Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 1: Ranukumbolo and Tanjakan Cinta :)

Pagi itu seperti biasa alarm saya berbunyi; jam lima pagi dan jam setengah enam pagi. Namun, saya hanya bangun sebentar lalu mematikannya. Dinginnya angin di luar masih menahan kami untuk keluar dari dalam tenda sebentar lagi. Akhirnya sekitar jam enam pagi, sempat terdengar suara cowok-cowok itu yang sudah bangun dan ada di luar tenda. Mereka pun mengajak kami keluar untuk foto-foto. Nah, berhubung waktu itu saya dan Asmi sedang ada urusan pribadi, kami pun tidak bergabung bersama rombongan cowok-cowok itu. Mereka berfoto ria di spot-spot menarik di sekitar Danau Ranukumbolo. Nah, setelah mereka selesai berfoto, giliran saya dan Asmi yang mengabadikan momen ini di sana.

DSCF3233 DSCF3227

Serasa foto di luar negeri ya 🙂

DSCF3264

The beauty of Ranukumbolo

Jujur saja, sebelumnya saya tidak terbayang juga akan mengunjungi tempat ini. Keindahan alam dari danau di kaki gunung yang sebelumnya hanya saya nikmati lewat foto kini saya saksikan dengan kedua mata saya sendiri. Dinginnya hawa pagi yang sedikit tertutupi oleh hangatnya sinar matahari pagi tidak menghambat kami untuk memotret keindahan alam Ranukumbolo. Warna air danau yang biru kehijauan terkena pantulan sinar matahari serta suasana di sekitar danau membuat hasil foto saya jadi tampak seperti sedang berfoto di luar negeri hahaha (beberapa orang teman saya bahkan bertanya kepada saya di mana foto itu diambil hehehe…ini masih di Indonesia kok, sobat!).

Setelah puas berfoto-foto, saya dan Asmi pun segera kembali ke tenda karena sudah waktunya untuk menyiapkan sarapan. Nah, kali ini dengan sedikit utak-atik dandengan bantuan korek api, akhirnya kompor yang satu lagi bisa juga digunakan. Kami pun memasak air untuk merebus sayur serta memasak nasi. Kebetulan menu pagi ini adalah nasi pecel plus telur goreng. Ini sampai jadi bahan bercandaan bapak-bapak di kantor kami, katanya “Mau makan pecel aja sampai dibela-belain naik ke gunung Semeru” hahaha. By the way, ada yang kurang sebenarnya pada masakan kami selama hiking ini. Entah kenapa nasi yang kami masak terasa aneh teksturnya. Tidak hanya nasi, sebenarnya telur goreng yang kami makan juga terasa aneh teksturnya. Kalau si telur ini rasanya telurnya mengembang seperti halnya kalau kita membuat roti. Bedanya, kalau untuk roti, telurnya sengaja dikocok supaya mengembang, sementara telur goreng kami ini teksturnya jadi mengembang mungkin karena telurnya sudah terkocok selama kami naik gunung kemarin hahahaha. Yah…berhubung kami sedang di gunung, makanan sesederhana apapun juga bisa terasa enak kok hehehe. Setelah air mendidih, kami pun merebus sayuran untuk pecel, sementara kami juga menyiapkan bumbu pecel yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah nasinya matang, Mas Vic pun memasak telur orak-arik plus corned dengan wajan yang sebelumnya saya bersihkan. Wajan ini sebelumnya juga kotor sekali karena kami biarkan di luar tenda sejak kami pakai untuk membuat orak-arik telur corned kemarin malam. Waktu saya menyerahkan wajan itu, teman-teman sempat ‘takjub’ karena wajannya kembali kinclong hahaha.

DSCF3246 DSCF3242

Tuh wajan yang udah kinclong dipegang Mas Her dan ini Mas Vic dan Kang Hendrika sedang memasak

Saya jadi teringat menu makan kami ketika naik ke Prau dulu. Kalau dibandingkan sih memang jauh ya, waktu itu kami hanya makan indomie dengan lauk telur orak-arik dan corned hehehe. Makan nasi hanya sekali, itu juga porsinya kecil :). Bisa dibilang kali ini kami belajar dari pengalaman. Setelah mendapat masukan dari beberapa orang teman seusai naik ke Prau beberapa waktu yang lalu. Nah, belajar dari situ sekarang kami mulai memperhatikan gizi logistik selama pendakian. Menu yang dipilih juga menu yang mudah dibuatnya. Ya nggak mungkin juga kan kami mau bikin gurami asam manis di atas gunung hehehehe. Saya jadi terharu nih melihat usaha teman-teman untuk menyiapkan makan mewah selama pendakian ini. Konon sebagian besar uang iuran kami juga alokasinya untuk logistik lho hahaha.

