Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 2: Awas, Asap!

Nah, setelah siap, kami pun berkumpul untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan. Semoga perjalanan turun gunung kami lancar ya, amiiin. Kami pun berjalan menapaki jalur yang sama dengan jalur sewaktu kami naik. Kami kebetulan turun bersama dengan dua orang mas-mas yang kemarin sempat berencana summit bareng. Alhasil, sama seperti kami, mereka berdua juga mengurungkan niatnya untuk muncak karena cuaca yang tidak mendukung. Awalnya perjalanan turun kami tampak baik-baik saja, sampai ketika kami melewati jalan menuju ke Jambangan. Tiba-tiba tampak asap bergerak menuju jalur yang akan kami lewati. Sepertinya baru saja terjadi kebakaran. Kami sempat berpapasan dengan rombongan yang langsung berbalik arah ketika asap mulai masuk ke jalur pendakian. “Ada asap, Mas! Ayo buruan, sebelum kena!” teriak seorang mas-mas yang turun bersama rombongan kami. Mas Vickie pun menyuruh kami bergegas turun karena asap sudah mulai mendekat. Kalau sudah terjebak asap, bisa-bisa kami tidak bisa pulang. Bayangkan saja, mata yang terkena asap akan terasa perih, dan yang terparah kita tidak akan bisa bernapas di tengah kepungan asap. Saya pun berlari menuruni jalur turun dari Kalimati itu. Say goodbye untuk jalan santai, sekarang ini situasi yang sangat berisiko, Bung! Tidak ada waktu untuk ketawa-ketiwi atau bersenda gurau. Semuanya bergegas turun. Saya sempat bingung ketika sebatang pohon dengan bekas-bekas terbakar melintang di depan saya. Asmi yang berada di belakang saya meminta saya cepat maju dengan nada sedikit panik, “Ayo cepet Mbak..!”. Akhirnya ada juga jalur yang tidak terkena bekas kebakaran. Mas Herman yang ada di depan saya menjadi pembuka jalan dan menunjukkan jalur yang aman dilewati. Sementara itu asap semakin mendekat. Mata saya mulai terasa perih. Saya terus berlari melewati jalan yang menurun. Memang kami jadi bisa bergerak lebih cepat dengan berlari. Akhirnya setelah berlari cukup jauh, kepulan asap pun terlewati. Jalan di depan tampak aman dari asap. Saya terus menuruni jalur, mengejar Mas Herman yang saya kira ada di depan saya. Ketika melewati serombongan orang yang ramai beristirahat, saya hanya lewat saja. Saya pun terus berlari sampai akhirnya saya terjatuh ketika berusaha mengerem. Saya jatuh terjerembab. Hehehe nggak keren amat ya jatuhnya. Pergelangan kaki kanan saya sepertinya keselo. Waduh….saya pun berjalan pelan mencari tempat beristirahat. Saya lihat ke depan, Mas Herman tidak tampak. Apa mungkin dia ikut istirahat di tempat tadi ya? Entah deh, yang pasti saya yakin di belakang saya masih ada rombongan saya. Jadi saya cukup santai beristirahat sejenak sembari membersihkan luka-luka lecet di kaki saya akibat jatuh tadi. Tak lama kemudian tampak Mas Herman dan rombongan saya datang. Eh ternyata benar, Mas Herman tadi beristirahat ramai-ramai di tempat yang saya lewati. Teman-teman saya bertanya kenapa saya tidak berhenti untuk beristirahat tadi, saya bilang karena saya kira Mas Herman ada di depan saya. Ternyata Mas Herman malah bingung sendiri melihat saya kok terus saja lari hahahaha.

DSCF3494

Ini nih si asap yang membikin panik.. >.<

Saya pun bercerita bahwa saya baru saja terjatuh dan pergelangan kaki kanan saya terasa agak sakit karena posisi jatuhnya nggak enak. Awalnya saya hanya mengoleskan salep Counter pain dan menempelkan koyo cabe di luka keseleo itu. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ada yang mengusulkan untuk membalut kaki saya supaya tidak bengkak. Kebetulan Mas Vickie yang biasanya membawa bandage kali ini justru kelupaan membawanya. Biasanya pas dibawa nggak ada yang cedera, giliran sekarang nggak bawa malah ada yang butuh hahaha. Rombongan kami pun berhenti. Bagian kaki saya yang terasa sakit diolesi dengan minyak tawon yang dibawa Kang Hendrika kemudian dibalut dengan kain perban oleh Mas Vickie. Lumayan lah sebagai pertolongan pertama, setidaknya supaya kaki saya terasa lebih nyaman untuk berjalan. Asmi juga sempat menyemangati saya, “Ayo Mbak, nanti di Cemoro Kandang ada semangka!” katanya. Saya jadi terharu dengan perhatian dari teman-teman seperjalanan saya ini. Love you all, guys!

