Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 3: Jalur Ayak-ayak

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Jalur Ayak-ayak, kami tak lupa mengambil kantong sampah yang kami tinggalkan kemarin. Ternyata memang nggak ada yang ambil tuh kantong sampah. Coba kalau isinya barang elektronik, emas batangan sama duit ya, pasti langsung hilang dalam hitungan menit yahehehe…. Ya nggak apa-apa deh, sebagai orang bertanggung jawab, kami pun membawa turun kantong sampah tadi. Nah, untuk melewati jalur ayak-ayak ini ada dua alternatif jalan. Yang satu jalannya lebih curam tapi lebih cepat sampai, sedangkan jalur lainnya lebih landai tapi lebih lama sampainya. Saya, Asmi, dan Kang Hendrika memilih lewat jalur kedua, sementara Mas Herman, Jafar, dan Mas Vickie lewat jalur yang pertama. “Sampai ketemu di atas, ya!” kata Mas Vickie kepada kami. Di atas? Saya hanya mbatin (berkata dalam hati—Red), ini bukannya jalur turun ya? Kok ‘ketemu di atas’ sih? Hmm ya sudah lah, nggak usah terlalu dipikirin—ini nanti beneran jadi pertanyaan kami semua, hiks!

DSCF3527 DSCF3523

Menuju jalur ‘Ayak-ayak’

Jalur yang kami lalui ini seperti menaiki bukit. Kami bisa melihat pemandangan padang rumput di bawah, termasuk bekas lokasi yang terbakar. Awalnya kami berjalan tegap. Meski ada beberapa kali tanjakan, kami tetap bisa melaluinya dengan baik. Jalur yang terletak di tepi jurang ini lumayan sempit, jadi kami juga harus berhati-hati melangkah..ya serius tapi santai lah jalannya. Nah, saya tadinya cukup percaya diri berjalan palling depan. Namun rupanya kepercayaan diri saya langsung diuji. Langkah saya terhenti seketika saat di depan saya melintang pohon yang sepertinya habis tumbang akibat kebakaran. Di belakang pohon itu, hanya sekitar setengah meter, ada sebuah pohon tumbang lagi, dan di belakangnya sekitar satu meter dari pohon kedua, ada sebuah pohon tumbang lagi. Saya bingung bagaimana melewati pohon tumbang itu. Pohon itu menutup jalan. Mau dilangkahi lumayan tinggi juga, saya tidak berani sendirian mencoba-coba. Salah-salah saya bisa malah jatuh terperosok. Akhirnya saya menunggu Asmi dan Kang Hendrika. Begitu mereka berdua sampai, kini tidak hanya ada satu orang yang bingung, tetapi menjadi tiga orang hehehe. Kami sama-sama berpikir bagaimana melewati pohon-pohon tumbang itu. Sempat juga kami berpikir, mungkin seharusnya kami lewat jalur yang pertama tadi saja. Kami memanggil-manggil Mas Vickie, Mas Herman, dan Jafar, tapi tidak ada jawaban. Asmi mencoba meniup peluit sebagai tanda minta tolong, tapi tak juga ada respon. Ya mungkin ketiga teman kami tadi sudah jauh di depan jadi tidak mendengar teriakan dan suara peluit kami. Asmi akhirnya mencoba melangkah melompati pohon tumbang yang pertama. Hup! Dengan kaki panjang dan langsingnya, Asmi berhasil melewatinya. Nah, giliran saya mau melangkah saya bingung juga karena kaki saya tak sepanjang kaki Asmi (jadi ingat iklan ‘kulit Mawar tak seputih kulit Sinta’—atau siapa lah namanya, whatever, lupa) hehehe. Di tengah kebingungan itulah, tiba-tiba seorang mas-mas guide lewat sambil berjalan santai dan mendengarkan musik. Ia dengan santainya melangkah melewati pohon-pohon yang tumbang itu. Kami hanya memandangnya dengan heran bercampur kagum. Bisa ya mas ini dengan bawaan keril besar gitu lewat dengan santainya di atas pohon-pohon yang tumbang ini. setelah melewati dua pohon tumbang, mas guide tadi berhenti lalu menawarkan bantuan pada kami yang masih tampak kebingungan. “Mau dibantu, Mbak?” tanya si mas. Iya lah, Mas!!! (suara dalam hati) “Iya, Mas,” jawab saya dan Asmi dengan lembut. Saya pun dibantu untuk melewati pohon tumbang yang pertama…kedua…dan ketiga! Yay! Puji Tuhan akhirnya kami bisa juga melewati ketiga pohon tumbang tadi dengan selamat. “Terima kasih banyak ya, Mas!” kata kami bertiga. Si Mas hanya mengiyakan dengan santai lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Kami benar-benar bersyukur atas bantuan yang kami terima dari mas guide tadi. Bahkan kami belum menanyakan siapa namanya. Entah bagaimana jadinya kalau kami tidak ditolong mas guide tadi…Teruntuk Mas Guide yang kami tidak tahu namanya, yang merasa pernah menolong tiga orang pendaki di jalur ayak-ayak Gunung Semeru pada siang hari tanggal 3 November 2014 yang lalu, kami ucapkan banyak-banyak terima kasih! Kami berhutang budi padamu, Mas 🙂

