My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 2): Tanjung Gaang and Pulau Cina

Setelah meletakkan barang-barang, kami pun menikmati makan siang berupa nasi kotak yang telah disiapkan sebelumnya. Hmm…makan nasi padang setelah perjalanan panjang dan rasa lapar menyeruak itu rasanya…nikmaaat sekali hehehe. Saya yang sebelumnya ragu-ragu bisa menghabiskan nasi kotak itu pun akhirnya bisa juga menghabiskannya (habisnya lapar, sih haha). Makan siang ini sangat penting lho, karena setelah ini kami akan langsung bertolak menuju spot wisata yang pertama yaitu Pulau Cina dan Tanjung Gaang. Setelah selesai makan, kami para cewek pun berbagi kamar dan bersiap untuk menuju pantai. Biasa deh yang namanya cewek, persiapan-persiapan standar pun kami lakukan: merapikan penampilan, ganti baju dan yang paling penting: pakai Sunblock! Tabir surya memang benda yang wajib dibawa ketika kita berwisata outdoor. Bukan hanya melindungi kulit supaya nggak bertambah gelap, tabir surya ini juga bisa melindungi kita dari kerusakan kulit akibat terlalu lama terpapar sinar UV dari sinar matahari lho…jadi jangan salah sangka ya kalau orang pakai tabir surya hanya untuk concern kecantikan :).

Sementara kami cewek-cewek bersiap, para cowok sebelumnya juga sudah diantar menuju homestay mereka. Kondisi homestay mereka memang cukup jauh berbeda dibandingkan homestay para cewek, tadi yaa namanya cowok harus rela berkorban dong hehehe. Akhirnya kami pun kembali berkumpul lalu dengan diantar mobil pick up, kami pun berangkat menuju tepi pantai untuk berlayar menuju Pulau Cina. Sambil menunggu bapak yang akan mengantar kami dengan kapalnya menuju Pulau Cina, kami diberi live jacket alias jaket pelampung berwarna orange (sama seperti yang ada di kapal tadi) sebagai piranti standar keselamatan di laut. Kami pun mengisi waktu dengan ngobrol dan saling mengakrabkan diri. Saya sangat bersyukur karena para peserta trip ini sangat ramah dan bersahabat. Kami pun dengan mudah bisa saling akrab satu sama lainnya. Nah, di sini kami untuk pertama kalinya mendengar cerita legendaris dari Yuna tentang temannya yang membawa ayam ke gunung Semeru! Hahaha…cerita detailnya saya ceritakan nanti ya, yang jelas cerita Yuna itu sampai membuat kami tertawa terbahak-bahak. Bahkan mengingat cerita itu saja bisa membuat saya tertawa geli.

DSCF3705 DSCF3708

Sebelum naik kapal ke Pulau Cina (sebelum insiden handphone jatuh ke air…>.<)

Setelah menanti cukup lama, kami pun berangkat menuju kapal yang akan membawa kami menuju Pulau Cina. Nah…di sinilah insiden saya dimulai hahaha. Karena pada waktu itu air sudah agak surut, kapal yang akan mengantar kami ditambatkan agak jauh dari pinggir pantai. Kami pun harus berjalan lumayan jauh melewati ketinggian air laut kira-kira setinggi lutut untuk menuju ke kapal tersebut. Jalur yang kami lewati pun berbatu karang dan tidak rata. Nah, dalam perjalanan menuju kapal itulah saya sempat terperosok sehingga saya pun terjatuh. Tas yang saya bawa juga ikut jatuh terendam di dalam air laut. Jadilah semua isi tas saya basah, termasuk handphone yang saya simpan di dalamnya T_T.. beruntung saya tidak terluka, jadi saya masih bisa sampai di kapal dengan selamat. Cuma ya…handphone saya yang jadi korban…hiks.

