My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 1): Let’s Go to Bawean!

Pulau Bawean adalah pulau yang terkenal karena eksotisme pemandangan di bawah lautnya. Mirip seperti Kepulauan Karimunjawa, pulau yang terletak di sebelah utara pulau Jawa ini menyajikan keindahan panorama pantai dan pemandangan biota laut yang beranekaragam. Mungkin masih banyak yang asing dengan nama pulau Bawean ini karena kurangnya promosi dan masih jarangnya wisatawan yang mengunjungi pulau ini, dibandingkan dengan Karimunjawa maupun Kepulauan Seribu. Namun, keindahan alam Pulau Bawean ini tidak kalah dibandingkan dengan kedua obyek wisata pendahulunya tadi. Penasaran? Atau masih belum percaya? Mari kita saksikan keindahan pantai dan pemandangan dalam laut pulau kecil nan eksotis ini…sekalian simak kisah perjalanan saya dan teman-teman menghabiskan akhir pekan di Pulau Bawean ini ya.

Perjalanan ke Pulau Bawean ini bisa dibilang merupakan perjalanan lokal termahal yang pernah saya ikuti. Masa’ sih? Hehehe jangan keburu takut dulu, kawan. Budget perjalanannya sih tidak terlalu besar. Hanya saja dalam perjalanan kali ini saya harus kehilangan sesuatu yang kalau dihitung-hitung nilai materialnya bisa hampir sama dengan total budget personal saya ke Singapore tempo hari. Hahaha… anyway, saya tidak menyesal mengunjungi Pulau Bawean yang telah menyuguhkan keindahan pemandangan pantai dan alam laut. Setelah di perjalanan-perjalanan sebelumnya saya menikmati keindahan alam pegunungan, kini saya dan teman-teman saya memilih untuk mencicip wisata alam di pantai dan laut.

Day 1 (29 November 2014) : Let’s go to Bawean!

Rombongan saya dan teman-teman berangkat dari Tuban sekitar jam lima pagi. Saya, Asmi, Jafar, dan Alfin berangkat naik bus menuju Gresik, sementara Mas Vickie sang trip leader berangkat dari Surabaya karena ada beberapa peserta trip lain dari Jakarta dan Surabaya yang harus berangkat ke Gresik dari Surabaya. Dalam perjalanan kali ini ada juga teman saya, Yuna dari Surabaya yang saya ajak ikut serta. Sebetulnya saya juga baru-baru saja sih kenal dengan Yuna lewat acara retret Weekend Choice 117 yang pernah saya ikuti beberapa minggu sebelumnya. Entah kenapa saya terdorong untuk mengajaknya ikut trip ini, toh Mr. Trip Leader juga bilang boleh ajak teman lain (supaya biaya homestay dan transportnya bisa patungan lebih murah hehehe). Yuna mengajak serta temannya, Ko Denny. Sementara dari Surabaya juga ada Bayu, sobat kentalnya pak Trip Leader (TL) dari SMA, yang mengajak serta Rani temannya. Ada juga Mbak Helen, temannya Bayu (yang ternyata juga adik kelasnya pak TL dan Mas Bayu) yang sedang hamil lima bulan (WOW!), Monic dari Jakarta yang sebelumnya ikut trip bareng Pak TL di Sebesi..Monic ini juga mengajak bosnya, Kak Marlin. Lalu ada juga Farida, ex-murid bimbingannya Pak Trip Leader yang berangkat dari Jakarta. Satu, dua, tiga…jadi total ada tiga belas orang peserta Trip to Bawean ini.

Rombongan kami dari Tuban sampai di Gresik sekitar jam tujuh pagi. Kami naik bus jurusan Semarang-Surabaya lalu turun di daerah Bunder, Gresik. Dari situ kami naik angkutan kota warna hijau menuju Perempatan Kebomas dengan tarif Rp 5.000,00 per orang. Sempat sih kami berencana naik taksi dari Bunder ke Pelabuhan Gresik, tapi tarif yang diminta sopir taksinya terlalu tinggi dibandingkan budget kami, jadi ya akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot saja. Oh iya, di daerah situ banyak juga tukang ojek yang dengan getolnya mengikuti kami dan menawarkan ojeknya, tapi kami juga tidak tertarik karena tarifnya juga jauh lebih mahal dibandingkan tarif angkutan kota. Dengan berbekal percaya pada petunjuk teman sekantor yang memberitahu kami ‘ancer-ancer’ alias petunjuk arah menuju pelabuhan dari Bunder, kami pun berbondong-bondong naik angkutan kota menuju pelabuhan.