DSCF3533 DSCF3535

DSCF3540 DSCF3539

Pemandangan sepanjang jalur turun..tampak bekas-bekas kebakaran T.T

Saya, Asmi, dan Kang Hendrika pun melanjutkan perjalanan. Tidak lama kami berjalan, tampak Mas Vickie di depan kami. Rupanya rombongan mereka juga baru saja tiba di atas. Asmi pun bertanya apakah tadi mereka tidak mendengar panggilan kami dan suara peluit. Rupanya tadi hanya Jafar yang sayup-sayup mendengar, tapi toh mereka sendiri juga kesulitan dengan jalur yang mereka lalui. “Jalurnya seperti nggak pernah dilewati orang, banyak semak-semak!” keluh Mas Herman. Selain itu, tanjakannya benar-benar curam dan menguras energi. Tidak heran ketiga cowok ini tampak sangat kelelahan. Saya jadi teringat peribahasa ‘rumput tetangga lebih hijau’. Padahal tadi sesaat kami juga berpikir mungkin lebih enak lewat jalur pertama yang lebih curam, ternyata menurut teman-teman kami yang lewat jalur itu, jalur pertama tadi sangat susah. Mereka malah menyesal memilih lewat jalur pertama dan justru kalau bisa akan memilih jalur yang kedua (jalur yang saya lewati) hahaha. Ya mungkin hidup juga seperti itu ya, kita iri melihat kehidupan orang lain, orang lain juga iri melihat kehidupan kita. Makanya yang penting kita enjoy saja dengan kondisi kita sambil tetap mengusahakan yang terbaik, tanpa ada rasa iri terhadap kesuksesan dan kehidupan orang lain :)/.

