Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 1 : Pagi hari di Kalimati

DSCF3351 DSCF3357

Pemandangan pagi hari di Kalimati

Pagi-pagi kami terbangun. Selain karena panggilan teman-teman cowok yang mau memasak air untuk membuat teh hangat, rasanya saya sudah lama sekali tidur. Ya kalau dihitung-hitung, dari kemarin sore saya sepertinya sudah tidur hampir dua belas jam! Well, mau gimana lagi. Dengan angin kencang kemarin, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain berlindung di dalam tenda. Namun, pagi ini tentu saja berbeda. Angin yang berhembus tak sekencang kemarin sore. Saya dan Asmi pun mulai mempersiapkan sarapan. Kami mulai memasak nasi dan mempersiapkan memotong sayuran bahan sop. Yup, menu sarapan kami hari ini adalah sop sosis ala Semeru! Saya dan Asmi memasak di antara kedua tenda kami, sementara Mas Vickie, Jafar, Mas Herman, dan Kang Hendrika menggoreng telur dan sosis di belakang tenda kami. Karena ini adalah masak-masak terakhir kami, bisa dibilang kami harus menghabiskan semua bahan makanan yang kami bawa.

DSCF3360 DSCF3374

Potong-potong sayurnya, jangan lupa liat kamera dulu haha 😀

Di tengah acara masak-memasak, kami sempat difoto juga hehehe (biar keliatan kerjanya). Seperti kemarin sore, setiap kali ada menu yang selesai dimasak, segera saja kami masukkan ke dalam tenda untuk melindunginya dari kontaminasi debu yang terbawa angin. Selesai memasak nasi, kami pun mulai memasak sop. Untunglah memasak sop cukup mudah, hanya tinggal memasukkan potongan bawang bombay, sayuran dan sosis yang sudah dipotong-potong ke dalam air mendidih, lalu masukkan kaldu instan. Ini cara mudah memasak sop di atas gunung. Kami pun menunggu dengan sabar sampai sop kami matang. Agak lama memang, bahkan saya dan Asmi sempat meninggalkannya untuk foto-foto dulu hehehe.

DSCF3363 DSCF3378

P1030805 DSCF3375

Aktivitas memasak bapak-bapak ‘chef’ menggoreng sosis dan telur 🙂

Ketika kami kembali ternyata sopnya masih belum masak juga..wortelnya masih sedikit krispi. Akhirnya kami menunggu sampai sekalian bahan bakar kami habis. Setelah itu ya mau tak mau kami pun mengangkat sop yang kami namakan “sop debu vulkanik” itu dan memasukkannya ke dalam tenda bersama masakan yang lain. Berhubung kami harus berhemat air untuk turun nanti, kami pun mulai mengumpulkan sisa persediaan air yang ada. Sesuai kesepakatan, kami memasak sebotol air untuk dibuat minuman hangat. Sempat terjadi kehebohan karena secara tidak sengaja, wadah berisi air yang tengah dimasak itu terjatuh sehingga airnya tumpah. Sayang sih airnya, tapi yah mau gimana lagi. Untungnya nggak ada adegan pertikaian bahkan sampai berdarah-darah karena kejadian itu hehehe. Saya jadi ingat ada artikel yang pernah dishare seorang teman, bahwa pendaki gunung itu cenderung lebih sabar dan toleran. Ya kebenaran artikel itu memang bisa dibuktikan ketika ada kejadian seperti tadi. Bisa saja kami marah-marah dan menyalahkan teman, tapi nggak ada gunanya juga kan? Toh si air yang sudah tumpah juga nggak bisa balik lagi. jadi ya sudah dibuat santai saja. Kalaupun hati sebenarnya dongkol karena air terbuang, sindir aja orangnya sambil bercanda, yang penting jangan sampai bikin tersinggung dan memicu pertikaian hehehe. Coba ya dalam kehidupan sehari-hari semua orang bisa bersikap fleksibel dan santai seperti ini, pasti yang namanya kerusuhan itu nggak bakal terjadi deh! 🙂

Nah…akhirnya jadi juga sarapan super mewah kami…Jreng jreng jreng…ada nasi putih, sop sosis, sosis goreng, corned, dan telur dadar. Teman minumnya adalah Nescafe hangat yang akhirnya jadi juga kami bikin meski ada insiden air tumpah tadi hehehe. Kami pun mulai mengusung-usung makanan ke tenda cowok untuk makan bersama di sana, karena tenda mereka lebih besar. Sewaktu membawa sepiring telur goreng, Jafar sempat berkata, “Yang ini telurnya asin banget! Cak Herman tuh yang bikin!” kata Jafar. Karena penasaran, saya pun menyicip sedikit telur dadar yang katanya uasin itu. Dan…benar saja, telur dadar ini rasanya seperti telur asin, lebih asin lagi malahan! Wew..Mas Herman…apa sih yang dikau masukkan ke dalam telur ini? Konon menurut Jafar, telur dadar yang awalnya berwarna kuning langsung jadi coklat setelah dimasukkan kaldu instan oleh Cak Herman…hahaha. Pantas saja telur dadar ini rasanya benar-benar asin! Jadi ingat, ada mitos kalau misal seseorang masak dan masakannya itu terlalu asin, itu artinya yang masak itu pengen nikah hahaha. Ya kalau lihat Mas Herman memang sudah waktunya untuk nikah juga sih..hehehe…Amiiiin.