Kami pun naik angkutan kota warna hijau tadi lalu berhenti di perempatan Kebomas. Dari situ kami berjalan sebentar ke arah kiri lalu naik angkutan kota warna biru menuju pelabuhan. Tarifnya hanya Rp 4.000,00 per orang. Sementara kami masih dalam perjalanan menuju pelabuhan, rombongan Pak TL dari Surabaya ternyata sudah tiba di pelabuhan. Sekitar jam setengah delapan kami pun sampai di pelabuhan Gresik. Dari tempat berhentinya angkot, kami masih harus berjalan kaki untuk sampai di ruang tunggu pelabuhan. Cuaca yang agak terik sempat membuat kami malas berjalan kaki, tetapi karena pergi beramai-ramai, candaan sepanjang perjalanan pun membuat kami tak terasa akhirnya sampai juga di dekat ruang tunggu pelabuhan. Di situ tampak Mas Vickie sudah menanti kedatangan kami. Kami pun mulai diperkenalkan dengan peserta trip lainnya. Pertama kami bertemu Mbak Helen, yang sebenarnya berangkat dari Gresik juga. Wah beneran nih ini si bumil..perut Mbak Helen yang tampak membuncit membuat kami dengan cepat mengenalinya hehehe. Hawa panas di pelabuhan membuat kami sempat ragu masuk ke dalam ruang tunggu yang penuh orang. Kami pun lebih memilih menunggu sebentar di luar, sampai akhirnya kami pun masuk ke dalam untuk siap-siap berangkat. Nah di dalam ruang tunggu ini saya juga bertemu dengan Yuna, teman saya, beserta Ko Denny yang diajaknya ikut serta dalam trip ini. Tampak juga Mas Bayu yang sedang berbincang-bincang dengan Rani dan ibunya Rani, serta Monic yang sedang tertidur di dalam ruang tunggu.

tiket Natuna Express56 tiket Natuna Express46

Tiket Kapal Natuna Express (yang sebelah kiri dan masih bagus itu punya Asmi…yang sebelah kanan sudah keriput karena kecemplung di laut itu punya saya hehehe)

Sekitar jam delapan, Mas Vickie mulai membagikan karcis kapal. Di situ sudah tertera nomor kursi dan nama kami masing-masing. Ya mirip seperti tiket kereta api lah. Lalu sekitar setengah jam kemudian kami mulai siap-siap naik ke kapal Natuna Express. Saya sempat ragu melihat penampakan luar kapal penyeberangan cepat ini. Bagaimana tidak, sebelum masuk ke ruang penumpang, tampak barang-barang dilemparkan ke atas kapal dan ditumpuk di bagian ujung kapal tempat para penumpang masuk. Kesan pertama saya sih kapal ini agak kumuh hahaha. Namun, kesan tersebut langsung berubah begitu saya masuk ke ruang penumpang. Di dalam ruang penumpang tampak kursi yang berjajar rapi dengan format empat-empat. Di atas tempat duduk tampak ada kabin yang berisi jaket pelampung berwara orange, sementara di bagian depan setiap ruang penumpang tampak televisi layar datar dan pendingin ruangan. Nuansa ‘kumuh’ yang sempat saya prediksi tadi pun lenyap seketika. Ternyata ruang penumpang di dalam sangat berbeda kondisinya. Kebetulan saya mendapat nomor kursi 46A di sebelah Mas Vickie. Beruntung kursi di sebelah kanan saya kosong, jadi saya bisa meletakkan tas daypack saya di situ sehingga bisa duduk dengan lebih nyaman :).

20141129_094545 20141129_094537

Ini deretan kursi saya…keliatan ada jaket pelampung  juga yang disusun berjajar di rak 😀

Sekitar jam sembilan kapal Natuna Express pun berangkat, siap membawa kami menyeberang menuju Pulau Bawean. Perjalanan ini lumayan lama juga. Saya sempat memejamkan mata di tengah perjalanan, sementara Kakak Monic yang duduk di deretan di belakang saya malah sudah lebih dulu terlelap. Mungkin dia capek juga karena langsung berangkat dari Jakarta hari sebelumnya. Alunan musik dangdut khas pantura mengalun sepanjang penyeberangan menuju Bawean. Saya dan teman-teman sempat merasa geli melihat video dangdut yang ditayangkan. Kalau yang ditayangkan video mbak-mbak penyanyi dangdut yang menyanyi di atas panggung sih sudah biasa, nah ada video dimana yang menyanyi adalah bapak-bapak dengan suara yang ala kadarnya bahkan ada yang menyanyi dengan bahasa daerah yang tidak kami pahami. Hahaha..pokoknya tayangan di televisi ini sama sekali tidak menarik buat saya.

