Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 3 : Trekking to Ranukumbolo

Formasi grup kami pun disusun demi keamanan dan kenyamanan. Pak Vickie ada di posisi terdepan, saya di belakangnya, dilanjutkan dengan Mas Herman, Asmi, Pak Hendrika, dan Jafar sebagai sweeper. Namun karena kondisional, akhirnya saya tukar posisi dengan Mas Herman dan Pak Hendrika tukar posisi dengan Asmi. Begitu sampai di gerbang pendakian, kami sempat berfoto bersama, sayangnya hasil jepretannya kurang oke karena faktor pencahayaan juga. Memang agak susah sih mengambil foto yang oke dalam kondisi kurang cahaya. Yup, sekarang kami pun mulai melangkah untuk mendaki gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa ini. Wish us luck, ya! Semangat, kawan! Maka dimulailah petualangan mirip film 5cm ala TPPI :).

DSCN0081 DSCN0083

Jafar dan Mas Herman berpose di depan lukisan di pos Ranupani 🙂

Memulai pendakian di sore hari memang punya tantangan tersendiri. Baru beberapa meter kami berjalan, saya memutuskan untuk mulai menggunakan headlamp saya karena pandangan saya agak kurang jelas di sore dan malam hari. Melangkah menapaki jalan menuju puncak tertinggi di Jawa ini, saya merasa cukup nyaman karena ternyata rutenya masih landai. Katanya rute yang kami lewati ini namanya Landengan Dowo yang berjarak kira-kira tiga kilometer dari Ranupani. Setelah Landengan Dowo, kami juga akan melewati Watu Rejeng yang berjarak sekitar lima kilometer dari Ranu Pani, yang katanya ada pemandangan dinding batunya setinggi seratus meter. Ya berhubung kami mendaki waktu gelap, kami mungkin tidak bisa menikmati pemandangan-pemandangan itu ya. Tapi kalau dibandingkan dengan jalur ke gunung Prau beberapa waktu yang lalu, jalur pendakian ini memang  jauh lebih santai lah. Kalau istilah para pendaki katanya banyak ‘bonus’nya hehehe. Tapi ya seenak-enaknya jalur pendakian, tetap saja kami harus waspada karena kebanyakan jalur yang kami lalui berada di tepi bukit. Meleng sedikit saja salah-salah kami bisa terperosok jatuh. Mas Vickie pun memberikan instruksi, sesekali dia akan memanggil nama Mas Herman. Nah ketika dipanggil, nanti Mas Herman harus memanggil nama saya dan saya pun harus memanggil nama Pak Hendrika, demikian seterusnya sampai orang terakhir. Nah, nantinya Jafar yang berperan sebagai sweeper akan menyahut “Komplit!” ini untuk memastikan anggota kami lengkap sekaligus untuk memperkirakan jarak antaranggota. Jangan sampai ada anggota yang tertinggal terlalu jauh.

Sepanjang jalan menuju Pos satu (yang masih belum kelihatan juga meski kami sudah lama berjalan), kami sempat beberapa kali beristirahat. Ya maklum lah, namanya juga ada para pendaki pemula, ditambah lagi barang bawaan yang tidak ringan (kecuali barang bawaan saya tentunya hehehe). Rombongan kami sempat terbagi dua: Mas Vickie, Mas Herman, dan saya, sementara grup kedua adalah Pak Hendrika, Asmi dan Jafar. Sebetulnya pembagian ini tidak disengaja, hanya saja karena perbedaan kecepatan langkah antara dua mas-mas di depan saya ini dengan rombongan di belakang, akhirnya sempat terjadi gap antara kedua grup ini. Kami sempat meminta Mas Vickie untuk memperlambat langkahnya, tapi ya mungkin bawaan juga ya, awalnya memang Mas Vickie tampak memperlambat langkah, tapi lama-lama ya kembali lagi ke kecepatan awal hehehe. Nah, sudah Mas Vickie kecepatan dan langkahnya dua kali lipat kecepatan kami, Mas Herman ternyata juga tak kalah cepatnya menyusul Mas Vickie. Saya sendiri syukurlah masih bisa mengikuti mereka di jalan datar, tapi begitu mendapat jalur menanjak atau turunan, saya pun mengurangi kecepatan karena saya harus ekstra hati-hati di jalur yang berelevasi begini hehehe.