Finally, jreng jreng jreeeng…This it is…nasi pecel dengan lauk orak-arik telur corned ala Tim “Mirip 5cm” kami. Sebelum menyantap sarapan istimewa ini, tak lupa kami berdoa dan berfoto dulu hehehe. Sarapan ini akan menjadi sumber tenaga kami sebelum melanjutkan perjalanan sampai ke Kalimati. Sambil menikmati keindahan alam Ranukumbolo dan hangatnya kebersamaan, makan nasi pecel dan minum teh hangat bersama-sama ini pun terasa sangat nikmat.

DSCF3259 DSCF3257

Taraaa…breakfast nasi pecel di Ranukumbolo…hmmmm yummy! 😀

Selesai sarapan dan membersihkan peralatan masak serta peralatan makan, kami pun masuk ke tenda masing-masing untuk packing barang-barang. Ini nih tantangannya…entah kenapa packing saya setelah ngecamp selalu terasa lebih bulky daripada waktu berangkat hehehe. Oh iya, kali ini saya dan Asmi mencoba menggunakan kecanggihan teknologi vakum untuk membantu menghemat tempat di tas. Kami menggunakan plastik vakum yang ternyata lumayan berguna juga lho, sleeping bag dan jas tebal saya bisa muat masuk ke tas daypack yang sebelumnya hanya mampu menampung salah satu saja dari kedua item yang sangat memakan volume itu. Tantangannya sih ya harus telaten memompa plastik ini sampai benar-benar kempes dan vakum, karena pompa yang saya punya adalah pompa manual hehehe. Kami pun berberes sementara Mas Vickie sudah mendesak kami untuk keluar dari tenda karena tendanya mau dibongkar. Maklum, berhubung dia yang membawa tenda ini, dia jadi nggak bisa packing sebelum tenda ini dikemas lagi.

DSCF3272

Sekitar jam setengah sebelas kami selesai berberes dan telah siap untuk melanjutkan perjalanan. Seperti biasanya, sebelum lanjut mendaki kami foto-foto dulu dan mengisi perbekalan air minum kami. oh iya, semua sampah juga sudah kami masukkan ke dalam kantong sampah. Nah, berhubung besok ketika turun toh kami juga akan lewat Ranukumbolo lagi, kami pun memutuskan untuk ‘menitipkan’ sementara kantong sampah kami. Besok waktu turun gunung baru kami akan mengambil kembali sampah tersebut untuk kami bawa turun. Bagi teman-teman yang sudah familiar dengan Gunung Semeru tentu tahu medan yang akan kami lewati selanjutnya. Yak, setelah puas bersantai dan menikmati keindahan Ranukumbolo, kini kami harus siap juga menghadapi ‘indahnya’ Tanjakan Cinta. Konon katanya tanjakan yang lumayan curam ini diberi nama “Tanjakan Cinta” karena perjuangan naiknya seperti memperjuangkan cinta. Wow…dalam juga nih maknanya hehehe. Anyway, saya dan teman-teman pun mulai melangkah menaiki tanjakan ini. Selangkah demi selangkah terlewati. Walaupun kelihatannya “hanya segitu”, ternyata mendaki tanjakan ini memang tak semudah dan tak sependek kelihatannya. Ya sama lah dengan perjuangan cinta, mungkin kelihatannya gampang padahal butuh perjuangan keras untuk bisa menggapai cinta (cieee…). Mas Herman yang start di belakang saya sempat berkata, “Jangan noleh ke belakang lho…” karena memang mitosnya konon orang yang mendaki Tanjakan Cinta tanpa menoleh ke belakang akan bisa mendapatkan cintanya (meskipun mitos ini segera dibantah oleh Mas Vic dan Asmi yang sudah pernah mendaki sebelumnya hehehe…ketahuan deh kalau masih pada jomblo 😛 ). Ya mungkin memang kan untuk mengejar cinta yang baru ya jangan tolah-toleh lagi ke belakang hehehe.