DSCF3493  DSCF3491

Pertolongan pertama pada kecelakaan di gunung

Akhirnya kaki saya dibalut oleh Mas Vickie dengan kain kasa. Lumayan sebagai pertolongan pertama :). Setelah kaki saya diperban, saya bisa berjalan lebih nyaman, lho. Wow, thanks a lot buat Mas Vickie atas balutannya! Koyo cabe yang ditempelkan di kaki saya juga mulai terasa panasnya sepanjang perjalanan. Ya lebih baik terasa panas daripada terasa sakit sih hehehe. Untungnya jalur turun ini relatif mudah. Tidak banyak tanjakan atau turunan sehingga saya bisa melewatinya dengan aman dan nyaman. Saya juga tidak merasa sakit sejauh ini. Sepertinya, selama saya berjalan di daerah yang datar tidak ada masalah dengan kaki kanan saya. Teman-teman saya mendahului saya di depan sementara saya di belakang ditemani Jafar dan Mas Vickie. “Wah kali ini special passengernya si Ymu nih,” kata Mas Vickie. Hahaha benar juga ya. Waktu perjalanan kami ke Gunung Prau yang lalu, Kak Ade jadi “special passenger”nya yang harus dijagain benar-benar karena matanya sakit sewaktu turun gunung. Saya hanya tertawa sambil berdoa dalam hati agar saya tidak banyak merepotkan rombongan. Di tengah perjalanan tiba-tiba Jafar menghilang. Lho ke mana nih si Jafar? Tak lama kemudian Jafar tampak menyusul saya dan Mas Vickie sambil membawa sesuatu di tangannya. “Ini Mbak, kemarin kan aku janji metikin arbei gunung,” kata Jafar sambil menyodorkan beberapa butir arbei gunung. Waaaahhhhh…..saya jadi terharu nih. Ternyata Jafar masih ingat juga sama janjinya itu (saya sebenarnya malah sudah lupa hehehe). “Waah..makasih ya, Far,” kata saya sambil mengambil dan mencicipi arbei gunung yang diambil Jafar. Hmmmm….arbei gunung ini terasa begitu lezat! Meski ukurannya kecil, rasa manis bercampur sedikit asam membuatnya terasa segar dan nikmat. Mas Vickie pun bertanya buah apa itu yang langsung dijelaskan oleh Jafar. Jafar juga menunjukkan tanaman arbei gunung yang kami temui di jalan. Mas Vickie yang sudah mencicipi kelezatan si arbei gunung langsung deh mengambil dengan semangat arbei gunung yang kami jumpai. Wah wah wah…langsung diambil setangkai-tangkainya juga nih hahaha. Ternyata buah arbei gunung ini kalau masih berwarna merah terang berarti belum begitu matang dan rasanya asam. Kalau sudah berwarna merah tua menuju hitam barulah tandanya buah ini matang dan rasanya manis.

