Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 4 (Part 1) : Dieng Culture Festival 2014 and Dieng’s Mie Ongklok

Sekitar jam setengah enam, sayup-sayup saya mendengar suara alarm dari handphone, entah milik siapa alarm itu, yang jelas suaranya tidak berhenti-berhenti. Saya yang tadinya bermaksud tidur lagi pun akhirnya terbangun juga. Tak lama kemudian alarm itu pun berhenti berbunyi. Karena saya sudah terlanjur bangun, saya pun memutuskan untuk sekalian mencuci muka dan gosok gigi. Inginnya sih mandi juga, tapi mengingat air panasnya kemarin sore tidak nyala, saya pun mengurungkan niat saya. Nah, benarlah dugaan saya. Air di dalam bak kamar mandi ini dinginnya sudah seperti air es yang disimpan di kulkas! Tapi yaa dibetah-betahin sebentar deh untuk cuci muka dan gosok gigi. Saya pun berjalan melewati dapur, dimana banyak sekali piring dan gelas kotor hasil perbuatan kami semalam yang belum dicuci. Saya pikir sambil mengisi waktu karena toh saya sudah tidak bisa kembali tidur, saya pun mulai mencuci piring-piring dan gelas-gelas itu. Nah, ternyata memang semua perbuatan baik itu ada karmanya kok (perbuatan jahat juga sih hahaha). Ketika saya tengah mencuci piring itu, bapak penjaga (atau pemilik ya) rumah pun datang lewat pintu samping. Beliau mengecek kamar mandi sebentar. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan perihal heater yang mati kemarin. Bapak ini pun menjelaskan bahwa untuk bisa menyalakan air panas, pertama heaternya harus dinyalakan dulu sampai kelihatan api menyala di dalam heater (jadi ingat furnace di pabrik nih hehehe). Nah, setelah itu buka keran untuk air panas. Lama-lama air akan semakin panas karena telah dipanasi lewat heater. Kalau api di heater tiba-tiba mati, coba dinyalakan lagi seperti saat pertama kali menyalakan. Ooo…lumayan kan saya jadi dapat ilmu baru juga, soalnya kemarin waktu heater ini mati, kami tidak tahu bagaimana menyalakannya lagi. Untunglah bisa bertemu bapak ini, terima kasih banyak ya Pak! You save our lives hehehe. Bayangkan saja kalau air panasnya tidak nyala…kayaknya kami nggak bakal ada yang mau mandi atau bahkan cuci muka deh hahaha.

Setelah belajar cara menggunakan heater dan selesai mencuci, saya pun kembali ke kamar. Rupanya semua orang masih terlelap. Tak lama kemudian Asmi pun bangun dan mencuci muka lalu diikuti dengan Eri. Satu per satu mulai terbangun. Waktu itu kira-kira pukul setengah tujuh pagi. Kalau ingat pembicaraan kemarin yang katanya mau berangkat jam lima pagi ke Kawah Sikunir jadi geli sendiri…sekarang saja pada bangun siang begini hehehe. Ya maklum juga sih, mungkin akumulasi istirahat yang tertunda sejak naik gunung kemarin baru terbayar malam tadi. Bagi saya dan teman-teman yang tidur di dalam kamar, kami sudah mendapatkan tidur yang berkualitas. Tidur kami semalam memang terasa nyenyak sekali..nggak tahu deh teman-teman yang tidur di luar gimana hehehe.

Akhirnya kami pun kembali mengantre untuk menggunakan kamar mandi. Karena saya sudah lebih awal membilas badan, saya bisa cukup santai menggunakan waktu untuk repacking. Lagi-lagi saya harus membongkar sleeping bag saya yang memenuhi tas. Setelah saya coba repacking lumayan lah, tas saya jadi muat lagi untuk barang-barang saya. Nah, selesai repacking, ternyata sebagian teman-teman sedang bersantai di luar sambil membakar jagung. Ya berhubung kemarin malam kami tidak mengikuti acara bakar jagung, jagung kami utuh deh belum termakan. Untunglah bapak yang empunya homestay meminjamkan alat untuk membakar jagung, jadi kami pun bisa menikmati jagung bakar Dieng meskipun tidak di festivalnya hehehe. Soal bakar-membakar jagung ini, ada Chef Herman dan Bambang yang siap menyediakan jagung bakar lazis ala Dieng. Jagung bakar Dieng ini ternyata enak lho, padahal kami tidak menambahkan bumbu apa-apa, tapi karena jagungnya sendiri sudah manis jadi jagung bakar sederhana ini pun terasa nikmat. Saya jadi ingat kemarin kami sempat berburuk sangka akan kualitas jagung ini hehehe tapi ternyata memang jagung ini enak kok :).

