Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 4 (Part 2) : Kawah Sikidang and Telaga Warna

Tujuan wisata kami berikutnya adalah Kawah Sikidang dan Telaga Warna. Ya kalau ke Dieng tapi nggak mampir ke Kawah Sikidang tentu nggak komplit rasanya hehehe. Kami pun bersiap menuju ke sana dengan berjalan kaki. Nah, di sini kami mengambil jalan pintas melewati tanah perkebunan. Sempat juga kami pesimis karena harus beberapa kali melompati lubang antararea lahan. Untunglah dengan bantuan dari teman-teman cowok akhirnya kami bisa juga melewati area perkebunan itu dan sampai di….Kawasan wisata Candi Arjuna (lagi!) hahaha. Ya ternyata untuk menuju ke Kawah Sikidang memang kami harus melewati kembali kawasan ini. Dalam perjalan ini kami sempat berfoto juga bersama salah satu anak berambut gembel yang kami temui di jalan. Awalnya si anak tampak ogah foto bersama, tapi setelah dibujuk ternyata dia senang juga lho foto-foto bersama kami. Terbukti tuh dari senyum sumringahnya di foto yang kami ambil. Terima kasih ya Dek, semoga besok kalau rambut gembelnya dicukur acaranya juga lancar dan jauh lebih oke daripada acara tahun ini.

P1010735 Si adek berambut gembel masih malu-malu lihat kamera nih hehehe 🙂

Kondisi kaki yang capek dan kaku setelah turun gunung kemarin ternyata mempengaruhi juga kondisi saya. Untunglah saya masih diberi kekuatan untuk berjalan sekalipun dengan pelan dan hati-hati karena seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, kaki saya terasa begitu sakit kalau ditekuk.  Sakitnya ini terasa lebih lagi ketika menaiki anak tangga. Ternyata saya nggak sendirian merasakan sakit ini, karena Eri ternyata juga merasakan hal yang sama. Padahal nanti kami masih harus trekking sebentar menuju Batu Pandang dan Kawah Sikidang hehehe. Sepanjang jalan menuju Kawah Sikidang, kemacetan di jalanan Dieng ini masih juga terjadi. Bahkan akhirnya ya para penumpang kendaraan itu memilih meninggalkan mobilnya yang terjebak macet dan berjalan menuju kawasan wisata Dieng.

Sempat berencana untuk naik mobil menuju Kawah Sikidang, akhirnya kami pun menguatkan diri untuk berjalan kaki ke sana karena sayang uangnya hahaha. Ya sekaligus kebersamaan lah, kami pun berjalan kaki menuju kawah belerang di Dieng ini. Nah, untuk kepentingan safety, kami pun menutupi hidung kami supaya terlindung dari gas H2S yang sangat melimpah di daerah sekitar kawah. Saya sendiri menggunakan kain batik yang tadi kami pakai waktu ritual pencukuran rambut gembel. Ternyata kain ini memang multifungsi juga ya, bisa digunakan sebagai syal, masker, juga penutup kaki seperti tadi. Rombongan kami sendiri sempat terbagi menjadi beberapa kloter, tergantung kecepatan masing-masing sih hehehe. Oh iya bagi yang lupa membawa masker, jangan khawatir karena di pintu masuk kawasan wisata ini banyak pedagang yang menawarkan masker sekali pakai.. ya harganya pasti lebih mahal daripada harga normal, tapi kalau memang terpaksa ya nggak ada salahnya membeli dibandingkan dengan risiko menghirup H2S di kawah nanti.

P1010743

Menuju Kawah Sikidang

Sepanjang jalan menuju kawah Sikidang, banyak orang berjualan oleh-oleh. Tentu oleh-oleh khas daerah Dieng ini, buah carica, yang paling banyak dijual. Selain itu ada juga pedagang yang menjual batu belerang yang konon katanya bagus untuk kesehatan kulit. Dalam perjalanan naik menuju Kawah Sikidang, kami masih fokus menuju ke atas. Maklum, waktu kami juga terbatas karena masih harus mengunjungi Telaga Warna. Setelah perjalanan yang cukup santai (dibandingkan naik gunung Prau kemarin hehehe), kami tiba juga di Kawah Sikidang. Bau belerang yang menusuk pun membuat saya enggan melangkah terlalu dekat dengan kawah tersebut. Kami sempat berfoto bersama di sini sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan beranjak menuju Telaga Warna. Walaupun wajah kami tertutup slayer dan masker, dari pakaian masih bisa dikenali lah siapa saja yang foto di situ hehehe.

