Unforgettable Unexpected Journey Semeru – Preparation and Day 1 Part 1 : The Decision

Beberapa minggu sudah rencana untuk ‘mengunjungi’ Gunung Arjuno dan Welirang digarap dan disurun dengan rapi oleh Mr.Team leader—Mas Vickie. Sesuai dengan jadwal yang telah disusun sebelumnya, rencananya perjalanan kami nanti akan dilakukan tanggal 1—3 November 2014. Itinerary sudah disusun, daftar peserta juga sudah direlease. Saya pun menanti dengan sabar dan santai waktu keberangkatan kami itu, sampai tiba-tiba Pak Bos masuk ke ruangan dan membawa berita yang membuat saya harus menarik napas panjang. “Bu Yulia, besok Jumat berangkat ke Cilacap ya,” kata Pak Bos hari Rabu sore. Setelah sebelumnya di-PHP-in oleh kabar serupa, saya sebenarnya agak skeptis mendengar work travel order itu. Namun, sebagai bawahan ya saya hanya bisa menjawab, “Iya, Pak,”. Perjalanan kerja itu berlangsung selama seminggu dan berakhir tepat tanggal 31 Oktober 2014. Saya pun optimis masih bisa ikut dalam trip ke Gunung Arjuno dan Welirang keesokan harinya. Ya kalau nggak capek dan saya sampai tepat waktu sih saya tetap akan ikut trip ini. Karena trip kami sifatnya juga refreshing dan tidak mengikat, sebetulnya santai saja kalau saya tidak jadi ikut. Tapi saya sebenarnya juga akan merasa kecewa kalau tidak jadi ikut, karena trip ini sudah direncanakan cukup lama. Oh iya saya juga sempat membeli sebuah headlamp dan celana panjang untuk persiapan trip ini (karena celana saya yang kemarin dipakai ke Gunung Prau ukuran pinggangnya terlalu besar jadi mudah melorot dan cukup mengganggu selama perjalanan hahaha).

Sempat pesimis bisa ikut, syukurlah perjalanan ‘dinas’ saya berakhir tepat waktu dan setelah ‘nego’ singkat dengan Pak Bos, akhirnya saya bisa kembali ke Tuban tanggal 31 Oktober 2014 pagi. Lumayan lah saya bisa beristirahat dulu. Toh rencananya tim kami baru akan berangkat menuju Surabaya besok jam dua pagi. Karena sebelum berangkat ke Cilacap saya juga sudah mempersiapkan nyicil packing untuk pendakian ke Arjuno-Welirang (ketauan deh gak fokus tugasnya hehehe), ketika saya kembali dari Cilacap, saya hanya perlu menata ulang dan menambahkan beberapa item yang memang  belum saya masukkan dalam tas Daypack sebelumnya. Ya, dalam perjalanan kali ini pun saya menggunakan tas Daypack Consina saya yang kapasitasnya hanya 35 liter, sementara teman-teman saya membawa tas carrier yang kapasitasnya minimal 50 liter, termasuk Jafar yang baru saja membeli tas carriernya (ihirrrr…)  hehehe.

Hari Jumat malam, saya dan Jafar mengambil barang-barang yang kami sewa dari sebuah toko perlengkapan peralatan outdoor di Tuban. Di situ kami menyewa sebuah kompor dan nesting. Nah…gas yang bakal dipakai untuk bahan bakar kompor yang katanya sudah dipesan oleh Mas Vickie ternyata malah dijual ke orang lain, alasannya “Masa saya nolak pembeli, Mas?” Wah..wah… gimana sih si mas ini..sudah janji tapi kok diingkari.. ya sudah lah. Si mas menyarankan kami untuk membeli di Indomaret dan meyakinkan kami bahwa dia pun kadang membeli di sana kalau kehabisan. Kami pun akhirnya membeli gas di Indomaret (harganya sedikit lebih mahal sih, tapi ya memang kami tetap harus membelinya sih hehehe).

