SEMINGGU TANPA SMARTPHONE

Pada zaman modern seperti sekarang ini, keberadaan smartphone (versi canggih dari handphone) telah semakin ‘menjamur’. Banyak fasilitas yang ditawarkan oleh ponsel pintar ini, termasuk kemudahan mengakses situs jejaring sosial dan aplikas-aplikasi unik yang banyak mempermudah aktivitas kita. Sebagai salah seorang pengguna smartphone, tentu saya juga menikmati kemudahan yang diberikan oleh benda mungil nan canggih ini. Tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, ponsel pintar ini pun bisa berfungsi sebagai kamera dan bahkan digital note! Sungguh kemampuan yang luar biasa!

smartphone-ABI-research

(Picture from http://en.miui.com/thread-31899-1-1.html)

Nah, apa jadinya kalau kita yang sudah terbiasa menggunakan smartphone tiba-tiba harus hidup tanpanya?

Berlebihankah kalau saya bilang smartphone ini bisa jadi lebih dekat daripada keluarga atau pasangan kita? Ke mana pun kita pergi, kita selalu membawanya. Bahkan tidak sedikit orang yang membawa smartphonenya ke kamar mandi hehehehe. Kalau pergi keluar rumah dan smartphone kita tertinggal, kita jadi merasa ada yang kurang..seolah-olah kita ini tidak bisa hidup tanpa smartphone, bukan?

Beberapa waktu yang lalu di bulan November 2014, saya kehilangan salah satu smartphone yang telah dengan setia menemani saya selama kurang lebih tiga tahun ini. Smartphone itu adalah smartphone pertama yang saya beli dengan gaji dari tempat kerja kedua saya, beberapa bulan setelah saya bekerja di situ. Samsung Galaxy Ace 2. Fasilitasnya mungkin tidak ada apa-apanya dengan smartphone lain yang bertebaran dewasa ini. Memori dan versi Androidnya pun telah ketinggalan jauh dari smartphone baru yang banyak bermunculan sekarang. Namun, saya sangat menyukai smartphone ini karena keawetannya (pernah beberapa kali jatuh dan masih oke dipakai) dan karena memang saya juga bukan tipe yang mudah gonta-ganti handphone. Namun kebersamaan saya dengan si ponsel cerdas ini ternyata harus berakhir di bulan November tahun lalu. Waktu itu saya sedang berwisata ke pulau Bawean (bagi yang masih asing dengan nama pulau ini bisa dicari di internet). Pulau Bawean memiliki pantai-pantai yang sangat indah dengan biota laut yang juga menarik, tidak kalah dengan Kepulauan Karimunjawa. Nah, pada hari pertama kunjungan saya, terjadi sebuah ‘insiden’ kecil yang menyebabkan tas yang saya bawa terjatuh ke dalam air laut. Akibatnya, semua isi tas saya pun basah, tak terkecuali si Galaxy Ace 2. Saya juga tak merespon cepat dengan mengeluarkan SIM card, micro SD dan baterai. Yang ada, saya membiarkan saja ponsel saya itu di udara bebas. Tak terpikir bahwa saya akan kehilangannya hahaha.

Baru setelah saya kembali dari Bawean, saya mencoba membawa ponsel naas saya itu ke tukang servis. Nah, di situlah saya akhirnya mendapat kepastian bahwa smartphone pertama saya itu harus masuk gudang karena sudah tidak bisa diperbaiki. Ganasnya air laut ternyata dengan cepat merusak komponen-komponen yang ada di smartphone saya itu. Kecewa itu pasti, tapi saya juga tidak terlalu sedih dan kecewa. Meski saya akan kehilangan akses beberapa aplikasi, tapi saya masih bisa mengakses aplikasi jaringan sosial dengan blackberry yang ‘diwariskan’ kakak saya beberapa waktu yang lalu. Saya mencoba mengambil hikmahnya, mungkin saya harus beli smartphone baru ya hehehe….

Beberapa minggu saya jalani dengan hanya menggunakan Blackberry gemini warisan kakak. Saya masih merasa enjoy walaupun terkadang saya merasakan kurang praktisnya ponsel warisan ini dibandingkan smartphone saya yang sudah almarhum. Nah, kejadian selanjutnya terjadi pada awal bulan Januari 2015.

Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang naik bus Patas dari Semarang menuju Tuban. Setelah hampir dua minggu berlibur di kampung halaman, saatnya untuk kembali bekerja. Saat itu hari Minggu. Seperti biasa, saya berangkat dari Semarang siang hari agar tidak terlalu malam sampai di Tuban. Benar perkiraan saya, sore sekitar jam setengah enam saya sudah sampai di Tuban. Seperti biasa pula bus Patas yang saya naiki berhenti di rumah makan untuk istirahat. Nah, pada waktu itu saya yang sudah kelaparan segera turun dari bus setelah bus berhenti. Saya memang tidak mengecek handphone saya karena fokus saya adalah makan hahaha.