P1010752 P1010756

DSCF2078 DSCF2075

Ayoo pijit-pijitan dulu sambil foto-foto hehehe 🙂

DSCF2079 Forget all the matters, now it’s time to enjoy togetherness 🙂

Di sini pun kami akhirnya memutuskan untuk naik ojek menuju Telaga Warna karena mempertimbangkan waktu kami  yang terbatas. Naik ojek menuju Telaga Warna dari pintu masuk kawah Sikidang ini tarifnya Rp 15.000,00 per ojek dan sekali angkut bisa dua orang (jadi cenglu deh haha). Saya sendiri termasuk kloter belakang karena sebelumnya menunggu Asmi dan Mas Herman yang masih membeli oleh-oleh.

DSCF2089 DSCF2087

Mas Herman sempat beli oleh-oleh…kalau yang di sebelah kanan nih jamur crispy ala Dieng yang enakkkk bangettt (apa karena waktu itu lapar ya? hehehe)

Akhirnya saya dan Mas Vickie berangkat dulu baru kemudian Asmi dan Mas Herman sebagai rombongan pamungkas. Ojek yang kami sewa ini bolak-balik mengantar kami dari Sikidang ke Telaga Warna. Ya lumayan lah, paling tidak dia sudah dapat lima obyekan hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Oh iya, Mang Mengku dan Akbar tidak ikut naik ojek karena mereka cukup bersemangat untuk berjalan kaki menuju Telaga Warna.

DSCF2090 Jalan kaki menuju Telaga Warna dan Batu Pandang

Nah..sesampainya di kawasan Telaga Warna ini kami harus trekking lagi untuk menuju ke Batu Pandang. Lumayan juga lho berjalan menaiki anak tangga dan jalur menanjak menuju Batu Pandang. Apalagi buat saya dan Eri yang kakinya sudah tidak karuan rasanya. Untuk menaiki satu anak tangga saja lutut saya sudah terasa nyeri. Akhirnya saya pun menaiki anak-anak tangga itu sambil berlari. Bukan karena masih kelebihan tenaga, tapi karena dengan berlari ternyata rasa nyerinya tidak terlalu terasa. Oh iya, saat akan masuk ke kawasan Batu Pandang ini ternyata kami harus membayar tiket masuk lagi, padahal tiket masuk ke kawasan Telaga Warna tadi sudah termasuk dalam tiket festival Dieng Culture Festival yang sudah kami beli sebelumnya. Kami bahkan sempat nego harga tiket dengan bapak penjaga posnya karena kebetulan kami datang dalam rombongan. Akhirnya setelah nego, kami berhasil mendapat potongan harga (lumayan deh mengurangi pengeluaran hehehe). Dari pos tadi kami masih harus berjalan menanjak menuju puncak Batu Pandang. Ternyata di situ sudah ada rombongan lain yang lebih dulu tiba. Ketika kami datang, rombongan tersebut tengah berfoto ria. Kami pun mengantre untuk foto-foto juga. Syukurlah rombongan ini cukup toleran juga. Karena tahu masih banyak yang mengantre untuk foto di sana, mereka pun cukup cepat menyelesaikan foto sessionnya.

DSCF2091 Pemberhentian sebelum naik ke Batu Pandang nih…Kang Mengku udah nggak mau naik lagi hehehe

Nah…akhirnya sampai juga kami di tempat tertinggi di Batu Pandang. Sesuai namanya, di sini ada sebuah batu besar yang mana jika kita berdiri di atasnya kita bisa memandang Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan daerah di sekitarnya dari atas. Pemandangan yang tampak dari Batu Pandang ini benar-benar memikat hati! Rasanya tidak sia-sia kami berlelah-lelah menuju kemari. Kalau biasanya mungkin kami hanya melihat telaga dari tepi, kali ini kami bisa melihat keindahan telaga-telaga di Dieng ini dari atas. Warna hijau kebiruan dari Telaga warna dan telaga Pengilon tampak begitu indah menghiasi rerumputan di sekelilingnya. Keindahan pemandangan yang tampak di mata kami kala itu memang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Waktu itu juga saya hanya sempat berujar, “Waah…bagusnyaaaa!” Kalau belum pernah berkunjung ke Dieng atau belum pernah melihat Telaga warna dari Batu pandang, saya sarankan untuk mengikuti jejak kami. Memang agak capek sedikit ya, tapi semua rasa lelah pasti akan terlupakan begitu melihat keindahan pemandangan dari atas sini.

DSCF2099 DSCF2095

Amazing beautiful scenery of Telaga Warna and Telaga Pengilon from above 🙂

Kami sempat berfoto bersama serombongan (minus Mang Mengku yang memutuskan untuk tidak ikut naik). Saya juga cukup berhati-hati memilih tempat foto karena jujur saja, lokasi foto-foto di Batu Pandang ini memang kurang safe sih hehehe. Ketika giliran foto seorang diri tiba, saya juga tidak berani naik ke batu paling atas di sini dan memilih untuk duduk saja di bawah batu itu hehehe. Yang penting masih kelihatan latar belakang pemandangan telaga warna :).