DAY 1 ~ THE DECISION

Rencana keberangkatan kami agak terlambat. Kalau semula kami berencana berangkat jam dua pagi, akhirnya kami baru beranjak dari Mess sekitar jam tiga pagi. Hal itu tak lepas dari saya yang ketiduran hehehe. Saya juga heran, karena saya sudah mengatur alarm jam 01.15 WIB dan biasanya alarm saya itu tidak akan berhenti berbunyi sampai saya mematikannya. Anehnya, sejak tertidur jam sepuluh malam, saya tidak mendengar alarm itu hehehe. Untunglah sekitar jam dua pagi, Jafar mengetuk pintu kamar saya yang akhirnya membuat saya terbangun dan bergegas bersiap untuk berangkat. Saya pun segera mandi sebersih, sewangi, dan secantik mungkin (mengingat tiga hari ke depan saya tidak akan mandi karena masih berada di gunung) kemudian setelah itu bergegas membawa barang-barang saya menuju basecamp kami di tempat Jafar. Rupanya kami masih menunggu seorang teman kami, Mas Herman. Sekitar jam tiga pagi, rombongan kami pun lengkap dan siap untuk berangkat. Kali ini kami bepergian dalam jumlah kecil, total anggota rombongan kami hanya enam orang: Mas Vickie, Mas Herman, Jafar, Pak Hendrika, Asmi, dan saya. Kami semua rekan kerja seperusahaan, jadi lebih mudah mengkoordinirnya. Karena Mas Vickie sudah pulang duluan ke rumahnya di Waru, dari Tuban kami berangkat berlima.

Berangkat dari mess dengan penampilan khas traveller lengkap dengan tas pendaki gunung, kami menunggu bus yang akan membawa kami ke meeting point di Surabaya. Kalau mengikuti itinerary, seharusnya kami bertemu di Surabaya jam setengah lima pagi. Dengan mempertimbangkan lama perjalanan Tuban-Surabaya yang paling cepat dua jam, rasanya kami sudah bisa dipastikan terlambat. Kami pun menunggu dengan sabar sambil mengamati dengan jeli kalau-kalau ada bus yang lewat. Lima belas menit kami menunggu…belum tampak tanda-tanda bus lewat. Setengah jam kami menunggu…kami sampai menyandarkan tas kami di truk yang kebetulan parkir di seberang mess. Masih belum juga, hanya truk-truk besar yang lewat di depan kami. Sempat sih lewat bus PATAS, tapi anehnya bus itu tidak mau berhenti juga.

Sekitar satu jam kemudian, akhirnya sebuah bus PATAS jurusan Semarang-Surabaya pun lewat dan berhenti untuk mengangkut kami. Akhirnyaaa…. Kami pun menaikkan tas bawaan kami lalu naik ke bus. Seperti yang sudah kami duga, bus ini sangat sepi. Ya iya lah, masih jam empat pagi waktu kami naik bus ini. Lagipula ini hari Sabtu. Akhir pekan begini biasanya bus baru mulai ramai sekitar jam tujuh pagi karena banyak orang yang ingin pergi ke Surabaya untuk mencari hiburan seperti mall atau bioskop yang baru buka sekitar jam sepuluh :). Waktu mencari tempat duduk di bus ini saya sempat agak kesulitan karena matras yang diletakkan di bawah tas saya dengan posisi melintang sesekali mengenai penumpang di kanan-kiri jalan hehehe. Kami pun memilih tempat duduk di bagian belakang yang masih kosong supaya bisa meletakkan tas-tas kami yang ukurannya hampir sama dengan ukuran tubuh kami sendiri.

Meski tidak sesuai harapan karena sebenarnya budget kami adalah naik bus ekonomi yang tarifnya hanya sekitar dua puluh ribu rupiah untuk rute Tuban-Surabaya, kami tetap bersyukur masih bisa mendapatkan bus yang membawa kami ke Surabaya. Kami pun membayar empat puluh ribu rupiah untuk tarif bus PATAS dari Tuban ke Surabaya ini. Setelah memberi kabar kepada Mas Vickie yang sudah ada di Waru (dekat Terminal Bungurasih, meeting point kami nanti) bahwa kami sudah berangkat menuju Surabaya, kami pun memejamkan mata sementara bus terus melaju kencang.