1794559_10152748552584293_5849748820911827434_n Ayo…ayo…siapa mau jagung bakar? 🙂

Kami pun menikmati jagung bakar sebagai menu sarapan. Sambil bersantai di bawah sinar matahari pagi, kami menikmati suasana pagi di Dieng sambil bercanda gurau satu dengan yang lain. Oh iya di sini kami sempat juga menjemur handuk di bak mobil pick up yang terparkir di depan homestay kami sembari menunggu semua anggota selesai menggunakan kamar mandi dan packing. Rencananya nanti kami akan mengikuti acara ritual pencukuran rambut gembel yang menurut jadwal akan berlangsung pk 10.00 WIB setelah acara Kirab Budaya yang berlangsung mulai pk 08.00 WIB. Melihat waktu yang ada, kami sepertinya akan melewatkan acara Kirab Budaya. Ya sudah deh nggak masalah, yang penting kami tidak melewatkan puncak acara festival Dieng nanti, yaitu ritual Pencukuran Rambut Gembel yang akan berlangsung di kawasan wisata Candi Arjuna, sama dengan acara Jazz di atas Awan kemarin malam. Nah, khusus untuk acara ritual pencukuran rambut gembel ini, peserta harus mengenakan kain batik yang sudah disediakan saat penukaran tiket kemarin di Posko Pokdarwis Dieng. Kain batik ini boleh digunakan seperti sarung, syal, atau apa saja terserah yang penting dipakai :). Sekitar jam setengah sembilan kami berangkat menuju kawasan wisata Candi Arjuna dari homestay dengan berjalan kaki. Di sini kami sempat melewati lagi homestay dengan merek “Homes Tay” yang sempat menarik perhatian kami juga kemarin sore. Kami pun menyempatkan diri berfoto di bawah tulisan unik tersebut.

IMG-20140904-WA0008 DSCF2579

Homes Tay Family photos and drawing by me hehehe 🙂

Perjalanan menuju kawasan Candi Arjuna cukup lancar meski kami sempat menyaksikan macetnya kendaraan di jalan menuju kawasan Candi. Ternyata begitu besar ya animo masyarakat untuk menghadiri acara ritual nanti. Nah, dalam perjalanan menuju kawasan candi Arjuna, kami sempat juga berfoto di beberapa candi yang kami lewati sampai akhirnya kami pun tiba di lokasi.

P1010661 P1010688

Perjalanan menuju kawasa Candi Arjuno…foto-foto dulu di candi yang lain 🙂

P1010664

Walau mata menyipit karena silau, tetap senyuuum yang lebaaar 😀

Suasana siang hari yang cerah di kawasan wisata ini sangat jauh berbeda dengan kegelapan yang kami hadapi kemarin malam. Tampak rerumputan dan pepohonan hijau di sepanjang jalan menuju lokasi ritual. Oh, rupanya ini toh jalan setapak yang kami lewati kemarin. Kalau suasana terang begini baru tampak keindahannya hehehe. Di sepanjang jalan menuju lokasi ritual ternyata banyak sekali pedagang yang berjualan. Ada yang berjualan souvenir, ada pula yang berjualan makanan. Nah, berhubung kami hanya sarapan jagung bakar tadi pagi, kami pun membeli siomay dalam perjalanan ini. Sementara itu ada juga yang berfoto bersama figure Hello Kitty. Aneh juga sih sebetulnya kenapa kok modelnya Hello Kitty ya, harusnya akan lebih seru kalau ada Arjuna atau Kresna, tokoh-tokoh pewayangan untuk berfoto bersama di sini. Oh iya selain siomay, saya dan Asmi juga sempat membeli jamur krispi dan kentang goreng sebagai penikmat lidah hehehe.

