Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 2 : Ranupani and Preparation Trekking to Ranukumbolo

Sejak kami memutuskan untuk pindah destinasi ke Gunung Semeru, Asmi beberapa kali sempat bertanya, “Kenapa sih Mbak aku harus kembali ke sana?” bahkan sampai kami tiba di Semeru pun Asmi sempat beberapa kali mengungkapkan ketidakpercayaannya akan kembali ke Semeru dalam waktu sekitar enam bulan. Saya tidak tahu sih apa sebenarnya yang dialami Asmi sewaktu dulu mendaki gunung Semeru, tapi sepertinya ada sebuah kenangan yang membuatnya agak enggan untuk kembali ke sana. Berhubung sebelumnya juga Asmi tampaknya sedang galau dan butuh pelampiasan (pelampiasan galaunya dengan naik gunung nih si Asmi hehehe), saya hanya bisa mendukung dengan kata-kata dan doa :). Anyway, Jafar dan Mas Herman tampak sangat excited dengan destinasi baru kami, sementara saya dan Kang Hendrika ngikut saja hehehe.

Sewaktu akan menuju ke Puskesmas, kami memberhentikan sebuah angkot yang lewat di jalan depan pos perizinan. Baru saja kami naik ke angkot itu, tiba-tiba seorang sopir angkot yang memarkir mobilnya di dekat pos pun meneriaki angkot yang baru saja kami naiki. Rupanya ada aturan tak tertulis bahwa kami seharusnya naik angkot yang sudah parkir di pos perizinan tadi. Ya mana kami tahu kalau angkot di pos perizinan itu menunggu penumpang. Kami kira angkot itu hanya parkir saja, karena toh tadi sopir angkot tersebut juga tidak tahu ke mana perginya. Tapi ya sebagai penumpang, kami ikuti saja deh aturan-aturan nggak tertulisnya para sopir ini daripada panjang urusannya. Kami pun batal naik angkot tadi lalu naik ke angkot yang sudah ngetem di depan posko perizinan ini. Kami membayar dengan tarif sama seperti sebelumnya, Rp 65.000,00 untuk kami berenam plus semua barang bawaan kami. Sopir angkot ini agak ‘unik’ penampilannya. Kalau boleh jujur sebetulnya penampilannya lebih seperti anak punk daripada sopir hehehe. Sepanjang perjalanan menuju Puskesmas Pandaan pun, angkot ini sempat menaikkan beberapa penumpang lain. Nah di sini juga beberapa kali si bapak sopir nyentrik ini menggoda penumpang yang kebetulan ibu-ibu muda ini. Salah satu kalimat yang sempat terdengar jelas dan membuat kami yang duduk di belakang menahan tawa adalah ketika si bapak sopir ini berkata kepada anak penumpang ini, “Kamu kok cantik sih, kaya ibumu,” Hehehe…eh dasar si bapak modus aja nih…kami hanya bisa tertawa mendengar kata-kata si bapak sopir. Oh iya ternyata bapak sopir ini sempat melihat kejadian kami ‘berdebat’ dengan sopir angkot yang mengantar kami berangkat ke basecamp. Lucunya, sopir ini langsung menyeletuk, “Kalau sopir yang ngantar sampeyan berangkat tadi memang orangnya ‘agak-agak’, Mas,” Hahaha….