DSCF3717 P1040131

Jalan menuju kapal…semangat semuanya! Hati-hati jangan sampai jatuh… (seperti saya) T.T

Setelah semua personel lengkap, kapal pun berangkat menuju Pulau Cina. Brum brum brum…bunyi mesin kapal menyala. Asap putih agak kelabu mengepul dari atas mesin kapal. Maklum, kapal yang kami naiki ini kapal tua. Kapal ini juga tidak begitu luas sehingga tempat duduk kami sangat terbatas. Saya yang biasanya tidak begitu mabuk laut waktu itu jujur saja merasa agak mual karena bau asap mesin yang sangat mengganggu. Asap mesin itu mengalir di udara sekitar kapal yang kami naiki sehingga sangat mengganggu pernapasan. Saya yang memang tidak begitu tahan dengan bau-bauan seperti itu pun segera mengeluarkan senjata sakti antimabuk: minyak angin cap beruang! Resep turun-temurun dari emak dan engkong saya dulu hehehe. Mencium bau minyak angin cukup membantu saya untuk mengatasi rasa mual. Kalau saya yang nggak mabuk laut saya mual begini, apalagi teman-teman yang biasanya mabuk laut ya? Mas Vickie yang duduk di samping tampak diam sambil sesekali memegang kepalanya. Saya pun beberapa kali menawarkan resep sakti saya itu untuk membantunya agar tidak mual. Maklum, Trip leader kami ini agak sensitif dengan goncangan kapal. Untungnya sih ‘mabuk’ nya pak Trip Leader paling-paling jadi diam seribu bahasa selama perjalanan J. Sepanjang perjalanan ini, kami semua memang jadi lebih banyak diam. Mungkin karena kondisi di atas kapal yang kurang nyaman, kami pun jadi malas untuk bercengkerama. Belum lagi perjalanan menuju Pulau Cina yang ternyata memakan waktu cukup lama juga.

P1040144 P1040149

Untunglah di tengah perjalanan kami bisa menikmati keindahan tebing-tebing dan batu karang Tanjung Gaang yang sangat mempesona. Sayangnya kami tidak sempat berfoto di sana.

DSCF3728 P1040151

P1040162 P1040187

Tetap eksis ambil kesempatan foto dengan latar bebatuan Tanjung Gaang

P1040170 P1040185 P1040172

Perbedaan ekspresi sebelum dan setelah hampir sampai ke Pulau Cina (langsung jadi semangat hehehe)

Nah…setelah sekitar satu jam perjalanan di atas kapal, kami akhirnya sampai juga di Pulau Cina. Kapal pun berlabuh di tepi pantai. Pantai di Pulau Cina ini sendiri didominasi batu karang. Untuk mencapai spot snorkelling, kami harus berjalan melewati batu-batu karang (awas hati-hati licin ya…). Hm…satu hal yang disayangkan lagi, di spot ini kami masih belum mendapat alat snorkel sehingga kami pun hanya menikmati keindahan pantai Pulau Cina dari atas laut saja. Mbak Helen (Bumil), Monic dan Kak Marlin yang membawa alat snorkel sendiri  sempat snorkelling di spot tersebut. Sementara saya dan Yuna yang sama-sama nggak bisa berenang hanya berendam-rendam ria di dalam air sambil berfoto bersama teman-teman. Meski perairan yang kami datangi dangkal, saya juga tidak berani berenang tanpa kacamata renang karena air laut yang terkena mata terasa sangat perih. Ya beginilah nasib kami-kami  yang nggak bisa berenang hehehe. Tapi lumayan lah, setidaknya kami kebagian foto-foto di atas batu karang dan foto berendam setengah badan (untung airnya dangkal hehehe).

DSCF3758 DSCF3753

DSCF3751 DSCF3749

DSCF3736 DSCF3739

Susunan batu dan tebing yang menakjubkan di sepanjang Tanjung Gaang 🙂

Bermain air di pantai Pulau Cina membuat kami tak terasa telah menghabiskan cukup lama waktu juga di sana. Dari langit terang sampai berubah menjadi gelap, kami bermain-main di sekitar Pulau Cina. Sekitar jam enam sore kami pun memutuskan untuk segera kembali ke kapal untuk selanjutnya menuju ke pemandian air panas. Nah, di sini sempat terjadi miskomunikasi juga waktu pulang. Rupanya ketika pulang, kami tidak kembali ke titik awal keberangkatan tadi. Kami sempat menunggu cukup lama sampai pick up yang akan menjemput kami tiba. Untunglah warga di pulau Bawean ini juga sangat ramah. Sembari menunggu jemputan, kami disuguhi dengan buah mangga khas Bawean yang sangat lezat! Di sini kami juga baru tahu kalau Kak Marlin ternyata sangat hobi mengupas mangga hahaha. Kami pun menikmati buah-buahan yang diberikan warga di sekitar tempat kami menunggu tadi. Ibu-ibu juga begitu ramah menyambut kami dan mengizinkan kami membilas diri menggunakan kamar mandi di rumahnya.