DSCF3503  DSCF3502

Arbei gunung yang matang berwarna gelap dan terasa manis dan segar! 😀

Akhirnya kami sampai juga di Cemoro Kandang. Di sini kami sekali lagi menikmati semangka terenak sepanjang masa seharga Rp 2500,00 per potongnya. Saya dan Asmi juga membeli minuman botol karena persediaan minum kami yang menipis. Memang sih harganya sangat jauh lebih mahal dibandingkan harga normal, tapi ya apa ada yang mau gantiin bapak dan ibu penjualnya bawa berbotol-botol minuman kemasan naik sampai ke sini? Kalau nggak mau ya sudah lah kita jangan protes dengan harganya hehehe. Di sini ada banyak sekali rombongan yang juga beristirahat. Bahkan ada satu rombongan besar yang sepertinya tertarik dengan si Asmi hehehe. Salah satu rombongan yang kami temui sebenarnya berencana untuk naik ke Kalimati, tapi karena ada kebakaran, mereka pun mengurungkan niatnya. Kami juga mendapat informasi bahwa ada pendaki yang meninggal dunia ketika mendaki menuju puncak Mahameru tadi pagi. Waktu itu kabar yang kami terima masih simpang siur, tapi kami juga jadi bersyukur karena telah membuat keputusan yang tepat dengan tidak memaksakan diri untuk summit tadi malam.Dari rombongan lain ini kami pun mendapat kepastian kabar bahwa memang ada pendaki yang meninggal dunia ketika summit tadi pagi. Kami sebenarnya penasaran yang mana sih rombongannya, apakah rombongan itu juga ngecamp bersamaan dengan kami? Nah, dari para pedagang semangka di Cemoro Kandang ini, kami juga mendapat informasi bahwa ada jalur alternatif yang lebih cepat daripada jalur normal untuk turun ke Ranupani. Katanya sih kalau melewati jalur itu kami bisa menghemat waktu sekitar 1,5 jam. Mas Vickie sempat menawarkan kepada kami mau lewat jalur normal atau jalur alternatif. Mas Vickie dan Asmi sendiri juga belum pernah melewati jalur alternatif itu. Saya pun bertanya apakah jalurnya sulit, katanya sih jalurnya ada tanjakannya tapi tidak terlalu sulit. Ya kalau nggak terlalu sulit nggak masalah sih, karena saya agak mencemaskan kondisi kaki saya yang sudah mulai terasa cenat-cenut setelah istirahat ini. Untuk mempersingkat perjalanan, kami pun memutuskan untuk lewat jalur alternatif yang disebut jalur “Ayak-ayak” ini.

Dari Cemoro Kandang, kami pun melanjutkan perjalanan turun menuju Ranukumbolo. Ingat, kami meninggalkan kantong sampah kami di sana kemarin. Sejauh ini perjalanan masih lancar. Oh iya ketika melewati pilihan jalur cepat dan jalur lambat seperti waktu naik kemarin, kali ini semua anggota rombongan kami memillih lewat jalur lambat hehehe. Tak lama, kami pun sampai di Tanjakan Cinta. Ya kalau kemarin kami mendaki tanjakan ini mungkin sampai ngos-ngosan, kini giliran kami harus menuruninya. Nah ini dia tantangan buat saya. Dengan kondisi pergelangan kaki yang cenat-cenut, saya tahu akan agak sulit bagi saya untuk menuruni tanjakan ini. Saya pun digandeng dan dituntun Mas Vickie untuk perlahan melangkah menyusuri Turunan Jomblo  (istilah yang kami pakai buat si Tanjakan Cinta sewaktu kami turun, soalnya turun dari situ masih juga jomblo hehehe). Mas Vickie juga memilihkan jalur yang lebih nyaman untuk saya lewati. Setelah beberapa langkah, saya merasa sepertinya saya mampu berjalan sendiri, hanya tinggal ditunjukkan jalurnya saja. Akhirnya Mas Vickie pun melepaskan genggaman tangannya (tidaaaaakk hahaha :P). It’s okay, still fine, haha. Dengan mengikuti arahan dari Mas Vickie (“Kanan, Mu! Kiri dikit, kiri dikit!”—serasa kaya parkir hehehe), saya pun dengan perlahan tapi pasti akhirnya sukses menuruni Turunan Jomblo. Yay, I did it! Wah…lega juga  ya rasanya berhasil sampai di Ranukumbolo lagi. Di depan saya dan Mas Vickie, Mas Herman tampak sudah duduk beristirahat sambil leyeh-leyeh (mungkin sudah sempat minum teh dan bikin mi instan juga hahaha). Setelah kami tiba, terlihat Asmi yang hampir sampai. Kami bertiga spontan minta difoto oleh Asmi hehehe… Dengan sedikit malas, Asmi yang tengah lelah juga setelah menuruni Turunan Jomblo pun memfoto kami bertiga 🙂

DSCF3508 DSCF3512

Foto Jafar dan Asmi saat turun di Tanjakan Cinta (dua titik kecil di sudut kiri itu saya dan Mas Vickie yang berjalan ‘alon-alon asal klakon’ 🙂 )

Sambil menunggu Kang Hendrika dan Jafar, kami pun beristirahat sebentar. Lega juga kami bisa turun dengan selamat sampai di Ranukumbolo lagi setelah sebelumnya kami hampir saja terjebak asap kebakaran.Kami pun sempat foto-foto lagi di Ranukumbolo sambil tak lupa mengisi kembali persediaan air minum kami untuk perjalanan turun nanti.

DSCF3517 DSCF3519

Foto-foto di Ranukumbolo..sebelum menuju jalur ‘Ayak-ayak’

To be continued Day 3 Part 3: Jalur Ayak-ayak

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 2: Awas, Asap!

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 1 : Pagi hari di Kalimati | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s