P1040082

 

TV layar lebar di depan tempat duduk penumpang..seandainya yang ditayangkan film-film Box Office ya, pasti lebih menarik ( menurut saya) hehehe…

 

 

Setelah sekitar tiga jam perjalanan, tanda-tanda daratan masih belum terlihat. Saya dan beberapa teman pun memutuskan untuk keluar melihat-lihat keadaan. Ternyata di dekat tempat ‘penimbunan’ barang-barang tadi ada semacam kafetaria kecil yang menyediakan makanan sederhana seperti Popmie, minuman, dan makanan kering. Ada beberapa meja dan kursi kecil juga yang disediakan untuk penumpang yang ingin makan di situ. Saya dan teman-teman sempat berfoto-foto sebentar di situ dengan pemandangan lautan yang luas terpapar di sekitar kami. Pemandangan yang didominasi warna biru laut dan langit yang dihiasi awan putih, sepintas mungkin tampak monoton, tapi ada keheningan dan kesan misterius tak terungkapkan yang muncul ketika memandangnya.

DSCF3668 DSCF3681

Foto-foto sembari menunggu daratan terlihat…nah di foto yang kanan ini kelihatan tumpukan barang di bagian ujung belakang kapal (makanya awalnya saya sempat mendapat kesan kumuh dari kapal ini hehehe)

P1040092 P1040096

Say Cheese everyone!

DSCF3689

Darataaaannnn!!!

Kapal Natuna Express melaju kencang melawan gelombang yang muncul di laut. Perlahan tampak daratan di depan. Kami begitu antusias. Setelah sekitar empat jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di Pelabuhan Sangkapura, Bawean. Kami segera berkemas dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di kapal. Di sini masih sempat juga kami foto-foto sebelum turun dari kapal Natuna yang benar-benar express hehehe.

P1040107 P1040110

Siap-siap sebelum turun dari kapal Natuna Express 🙂

Akhirnya kami pun menjejakkan kaki di pelabuhan Bawean. Eh ternyata Mas Vickie sudah mempersiapkan banner bertuliskan “My Trip My Story: Explore Bawean”. Wow… serasa ikut tour and travel beneran aja nih hehehe. Katanya dia juga mempersiapkan kejutan untuk teman-teman besok malam. Wah…apa ya kejutannya? Jadi penasaran hehehe.

DSCF3694

Tiba di Pelabuhan Bawean~ foto bersama dengan banner fasilitas dari Pak TL: My Trip My Story 🙂

Seperti telah dipersiapkan sebelumnya, di sini kami pun bertemu dengan Mas Faisal yang akan memandu kami menuju spot-spot wisata di Bawean. Dari pelabuhan, kami pun naik mobil (1 mobil Avanza dan 1 mobil pick up) yang membawa kami menuju homestay tempat kami akan beristirahat selama tiga hari dua malam ini.

P1040116

Welcome to Bawean!

Dari pelabuhan menuju homestay kami melewati jalan-jalan di Pulau Bawean yang masih sangat terasa nuansa pedesaannya. Maklum, Bawean memang bukan daerah metropolis dan kota maju seperti kota-kota besar yang ada di pulau Jawa. Jalan yang kami lalui pun banyak yang belum beraspal, tapi jalannya cukup rata dan lebar untuk dilewati kendaraan. Sepanjang jalan menuju homestay tampak rumah-rumah warga dan toko-toko kelontong. Kami juga sempat melewati alun-alun Bawean yang katanya lumayan ramai saat sore dan malam hari.

Setelah perjalanan sekitar setengah jam, kami pun sampai di homestay. Karena jumlah peserta yang lumayan banyak, tempat istirahat kami pun dibagi dua. Homestay tempat kami tiba ini adalah tempatnya para cewek beristirahat. Ketika saya mengingat kembali homestay yang saya tempati saat saya berkunjung ke Karimunjawa, homestay di Bawean ini bisa dibilang jauh lebih oke. Selain bangunannya yang terbilang lumayan baru, ruang kamar dan kamar mandi yang bersih, televisi layar datar berukuran besar dan ruang tamu yang luas, serta ketersediaan listrik dua puluh empat jam membuat homestay di Bawean ini terasa begitu nyaman dan seperti di rumah sendiri.

DSCF3701 P1040121

Akhirnya sampai di homestay! Yuk makan siang bareng dulu….

P1040127 P1040128

Ini homestay-nya para cowok…Ssst tenang dulu, itu ada yang lagi berdoa.. 🙂

To be continued My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 2): Tanjung Gaang and Pulau Cina

Advertisements

2 thoughts on “My Trip My Story: Explore Bawean (Day 1 Part 1): Let’s Go to Bawean!

    • Maaf baru balas Mas. Mungkin bisa kontak Mas Faisal, beliau yg koordinir homestay kami dulu di Bawean. Nomornya 085257898988

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s