Sekitar jam tujuh malam akhirnya Mas Vickie menyampaikan kabar gembira, “Pos satu nih!!” Kami pun berkumpul di pos satu untuk beristirahat. Lumayan juga satu jam berjalan kaki mengitari kaki gunung. Saya sih masih cukup santai karena bawaan saya yang paling ringan dibandingkan teman-teman yang lain (anak pupuk bawang nih critanya hehehe). Minum air dan menikmati sebungkus kecil madu yang telah kami siapkan sebelumnya cukup memberi energi bagi kami. Nah, waktu istirahat ini dimanfaatkan Kang Hendrika untuk membongkar tasnya dan mengeluarkan berbagai macam bahan makanan seperti roti, wafer, dan sosis. Kami sempat berpikir, banyak amat nih persediaan makanannya hehehe. Sepertinya Kang Hendrika sudah menahan lapar dari tadi. Walaupun kami tertawa melihat persediaan makanan Kang Hendrika yang banyak, kami menikmati juga roti dan makanan lain yang dibagikan oleh akang satu ini. Di sini kami juga sempat bertemu dengan dua orang mas pendaki yang sama-sama mau naik. Rombongan mereka malah hanya berjumlah dua orang. Selain kedua mas-mas ini, kami pun bertemu dengan rombongan lain yang sedang turun gunung. Ya, kebanyakan sih yang kami jumpai adalah rombongan yang mau turun.

DSCN0092

Habis istirahat di pos satu, yuk lanjuut!

Karena hari sudah semakin malam dan kami tidak mau membuang waktu terlalu lama, kami pun segera bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Urutan rombongan masih dijaga sama, walaupun kadang saya juga tergopoh-gopoh melewati jalan menanjak dan turunan. Saya sempat juga terpeleset ketika melewati jalan yang agak menurun, tapi syukurlah tidak lecet juga hehehe. Dalam perjalanan ini juga kami beberapa kali mengurangi kecepatan dan istirahat untuk menyesuaikan dengan kecepatan anggota tim yang lain. Mas Vickie sempat mengingatkan bahwa hari sudah semakin larut. Dinginnya angin malam pun mulai terasa di kulit, membuat saya juga akhirnya memakai kembali sambungan celana panjang yang sempat saya lepas sejak siang tadi. Dalam perjalanan menuju pos dua ini juga saya kena ujian: kacamata yang saya pakai tiba-tiba terputus frame nya ketika hendak saya bersihkan dari debu. Wah wah…mana saya nggak bawa kacamata serep lagi. Memang sih kacamata yang saya pakai waktu itu framenya terbuat dari plastik dan dulu pernah patah juga lalu saya rekatkan lagi dengan lem Alte*o dan awet selama bertahun-tahun saya pakai. Baru-baru ini saya memakainya kembali karena kacamata saya yang baru malah terasa lebih kabur pandangannya. Eh begitu dibuat naik gunung malah patah lagi framenya..saya juga tidak membawa selotip maupun lem Alte*o. Sebenarnya saya membawa lensa kontak, tapi melihat kondisi medan yang berdebu rasanya rawan juga memakai lensa kontak pada situasi seperti itu. Akhirnya muncullah ide cemerlang dari teman-teman (memang teman-teman ini paling sip kalau soal ide kreatif hehehe). Dengan memanfaatkan hansaplast, kacamata saya yang patah pun dibalut sehingga menjadi tersambung kemballi! Wow…ini bisa jadi masukan juga untuk produsen Hansaplast, karena produk ini tidak hanya bisa dipakai untuk membalut luka, tapi bisa juga digunakan sebagai selotip dadakan hehehe. Thanks buat Mas Vickie yang sudah membalut kacamata saya sehingga saya pun bisa melanjutkan perjalanan dengan nyaman. Nggak terbayang deh kalau harus melanjutkan perjalanan malam hari dengan pandangan kabur. Lha wong dengan pandangan yang jelas saja saya kadang berjalan timik-timik (alias pelan-pelan), apalagi kalau tanpa kacamata…ah, yang jelas saya sangat bersyukur bisa selamat sampai tujuan :). Ini juga jadi masukan deh buat yang suka beli frame plastik, terutama kacamata ala korea yang murmer dan banyak dijumpai di mall-mall sekarang ini, harus aware juga sama kekuatannya ya, sekalinya tertindih atau terlalu keras membersihkan bisa jadi si frame plastik patah hehehe.