Saya sempat merogoh kantong tempat saya menyimpan handphone, tetapi saya tidak menyadari apakah handphone saya masih ada di tempatnya atau tidak. Barulah ketika saya telah selesai makan saya menyadari bahwa handphone saya tidak ada di tempatnya. Saya pun segera kembali ke bus, mengecek di bawah-bawah kursi apakah hanphone saya terjatuh. Namun hasilnya nihil. Saya juga mengecek di rumah makan tempat saya makan tadi, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan handphone saya. Setelah bus berjalan, saya pun coba bertanya kepada bapak kondektur bus apakah dia melihat ada handphone terjatuh dan dia mengatakan tidak melihatnya. Hm…ya sudahlah, berarti sudah positif handphone saya hilang. Saya masih bersyukur waktu itu masih ada satu handphone candybar (handphone lama saya sebelum saya membeli si Galaxy Ace 2). Dengan adanya si handphone jadul dan mini itu, saya masih bisa berkomunikasi lewat SMS dan telepon. Namun, tentu saja tidak sama rasanya ketika sudah terbiasa menggunakan smartphone kini harus kembali menggunakan hanphone model lama.

Komunikasi internet saya termasuk jaringan sosial online saya pun terputus. Saya tidak bisa menggunakan aplikasi whatsapp, LINE, facebook, maupun BBM. Sebenarnya saya heran juga kalau ada yang sengaja mengambil blackberry warisan dari kakak itu. Jujur saja, kondisinya sudah tidak terlalu bagus. Saya juga tidak terlalu sedih dengan hilangnya si blackberry karena toh itu handphone warisan. Akhirnya jadilah saya harus menghabiskan hari-hari tanpa smartphone.

Kalau anda pernah mencoba meninggalkan smartphone anda sehari saja, pasti anda tahu rasanya hidup ‘bebas’ tanpa smartphone. Ya, setidaknya selama seminggu hidup tanpa si ponsel cerdas, saya yang tadinya khawatir akan kehilangan aktivitas justru merasa sebaliknya. Saya merasa lebih ‘damai’ tanpa bunyi pang ping pung dari smartphone yang merupakan notifikasi setiap kali ada pesan masuk. Saya juga justru bisa melakukan lebih banyak aktivitas selain berkutat dengan smartphone. Saya bisa menyelesaikan membaca beberapa buku, membuat tulisan, menyampuli buku-buku saya…banyak aktivitas yang biasanya selalu saya tunda karena saya sibuk bermain dengan si ponsel pintar akhirnya justru bisa saya selesaikan. Oh iya, saya juga jadi tidak sibuk membicarakan orang lain karena sudah ketinggalan kabar-kabar terbaru hahaha. Ternyata hidup tanpa smartphone juga bisa membantu menjauhkan saya dari bergosip ya J.

Beberapa hari hidup tanpa smartphone terbukti tidak mengubah saya menjadi manusia goa yang ketinggalan berita dan gagap informasi. Saya juga tidak kehilangan teman-teman saya. Saya masih menjadi saya yang dulu, saya yang biasanya. Hidup terlepas dari smartphone ternyata juga tidak membuat saya kehilangan aktivitas. Saya justru bisa melakukan lebih banyak daripada saat saya memiliki smartphone. Maka ketika smartphone baru yang saya pesan secara online tiba, perasaan saya bercampuraduk. Senang, tentu saja, karena saya akhirnya bisa kembali menyapa kawan-kawan saya secara online, bisa memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang ada di ponsel cerdas ini, tetapi saya juga sedih karena saya akan kembali terikat dengan si ponsel pintar. Saya mungkin akan kembali kehilangan waktu-waktu bebas saya, di mana saya bisa mengerjakan banyak hal yang sebelumnya selalu saya tunda untuk dikerjakan. Namun, saya akhirnya memakai juga si smartphone baru. Meski demikian, ingatan saya akan kehidupan tanpa smartphone yang pernah saya jalani membuat saya lebih lepas bebas terhadap benda elektronik yang satu ini. Ada atau tidak ada si smartphone seharusnya tidak menjadi soal. Keberadaan smartphone juga seharusnya bisa kita sikapi dengan bijak. Jangan sampai kita menjadi terlalu terikat sampai-sampai kita tidak bisa hidup tanpanya.

Terima kasih Tuhan, atas pengalaman kehilangan smartphone dan hidup tanpanya selama beberapa hari. Mungkin Engkau ingin mengajar dan menunjukkan kepadaku bahwa hidup tanpa smartphone itu tidak masalah dan bisa jadi justru berbuah lebih banyak. Semoga kami para pengguna smartphone ini senantiasa diingatkan bahwa alat komunikasi seharusnya bermanfaat untuk membantu lancarnya komunikasi, bukan justru menjadikan kami makhluk antisosial yang apatis dan sibuk dengan gadget masing-masing tanpa peduli pada apa yang terjadi di sekitar kami. Biarlah keberadaan si ponsel pintar ini pun bisa semakin memuliakan namaMu. Amin 🙂 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s