My Trip My Story: Explore Bawean (Day 2 Part 1): Jherat Lanjheng dan Danau Kastoba

Selamat pagiiii! Pagi yang cerah menyambut kami di hari kedua petualangan kami di Pulau Bawean. Sekitar jam enam pagi, kediaman cewek-cewek sudah mulai ramai dengan antrean mandi dan suara televisi yang menyala. Suasana yang hangat semakin nikmat setelah dua piring snack lezat dan teh hangat diantarkan ke tempat kami. Dengan lahap kami pun mulai menyantap snack berbahan dasar kentang yang diolah menjadi seperti martabak itu. Sekitar jam setengah tujuh pagi, rombongan cowok-cowok pun mulai berdatangan untuk sarapan bersama. Seperti kemarin malam, menu sarapan yang disajikan tentunya khas hidangan laut dengan tambahan lauk telur dan ayam goreng :). Nah waktu sarapan ini ada menu yang jadi favorit saya..cumi-cumi! Hehehe…selain karena saya memang suka sekali makan cumi-cumi, masakan si ibu ini memang lezat! Cumi-cumi masakannya terasa gurih dan tidak amis. Enakkk deh pokoknya! Kalau ada yang berminat, nanti kalau ke Bawean menginap saja di homestay yang kami tempati ini. Servisnya oke punya deh hehehe.

DSCF3783 DSCF3784

Martabak kentang plus teh hangat di pagi hari…hmm..    Sarapan…sarapaaannn… 😀

P1040240

Eh ada boyband ala Bawean siap-siap mau konser kayaknya  😛

Sekitar jam setengah delapan, kami bersiap untuk berangkat menuju Jherat Lanjheng. Seperti kemarin sore, kami berangkat menggunakan mobil pick up sementara Trip Leader kami berboncengan naik motor dengan salah satu guide. Nah, yang special kali ini, kami ditemani oleh seorang local guide dari Bawean. Beliau menceritakan sejarah tentang tempat wisata yang akan kami kunjungi. Menurut cerita si Bapak, Jherat Lanjheng adalah nama tempat wisata di Bawean dimana terdapat makam sepanjang kurang lebih sebelas meter. Namun, makam ini bukan makam biasa. Konon yang dimaksud ‘makam’ di sini adalah bekas darah hasil duel antara dua orang abdi dari Ajisaka. Sedikit cerita, jadi konon Ajisaka ini menitipkan salah satu pusakanya (keris) pada salah seorang abdinya yang bernama Doro sambil berpesan bahwa tidak ada orang lain yang boleh mengambil pusaka itu kecuali Ajisaka sendiri. Lalu Ajisaka pun pergi ke Pulau Jawa. Setelah berapa lama, ingatlah ia bahwa ia meninggalkan pusakanya kepada salah seorang abdinya. Namun, ia lupa akan pesannya kepada abdi tersebut. Ia pun mengutus salah seorang abdinya yang lain bernama Sembodo untuk mengambil pusaka tersebut. Nah, karena teringat pesan tuannya, Doro tidak mau menyerahkan pusaka Ajisaka kepada Sembodo. Akibatnya mereka pun berduel hingga keduanya tewas. Konon inilah sejarah duel yang diabadikan dalam aksara Jawa (hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga..kalau tertarik, silakan dicari lebih mendalam sendiri ya hehehe).

bawean-edisi-kering-4 DSCF3795

Ini makam Jherat Lanjheng yang panjangnya 11~12 m    Narsis dulu dengan background pantai di Jherat Lanjheng 🙂

‘Makam’ Jherat Lanjheng ini dibatasi dengan batu-batu seukuran kepalan tangan orang dewasa dan dinaungi dengan atap seperti atap pendopo. Di sekitarnya tampak rerumputan hijau nan segar. Berjalan sedikit lebih jauh dari makam tadi, kita bisa menemukan deretan pohon palem yang tertata rapi. Spot ini tidak saya sia-siakan untuk berfoto bersama Asmi hehehe. Di Jherat Lanjheng ini kita juga bisa menikmati keindahan pantai yang cukup menghibur. Menurut saya, Jherat Lanjheng termasuk tempat wisata dimana kita bisa menikmati keheningan dan kesejukan udara di Bawean. Sangat cocok bila kita berkunjung ke tempat ini pada pagi atau sore hari (menjelang sunset). Kami pun berfoto-foto bersama sampai akhirnya pak Trip Leader mengingatkan kami bahwa jadwal kami hari ini cukup padat. Kami pun kembali naik ke pick up untuk menuju ke destinasi berikutnya: Danau Kastoba.

DSCF3809 P1040252

Girls in action!