Sekitar setengah jam kemudian, kami pun sampai di Pos Dua. Ternyata jarak dari Pos 1 ke Pos 2 tidak begitu jauh. Wah…suasana sudah semakin gelap. Sekali lagi kami beristirahat di pos sambil menikmati madu, air, dan makanannya Kang Hendrika. Kami tidak bisa berlama-lama leyeh-leyeh karena memang hari sudah semakin malam. Kami pun melanjutkan perjalanan yang lebih menantang ke Pos tiga. Secara umum sih medannya sebenarnya kurang lebih sama, hanya saja memang di sisi kiri jalan yang kami lewati ini jurang, jadi ya harus hati-hati juga dan yang terpenting konsentrasi. Oh iya di sini Asmi mulai menyalakan musik untuk menemani perjalanan kami. Katanya sih karena nggak enak juga jalan sendirian dalam suasana sepi. Ya lumayan lah, lagu-lagu yang terlantun dari handphone Asmi itu pun menjadi penghibur dan pemeriah suasana perjalanan. Selain itu, lagu tadi juga jadi penanda kami untuk memperkirakan seberapa jauh jarak kami. Kalau sudah mulai terdengar lagunya Asmi, berarti jarak kami dengan rombongan di belakang nggak begitu jauh hehehe. Lagunya Asmi ini macam-macam lho, mulai dari lagu Indonesia, western, dangdut, sampai soundtracknya Mahabharata juga ada! Wow, komplit kan? Hehehe. Kalau boleh jujur (ya boleh lah ya hehe), medan pendakian menuju Ranukumbolo ini tidak terlalu susah, kok. Lebih susah medan yang di Gunung Prau kemarin menurut saya, tapi ini jalur sebelum Ranukumbolo lho ya…beda cerita kalau nanti summit ke Mahameru hehehe. Beberapa tanjakan dan turunan sempat kami lewati. Karena gelap jadi tidak terlalu tampak securam apa tanjakan dan turunan itu. Perjalanan yang cukup panjang ini memang sedikit banyak membuat kami lelah. Mungkin ini risikonya jalur yang landai ya, karena jalurnya memutari gunung jadinya lama. Tapi tak apa lah, saya sih lebih suka jalur yang begini soalnya tidak terlalu susah hehehe. Kami pun kembali beristirahat di Pos Tiga setelah kira-kira satu setengah jam perjalanan dari Pos 2. Oh iya, tidak seperti pos-pos di Gunung Prau yang hanya ditandai dengan papan bertuliskan nama setiap pos, di jalur pendakian Semeru ini posnya benar-benar pos. Maksudnya? Hehehe…jadi ya di setiap pos ini memang ada tempat/gardu untuk beristirahat, mirip pos kamling begitu lah :).

DSCN0089

Ayo cukup istirahatnya, sudah makin gelap dan dingin nih!

Ranukumbolo semakin dekat! Inilah yang memberi semangat buat kami untuk melanjutkan perjalanan. Jalur pendakian ini pun serasa milik kami berenam karena tidak terlihat lagi pendaki lain yang menuju ke arah yang sama dengan kami. Kedua mas-mas tadi mungkin sudah jauh duluan di depan ya karena kami sempat beberapa kali berhenti dan beristirahat untuk recharge energi. Dari pos tiga ini kami sempat melewati tanjakan yang lumayan curam. Konon namanya tanjakan Bakri. Memang menaiki tanjakan ini cukup menguras energi, apalagi di tengah gelapnya malam, saya harus benar-benar konsentrasi nih. Walaupun sebenarnya saya lebih berani melewati tanjakan daripada turunan, tetap saja melewati tanjakan yang jaraknya hanya sekitar seratus meter ini merupakan ujian awal (pretest) buat saya yang pendaki pemula (hm…bisa dibilang pendaki gak ya? Hehehe).

