Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 2 : Road to Kalimati

Nah, setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Kami pun sampai di sebuah persimpangan jalan. Memang ada dua jalur untuk menuju ke bawah dan kami harus memilih mau lewat jalur yang mana. Yang pertama adalah jalur cepat berupa turunan yang lumayan curam, sedangkan yang kedua adalah jalan memutar. Memang sih jalur curam tadi lebih cepat, tapi saya ngeri juga melihatnya. Saya pun memutuskan untuk lewat jalur lambat saja. Saya, Asmi, Kang Hendrika, dan Mas Vickie melewati jalur lambat, sementara Jafar dan Mas Herman yang suka tantangan memilih lewat jalur cepat. Sebentar saja Jafar dan Mas Herman sudah tampak di bawah. Mereka pun melambaikan tangan kepada kami berempat yang masih berjalan memutar. Akhirnya kami bertemu juga di bawah. Rombongan kami kembali komplit dan melanjutkan perjalanan.

Jalur yang kami lewati ini namanya Oro-oro Ombo. Kata teman-teman sih perjalanan ke sana medannya nggak sulit kok (and it’s true! :D). Apalagi waktu itu hari masih terang, jadi saya bisa berjalan dengan lebih tenang dan percaya diri dibandingkan perjalanan kemarin malam, maklum agak rabun kalau gelap hehehe. Oh iya, kata Asmi kalau melewati jalur ini di bulan Mei, kita bisa melihat bunga Verbena brasiliensis (bunga berwarna ungu yang sering disalahartikan orang dengan bunga lavender, padahal bukan) bermekaran menghiasi jalur Oro-oro Ombo. Sayangnya karena kami datang pada bulan-bulan ‘gersang’, jadi ya kami belum bisa menikmati keindahan tanaman yang aslinya berasal dari Brazil itu.Formasi pendakian kami sudah berubah dari formasi pertama. Kali ini sudah nggak ada urutan sih, pokoknya yang masih kuat ya silakan lanjut, toh jalur menuju Kalimati ini juga tidak sulit ditemukan karena sudah banyak dilewati juga. Saya pun berjalan di belakang Mas Herman yang masih dengan santai dan seakan tiada lelahnya berjalan ringan mengikuti jalur pendakian. Sesekali kami berhenti beristirahat, minum air dan madu untuk recharge energi. Oh iya kami juga sempat berhenti gara-gara wadah tempat kami menyimpan telur bocor. Akhirnya kami pun mengganti salah satu botol berisi telur kocok tadi. Tenang, botol bekasnya juga kami bawa di plastik sampah kok. Di seper…entah ya, seperempat perjalanan mungkin. Tiba-tiba Jafar bertukar tas carrier dengan Mas Vickie. Katanya sih tasnya terlalu berat. Kata Mas Vic, mungkin karena packing yang kurang tepat. Seharusnya kalau packingnya benar, tas carriernya akan terasa lebih ringan. Memang sih kata Jafar, tas carriernya Mas Vic ini terasa jauh lebih ringan dibandingkan tasnya. Terbukti sudah pengalamannya Mas Vic sebagai master of packing hehehe. Saya juga jadi ingat dulu waktu beberapa kalibepergian, dia juga yang membantu packing saya. Berhubung tidak ada waktu untuk bongkar-bongkar tas lagi, ya sudah, Mas Vickie harus bersabar membawa kerilnya Jafar. Ini yang namanya setia kawan, Sob. Hehehehe.

Verbena_brasiliensis DSCF3311

    Verbena brasiliensis                                        Pak Team Leader carrying Jafar’s keril

Kelompok kami mulai terpisah-pisah, entah jadi berapa grup, yang jelas saya selalu berusaha agar masih bisa melihat teman yang berjalan di depan saya. Ya walaupun jalur menuju Kalimati ini mudah dikenali, tetap saja sih saya lebih nyaman kalau ada teman di sekitar saya hehehe. Sekitar jam dua belas, kami sampai juga di Cemoro Kandang. Sesuai namanya, di kawasan ini banyak sekali pohon cemara. Ya mirip dengan hutan pohon jati, cuma di Cemoro Kandang ini isinya pohon cemara. Seandainya kami mendaki pada musim-musim dimana vegetasinya masih hijau dan tidak kering seperti sekarang, pasti pemandangannya akan sangat bagus. Di Cemoro Kandang ini ternyata ada orang jualan lho! Serius deh, ada yang jualan semangka dan gorengan. Saya dan teman-teman sampai kagum dengan para penjual ini. Hebat ya bisa naik sambil bawa barang dagangan yang tidak sedikit ini. Kami pun melepas dahaga dengan memakan buah semangka seharga Rp 5.000,00 untuk dua potong semangka. Memang sih harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga semangka yang kita beli biasanya, tapi melihat jarak yang harus ditempuh bapak-bapak ini untuk membawa semangka itu kemari…rasanya harga segitu juga pantas deh. Belum tentu juga ‘kan orang lain mau repot-repot membawa semangka dan jualan di atas gunung. Iya kalau laku, kalau nggak kan dia harus bawa turun lagi barang dagangannya. Kita appreciate lah para penjual semangka dan gorengan ini. Kehadiran mereka ibarat penyelamat dahaga dan lapar di kala para pendaki seperti kami ini membutuhkannya.