P1040189              P1040193

Ada Jafar si ‘bolang’               Menatap mentari yang tenggelam perlahan di batas horison…

P1040211 P1040190

Sunset di Pulau Cina…coba tebak siluet siapa di foto sebelah kanan ini?

Akhirnya setelah menunggu cukup lama, mobil pick up yang menjemput kami pun tiba. Di sini kami diantar oleh Mas Faisal dan Mas Subkhan. Keduanya sangat ramah dan informatif. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari hal-hal ringan sampai kondisi kehidupan masyarakat Bawean yang katanya sudah terbiasa dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi. Oh iya, bagi yang belum tahu, sebagian besar warga asli Bawean ini menjadi tenaga kerja di luar negeri, terutama Malaysia. Karena bekerja di luar negeri, dengan gaji yang mengikuti kurs Dollar, maka kalau kurs rupiah menguat, warga Bawean justru bersedih hahaha. Kami sempat geli juga ketika bercanda bahwa Mas Vickie mau mencalonkan diri sebagai Caleg pada pemilu legislatif berikutnya. Mas Faisal dengan sigap menjawab bahwa warga Bawean siap mendukung. Dikiranya Mas Vickie benar-benar mau jadi Caleg hahaha (ya kalau seandainya benar juga nggak apa-apa sih :P) Perjalanan kami di atas pick up terasa benar-benar ramai dan hidup. Canda tawa dan humor segar banyak menghiasi pembicaraan kami, membuat perjalanan pulang kami yang melewati pohon-pohon tinggi dan suasana sunyi pun terasa menyenangkan. Sayangnya sih obrolan ini sempat juga nyerempet-nyerempet hal-hal berbau mistis…ini nih yang saya paling nggak suka >.<.

P1040202 Testing..testing…nyoba kamera 🙂

P1040221 P1040227

Ayooo lihat kamera semuanyaaaa!

P1040230 P1040233

Mau foto aja harus diskusi dulu…yak siap nggak siap pokoknya jepret! Hahaha….

Setelah perjalanan yang hangat, kami akhirnya sampai di pemandian air panas yang…ternyata oh ternyataaaaa….hmf (menghela napas sejenak)—tidak direkomendasikan untuk wanita! Hahaha. Lokasi pemandian air panas ini memang tidak jauh dari homestay kami. Ya mungkin karena bayangan kami yang terlalu ‘indah’ akan pemandian air panas ya, jadi ketika melihat kondisi aktual pemandian air panas yang dimaksud, kami jadi kecewa hehehe. Pemandian air panas ini hanya berukuran sekitar 2 x 2 meter persegi dengan dinding beton mengelilingi ‘kolam’ berisi air panas. Di dalam ‘kolam’ itu ada beberapa orang bapak-bapak yang tengah berendam di kolam tersebut. Beruntung saya menaati anjuran teman-teman cowok yang melarang kami para cewek untuk mendekat, karena katanya bapak-bapak yang berendam di kolam itu hanya mengenakan pakaian dalam saja >.<; Kecewa karena tidak bisa berendam air panas, kami para cewek pun memboikot memaksa untuk tidak berlama-lama di situ hahaha (curang sih, akhirnya Cuma yang cowok saja yang akhirnya bisa berendam air panas…). kami pun kembali ke homestay untuk mandi dan makan malam.

Berhubung hanya ada dua kamar mandi, kami pun harus mengantre untuk mandi. Sambil menunggu antrean, saya sempat berusaha mengeringkan handphone saya yang tadi basah tercelup di air laut. Awalnya handphone saya masih bisa menyala sebentar, tapi kemudian tidak bisa menyala lagi. Ya sudahlah, saya juga sudah pasrah kalau memang harus kehilangan smartphone pertama saya ini. Akhirnya setelah tiba giliran saya untuk mandi, saya pun membersihkan diri kemudian bergabung dengan teman-teman untuk makan malam di rumah si ibu yang empunya homestay tempat kami tinggal. Berhubung kami berada di wilayah pantai, lauk pauk yang disediakan pun tak jauh-jauh dari hidangan laut. Ikan bakar dan ikan goreng dari berbagai spesies ikan disediakan sebagai lauk makan malam kami. Sambil menikmati makan malam lezat masakan si ibu, kami pun mengobrol dengan seru, termasuk membahas cerita Yuna tadi yang sempat membuat kami tertawa terbahak-bahak. Nah, Mas Vickie yang tidak ada bersama kami ketika Yuna menceritakannya pun penasaran apa yang membuat kami sampai bisa tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya Yuna pun kembali menceritakan kisah itu.