Dari tanjakan Bakri kami pun melanjutkan berjalan melewati jalan setapak. Nah, dalam perjalanan menuju Ranukumbolo ini kami sempat terpisah dengan Kang Hendrika dan Jafar. Asmi yang sudah menyusul kami mengatakan bahwa ada kebakaran. Ternyata Jafar sedang berusaha memadamkan api di tengah perjalanan. Saya tadi memang nggak melihat ada api sih, mungkin apinya menyala pas Jafar lewat. Ya syukurlah perjalanan kami tidak terganggu dengan api itu. Kami pun meneruskan perjalanan melewati jalan setapak ini menuju ke Ranukumbolo. Menuju ke Ranukumbolo ini Mas Herman dan Mas Vickie sudah semakin jauh di depan (mungkin mereka ini terbiasa naik motor Y*m*h* ya hehehe). Seringkali mereka harus menunggu kami menyusul mereka setelah terpaut jarak yang lumayan jauh. Sekarang rombongan kami pun terbagi menjadi tiga: Mas Vickie-Mas Herman, saya dan Asmi, lalu terakhir Kang Hendrika-Jafar.

Sekali lagi saya mengalami momen mendaki berdua dengan Asmi, tertinggal dari cowok-cowok di depan dan terpisah dari cowok-cowok di belakang. Ya, hanya kami berdua. Hanya ada aku dan dia (sok romantis hahaha). Syukurlah Asmi sudah pernah melewati jalur ini sebelumnya. Saya merasa cukup aman, apalagi jalur pendakian ini juga relatif mudah dikenali kok. Risiko kesasar sangat kecil. Hanya saja memang tetap harus berhati-hati karena kalau meleng dan tidak konsentrasi bisa jatuh menuruni bukit nih. Akhirnya kami sampai juga di turunan terakhir. Setelah melewati turunan ini, kami pun akan sampai di Ranukumbolo. Yay! Ayo semangat kawan, sebentar lagi bisa istirahat juga nih! Saya dan Asmi berjalan perlahan menuruni bukit menuju Ranukumbolo, sementara Mas Vickie dan Mas Herman sudah duluan turun, mungkin sambil berlari ya soalnya kami sudah tidak melihat mereka di depan. Dua orang ini memang punya kecepatan super saiya hahaha. Sementara itu Kang Hendrika dan Jafar pun akhirnya menyusul saya dan Asmi.

Jalur turunan terakhir ini membuat saya harus berjalan perlahaan-lahaan sekali karena jalurnya lumayan curam juga. Jafar sempat mengomel karena menurutnya, Mas Vic dan Mas Herman nggak seharusnya meninggalkan kami cewek-cewek menuruni jalur ini sendirian. (Makasih ya Far atas perhatiannya, tapi mengapa dikau juga ikut meninggalkan kami di luar tenda waktu kami masak? Ah sudahlah…. ) Pengalaman terpeleset sebelumnya membuat saya lebih berhati-hati dalam melangkah, apalagi di jalur yang menurun seperti ini. Asmi sempat berkata bahwa sepertinya dulu dia tidak lewat jalur yang ini. Ya ternyata memang ada beberapa jalur menuju ke Ranukumbolo. Saya sih hanya mengikuti jalurnya pak  leader di depan tadi. Oh iya…satu hal yang disayangkan, karena kami mendaki ketika hari gelap, kami pun tidak dapat menikmati keindahan alam pegunungan sepanjang jalan. Semuanya gelap; yang tampak hanya jalur yang kami lewati saja, itu pun karena diterangi cahaya dari headlamp. Jadi agak iri juga sih kalau baca blog pendaki lain yang menceritakan keindahan sepanjang jalur pendakian ke Semeru ini, tapi saya juga nggak menyesal kok mendaki malam hari. Yang penting kami semua bisa sampai dengan selamat dan perjalanannya lancar, amin!