DSCN0007 DSCN0011

Cowok-cowok foto narsis di dalam Angkot 🙂

Kami sampai di Puskesmas Pandaan sekitar jam sepuluh. Untuk bisa memperoleh surat keterangan sehat, kami diminta untuk menunjukkan KTP lalu hanya dengan memberikan informasi berat serta tinggi badan, surat keterangan sehat pun kami dapatkan. Wow, mudah sekali ya hehehe. Nah, sementara menunggu Asmi dan Mas Herman yang sedang memfotokopi KTP untuk kelengkapan dokumen pendaftaran ke Semeru nanti, saya, Pak Hendrika, Mas Vickie, dan Jafar pun menunggu di puskesmas. Nah, untungnya jalan di depan puskesmas ini ternyata dilewati bus tujuan Malang yang akan kami naiki. Jadi kami tidak perlu kembali lagi ke terminal untuk naik bus ke Malang…lumayan ngirit ongkos hehehe. Tak lama kami menunggu, sebuah bus ekonomi AC tujuan Malang pun tiba. Kami segera memberhentikannya. Berhubung tas-tas kami cukup memakan tempat, kami pun memasukkan tas-tas kami ke bagasi, jadi kami bisa naik ke bus dengan ringan hehehe. Oke, sekarang kami tinggal menunggu sampai ke terminal Arjosari, Malang baru nanti kami akan melanjutkan perjalanan ke Tumpang sampai ke basecamp pendakian di Ranupani. Karena perjalanannya lumayan lama, saya sempat membeli snack krupuk tahu yang dijajakan seorang ibu di dalam bus. Lumayan juga lah untuk mengganjal perut yang sudah mulai lapar ini :). Setelah krupuk tahunya habis, seperti biasa, saya pun kembali memejamkan mata. Entah kenapa sepanjang perjalanan sejak tadi pagi saya mudah sekali tidur di bus. Apa mungkin ini efek kurang tidur malam tadi ya hehehe. Ya yang jelas saya sangat bersyukur bisa beristirahat dulu karena untuk pendakian dibutuhkan konsentrasi juga :)/. By the way, secara tidak sengaja ternyata rombongan kami ini mirip dengan rombongan di film 5cm lho hahaha. Asmi langsung bilang, “Mbak, kita kaya film 5cm nih..jumlah anggota kelompoknya juga sama, enam orang,” Hahaha…saya juga baru sadar kalau ternyata kata-kata Asmi ada benarnya juga. Yang paling mencolok mungkin salah satu anggota kami yang nggak bisa menahan rasa laparnya (no mention ya, nggak enak nih kalau disebutin orangnya yang mana…tapi mungkin bisa ditebak sendiri dari foto-foto yang ada nanti hehehe)

Dari Terminal Arjosari, kami pun mencarter angkot (lagi) untuk menuju ke Perhutani di Tumpang. Kami sampai di Perhutani sekitar jam setengah dua. Di Perhutani inilah kami mendaftar untuk pendakian ke Gunung Semeru. Setelah mendaftar, kami diwajibkan mengisi formulir yang berisi daftar nama, barang bawaan, termasuk menandatangani surat bermeterai (kalau nggak bawa meterai bisa beli di Indomaret dekat Perhutani 🙂 ). Masalah administratif ini semuanya diurus oleh Mas Vickie selaku team  leader kami sementara kami bersantai di pendapa dekat meja pendaftaran hehehe. Ketika kami mendaftar ini juga kami baru mengetahui bahwa ternyata jumlah pendaki hari ini masih sangat sedikit. Ya syukurlah kami masih masuk kuota. Sebelumnya kami sempat membayangkan kondisi terburuk yaitu menginap semalam di Ranupani kalau memang kuota pendakinya sudah penuh. Nah, setelah urusan administrasi pendaftaran di Perhutani beres, kami pun lanjut mengurus perut kami yang sudah mulai meronta-ronta hehehe. Setelah menitipkan barang-barang bawaan di Perhutani, kami pun berjalan keluar mencari makan dan minum sambil juga mengambil uang di ATM karena dana yang kami bawa kurang (ini nih salah satu risiko pindah destinasi dadakan, dana yang disiapkan juga jadi bertambah hehehe). Kami juga sepakat untuk nambah iuran bersama sebesar Rp 100.000,00 per orang. Siang itu kami mampir ke deretan warung kaki lima yang rata-rata menjual menu yang sama: nasi campur, nasi rawon, bakso. Kami masuk ke salah satu warung dan memesan nasi campur. Di situ lumayan banyak pilihan lauknya. Saya memilih lauk telur bumbu bali dengan ditemani minum es teh, cocok sekali mengusir dahaga di siang yang sangat terik ini.

DSCN0016 DSCN0018

Makan siang dulu yukk 😀

Selesai makan dan belanja di Indomaret, kami pun kembali ke Perhutani. Nah, sekarang masalahnya…transportasi untuk ke Ranupani! Karena kami hanya berenam, kalau kami menyewa satu hartop untuk ke Ranupani, jatuhnya iurannya akan sangat mahal. Harga sewa satu hartop adalah Rp 550.000,00. Kalau dibagi berenam…berarti per orangnya hampir seratus ribuan dong hehehe. Namun, berhubung waktu itu kami juga tidak bertemu dengan kelompok pendaki lain yang bisa diajak bergabung menyewa hartop, jadilah kami sepakat menyewa satu hartop untuk mengantar kami ke Ranupani. Kami sempat was-was juga menunggu hartop yang tak kunjung tiba karena khawatir pos di Ranupani sudah tutup sore hari. Sementara itu mas-mas yang menyediakan hartop malah bersantai-santai bersama rekan-rekannya. Mungkin melihat kami yang menunggu dengan cemas, si mas ini tiba-tiba memberikan sepiring rujak kepada kami (ceritanya disuap nih hahaha). Ya lumayan lah rujak ini bisa sedikit mengusir rasa bosan kami menunggu hartop yang belum kunjung tiba. Apalagi karena sebelumnya kami diberitahu bahwa pos pendaftaran di Ranupani tutup jam empat sore, padahal waktu itu sudah jam tiga!

