MALAM KUDUS

5 Januari 2015

Ketika mendengar lagu Silent Night atau Malam Kudus dinyanyikan pada masa Natal, saya terbayang akan suasana kelahiran Yesus berabad-abad silam.

Seperti kita tahu, Yesus lahir tidak di tempat yang mewah, tidak dalam kemeriahan dan hingar bingar pesta pora. Yesus lahir di kandang domba, ditemani keluarga kudusNya dan para gembala domba yang menerima kabar dari Malaikat Gabriel.

Pikiran saya pun terusik. Saat membandingkan kemeriahan Natal yang kita rayakan pada masa-masa modern ini dengan situasi Natal yang sebenarnya waktu itu, hati saya terasa miris. Kesederhanaan Kristus yang hadir ke dunia menunjukkan betapa Ia sangat amat rendah hati. Yesus sang Juruselamat, Putera Allah, lahir ke dunia tanpa bergelimang kemewahan sedikit pun. Jika kita membayangkan, siapa di antara kita yang mau lahir di kandang? Namun, lihat apa yang dibiarkan Allah terjadi pada PuteraNya.

Saya rasa kelahiran Yesus yang sederhana ini sungguh menyimpan makna yang mendalam. Kerendahan hati, kerelaan untuk menderita, ketaatan akan apa yang harus terjadi dan dialami oleh Yesus dan keluarga kudusNya, rupanya telah dimulai bahkan sejak sebelum Yesus lahir. Kenyataan inilah yang mungkin sering kita lupakan.

Kita hampir selalu larut dalam kegembiraan dan kemeriahan pesta, tetapi kita justru sering melupakan esensi sebenarnya dari Natal. Kidung Malam Kudus pun seakan hanya menjadi sebuah lagu yang berlalu biasa saja. Padahal dalam lagu itu, tersembunyi kekhusyukan, keindahan, dan kekudusan malam kelahiran Sang Juruselamat.

Malam Kudus, malam yang istimewa bukan karena meriahnya pesta, bukan karena ramainya orang menyanyi dan makan besar…melainkan malam yang ‘kudus’ karena kelahiran Yesus Kristus.

Lagipula bukan pula raja-raja atau bangsawan yang diundang dalam pesta kelahiran Yesus, melainkan para gembala! Ini merupakan suatu tanda dan bukti bahwa Yesus datang untuk memberitakan warta sukacita terutama kepada orang-orang yang kecil dan lemah. Sukacita yang tidak sama dengan sukacita yang ditawarkan dunia. Sukacita yang akan selalu abadi, karena setiap kali kita menerima Yesus dalam hati kita, maka Ia, Sang Sumber Sukacita itu akan selalu menganugerahkan sukacita abadi dalam diri kita.

Marilah kita berusaha untuk lebih mendalami dan memaknai Natal, tidak hanya sekedar larut dalam kegembiraan dan kemeriahan perayaannya, tetapi lebih dalam lagi berusaha untuk mengisi hidup kita dengan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Semoga kehadiran Kristus di malam yang kudus senantiasa membawaNya pula untuk hadir dalam diri kita setiap saat, agar kita selalu penuh dengan sukacita surgawi dan mampu mewartakannya kepada sesama kita di manapun kita berada. Amin. AMDG! 🙂

MomentCam_20150111_175221

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s