DSCF3538

Istirahat setelah melewati beberapa tanjakan ‘summit tu Ranupani’ 🙂

Rombongan kami yang telah kembali bersatu pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan “turun” menuju Ranupani ini kami justru menemui banyak sekali tanjakan. Ketika akhirnya kami beristirahat dan sempat bertemu dengan beberapa penduduk lokal, Mas Herman sempat bertanya apakah tanjakannya masih jauh. Bapak-bapak penduduk lokal itu menjawab, “Oh dekat kok Mas, paling tinggal lima belas meter lagi,” Kami pun merasa kembali bersemangat. Setelah melanjutkan perjalanan (yang pastinya sudah lebih dari lima belas meter), kami masih saja menemui tanjakan demi tanjakan. Oh Tuhan, kapankah ini akan berakhir? Saya semakin bertanya-tanya, sebenarnya kami ini mau ke mana sih…bukannya kami mau turun ya? Kok malah banyak tanjakan begini…hiks. Karena tak seorang pun dari kami yang pernah melewati jalur ini, kami pun dengan pasrah mengikuti saja jalur yang ada. Sepanjang jalan, saya hanya berdoa semoga diberi kekuatan untuk melewati jalan ini. Saya juga sangat bersyukur karena kaki saya masih sangat bersahabat. Walaupun kadang terasa cenut-cenut, tapi ketika saya melangkah dan bahkan melewati tanjakan, saya tidak merasa sakit. Mas Herman juga sempat berkata, “Sampeyan hebat, Mbak, kakinya sakit masih bisa jalan lewat jalan begini,”. Saya hanya tersenyum sambil mengiyakan. Saya sungguh bersyukur karena diberi kekuatan untuk bisa terus berjalan sehingga tidak banyak merepotkan teman-teman. Saya juga sempat beberapa kali saya minta tolong Mas Vickie dan Mas Herman untuk membantu saya ketika ada medan yang agak susah saya lewati. Setelah naik cukup tinggi (bahkan kami bisa melihat puncak Mahameru dari tempat kami berada), kami berhenti sejenak. Mas Herman yang berada paling depan menjadi petunjuk kami apakah di depan masih banyak tanjakan yang harus kami lalui. Ngomong-ngomong, Mas Herman ini hebat lho, dengan badan mungilnya dia bisa melangkah dengan cepat dan santai meski membawa keril berat di punggungnya. Rasanya cocok juga nih Mas Herman jadi guide untuk naik gunung hehehe. Posturnya juga sudah cocok kok jadi guide atau porter hahaha (peace, Mas! Anggap ini pujian ya hehehe).

DSCF3544 P1030905

Pemandangan yang tertangkap kamera di jalur Ayak-ayak..kelihatan Mahameru ya, kebayang kan setinggi apa kami sudah nanjak di jalur ‘turun gunung’ ini? Hehehe…

Di tempat kami berhenti itu saya juga sudah agak lelah sebenarnya. Lelah emosional. Hahaha…ya namanya orang niat turun gunung kok malah dikasih tanjakan terus. Sampai-sampai Asmi menjuluki perjalanan turun kami itu “Summit to Ranupani” hehehe. Atau mungkin karena kami tidak jadi summit ke Mahameru ya jadi sekarang kami diberi kesempatan nanjak lagi haha. Ya…good? bad? Who knows? Saya suka sekali frasa itu—dan akan lebih saya kagumi lagi nanti ketika kami pulang. Sebelum saya lanjut menaiki tanjakan lagi, Mas Vickie naik mendahului saya dan dia berkata bahwa kami sudah dekat dengan ‘puncak’. Ternyata di atas ada tangga yang menuju ke ‘puncak’. Setelah tahu bahwa kami semakin dekat dengan tujuan, saya jadi bersemangat. Akhirnya kami benar-benar sampai di ‘puncak’, dan ternyata di situ sudah ada rombongan yang tadi kami temui di Cemoro Kandang. Selain itu ada juga beberapa orang pedagang semangka yang hendak turun. Waktu itu kira-kira hampir pukul lima sore. Teman-teman saya yang muslim pun menjalankan ibadah sholat di situ, sementara Mas Vickie berfoto dengan anjing yang dibawa rombongan tadi. Nama anjing itu juga unik, namanya “Kancil” hahaha. Ada-ada saja, anjing dinamai ‘kancil’.

P1030913 P1030912

Foto Mas Vickie bersama si ‘Kancil’..si Kancilnya malu-malu tuh, nggak mau liat kamera 🙂

Kami juga sempat berfoto bersama rombongan ini (yang nantinya secara tak diduga dan tak disangka akan bertemu lagi). Dari puncak ini menurut informasi penduduk lokal, hanya sekitar tiga puluh menit turun sampai ke Ranupani. Kami pun optimis bisa sampai di sana tidak terlalu malam. Hawa yang semakin dingin membuat kami harus mengenakan jaket dan perlengkapan lain agar tidak kedinginan ketika turun nanti (yang ini beneran turun lho yaa….).

P1030903 ‘Tangga’ yang mengantar kami menuju ‘puncak’ jalur Ayak-ayak 🙂

P1030897

 

Amazing view from the top of ‘Ayak-ayak’ Road 

To be continued Day 3 Part 4: Finally back home!

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 3: Jalur Ayak-ayak

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 2: Awas, Asap! | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s