travelling business, I think it suits yo. We’re also ready to help hahaha…) :). Terima kasih juga untuk Asmi yang walau sempat galau akhirnya ikut juga ke Bawean menemani saya hehehe…Jafar dan Alfin yang selalu menemani dan menjaga kami cewek-cewek dari Tuban…Yuna dan Ko Denny yang walau belum lama kenal tapi mau juga saya ajak jalan-jalan ala backpacker begini…Kak Monic sang suhu snorkelling yang sudah mengabadikan dengan sangat apik keindahan dunia bawah air di Bawean, Kak Marlin yang tak pernah jemu mengupas buah-buahan untuk kami hehehe…, Farida yang gak selalu meramaikan suasana, Bumil (Mbak Helen) yang selalu bersikap ‘bijak’ di tengah kami-kami yang kadang masih labil ini…(semoga dedek bayi nanti lahir dengan sehat dan selamat ibu&bayinya ya, Mbak..), Bayu dan Rani yang selalu setia (sampai maut memisahkan yaa…:) ).

Akhirnya…keberhasilan sebuah perjalanan sejatinya tidak hanya diukur dari berapa banyak tempat yang dikunjungi, seberapa pas aktualisasi perjalanan dengan yang telah direncanakan, maupun berapa banyak foto dan video yang dibuat. Keberhasilan sebuah perjalan secara sederhana dapat dilihat dari senyuman yang menghiasi wajah semua peserta pada akhir perjalanan. Esensi dari sebuah perjalanan wisata sebenarnya tidak semata pada obyek wisata yang dikunjungi atau seberapa hebat itinerary yang disusun. Ketika melakukan sebuah perjalanan wisata, apa yang sesungguhnya kita cari? Ketika pada akhir perjalanan itu kita bisa tersenyum dan mengingat kembali, apa penyebab sesungguhnya dari senyum yang tersungging di bibir kita? Saya rasa senyuman itu tercipta tak lain karena rasa syukur atas pengalaman baru, teman-teman baru, dan terlebih kedamaian hati yang kita temukan ketika kita  menjauhkan diri sejenak dari rutinitas dan kesibukan sehari-hari.

Setiap perjalanan selalu memberi cerita tersendiri. Tempat yang sama, teman perjalanan yang sama, dan bahkan itinerary yang sama saja bisa memberi cerita yang berbeda. Nah…maukah kita melukis senyum kebahagiaan itu di wajah kita sendiri? Jangan ragu, tinggalkan sejenak rutinitas dan kesibukan kita. Jangan puas hanya dengan melihat keindahan alam dari layar komputer, televisi atau gadget! Siapkan perbekalan dan beranikan diri melangkahkan kaki keluar, menikmati—dengan mata kepala kita sendiri –secuil karya agung Tuhan di dunia yang telah disediakanNya secara melimpah bagi kita. Selamat jalan-jalan, selamat liburan, selamat menuliskan cerita baru dalam hidup yang saya yakin tidak akan pernah sia-sia :). My trip my story. Salam backpacker!

Karikatur Explore Bawean-Ori

Tim My Trip My Story: Explore Bawean (29 November ~ 1 Desember 2014) –cartoonized by me 🙂

Advertisements

5 thoughts on “My Trip My Story: Explore Bawean (Final Words)

  1. Pingback: My Trip My Story: Explore Bawean (Day 3) ~ Last Day…Goodbye Bawean, Going Back Home | Makjoel's Blog

  2. seperti biasanya, gaya penulisan mbak yulia selalu penuh inspirasi dan nilai-nilai kehidupan, namun dengan gaya penulisan yang mudah dipahami dan tidak terlalu “menggurui”, asik penjabaran ceritanya, dan memang setiap perjalanan memiliki cerita masing-masing, make your own trip and write your own story, success!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s