P1010672 DSCF1999

Beli siomay dulu buat sarapan 🙂

P1010668 P1010665 DSCF1996

Mas Bambang kayaknya sayang banget nih sama teh Hello Kitty (btw yang di dalem kostum itu cowok apa cewek ya? hehehe)

Tidak terasa kami sampai di lokasi sekitar pukul sepuluh. Seharusnya acara sudah dimulai, nih, tapi belum juga terlihat tanda-tanda acara dimulai. Yang ada, kami harus mengantre berjubel bersama ratusan (atau ribuan ya hehehe) peserta lain yang juga ingin menyaksikan ritual pencukuran rambut gembel. Antrean ini sungguh ruwet dan tidak teratur. Hanya ada satu pintu masuk menuju lokasi, padahal yang mengantre sudah banyaknya minta ampun. Bahkan ada peserta yang sudah mengantre sejak jam delapan pagi masih juga belum diizinkan masuk. Suasana yang ramai, padat pengunjung dan saling berdesak-desakan, ditambah lagi terik matahari membuat suasana semakin ricuh. Para peserta yang sudah tidak sabar berteriak-teriak meminta panitia segera mengizinkan kami masuk. Di tim kami sendiri, tampak semua orang sudah mulai tidak sabar. Bahkan Mas Bambang mengatakan bahwa dia kecewa sudah membeli tiket DCF ini. Sepertinya panitia ini kurang persiapan ya, karena penanganan dan pengaturannya tampak kurang bagus. Bayangkan saja, dari tiga tiket yang dijual, baik kelas VVIP, VIP, maupun festival semua masuk lewat pintu yang sama. Itu pun pintunya sempit dan dijaga beberapa orang aparat kepolisian dan panitia. Pokoknya ribet deh. Teh Citra sampai jadi provokator juga nih sambil meneriaki panitia (jangan ditiru ya…hehehe 😛 ). Memang suasana di luar saat itu menurut saya kacau sekali. Bahkan sampai ada yang kecopetan juga lho, ada juga yang sampai pingsan! Nah lho!

DSCF2004 DSCF2006

Penonton DCF 2014 yang berjubel di depan pintu masuk acara

Setelah sekitar satu jam menanti, beberapa tamu undangan tiba dan memasuki area ritual, tetapi peserta masih belum diperbolehkan masuk. Beberapa saat kemudian akhirnya peserta dengan tiket VVIP dan VIP diizinkan masuk. Ini juga jadi susah karena peserta di luar pintu sudah campur aduk dan untuk bisa menerobos kerumunan peserta juga cukup sulit. Akhirnya semua peserta diizinkan masuk juga. Sempat terdengar salah seorang polisi bertanya kepada panitia kenapa hanya satu pintu yang dibuka untuk peserta. Entah apa jawaban panitia waktu itu, yang jelas saya dan teman-teman merasa sangat beruntung bisa masuk lebih awal dan berdiri di barisan terdepan untuk tiket festival sehingga bisa melihat cukup jelas ritual pencukuran rambut gembel ini.

Pada acara ritual ini, anak-anak berambut gembel didudukkan dalam satu barisan. Kemudian satu per satu nama anak itu akan dipanggil disebutkan pula nama orang tuanya dan permintaan si anak tersebut. Permintaannya sendiri lucu-lucu sih, ada yang minta sekeranjang cokelat, sepeda, handphone yang ada kameranya juga. Karena rata-rata anak yang dicukur rambutnya ini usia Sekolah Dasar, jadi permintaannya pun khas anak-anak lah (untuk nggak ada yang minta kawin ya hehehe). Nah, setelah disebutkan identitas dan permintaannya, anak-anak ini naik ke panggung tempat rambut mereka dipotong. Eits, jangan khawatir, tidak semua rambutnya dicukur kok. Pencukuran ini simbolis saja. Kemudian rambut yang gembel dan sudah dipotong tadi akan dilarung di acara berikutnya. Pihak yang mencukur rambut pun bukan orang sembarangan lho, nggak bisa kita minta tukang cukur madura untuk memotong rambut gembel ini hehehe. Yang memotong haruslah pejabat atau tokoh yang dianggap berpengaruh di situ.