DSCF3442 DSCF3435

“Sop abu vulkanik” ala Semeru plus Sosis goreng dan Telur Dadar..hmmmm…yummy 🙂

Sekitar jam setengah sembilan, kami mulai menikmati sarapan mewah yang sudah disiapkan sejak sekitar jam enam tadi. Kami makan dengan lahap. “Sop abu vulkanik” ala Semeru buatan saya dan Asmi pun laris manis. Kata teman-teman sih rasanya enak. Ya iya lah, soalnya ada special ingredient yang hanya ada di sini: debu kaki gunung Semeru! Hehehe…kapan lagi coba bisa menemukan bumbu spesial ini :). Sarapan ini sangat penting karena akan jadi sumber tenaga kami untuk turun gunung nanti. Sayang, karena terlalu banyak lauk akhirnya beberapa lauk tidak habis juga, termasuk telur dadar asin ala Mas Herman tadi. Maaf ya Mas, bukan kenapa-kenapa sih, tapi memang asinnya itu lhoo..kagak nahan! Hehehe.

DSCF3437 DSCF3438

Mari makaaaannnnnn 😀

Kurang lebih satu jam kemudian, saya dan teman-teman pun beranjak untuk mengabadikan kenangan kami di Kalimati. Walaupun nggak jadi summit, kami tetap bisa berfoto dengan latar belakang puncak Mahameru yang megah itu. Dengan latar padang rumput dan background Mahameru, kami pun berfoto sambil membentangkan Sang Merah Putih. Meski kami tidak bisa mengibarkannya di puncak, kami merasa cukup senang bisa mampir ke gunung tertinggi di Jawa ini. Seperti biasa, ada sesi foto single dan foto rame-rame. Pokoknya foto-foto dulu deh yang banyak, soalnya habis ini mungkin tidak banyak kesempatan kami untuk mengambil gambar.

DSCF3370 Ini burung apa hayoo?

Selesai foto-foto, Mas Vickie mengingatkan kami bahwa hari semakin siang. Kami pun bergegas kembali ke tenda untuk packing. Sementara cowok-cowok membongkar tenda, saya dan Asmi membersihkan peralatan masak yang tadi kami tinggalkan untuk foto-foto :). Oh iya, sepanjang perjalanan ini, kami benar-benar merasakan manfaat dari tissue basah lho! Pokoknya tissue basah ini benar-benar sahabat para traveller deh, apalagi kalau pergi ke tempat-tempat yang langka sumber air seperti di gunung. Tissue basah bisa kita pakai untuk membersihkan wajah, tangan, kaki (sebagai pengganti mandi), untuk membersihkan peralatan masak—seperti yang sedang saya dan Asmi lakukan sekarang—gak perlu sabun cuci dan air, Chuy! Yang penting juga cukup bersih untuk bisa kami bawa kembali di dalam tas, nanti sampai di rumah baru dicuci lagi (kalau ingat) hehehe. Selain itu, tissue basah juga sangat bermanfaat kalau kita mau..ehem..pipis tau ‘pup’. Banyak deh pokoknya manfaat tissue basah yang bisa kita eksplore waktu mendaki gunung. Tissue basah, sahabat para traveller :).

DSCF3454 DSCF3386

 Pose “Garuda di Dadaku” sambil membentangkan Sang Merah Putih di kaki Mahameru

Membersihkan peralatan masak memang punya tantangan tersendiri, apalagi kalau kondisi minim air begini. Kerak yang menempel di wajan sisa penggorengan telur tadi agak susah juga dibersihkan. Biasanya sih kalau di rumah, wajan yang berkerak akan direndam dulu dengan air supaya keraknya melunak sehingga nantinya akan jauh lebih mudah dibersihkan. Nah, berhubung kami nggak bisa memboroskan air hanya untuk membersihkan si kerak bandel, saya dan Asmi pun berusaha membersihkan kerak itu dengan sendok lalu menyekanya dengan tissue basah. Memang sih nggak bisa bersih-bersih amat, tapi ya itu tadi, yang penting cukup bersih untuk bisa dimasukkan ke dalam tas hehehe. Akhirnya kami selesai juga membersihkan peralatan masak dan makan. Saya dan Asmi pun kembali ke tenda untuk packing. Sementara itu para cowok sepertinya sudah selesai packing. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan packing di luar tenda supaya lebih leluasa. Selain itu, supaya tenda kami juga bisa segera dibongkar untuk nanti dimasukkan ke carrier cowok-cowok.

Sementara saya menyelesaikan packing, cowok-cowok mengumpulkan sampah dan memasukkannya dalam kantong sampah untuk dibawa turun. Ingat ya, jangan meninggalkan sampah di gunung! Selain karena sampah yang kita buang biasanya sulit terurai, banyak sampah juga akan mengurangi estetika gunung. Sayang ‘kan kalau keindahan alam harus tercemar oleh sampah. Coba bayangkan kalau pas lagi foto-foto ehhh ternyata di sekeliling kita ada sampah yang ikut terfoto. Nggak banget kan? Makanya mari kita dukung gerakan cinta kebersihan, gak Cuma di gunung ya Frens, di pantai atau di mana pun kita berada. Plisss buang sampah pada tempatnya. Kalau nggak ada ya dibawa dulu lah bentar, nanti kalau ada tempat sampah langsung deh kita buang sampahnya. Bawa carrier 12 kg aja kuat, masa bawa sampah yang nggak ada sekilo gak kuat sih? 😀

To be continued Day 3 Part 2 : Awas, asap!

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 3 Part 1 : Pagi hari di Kalimati

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 3 : Summit Mahameru…, will we? | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s