DSCF2114 DSCF2100

Ngantre foto di Batu Pandang…kapan lagi foto di sini? 🙂

Nah, setelah puas foto-foto di sini, kami pun bergegas kembali ke homestay karena bus yang kami pesan untuk mengantar kami ke terminal sudah datang! Berjalan melewati jalan yang kami lewati tadi siang, kami menyadari bahwa kemacetannya sudah hilang! Hahaha…syukurlah. Oh iya di sini lagi-lagi Ibnu menunjukkan karakter aslinya… Waktu kami tengah berjalan, tiba-tiba dia menjatuhkan selembar uang di jalan yang kami lalui. Sayangnya, tidak ada satu pun dari kami yang berhenti untuk memungut uang pecahan sepuluh ribuan itu. Akhirnya dengan kesal Ibnu kembali dan mengambil lagi uang yang dia jatuhkan tadi. Untunglah tidak ada di antara kami yang memungut uang tadi karena ternyata itu tadi hanya uang mainan! Hahaha…dengan kesal Ibnu berkata, “Ih gak seru ah! Masa’ gak ada yang tertipu sih!” Hahaha…ada-ada saja si Ibnu ini..kalau saya sih jujur saja memang saya tidak melihat ada uang yang jatuh. Kami pun tertawa geli melihat Ibnu yang kecewa berat karena gagal menjahili kami. “Aku gak lihat sih Nu,” kata saya. Eri pun menyahut, “Kalau aku sih udah tahu itu uang mainan hahaha” Asmi juga mengiyakan, “Kelihatan kali kalau itu mainan..ukurannya aja lebih kecil” Hahaha…pokoknya sepanjang perjalanan itu kami tertawa geli karena rencana Ibnu yang gagal (tenang Nu, nanti akan ada korban yang berhasil kena jebakan batmanmu kok wkwkwk).

P1010780 P1010777

Perjalanan pulang menuju homestay

P1010781

Setelah berjalan selangkah demi selangkah, kami akhirnya tiba juga di homestay tercinta. Bus yang menjemput kami sudah tampak menunggu di depan gang homestay. Kami pun bergegas mem-packing barang-barang. Nah, di tengah kesibukan membereskan barang-barang inilah tiba-tiba terdengar suara ledakan tawa dari ruang tamu. Waktu itu kebetulan saya sedang berada di dalam kamar sehingga saya tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Usut punya usut, ternyata kali ini ada juga yang menjadi korban kejahilan Ibnu dengan uang sepuluh ribunya, dan orang itu adalah…jreng jreng jreng….Mas Herman! Hahaha… katanya sih Mas Herman ini sempat tertipu waktu dibilang kalau uang sepuluh ribunya jatuh. Nah, begitu Mas Herman mengambil uang itu, langsung deh meledak tawa seisi ruangan. Mas Herman pun menjadi bahan bulan-bulanan kami semua. Wah wah wah…untung saja tadi saya nggak kena jebakan batman itu hehehe sabar ya Mas Herman. Konon kisah tentang insiden uang sepuluh ribu ini akan menjadi kisah yang tak lekang oleh waktu dan selalu menjadi trademark di dalam keluarga baru kami di Dieng ini :).

Sebelum menuju bus, saya dan beberapa teman sempat mau membeli oleh-oleh di dekat homestay, tapi ternyata banyak barang yang sudah habis. Akhirnya kami pun mengurungkan niat dan berencana membeli nanti saja di dekat terminal. Setelah selesai berberes kami akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal kepada homestay yang sudah memberikan kehangatan di malam hari sehingga kami bisa tidur dengan nyenyak ini. Kami pun berpamitan dengan bapak penjaga homestay, tetangga sekitar yang kebetulan ada di situ, serta kepada Mimin, si monyet yang jadi rebutan antara Mas Herman dan Mang Mengku hehehe. Setelah komplit, sekitar jam lima sore, bus pun melaju dengan kecepatan sedang, mulai menjauh meninggalkan dataran tinggi Dieng yang telah memberikan banyak cerita kepada kami semua selama beberapa hari ini. Oh iya, di tengah jalan bus yang kami naiki ini mengangkut juga rombongan pendaki lain yang kebetulan juga mau kembali. Suasana di dalam bus pun semakin ramai dan meriah. Kami sempat saling bertukar cerita dan pengalaman selama naik ke gunung Prau maupun di Dieng kemarin. Melihat kebersamaan dan keceriaan ini, rasanya sayang sekali ini semua akan segera berakhir. Yah kalau kata orang, di mana ada pertemuan selalu ada perpisahan.

To be continued Day 4 (Part 3) : Farewell and Going Home

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 4 (Part 2) : Kawah Sikidang and Telaga Warna

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 4 (Part 1) : Dieng Culture Festival 2014 and Dieng’s Mie Ongklok | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s