DSCN0022 DSCN0025

Menanti hartop..hartop, hartop..mengapa dirimu tak kunjung tiba…?

Sekitar jam setengah empat sore, hartop yang telah kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga! Fyuh…kami pun segera menaikkan barang-barang. Nah, sebelum berangkat, kami menyempatkan diri foto-foto di hartop ini hehehe tetap eksis ya. Saya dan Asmi mendapat hak istimewa cewek dengan duduk di depan, sementara keempat cowok tadi duduk di bagian belakang hartop yang terbuka. Hartop pun mulai berjalan, membawa kami menyusuri jalan berliku menuju ke Ranupani. Sepanjang jalan tampak hamparan ladang. Pemandangan yang kami lalui tampak biasa-biasa saja sampai kami melewati Bukit Teletubies. Kami sampai memutuskan untuk berhenti dan berfoto bersama di situ karena pemandangannya benar-benar indah! Dari tempat kami berdiri, tampak hamparan sabana Gunung Bromo. Pokoknya pemandangan di situ benar-benar indah! Lihat sendiri fotonya kalau nggak percaya hehehe. Nah, berhubung kami mengejar waktu juga, seusai berfoto sebentar, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

DSCN0035 DSCN0027

Begitu hartopnya datang, foto-foto dulu yaa 🙂

Kami tiba di perhentian hartop sekitar jam setengah lima. Mas Vickie segera diantar oleh mas pengendara hartop dengan naik motor untuk menuju ke Ranupani mengurus pendaftaran, sementara saya dan keempat rekan lainnya berjalan kaki menuju ke basecamp tersebut. Nah, baru sebentar kami berjalan, tiba-tiba si Mas pengendara hartop kembali menghampiri kami. Rupanya surat bermeterai yang sudah ditandatangani dari Perhutani tadi belum dibawa, jadi si Mas kembali untuk membawa surat tersebut yang masih dibawa Asmi (kok nggak boncengin salah satu di antara kita sekalian ya hehehe). Kami pun melanjutkan perjalanan yang tidak begitu jauh. Kami sempat melewati Danau Ranupani.

DSCN0042 DSCN0047

Pemandangan sepanjang jalan menuju Ranupani

DSCF3204 DSCN0079

                    Danau Ranupani                        Tiba di perhentian hartop dekat Danau Ranupani

Akhirnya kami sampai juga di basecamp Ranupani. Di situ ternyata ada beberapa orang dari rombongan lain yang tengah bersantai. Rupanya rombongan tersebut baru saja turun gunung. Memang benar seperti yang dikatakan oleh mas-mas di Perhutani tadi, hari ini jumlah pendakinya masih sedikit. Kami sempat ngobrol sebentar dengan rombongan yang baru saja turun itu, sambil mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk pendakian sore hari. Oh iya di sini juga terakhir kalinya kami bertemu kamar mandi sebelum akhirnya turun gunung nanti. Untuk pendaftaran mendaki, kami harus membayar Rp 40.000,00 per orangnya (lumayan mahal juga ya hehehe). Waktu itu Mas Vickie sempat bercerita bahwa bapak yang mengurus pendaftaran berpesan, “Kalau mendaki jangan sombong ya Mas,”. Pesan itu juga disampaikan kepada rombongan lain yang baru mendaftar pendakian. Hm…siap deh Pak, saya juga nggak berani sombong, orang masih awam juga kok hehehe. Nah, setelah bersiap-siap, kami pun berkumpul untuk berdoa (yang dipimpin oleh Mas Herman sang pendaki religius) supaya perjalanan kami nanti lancar dan selamat sampai tujuan. Kami pun meneriakkan yel-yel penyemangat supaya semangat kembali terpompa meski hari sudah semakin gelap.

DSCF3198 DSCF3164

Rombongan kami ceweknya dua orang lhooo >o<

DSCN0063 DSCF3186

On the way Ranupani..tampak sabana Gunung Bromo. Dari sini pemandangannya luar biasa indaaahhhhhhhhhhh!!                 

To be continued Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 3 : Trekking to Ranukumbolo   

Advertisements

One thought on “Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Day 1 Part 2 : Ranupani and Preparation Trekking to Ranukumbolo

  1. Pingback: Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Preparation and Day 1 Part 1 : The Decision | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s