Unforgettable Unexpected Journey Semeru Day 3 Part 4: Finally, back home!

Mas Herman, Asmi, dan Kang Hendrika berada di depan, sementara saya, Jafar, dan Mas Vickie di belakang. Ternyata jalur turunan yang kami lewati ini berpasir. Selain karena jalan turunan membuat kaki saya agak sakit karena harus menahan berat badan, jalur berpasir yang dilewati motor ini membuat jalurnya rusak. Ada cekungan selebar ban motor di jalur yang kami lewati ini. Wah…cekungan ini bikin makin repot saja. Sementara saya berusaha mencari jalan yang datar karena kaki saya terasa sakit ketika menapak di permukaan yang miring, mau tidak mau saya juga harus melewati jalur bekas ban motor tadi. Saya berjalan lambat, apalagi hari semakin gelap dan pandangan saya menjadi semakin kurang jelas ketika gelap. Kami sempat berpapasan dengan seorang pendaki yang naik ojek untuk turun sampai ke Ranupani. Namun, karena informasi yang kami terima tadi jarak ke Ranupani tidak terlalu jauh, sayang juga kalau harus naik ojek ke sana. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki.

DSCF3549 DSCF3545

Foto-foto di ‘puncak’ jalur ayak-ayak bersama rombongan lain (takdir ‘kan mempertemukan kami lagi hehehe) ~ muka udah pada kucel semua >v<

Hari semakin gelap dan masih belum tampak tanda-tanda rumah penduduk. Saya sudah memasang headlamp untuk menerangi jalan saya karena mata saya sudah mulai tak jelas melihat dalam gelap. Medan yang berpasir dan tak rata membuat langkah saya semakin terhambat. Aduh, saya jadi tidak enak hati nih karena memperlambat langkah tim kami. Meski sudah memakai headlamp, saya masih sulit juga membedakan medan yang cekung dan rata. Langkah saya yang ragu-ragu, ditambah angin berdebu yang semakin mengaburkan pandangan dan mengotori kacamata membuat saya makin lambat saja. “Kamu kok kayaknya ragu-ragu, Mu? Taktuntun saja ya,” kata Mas Vickie yang menyadari langkah saya tersendat. Akhirnya saya dituntun juga menuruni jalan berpasir itu. Patokan saya hanya langkah kaki Mas Vickie. Pokoknya saya ikuti kakinya saja. saya sebenarnya khawatir juga karena dia jadi berjalan mundur. Mas Herman yang berjalan di depan pun bertugas menjadi guide yang memberitahu jalur mana yang mudah dilalui. “Kanan aman, Bro!” kata Mas Herman. Dia juga menyinari jalur yang akan kami lalui. Kalau sudah seperti ini, siapa sih yang nggak terharu dengan kesetiakawanan rombongan pendaki gunung ini? Sudah cukup lama kami berjalan dan hari semakin malam. Tanda-tanda rumah penduduk belum juga tampak setelah dua jam perjalanan. Beruntung kami bertemu dengan tukang ojek yang habis mengantar orang foto Prewed (o__o) wow ada juga ya ternyata..bisa ditiru nih hehehe. Akhirnya demi mempercepat perjalanan, saya dan Asmi pun naik ojek menuju ke Ranupani, sementara teman-teman cowok menyusul dengan berlari. Ya setidaknya tanpa harus menjaga kami, langkah mereka pasti bisa jauh lebih cepat.