DSCF3302 jalur semeru

DSCF3305 P1030723

Cemoro Kandaaang…masih 5 km lagi menuju Kalimati..Semangattt!

Setelah rehat sambil menikmati semangka di Cemoro Kandang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Jambangan yang jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari Cemoro Kandang. Sebenarnya jalur menuju Jambangan ini dibilang susah ya nggak juga sih, Cuma ada beberapa kali tanjakan yang cukup menyita energi buat teman-teman yang membawa keril (saya nggak termasuk dong soalnya tasnya paling mini hehehe). Mas Vic sempat beberapa kali tampak beristirahat dan berkata, “What? Tanjakan lagi??” kemudian menghela napas. Hehehe semangat, Mas Vic! Kayaknya tersiksa amat sih. Sepertinya sejak bertukar tas dengan Jafar, dia jadi lebih sering istirahat (Jafar nih pelanggaran..hehehe). Meski terik sinar mentari menaungi perjalanan kami, langkah demi langkah tetap kami lewati. Saya sempat berjalan paling depan lho di rombongan kami..hehehe. Lumayan lah walau Cuma sebentar :). Sekitar jam dua siang, kami akhirnya sampai di Jambangan. Wah, kami sudah semakin dekat nih dengan Kalimati! Kalau dari papan yang ada di Jambangan ini, tertulis jarak Jambangan—Kalimati hanya sekitar dua kilometer. Ayo kawan-kawan, semangat!

P1030733 P1030738

Wajah-wajah kelelahan

Nah, di Jambangan ini ternyata ada juga penjual semangka dan gorengan seperti di Cemoro Kandang tadi. Berhubung perut saya juga sudah mulai terasa lapar, saya pun membeli gorengan untuk mengganjal perut :). Sebagai pencuci mulut, sekali lagi saya membeli sepotong semangka. Harga gorengan dan semangka ini sama dengan yang di Cemoro Kandang yaitu Rp 2.500,00 per buah. Dari Jambangan ini kami bisa melihat puncak Mahameru dari jauh. Ketika kami memandangnya, hanya ada kekaguman yang meliputi pikiran kami. Mahameru tampak kokoh di sana, tak bergeming seakan memberitahu kami betapa dia begitu istimewa. Jujur saja, memang kemegahan Mahameru yang saya lihat di Jambangan waktu itu sebenarnya membuat perasaan saya agak campuraduk. Saya merasa kagum, sungguh, benar-benar kagum akan kemegahannya. Kemegahan yang tidak tampak dari hingar bingar hiasan lampu kota, bukan juga kemegahan dari kilau permata seperti istana. Kemegahannya tak terlukiskan, hanya bisa dirasakan ketika kita menatapnya sendiri. Ia begitu kokoh berdiri di sana, menunjukkan kewibawaannya dan kedigdayaannya. Seakan ia berkata, “Hanya orang-orang bertekad kuat yang akan mampu mencapai puncakku,”. Kata-katanya itu terdengar seperti sebuah tantangan, namun lebih dalam lagi, itu adalah sebuah nasihat. Saya jadi teringat nasihat bapak penjaga pos di Ranupani yang memperingatkan kami agar jangan sombong ketika mendaki. Sebenarnya ada keinginan dari dalam diri saya juga untuk mencoba naik sampai ke Mahameru, tetapi sesuatu dalam diri saya juga mengingatkan saya akan kondisi saya waktu itu dan membuat saya berpikir lebih logis. Untuk apa saya pergi ke puncak? Jika sekedar untuk pembuktian diri atau untuk memperoleh prestige karena telah berhasil ‘menaklukkan’ Mahameru, bukankah itu pun adalah bentuk sebuah kesombongan? Saya masih galau apakah nanti akan ikut teman-teman yang berencana naik ke puncak atau tidak. Memang sayang juga kalau sudah terlanjur sampai ke sini tapi tidak naik ke puncak, tapi dalam hati saya masih ada keraguan. Saya hanya percaya, nanti hati nurani saya akan menunjukkan jalannya.

DSCF3324 DSCF3328

Jambangan…3 km lagi..ke Kalimatii 😀

Kami beristirahat agak lama di Jambangan. Setelah puas beristirahat dan mengagumi kemegahan Mahameru dari jauh, kami pun berfoto bersama sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Dari Jambangan menuju Kalimati kami melewati padang rumput alias sabana. Kalau pandai mengambil sudut pandang dalam foto, bisa jadi foto-foto di sini juga akan tampak seperti foto di luar negeri ya :). Kami berjalan cukup cepat dan lancar, meski sekali lagi rombongan kami tidak bisa berjalan beriringan seperti waktu berangkat kemarin.

To be continued Day 2 Part 3: Summit Mahameru…, will we?

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 2 : Road to Kalimati

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 1: Ranukumbolo and Tanjakan Cinta :) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s