Setelah berjalan perlahan-lahan melintasi bukit dan lembah (kaya Ninja Hatori aja hehehe), finally kami sampai juga di tanah Ranukumbolo! Wah…senangnya! Sayang malam itu kami memang belum bisa menikmati keindahan Ranukumbolo seperti yang juga ditampilkan dalam film 5cm. Eitss kami nggak bisa langsung bersantai-santai juga, nih. Saya dan Asmi sempat mencari-cari Mas Vickie dan Mas Herman yang sudah lebih dulu tiba dan mencari spot untuk mendirikan tenda. Rupanya spot tenda kami juga berbeda dengan lokasi tenda Asmi dulu. Belakangan kami baru diberitahu Mas Vickie tentang pertimbangan pemilihan lokasi tenda kami. Memang sih lokasi tenda kami sekarang ini terkena hembusan angin yang cukup kencang. Sebetulnya ada spot lain yang dekat dengan semacam shelter, tapi berhubung waktu itu sudah malam dan jalur menuju ke dekat shelter itu juga lumayan merepotkan, dengan mempertimbangkan juga kondisi kami yang sudah cukup lelah berjalan tadi, akhirnya Mas Vickie memutuskan untuk ngecamp saja di dekat turunan kami tadi. Di tengah hembusan angin malam yang wow kencangnya dan wow juga dinginnya, kami pun melakukan tugas masing-masing. Cowok-cowok membangun tenda (satu tenda besar untuk keempat cowok dan satu tenda kecil untuk saya dan Asmi), sementara saya dan Asmi memasak. Kami membawa dua buah kompor dan keduanya sudah dinyalakan oleh Mas Vickie sebelum ia membangun tenda bersama cowok-cowok yang lain, tetapi salah satu kompor kami ternyata bermasalah. Tadinya kami mau menggunakan satu kompor untuk memasak nasi dan kompor yang lain untuk membuat minuman hangat. Akan tetapi, berhubung kompor yang satu bermasalah, kami akhirnya harus menunggu menggunakan satu kompor untuk memasak nasi sekaligus lauk. Menu yang sudah kami rancang pun harus sedikit berubah. Tadinya sih malam ini kami berencana untuk memasak nasi pecel, tapi berhubung cuaca tidak mendukung; angin malam yang kencang berhembus dan dinginnya yang menusuk kulit pun membuat saya dan Asmi memutuskan untuk menyiapkan lauk yang cepat saja. Kami pun memasakan telur orak-arik dicampur corned. Sementara kami memasak di luar tenda, di tengah hembusan angin, eh para cowok-cowok yang sudah selesai memasang tenda ini langsung masuk ke dalam tenda. Hemmmm enak ya…sementara teman-temannya masak kedinginan di luar, mereka langsung berlindung masuk ke dalam tenda. Bahkan beberapa saat kemudian terdengar suara dari dalam tenda, “Sudah siap belum masakannya?” Ckckck…saya dan Asmi hanya bisa menghela napas. Sungguh ter..la..lu ini cowok-cowok. Tapi ya sudah lah, untunglah saya dan Asmi adalah cewek-cewek yang sabar dan cukup mandiri. Setelah masakan siap, kami pun memanggil cowok-cowok itu. Kami pun makan di dalam tenda masing-masing. Setelah selesai makan, kami juga tidak merapikan maupun membersihkan peralatan masak dan makan. Semuanya kami tinggalkan di luar tenda. Plastik dan barang-barang berserakan dengan tak karuan di depan tenda kami sementara angin malam masih belum lelah berhembus dengan kencang. Selesai makan, cowok-cowok itu langsung masuk kembali ke tenda dan menutup pintu tenda. Permintaan Asmi untuk ditemani mencari spot ‘toilet’ juga tidak digubris sama sekali. Benar-benar deh…saya dan Asmi memang diuji kesabaran dan kemandiriannya waktu itu. Tanpa protes, saya dan Asmi pun mencari sendiri ‘toilet’ yang tidak jauh-jauh amat dari tenda kami. Untung saja kami ada teman senasib sepenanggungan hahaha. Setelah menyelesaikan urusan itu, kami pun kembali ke tenda, dan tanpa mempedulikan barang-barang yang berserakan di luar tenda, kami juga segera menutup pintu tenda untuk berlindung dari angin malam yang seperti sedang kesal itu. Kami pun mulai menata barang, berganti baju, lalu masuk ke dalam sleeping bag. Oh…betapa nyamannya berada di dalam sleeping bag di dalam tenda ini! Dinginnya angin malam pun tak mampu menembus perlindungan kami yang sudah seperti kepompong. Akhirnya di tengah gemuruh suara angin yang bertiup dan seolah menggoyangkan tenda kami, saya dan Asmi pun terlelap dalam tidur. Niat untuk memotret keindahan langit malam di Ranukumbolo pun buyar. Semua hasrat dan niat kami ternyata tak mampu melawan pengaruh kekuatan alam. Kami pun bersembunyi di dalam tenda, tak mampu menandingi sang bayu yang seakan tak kenal lelah berhembus. Selamat malam, Ranukumbolo, berikan kami istirahat yang nyaman supaya besok kami dapat bangun dan menikmati keindahanmu :).

To be continued Day 2 Part 1: Ranukumbolo and Tanjakan Cinta

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 3 : Trekking to Ranukumbolo

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 2 : Ranupani and Preparation Trekking to Ranukumbolo | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s