 P1040269 P1040263

  My Trip My Story Bawean Team…at Jherat Lanjheng 🙂

Perjalanan dari Jherat Lanjheng menuju Danau Kastoba ternyata cukup memakan waktu juga. Hampir sekitar dua jam perjalanan harus kami lalui. Nah, untuk mengisi waktu selama perjalanan agar tidak bosan, Mas Bayu sempat memainkan gitarnya dan mengajak kami bernyanyi bersama. Suasana di dalam pick up sangat meriah meski sesekali kami semua terdiam karena terganggu oleh asap knalpot mobil yang menyusup masuk ke tempat kami duduk. Di tengah perjalanan menuju Kastoba, kami sempat berhenti untuk berfoto bersama di daerah Cengkolan. Dari tempat ini, tampak keindahan Pantai Ria di bawah sana. Ya, daerah Cengkolan ini sudah termasuk dataran tinggi. Yang jelas rugi deh kalau tidak mengabadikan momen di sini :).

P1040271 P1040279 DSCF3828 DSCF3821

Ayoo turun dulu yuk, foto-foto dulu di Cengkolan..what a beautiful high landscape 🙂

Selama perjalanan, kami juga mendapat informasi tentang sejarah Danau Kastoba (sepertinya hampir semua tempat wisata di Bawean ini ada sejarahnya ya..salut deh :)). Legenda danau Kastoba adalah sebagai berikut: konon Ratu Jin memiliki sebuah pohon ajaib, dimana daun dari pohon itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nah, untuk menjaga agar pohon itu tidak dimanfaatkan sembarangan oleh manusia, Raja Jin memerintahkan dua ekor burung gagak untuk menjaga pohon tersebut. Suatu hari ada seorang buta yang duduk di bawah pohon itu. Orang buta itu mendengar percakapan kedua ekor burung gagak yang mengungkap kesaktian pohon ajaib tersebut. Orang buta itu pun mengambil daun dari pohon itu dan ia menjadi sembuh, bisa melihat. Dia pun segera menyebarkan kabar tentang kesaktian pohon ajaib tersebut kepada penduduk desa. Ratu Jin yang mengetahui bahwa kesaktian pohonnya telah diketahui manusia pun marah dan mencabut pohon ajaib itu. Dari bekas tempat pohon itu tertanam muncullah mata air yang kemudian kini menjadi Danau Kastoba.

DSC_0120 Bawean Trip (17)

Walau terkontaminasi polusi asap, tetap hepi dan in action waktu foto-foto 😀

Oh iya, kami sempat mampir juga ke pasar tradisional Bawean untuk membeli air minum (dan snack buat yang sudah lapar). Saya dan Jafar membeli es campur yang terasa sangat menyegarkan di tengah terik siang hari ini 🙂 .

Finallyyyyy….sekitar jam sebelas siang, kami pun sampai di kaki bukit menuju Danau Kastoba. Ha? Kaki bukit?? Yup, Danau Kastoba ini lokasinya memang di dataran tinggi. Untuk mencapai Danau Kastoba, kita harus melewati jalur trekking sepanjang kurang lebih lima ratus meter. Tenang, jalurnya aman kok, yang penting kita berhati-hati saja. Sayangnya tidak semua anggota rombongan kami mengunjungi danau istimewa di Pulau Bawean ini. Mbak Helen yang sedang hamil lima bulan, Rani, dan Bayu menunggu di gubug yang terletak sebelum jalur trekking ke Danau Kastoba, sementara sisanya lanjut trekking ke Kastoba. Kebetulan waktu kami berkunjung ke sana tidak banyak orang yang juga berwisata ke Danau Kastoba sehingga jalur yang kami lalui pun cenderung sepi. Trekking menuju Danau Kastoba membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Nggak terlalu jauh kok, tidak perlu khawatir karena hanya sedikit tanjakan yang harus dilalui…yang jelas jauh lebih ringan lah dibandingkan hiking di gunung hehehe. Yang penting tentu kita harus berhati-hati karena melewati tebing. Jangan terlalu terburu-buru juga karena toh Danau Kastobanya nggak akan pindah-pindah hehehe. Nikmati saja perjalanan trekking dengan santai sambil sesekali minum jika merasa haus.