Jpeg DSCF3275

Menuju Tanjakan Cinta

Baru seperempat tanjakan saya sudah berhenti sebentar untuk istirahat. Sebenarnya tanjakan cinta ini nggak terlalu jauh kok, hanya sekitar 150 meter. Hanya saja, dengan kemiringannya yang ya sekitar 45 derajat lah…ini sudah cukup membuat saya terhenti di seperempat perjalanan. Sementara itu Mas Herman dan Mas Vickie tampak melangkah dengan santai, perlahan namun pasti sampai menuju akhir tanjakan. Melihat Mas Herman yang jalannya biasa saja seperti berjalan di lahan datar membuat saya berpikir, apa nggak capek ya kakinya Mas Herman ini padahal dia bisa naik dengan lincah dan seperti tanpa beban. Apa mungkin karena postur tubuhnya yang ‘ringan’ jadi bisa begitu ya? Who knows, lagipula kalau soal postur tubuh sih saya juga cukup mini kok hehehe. Saya pun kembali berjalan, melangkah walau berat menapaki curamnya si Tanjakan Cinta. Tanpa menoleh ke belakang, saya terus melangkah walaupun sesekali berhenti juga karena kaki saya yang jarang aktif olah raga ini minta istirahat dulu. Oke lah, biar lambat asal selamat. Kalau kata orang Jawa, “alon-alon asal klakon”. Biarpun perlahan-lahan, yang penting kita tetap bisa mencapai tujuan. Sungguh ungkapan bijak dari orang Jawa kuno yang bisa saya terapkan dalam kondisi sekarang ini.

Setelah perjuangan mendaki tanjakan Cinta, kurang lebih lima belas menit kemudian, akhirnya saya pun sampai di akhir tanjakan. Wah…begitu senangnya hati ini bisa bergabung dengan Mas Herman dan Mas Vickie yang sudah sampai lebih dulu. “Wah, the first lady here,” kata Mas Vic ketika melihat saya tiba. Hehehe…ya setidaknya ini membuktikan kalau stamina saya masih cukup fit untuk bisa mendaki tanjakan dengan elevasi 45 derajat tadi. Syukur-syukur kalau harapan memperoleh jodoh pun bisa terkabul (halah, malah percaya takhayul hahaha). Just kidding kok, Bro and Sis. Yang namanya cinta itu nggak bisa dicapai kalau nggak diperjuangkan. Masa’ mendaki tanjakan di gunung terus berharap dapat jodoh, nggak ada korelasinya lah. Kecuali….waktu naik itu ketemu dan berkenalan dengan seseorang yang terus berlanjut jadi jodohnya, itu lain lagi ceritanya. Eits…malah keterusan. Cukup deh pembahasan soal jodoh-jodohnya hehehe. Saya pun beristirahat sejenak di akhir tanjakan cinta tadi, sembari menunggu teman-teman yang masih berjuang. Seperti biasa, saya hanya meluruskan kaki sambil menengguk air dari botol minum saya yang sudah diisi dengan air dari Danau Ranukumbolo (kalau saat seperti ini sih sudah nggak mikir lagi mau disaring dulu pakai P*re It atau apalah, yang penting dilihat masih jernih dan nggak berbau, sudah layak lah untuk minum). Nah, setelah anggota grup kami komplit, kami pun menyempatkan diri berfoto bersama sambil beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Mas Herman, Jafar, dan Mas Vic sempat berfoto seorang diri di dekat tebing.

P1030714 DSCF3297

     Foto untuk cover album boyband Tuban 😛              Ranukumbolo tampak dari akhir Tanjakan Cinta

DSCF3290 DSCF3286

Istirahat setelah lelah mendaki cinta 🙂 (ada mas-mas numpang nampang di foto kiri belakang tuh di foto sebelah kiri)

To be continued Day 2 Part 2: Road to Kalimati

Advertisements

3 thoughts on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 2 Part 1: Ranukumbolo and Tanjakan Cinta :)

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 3 : Trekking to Ranukumbolo | Makjoel's Blog

  2. Pingback: Demi Pendakian yang Terasa Lebih Ringan, Strategi Mengepak Keril Ini Wajib Kamu Perhatikan! | Absoluterevo's Blog

  3. Pingback: Demi Pendakian yang Terasa Lebih Ringan, Strategi Mengepak Keril Ini Wajib Kamu Perhatikan! | opo nech iki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s