Saya dan Asmi pun melewati jalur berpasir menuju Ranupani di atas ojek. Oh iya, tarif ojek ini Rp 30.000,00 per ojeknya. Ketika melewati jalan turun, saya jadi memikirkan teman-teman cowok di belakang. Astaga, ternyata jalannya masih cukup jauh juga! Setelah saya dan Asmi sampai dengan selamat di pos Ranupani, kami berpesan agar si bapak tukang ojek menyarankan agar teman-teman cowok tadi naik ojek saja. Kasihan kalau mereka harus menempuh jarak sejauh tadi. Asmi dan saya tidak bisa membayangkan kalau tadi kami masih harus berjalan tersendat-sendat sampai ke Ranupani. ‘Bisa sampai besok pagi, tuh!’Begitu pikir saya. Pokoknya kami merasa menyesal juga lewat jalur ayak-ayak tadi. Mungkin untuk orang yang sudah terbiasa melewatinya memang bisa cepat ya, tapi kalau untuk saya sih sepertinya lebih baik lewat jalur normal dulu deh, apalagi kalau ada yang cedera dan kondisi perjalanan gelap. Sewaktu hendak membayar ojek, saya baru menyadari bahwa dompet saya ada di tas kecil saya yang saya titipkan ke Jafar. Untunglah Asmi masih punya cukup uang untuk membayar ojek. Waktu itu juga ada seorang pendaki (yang sempat berpapasan dengan kami naik ojek tadi) yang sudah ada di pos Ranupani. Dia menawarkan untuk meminjamkan uang kalau memang uang kami tidak cukup untuk membayar ojek (baik banget ya Masnya). Si Mas ini berkata, “Akhirnya naik ojek juga, Mbak?” hehehe dengan sedikit malu-malu kami menjawab, “Iya Mas, habis tadi katanya dekat sih,” Kami tadinya mengobrol di ‘beranda’ pos. Kami juga sempat bercakap-cakap dengan seorang bapak penduduk lokal yang bercerita bahwa sempat ada pendaki yang kesurupan juga. Beliau juga membenarkan ada pendaki yang meninggal dunia karena nekad summit tadi pagi meski sudah diingatkan oleh petugas posko bahwa pendakian pada hari-hari itu sangat riskan dan hanya dianjurkan maksimal sampai di Kalimati. Bapak tadi juga menawarkan kami untuk menginap di tempatnya jika kami tidak langsung pulang. Ya harapannya sih kami bisa segera kembali ke Tuban supaya bisa cepat beristirahat juga. Akhirnya sambil menunggu teman-teman cowok sampai, saya dan Asmi meletakkan tas di dalam pos. Saya juga langsung memakai jas hujan karena hawa dingin mulai terasa menusuk kulit. Mas Ian yang juga tengah menunggu rekannya, menawarkan kami membuat minuman hangat, yang langsung saja kami setujui.

Sektiar setengah jam kemudian tampak sebuah truk tiba. Rupanya truk itu menjemput rombongan yang sempat berfoto bersama kami juga di ‘puncak’ sebelum turunan ke Ranupani. Mas Ian sempat menawarkan kami untuk ikut, tetapi kami berkata bahwa kami masih menunggu rombongan kami. Eh…pucuk dicinta ulam tiba! Beberapa saat kemudian tampak teman-teman kami: Kang Hendrika, Jafar, Mas Vickie, dan Mas Herman! Betapa bahagianya saya dan Asmi melihat kedatangan mereka. Rasanya belum pernah juga kami segembira itu melihat kedatangan cowok-cowok ini di hadapan kami.Kami pun langsung menyetujui tawaran untuk ikut rombongan naik truk itu menuju Tumpang. Saya, Asmi, dan salah seorang anggota rombongan tadi bernama Mas Faaz duduk di depan di samping sopir, sementara teman-teman yang lain duduk di bagian bak truk. Di perjalanan turun, tampak gunung Semeru yang berpijar di beberapa bagiannya. Rupanya ada kebakaran di jalur pendakian dari pos dua ke pos tiga. Wah wah…saya jadi tidak bisa membayangkan juga kalau kami tadi turun lewat jalur normal. Bisa jadi kami malah tidak bisa pulang karena terjebak kebakaran. Saat itu juga saya langsung bersyukur sedalam-dalamnya atas perlindungan Tuhan. Semuanya seperti sudah diatur, dirancang dengan rapi oleh Yang MahaKuasa. Kami yang tadinya bersungut-sungut karena banyak hambatan dan tanjakan di jalur ayak-ayak kini justru seharusnya bersyukur karena kami tidak terjebak kebakaran. See, good? bad? who knows? 🙂

Sepanjang perjalanan ke Tumpang, kami juga mengobrol dengan Mas Faaz. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya naik gunung dan gunung mana saja yang pernah ia daki. Mas ini lucu juga, dia sering membuat kami tertawa dengan ceritanya. Dia juga sempat minta nomor handphone Asmi (nah lhoo >.<) Tak terasa perjalanan kurang lebih satu jam pun terlewati tanpa rasa bosan. Rombongan Mas Faaz ini turun di Gubug Lakah. Setelah berpamitan, truk kembali melaju untuk mengantar rombongan kami ke Tumpang.