Perjalanan Tuban—Surabaya pagi hari ini ternyata terhitung cukup cepat juga. Kalau biasanya jarak dari Tuban ke Surabaya kami tempuh dalam waktu sekitar tiga jam, ternyata perjalanan kami kali ini hanya memakan waktu dua jam! Wow…cepat sekali ya, mungkin karena masih sangat pagi ya jadi volume kendaraan di jalan juga belum terlalu banyak. Kami pun sampai di Terminal Bungurasih sekitar jam enam pagi dan memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Sambil menunggu kedatangan Mas Vickie, kami pun sarapan di salah satu counter makanan dekat pintu masuk ke ruang tunggu. Saya memesan nasi rawon dan es teh, sementara teman-teman yang lain ada yang memesan nasi soto. Memang pagi-pagi begini enaknya makan yang hangat-hangat deh hehehe. Saya pun membayar Rp 19.000,00 untuk menu sarapan yang saya pesan tadi.

Sesaat sebelum kami selesai sarapan, Mas Vickie pun datang. Yup, sekarang lengkap sudah anggota trip to Arjuno-Welirang. Dengan mengemban semangat pagi (plus sudah sarapan), kami pun beranjak menuju bus yang akan membawa kami menuju Terminal Pandaan. Bagi yang belum pernah ke Terminal Bungurasih alias Terminal Purabaya, jangan khawatir kalau datang ke sini. Kondisi terminal ini sangat modern, bersih, dan nyaman. Mungkin situasi ini agak berbeda dengan situasi di terminal-terminal bus di kota besar lainnya ya, tetapi yang jelas di Terminal Bungurasih ini situasinya tertib kok. Rombongan kami pun berjalan santai menuju tempat perhentian bus ekonomi jurusan Surabaya-Malang. Eh ternyata bus ekonomi ini ada AC-nya lho, tarifnya juga nggak mahal kok, hanya sepuluh ribu rupiah per orang dengan tujuan Terminal Pandaan. Setelah membayar, kami juga mendapat karcis yang ternyata sempat dicek di tengah perjalanan. Wah, tertib sekali ya. Kang Hendrika bahkan sempat berkomentar, “Bus di Jawa Timur ini tertib-tertib ya. Kalau jurusan yang ke Jawa Barat seringnya kita bayar tapi nggak dapat karcis. Ini sudah dapat karcis, dicek pula karcisnya,” katanya kagum. Memang untuk urusan pelayanan sarana transportasi publik dan infrastruktur, Surabaya ini rasanya pantas mendapat acungan jempol. Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang pasti ada, secara umum layanan transportasi di ibukota Jawa Timur ini memang oke kok.