Konon, ketika Yuna dan beberapa orang temannya memutuskan untuk mendaki Gunung Semeru, kelompok mereka sepakat untuk memasak sate ayam di Ranukumbolo. Nah, untuk itu, mereka sepakat pula membawa seekor ayam yang nantinya akan dipotong dan dijadikan sate di sana (heran juga sih ini tim bisa sepakat gitu ya hehehe). Si ayam pun digiring melewati jalur Semeru yang berliku (kasian juga si ayam…). Namun, setelah sampai di Ranukumbolo, mereka jadi tidak  tega membunuh si ayam yang sudah mereka bawa tadi (whattt?? Gimana sih?? Niat bikin sate apa nggak sebenarnya??) hahaha… bahkan si ayam ternyata juga bertelur, yang mana telurnya pun menjadi menu sarapan Yuna dan kawan-kawan. Akhirnya, kelompok ini pun membawa kembali si ayam turun gunung. Hebat ya si ayam sudah ikut mendaki Gunung Semeru walau hanya sampai di Ranukumbolo.

Sekali lagi kami pun tertawa terbahak-bahak. Satu hal yang saya tidak habis pikir adalah keputusan untuk membawa ayam hidup ke Semeru dan rencana mereka untuk bikin sate ayam di sana hahaha. Mungkin kalau membaca ceritanya saja nggak terlalu lucu ya, tapi gaya cerita Yuna yang bersemangat itu juga yang semakin membuat kami lebih menghayati komedi di dalam kisah si ayam yang berangkat ke Semeru itu hehehe.

DSCN0416 DSCN0415 DSCN0411 DSC_0101

Foto-foto di dalam perairan di Pulau Cina

Selesai makan, kami pun berkumpul di homestay para cewek untuk ‘ramah-tamah’. Seperti kebiasaaan di trip lainnya, kami berkumpul untuk saling berkenalan satu sama lain. Sambil duduk membentuk lingkaran besar, kami pun memperkenalkan diri dan sedikit cerita di balik keikutsertaan kami dalam trip kali ini. Yuna yang saya ajak ikut trip ini secara tiba-tiba ternyata sebelumnya sudah ada rencana untuk berlibur ke Bali pada hari yang sama. Namun, akhirnya dia lebih memilih untuk mengikuti trip ke Bawean ini karena belum pernah berkunjung ke Bawean. Dia sangat senang bisa mengikuti trip ini dan mengenal teman-teman baru. Saya pun ikut senang dan bersyukur karena ajakan saya ternyata bisa membuat teman saya bahagia.

P1040236 P1040237

Habis main-main air, makan malam dulu yukkkk….

Setelah semua peserta memperkenalkan diri dan menyampaikan kesan pesannya, kami pun memutuskan untuk beristirahat. Saya yang sekamar dengan Yuna, Rani, dan Farida pun bersiap untuk tidur. Sekitar jam sepuluh malam kami sudah masuk ke kamar masing-masing. Satu ranjang spring bed king size pun menjadi tempat kami tidur bersama. Ya memang sih kami harus tidur berdempetan hehehe. Awalnya saya dan Yuna sempat ngobrol sebentar sebelum tidur sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri obrolan kami karena Rani dan Farida sudah mulai terlelap. Tengah malam saya tiba-tiba terbangun untuk ke kamar mandi. Nah, anehnya setelah itu saya jadi sulit tidur. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil bantal dan tidur di ruang tengah di depan televisi hehehe. Untunglah udaranya tidak dingin, jadi tidak masalah saya hanya tidur beralaskan karpet. Enaknya lagi, di sini saya juga jadi bisa lebih leluasa tidurnya, bisa serong kanan dan kiri tanpa menyenggol teman hehehe. Oke, hari pertama di Bawean akhirnya berakhir. Sampai jumpa besok pagi di spot wisata berikutnya! 🙂

To be continued My Trip My Story: Explore Bawean (Day 2 Part 1) : Jherat Lanjeng and Danau Kastoba

Advertisements

One thought on “My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 2): Tanjung Gaang and Pulau Cina

  1. Pingback: My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 1): Let’s Go to Bawean! | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s