Filosofi “Mendengarkan”

LISTENING

Apa bedanya mendengar dan mendengarkan?

Seringkali kita bercakap-cakap dengan seseorang dan mendengarnya berbicara. Namun, apakah kita ‘mendengarkan’ atau sekedar ‘mendengar’?

Dalam bahasa Indonesia, ‘mendengarkan’ memiliki padanan kata yaitu ‘menyimak’. Menyimak berbeda dengan mendengar. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), menyimak berarti mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang atau meninjau (memeriksa, mempelajari) dengan teliti. Mendengar berarti dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga/tidak tuli, atau mendapat kabar. Kata “menyimak” dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang mirip dengan kata “mendengarkan”, bukan kata “mendengar”.

Dalam bahasa Mandarin kata menyimak ditulis listening_s . Kata tersebut terdiri dari empat bagian yaitu:
ear= telinga
you= anda

eye = mata

king = raja.
attention = perhatian yang tak terbagi

heart  = hati/pemikiran/perasaan

Maka ‘menyimak’ atau ‘mendengarkan’ berarti menganggap orang lain yang sedang berbicara dengan kita sebagai raja, memberinya perhatian dan kehadiran anda sepenuhnya, focus, ada kontak mata dengan si pembicara dan telinga kita mendengar dengan seksama apa yang dikatakan orang tersebut.

Mungkin kita sering hanya ‘mendengar’ ketika seseorang berbicara kita. Biasanya kita hanya focus ketika topic yang dibicarakan menarik atau si pembicara adalah orang yang kita anggap penting. Namun, tahukah Anda bahwa ‘mendengarkan’ atau ‘menyimak’ ternyata mampu memenuhi kebutuhan si pembicara, kebutuhan dasar sebagai manusia?

Ada 4 kebutuhan dasar psikologis manusia, yaitu DIHARGAI, KEBEBASAN, DICINTAI, dan DILIBATKAN. ‘Mendengarkan’ seseorang dipercaya dapat memenuhi kebutuhan si pembicara untuk merasa DIHARGAI dan DICINTAI..50% dari kebutuhan dasar kita sebagai manusia!

Apakah sulit untuk mendengarkan seseorang? Bisa ya, bisa juga tidak. Akan sulit ketika kita merasa kita memiliki urusan yang lebih penting daripada menyimak pembicaraan seseorang, tetapi menjadi tidak sulit ketika kita mau menyediakan waktu dan perhatian kita dengan tulus untuk mendengarkan apa yang disampaikan seseorang kepada kita.

Mungkin bagi kita topik pembicaraannya kurang menarik, si pembicara juga bukan orang yang kita anggap penting…tetapi tidak ada salahnya membuat si pembicara untuk merasa Dihargai dan Dicintai, hanya dengan ‘mendengarkan’nya. Bayangkan jika kita berada di posisi si pembicara, apa yang akan kita rasakan ketika orang yang kita ajak bicara tidak menyimak, malah sibuk dengan gadget, laptop, buku, atau kesibukan lainnya. Dan apa yang akan kita rasakan ketika orang yang kita ajak bicara memperhatikan dan menyimak dengan seksama, memberikan diri dan waktu sepenuhnya untuk kita?

Marilah kita mencoba untuk ‘mendengarkan’, bukan hanya ‘mendengar’ 🙂

(Terinspirasi dari WEC Surabaya ‘117)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s