Lagi-lagi dalam perjalanan menuju Terminal Pandaan ini saya memilih untuk tidur. Lumayan untuk menyimpan tenaga sebelum kami memulai pendakian siang ini. Kami sampai di Terminal Pandaan sekitar jam delapan pagi setelah sekitar satu jam perjalanan dari Terminal Purabaya. Setelah mengunjungi toilet terminal, kami pun mencari angkutan kota yang akan membawa kami ke pos perijinan pendakian Arjuno-Welirang. Setelah Mas Vickie bernegosiasi dengan seorang sopir angkutan dan deal dengan harga Rp 65.000,00 untuk kami berenam plus barang-barang bawaan kami, kami pun segera memasukkan tas-tas kami ke dalam angkutan itu. Nah, anehnya saat kami memasukkan barang-barang ke dalam angkot, si sopir ini malah pergi meninggalkan kami. Tadinya kami kira bapak sopir tadi pergi ke toilet atau minum sebentar, tapi kok lama juga dia tidak kembali. Karena kami tidak tahu ke mana bapak sopir tadi, sementara kami mengejar waktu agar tidak terlalu siang memulai pendakian, kami pun memutuskan untuk naik angkutan lain. Eh…tepat waktu kami hendak naik angkutan lain, tiba-tiba si bapak sopir tadi datang. Rupanya tadi dia tengah bersantai karena masih mau menunggu siapa tahu ada tambahan penumpang lagi untuk angkutannya. Spontan kami geleng-geleng kepala dengan ulah si bapak sopir. Lha kita ini sudah deal dan menunggu kok malah disuruh menunggu lagi penumpang lainnya. Hm ya sudah deh yang penting sekarang kami bisa berangkat. Ada hal lucu yang terjadi selama perjalanan menuju pos perizinan. Di tengah perjalanan tiba-tiba bapak sopir ini memberhentikan seorang pengendara sepeda motor. Kami kira, pengendara motor itu adalah teman bapak sopir ini. Anehnya si bapak sopir bertanya dengan nada agak keras kepada si pengendara motor, “Sampeyan mau belok kanan??” tanyanya. Si pengendara motor menjawab tidak. Lalu bapak sopir angkot yang perhatian ini mengatakan bahwa lampu sein motornya masih menyala. Oalah…itu toh alasan si bapak sopir memberhentikan pengendara motor tadi. Kami tidak habis pikir juga dengan ulah aneh si bapak sopir. Kalau kata Mas Herman sih, mungkin bapak sopir itu sebetulnya kesal dengan kami, tapi karena beliau tidak berani marah-marah ke akhirnya si pengendara motor tadi jadi pelampiasan kekesalan bapak sopir hahaha. Ada-ada saja deh.

Jpeg Ini dia pos perizinan pendakian Arjuno-Welirang

Sekitar jam setengah sembilan kami pun sampai di Pos Perizinan Pendakian Gunung Arjuno-Welirang. Ketika kami tiba di sana, suasana sangat sepi. Kami pun menurunkan barang-barang bawaan kami dari angkutan lalu berjalan menuju pos perizinan. Bapak sopir angkot tadi masih sempat bergumam, “Tuh kan ini masih sepi, tadi sebenarnya masih bisa tunggu satu-dua orang lagi,” Ya ya  ya…terserah deh Pak, dari tadi kok yang dibahas mau nambah penumpang aja hehehe. Akhirnya angkot tadi pun melaju kembali ke terminal sementara kami masih terpaku menatap sebuah tulisan yang tertempel di pintu pos perizinan itu. Tulisan yang dicetak dengan tinta hitam di atas sebuah kertas folio. “PENDAKIAN GUNUNG ARJUNO DAN WELIRANG DITUTUP SEMENTARA”. Tulisan singkat itu membuat kami sempat terpaku tak percaya. What??? Setelah perjuangan berangkat pagi-pagi buta, berdebat dengan sopir angkot…dan yang kami dapat adalah pengumuman bahwa jalur pendakian ini ditutup? Kami sempat tidak percaya. Kebetulan waktu itu ada rombongan lain yang juga ingin mendaki tetapi baru tahu juga kemarin kalau jalur pendakiannya ditutup. Hahaha makin banyak saja nih yang baru datang dan langsung kecewa. Dari pembicaraan dengan Mas sesama pendaki ini, kami mengetahui bahwa alasan penutupan jalur itu adalah karena terjadi kebakaran di Gunung Arjuno-Welirang. Kami jadi ingat tadi dalam perjalanan menuju pos perizinan, Jafar memang sempat berkata melihat asap di gunung tersebut.