DSCF2009 P1010698

Ritual pencukuran rambut gembel dari jauh..penonton VIP tampak duduk dengan rapi menyaksikan acara (kalau mereka nggak duduk, kami yang di barisan festival jadi nggak bisa lihat ritualnya… 🙂 )

Kang Indra tampak antusias merekam ritual pencukuran rambut gembel ini. Tiba-tiba tampak sebuah pesawat mini membawa kamera yang merekam ritual itu dari atas. Wow…entah milik siapa kamera dan pesawat itu, yang jelas keren sekali ya bisa merekam adegan dari pesawat mini seperti itu hehehe. Oh iya, sementara acara berlangsung, masih ada juga peserta yang baru masuk. Waduh kasihan juga ya sudah ketinggalan acaranya lumayan lama begitu. Susunan tempat duduk untuk menyaksikan ritual ini pun kurang oke menurut saya. Peserta VVIP duduk di bagian yang paling dekat dengan lokasi ritual, diikuti peserta dengan tiket VIP di belakangnya lalu barulah peserta dengan tiket festival. Nah, sayangnya kalau kami duduk, bisa dipastikan kami tidak akan bisa menyaksikan ritual karena tertutup oleh penonton di depan kami (peserta dengan tiket VIP). Tapi kalau para peserta VIP ini duduk, jadi gantian mereka yang tidak bisa nonton karena tertutup oleh peserta dengan tiket VVIP. Serba salah juga deh hahaha. Ya yang penting kami masih bisa menyaksikan dan mengambil gambar ritual pencukuran rambut gembel ini. Kami memang tidak mengikuti acara ritual itu sampai selesai karena urutannya sama dan kami rasa sudah cukup kami berada di sini. Kami masih ingin mengunjungi Batu Pandang dimana dari situ tampak Telaga Warna.

Oh iya, sewaktu kami hendak keluar dari area ritual ini, tampak seorang reporter sedang meliput acara ritual pencukuran rambut gembel ini. Dari seragamnya sih tertulis reporter itu berasal dari stasiun TransTV. Kami sempat lewat di dekat presenter cewek itu (berharap masuk tivi hahaha). Nah di sini kami juga sempat bertemu dengan panitia yang mengenakan setelan hitam dan blangkon. Kami pun berfoto bersama panitia tersebut dan sempat menyampaikan masukan terkait prosedur masuk peserta yang kurang sip. Untungnya panitia ini menerima dengan baik masukan kami.

P1010712

Foto bersama panitia DCF 2014..Terima kasih atas hard worknya mempersiapkan acara ini ya 🙂

Sebelum keluar dari kawasan candi Arjuna, kami sempat berfoto bersama beberapa kali sampai akhirnya kami pun meninggalkan kawasan candi dan beranjak untuk makan siang. Ya buat bukti dan kenang-kenangan lah hehehe.

DSCF2032 P1010709

After ritual pencukuran rambut gembel 🙂

 IMG-20140906-WA0013

 On the way for lunch..leaving Candi Arjuno 🙂

Menu makan siang yang kami pilih adalah menu khas daerah Dieng dan sekitarnya, yaitu mie ongklok. Kami pun berjalan menuju kedai mie ongklok yang katanya menjual mie ongklok yang enak. Kami memesan mie ongklok dan menu pelengkapnya, yaitu sate daging sapi. Karena sama-sama nggak tahu dan belum pernah mencicipi mie ongklok, kami sebenarnya tidak punya ekspektasi apapun terhadap menu istimewa ini. Hanya saja, ketika menu itu tersaji di hadapan kami, tampak beberapa orang teman kami merasa aneh dengan makanan ini. Pertama, karena penampilannya. Mie ongklok ini seperti mie kuah tetapi dengan kuah yang kental seperti lendir. Bagi beberapa orang mungkin tampilan seperti lendir ini kurang menggugah selera. Kedua, rasa mie ongklok ini sendiri menurut saya agak aneh, ya setidaknya tidak biasa lah untuk lidah saya. Si Ibnu yang baru saja mencicipi sesendok mie ongklok ini langsung berkomentar, “Eh mie nya enak banget nih, tapi gua udah kenyang,” Hahaha…ini sih alasan aja si Ibnu. Tapi kami masih bersyukur dan tertolong karena rasa sate sapinya lumayan enak. Hanya saja ya si mie ongklok ini yang menurut saya penampilan dan rasanya agak ‘unik’ hehehe.

P1010732 P1010729

Menanti pesanan datang…

Mi_ongklok_sate_sapi_Wonosobo

Mie ongklok plus sate sapi Dieng 🙂

To be continued ~ Day 4 (Part 2) : Kawah Sikidang and Telaga Warna

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 4 (Part 1) : Dieng Culture Festival 2014 and Dieng’s Mie Ongklok

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 3 Part 2: Welcome to Homes Tay and DCF 2014 | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s