P1040281 DSCF3830

Jalur yang harus dilewati dan ‘perjuangan’ menuju Danau Kastoba 😀   

Nah, setelah berhasil melewati jalur trekking sepanjang 500 m, tibalah kami di Danau Kastoba. Danau yang lumayan luas ini membentang dengan indah di tengah pemandangan alam dataran tinggi yang hijau menyegarkan. Pemandangan yang kami lihat waktu itu mengingatkan kami akan Ranukumbolo di Semeru. Nuansanya yang terasa masih sangat alami justru memberikan kesan yang lebih dalam jika dibandingkan kunjungan kita ke danau-danau yang sudah disulap menjadi obyek wisata. Air di danau ini juga jernih sehingga beberapa orang rekan kami: Vickie, Monic, dan Jafar pun tak kuasa menahan godaan untuk menceburkan diri ke dalamnya. Hm…pasti segar ya berendam di air danau siang-siang begini. Sayangnya saya nggak membawa baju ganti, lagipula agak parno juga karena saya nggak bisa berenang hehehe.

P1040292 DSCF3860 DSCF3853 DSCF3850

Tim Explore Bawean at Kastoba Lake 🙂

DSCF3887 DSCF3900

Yang suka main air silakan nyebur, yang suka foto-foto cantik silakan juga hehehe 😀

Sementara ketiga rekan kami tadi sibuk bermain air, saya dan teman-teman yang lain sibuk mengabadikan momen dengan berfoto-foto. Rasa-rasanya hampir semua spot bagus di Danau Kastoba ini sudah kami jelajahi demi bisa mengabadikan momen-momen itu. Asmi, saya, dan Yuna sibuk  menjadi ‘fotomodel’ sementara Ko Denny dan Alfin yang jadi fotografernya hehehe. Cukup lama kami menikmati keindahan alami Danau Kastoba sebelum akhirnya kami pun memutuskan untuk segera kembali karena wisata menikmati pemandangan bawah laut sudah menanti kami di Pantai Gili.

DSCF3913 DSCF3866

‘Fotomodel’ ala Kastoba..wkwkwk 😛

Nah, ketika kami turun inilah justru banyak wisatawan yang baru akan naik. Setelah tiba di gubug tempat Mbak Helan, Bayu, dan Rani tadi menunggu, ternyata di situ juga sudah ramai sekali. Terdengar suara percakapan dari ibu-ibu yang kesannya agak ke-Melayu-Melayu-an. Mungkin mereka ini para TKI yang bekerja di Malaysia dan saat ini menyempatkan diri untuk pulang dan berlibur bersama keluarganya. Kami pun sempat diberi salah satu makanan khas Bawean yang disebut ‘empek-empek’. Berbeda dari empek-empek Palembang yang kita tahu, empek-empek Bawean ini ternyata kering seperti kerupuk ikan. Rasa dan aroma ikan sangat terasa, ditambah gurihnya yang menancap di lidah. Hm…enaknyaa….sudah enak, gratis pula hehehe. Oh iya di sini juga saya baru pertama kalinya mencoba buah delima. Susah juga ya ternyata makan buah ini karena bijinya banyak sekali. Konyolnya, kami sempat mengadakan lomba jauh-jauhan melontarkan biji delima dari mulut! Hahaha… sayangnya delima yang saya makan masih belum begitu matang, jadi rasanya asam hehehe. Kami juga mendapat buah mangga dari warga lokal yang langsung dengan sigap dan tangkas dikupas oleh Mbak Marlin (spesialis dan ahli mengupas berbagai macam buah hehehe).

DSCF3925 DSCF3929

Bumil yang tengah menikmati jajanan khas Bawean..               Si buah delima 🙂

Sekitar jam satu siang, kami pun kembali naik pick up untuk makan siang sebelum menuju ke Pulau Gili. Kami diantar ke sebuah warung dimana nasi kotak dengan lauk galantine ikan sudah siap untuk kami santap. Penting sekali untuk menyiapkan stamina sebelum wisata di Pulau Gili karena tahu sendiri berenang itu membutuhkan stamina yang lumayan banyak (buktinya saya selalu merasa lapar setiap kali selesai berenang, padahal ya cuma kecipak-kecipuk aja karena belum begitu bisa hehehe). Selesai makan siang, ternyata kami masih harus menunggu kapal yang akan mengantar kami ke Gili siap. Sembari menunggu kapal, kami pun berganti pakaian dan juga mengisi waktu sambil ngobrol. Cerita-cerita seru membuat kami tertawa bersama sampai-sampai cowok-cowok yang menunggu di dalam warung mungkin berpikir betapa berisiknya kami cewek-cewek ini kalau sedang ngobrol.

To be continued My Trip My Story: Explore Bawean (Day 2 Part 2) : Gili Noko and Selayar White Sand Beach and… Fireworks Night!

Advertisements

One thought on “My Trip My Story: Explore Bawean (Day 2 Part 1): Jherat Lanjheng dan Danau Kastoba

  1. Pingback: My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 2): Tanjung Gaang and Pulau Cina | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s