JpegSebuah tulisan yang menyayat hati kala itu… 🙂

Si Mas pendaki sempat menyarankan kami untuk coba melobi bapak penjaga pos, namanya Pak Sukur. Tempat tinggal beliau kebetulan dekat sekali dengan pos perizinan tersebut. Nah, sebagai alternatif, Mas tadi juga memberi saran kalau ingin pindah destinasi coba ke Gunung Semeru. Awalnya kami berniat untuk melobi Pak Sukur. Berhubung Pak Sukur waktu itu sedang mandi, kami pun berembug mengenai apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Yah sudah perbekalan dan perlengkapan mendaki lengkap begini, sayang sekali kalau harus kembali ke Tuban dengan tangan hampa hehehe. Kami pun sepakat untuk pindah destinasi jika memang tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian di Arjuno-Welirang ini. Nah, pertanyaan berikutnya, mau pindah destinasi ke mana?

Mas Vickie, Jafar, dan Asmi sempat menyebutkan beberapa nama gunung. Gunung Penanggungan, Argopuro, dan Semeru sempat masuk dalam daftar pilihan destinasi kami. Berhubung kami tidak menggunakan jasa porter maupun guide, dan karena di antara kami belum ada yang pernah ke Gunung Penanggungan maupun Argopuro, akhirnya kami sepakat untuk pindah destinasi ke Gunung Semeru jika gagal mendaki Arjuno-Welirang. Kebetulan Mas Vickie dan Asmi sudah pernah mendaki Semeru, bahkan sampai ke puncaknya, Mahameru, yang konon merupakan gunung tertinggi di Jawa. Sementara kami berembug, datang juga rombongan motor yang sepertinya juga ingin mendaki di Arjuno-Welirang. Ya sama seperti kami, rombongan ini kecelik juga karena baru mengetahui informasi jalur pendakian ini ditutup.

Tak lama kemudian Pak Sukur telah selesai mandi dan keluar dari rumahnya. Mas Vickie, Mas Herman, dan Jafar pun bergegas menemui Pak Sukur untuk menanyakan apakah masih bisa diizinkan untuk mendaki ke Arjuno-Welirang. Dari jauh, saya dan Asmi membaca raut wajah mereka dan kami pun mengetahui bahwa jalur pendakian ke Arjuno-Welirang ini memang ditutup. Kami tetap tidak diizinkan untuk mendaki di sana karena memang sedang rawan terjadi kebakaran. Karena opsi pertama sudah gagal, kami pun fokus ke opsi kedua, yaitu pindah destinasi ke Gunung Semeru. Kami sempat pesimis juga sebelumnya, karena tadi pagi Asmi baru saja mendapat informasi bahwa gunung Semeru memuntahkan lahar dingin. Entah itu benar atau tidak, karena tentu saja tidak ada di antara kami yang menyaksikan berita itu di televisi pagi tadi. Selain khawatir akan kebenaran berita tersebut (karena bisa jadi jalur pendakian ke Semeru juga ditutup kalau berita itu benar), kuota pendaki ke Semeru pun dibatasi hanya lima ratus orang per harinya. Berdasarkan informasi Asmi dan Mas Vickie, biasanya pendaki ke Semeru itu juga harus cepat-cepat mendaftar karena takut kehabisan kuota. Nah, kendalanya, kalau kami berangkat sekarang, kemungkinan kami sampai di basecamp pendakian sore hari. Kami khawatir kalau sudah sore kuota pendakinya sudah habis. Asmi sempat menghubungi kenalannya waktu mendaki ke Semeru kemarin untuk menanyakan apakah jalur pendakian ke Semeru dibuka dan apakah aman untuk mendaki ke sana. Dari informannya Asmi, diperoleh informasi bahwa jalur pendakian ke Semeru masih dibuka dan aman. Mendapat kepastian ini, kami pun segera beranjak untuk mengurus surat keterangan sehat di puskesmas yang merupakan salah satu syarat perizinan untuk mendaki ke Semeru. Anyway, keputusan kami untuk beralih mendaki ke Semeru ini pada akhirnya akan memberikan kami pengalaman pendakian yang benar-benar tak terlupakan. What an amazing decision :).

Jpeg

Walau gak jadi mendaki tapi tetap foto di posnya buat kenang-kenangan 🙂

To be continued Day 1 Part 2 : Ranupani and Preparation Trekking to Ranukumbolo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s