Sekitar jam sembilan kami tiba di Tumpang. Kami pun membayar Rp 35.000,00 per orang untuk tumpangan truk tadi. Selanjutnya, kami tinggal naik angkutan menuju Terminal Arjosari. Kebetulan kami bertemu dengan rombongan lain yang juga hendak menuju terminal. Kami pun bergabung mencarter satu angkot. Pas sekali jumlahnya, dua belas orang plus keril-kerilnya masuk ke dalam angkot. Di dalam angkot pun terjadi pembicaraan hangat mengenai pendakian ke Semeru tadi. Rombongan yang bersama kami di angkot ini rupanya berasal dari Yogyakarta dan Surabaya. Mereka pun membahas cuaca di Semeru yang memang sedang tidak bersahabat beberapa hari terakhir. Rombongan mereka juga sempat berencana naik, tetapi karena cuaca yang tidak mendukung, akhirnya mereka pun menghabiskan dua hari di Ranukumbolo. Konon, salah seorang anggota rombongan mereka hampir saja kesurupan lho! Aaaaarrrrggghhh…kenapa sih jadi bahas ini? Topik yang sangat saya hindari >.<; Untunglah anggota rombongan yang lain ada yang bisa membantu mencegah sehingga kesurupan pun tidak terjadi. Fyuh…. Nah, tapi katanya sih beneran ada pendaki yang kesurupan, cewek. Entah kenapa sih, katanya sampai seharian si cewek itu sampai kelelahan karena kesurupan. Akhirnya ‘makhluk’ yang masuk ke tubuh si cewek sampai dipindahkan ke temannya yang cowok. Weleh weleh…amit-amit deh, saya benar-benar bersyukur nggak ada kejadian seperti itu di rombongan kami. Oh iya, konon katanya ketika kesurupan, pendaki tadi juga sempat berkata, “Akan ada korban…” *hening sesaat* Bulu kuduk langsung berdiri nih…ya walaupun saya juga nggak tahu kebenaran cerita itu, tapi ngeri juga membayangkannya. Ah sudahlah, nggak perlu dibahas lebih jauh. (Saya sampai sengaja nyuri-nyuri bikin bagian yang ini di kantor pas siang hari supaya nggak kepikiran, daripada nulis malam-malam takut juga >.<)

DSCF3550

Foto di angkot menuju Terminal Arjosari, Malang ~ the last photo we take today 🙂

Pembicaraan kami berlangsung dengan hangat sampai tak terasa angkot telah sampai di Terminal Arjosari, Malang. Rombongan kami pun langsung menuju bus ke Surabaya. Karena sudah malam, yang ada hanya bus Patas. Ya sudahlah, yang penting pulang! Kami pun naik ke bus dan segera mengambil posisi. Syukurlah masih banyak tempat duduk kosong di bus. Kami pun duduk dengan nyaman sembari menunggu sampai di Surabaya. Perjalanan masih panjang, teman! Kami sempat membeli snack yang dijajakan beberapa orang anak di dalam bus sebelum bus berangkat. Anehnya, mereka tidak menyebut harga, “Seikhlasnya saja,” katanya. Kami pun membeli lumpia dan kue lumpur. Kalau tidak salah kami kasih Rp 5.000,00 untuk tiga buah snack. Lumayan juga untuk mengganjal perut yang sudah agak keroncongan. Saya dan Asmi juga sempat membersihkan wajah dengan tissue basah yang dibeli Jafar dkk sebelum naik angkot di Tumpang tadi. Setelah menyeka wajah saya dengan tissue basah, wowwwwww saya baru sadar kalau ternyata wajah saya sudah kotor sekali! Kalau kondisi begini dilihat calon suami bisa langsung ditinggal kabur nih hahahaha…(sayangnya belum ada calon, hiks #curcol 😀 ). Saya pun sadar bukan hanya wajah…tangan, kaki dan bahkan sekujur tubuh saya mungkin sudah dekil karena terpapar debu selama beberapa hari pendakian. Ya risiko naik gunung sih, kalau mengutip iklan salah satu sabun cuci, katanya “Nggak ada noda ya nggak belajar,” hehehe. Setelah membersihkan wajah, saya pun memilih untuk memejamkan mata, lumayan nyicil istirahat. Asmi yang duduk di samping saya juga terlihat lelah. Kami pun tertidur. Ketika akhirnya saya membuka mata, ternyata kami sudah hampir sampai di Terminal Bungurasih. Kami memang sengaja tidak masuk ke dalam terminal karena mau makan malam dulu. Maklum sudah lapar juga nih hehehe.

Kami berhenti di Jalan Letda Sucipto, tepat di seberang penjual nasi goreng. Karena sudah malam dan lapar, kami tidak pilih-pilih makanan. Nasi goreng boleh lah menjadi santapan penutup hari ini. Selama makan kami tidak banyak bicara. Mungkin karena kami semua sudah capek dan mengantuk. Di sini saya sempat membuka kaos kaki dan membersihkan kaki saya yang ternyata sudah sangat amat kotor dan penuh debu. Selesai makan, kami pun berjalan menuju Terminal Bungurasih. Setelah mampir sebentar ke toilet (akhirnya ketemu toilet lagi!), kami segera berjalan menuju lokasi bus antarkota. Kami naik bus ekonomi untuk menuju ke Tuban. Syukurlah bus ini juga masih sepi. Ya iya lah ya, waktu itu sudah sekitar jam satu pagi hari Selasa. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sudah tepat keputusan saya untuk minta izin tambahan cuti hari Selasa. Rasanya saya ingin langsung tidur dan beristirahat di rumah. Benar saja, bus pun berangkat dan mengantar kami sampai ke Tuban.

Mas Vickie turun lebih dulu karena kosnya kebetulan dilewati bus duluan. Tak lama kemudian giliran saya, Asmi, Jafar, Mas Herman, dan Kang Hendrika turun di depan mess. Akhirnyaaa…kami pulaaaang! Kami tiba sekitar jam empat pagi. Setelah sampai, kami pun masuk ke rumah masing-masing sementara Mas Herman dan Kang Hendrika masih harus naik kendaraan kembali ke rumahnya. Akhirnya perjalanan dan petualangan kami ke Gunung Semeru pun berakhir sudah. Saya pun masuk ke kamar, berberes dan memisahkan baju kotor untuk dicuci, mandi, kemudian bersiap untuk istirahat. Aneh juga sih kalau tidur jam segini, karena biasanya justru jam lima pagi saya baru bangun. Saya pun meletakkan baju kotor di depan kamar untuk dilaundry lalu mulai membereskan barang-barang, termasuk memisahkan tas saya yang sudah penuh debu pula. Oh iya, saya juga harus merawat luka di kaki saya dengan lebih steril nih hehehe. Ternyata benar kaki kanan saya bengkak. Meski demikian, saya masih sangat bersyukur karena diberi keselamatan sehingga bisa pulang dengan selamat. Fajar itu tak henti saya mengucap syukur dan merenungkan kembali rahmat keselamatan luar biasa yang boleh kami terima. Selanjutnya, saya pun berbaring di atas tempat tidur, menarik bedcover, lalu mulai memejamkan mata. 🙂

Sampai di sini perjalanan kami mendaki Semeru (walau tak sampai puncak)..sampai jumpa di perjalanan selanjutnya ya..keep travelling, get new adventure!

See Unforgettable Unexpected Journey Semeru: Final Words

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru Day 3 Part 4: Finally, back home!

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 3: Jalur Ayak-ayak | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s