Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 3 Part 2: Welcome to Homes Tay and DCF 2014

Waktu saya menghampiri teman-teman yang sedang mengantre di kamar mandi, ternyataaaa wow….antreannya panjang sekali!! Saya pikir nanti saja deh pakai kamar mandi di homestay. Malas juga kalau menunggu antreannya lama begitu. Saya pun menuju posko Patakbanteng dan menunggu di situ, sementara teman-teman yang lain ada yang nongkrong dulu di warung juga. Waktu itu hari sudah cukup siang, sekitar jam satu. Kami masih harus menukarkan bukti pembayaran tiket DCF 2014 dengan ID card di posko panitia DCF. Akhirnya setelah menunggu semua anggota komplit, kami pun naik bus menuju ke posko Pokdarwis untuk penukaran ID card. Eh..sebenarnya ada satu anggota yang tidak ikut bus kami, sih…si Ibnu berangkat duluan karena mau mengambil tiket VVIP untuk festival Dieng nanti. Ya karena kemarin kami hanya berhasil membeli sepuluh tiket festival DCF, akhirnya Ibnu pun mencari sendiri tiket DCF dan mendapatkan tiket VVIP..woww :).

IMG-20140830-00635 IMG-20140830-00636

In front of posko Pokdarwis Dieng..sambil nunggu penukaran tiket 🙂

IMG-20140830-00639

Mas Herman mejeng dulu di depan sekretariat DCF 🙂

Perjalanan menuju Dieng cukup cepat dari Patakbanteng. Hanya sekitar 30 menit kami pun tiba di depat pusat Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Dieng. Sesuai peraturan penukaran tiket, kami meminjam KTP dari beberapa teman dan membawa bukti pembayaran tiket untuk ditukarkan dengan ID card. Ternyata KTP ini tidak perlu ditunjukkan. Cukup dengan menunjukkan bukti pembayaran maka kami pun mendapatkan sepaket tas yang berisi barang-barang yang kami dapatkan untuk tiket dengan kelas festival. Di dalam tas itu ada sehelai kain batik yang harus dipakai saat ritual pencukuran rambut gembel, selembar brosur rangkaian acara DCF 2014, sepaket lampion untuk acara pelepasan lampion nanti malam, dan sebuah jagung untuk acara bakar jagung nanti malam juga. Semua barang itu dikemas dalam sebuah tas coklat dengan tulisan “Dieng Culture Festival”. Nah, kalau untuk tiket VIP dan VVIP, ada kaos dengan tulisan dan logo Dieng Culture Festival juga. Ya maklum lah, harga tiketnya juga beda hehehe.

Selesai menukar tiket, kami pun menunggu bus yang akan membawa kami ke homestay. Sembari menunggu, kami sempat membeli minum dan snack yang dijual di sepanjang jalan ini. Jalan tempat kami berada ini adalah jalan besar menuju ke kawasan wisata Candi Arjuno di Dieng. Di seberang pintu masuk ke kawasan wisata Candi Arjuno ini ada sebuah Indomaret yang ramainyaaa minta ampun! Kami sampai lebih memilih untuk membeli air mineral di toko kelontong daripada di Indomaret itu. Setelah Mas Vickie menelepon si pemilik homestay, tak lama kemudian sebuah bus pun datang. Bus ini rupanya sengaja dicarter untuk mengantar kami ke homestay. Nah, setelah kami semua naik bus dan bus mulai berjalan, tiba-tiba Mas Herman baru teringat akan trekking pole-nya Kang Indra yang ternyata masih tertinggal di tempat kami menunggu bus tadi. Yah…hilang deh trekking pole-nya….

Bus pun melaju melewati jalan yang cukup panjang dan akhirnya berhenti di pinggir jalan. Kami pun turun dari bus dan membawa barang-barang bawaan kami sambil berjalan melewati gang-gang kecil. Nah, ketika sampai di salah satu belokan, kami melihat sesosok makhluk yang terikat dengan rantai. Eh ternyata ada seekor monyet! Entah kenapa ya ada monyet di situ hahaha. Kang Mengku dan Mas Herman pun saling menggoda menjodoh-jodohkan dengan si monyet yang tidak jelas juga itu jantan atau betina :). Rupanya homestay kami tidak jauh dari lokasi si monyet tadi. Finally…sampai juga kami di homestay! Homestay ini memang rumah warga yang disewakan untuk tempat menginap wisatawan seperti kami ini. Kami pun masuk ke dalam rumah. Di bagian depan ada ruang tamu yang cukup luas. Tas-tas carrier para cowok diletakkan di sini, sementara barang-barang kami para cewek masuk ke dalam kamar. Kebetulan ada dua kamar di sini yang dilengkapi dengan kasur, bantal, dan selimut. Di depan kedua kamar ini ada ruang tengah yang cukup luas yang juga dilengkapi dengan kasur. Kami cewek-cewek pun dibagi menjadi dua kelompok masing-masing menempati satu kamar, sementara cowok-cowok akan tidur di ruang tengah (rencananya sih begitu, tapi aktualnyaa…hehehe)

Nah, salah satu fasilitas penting yang kami cari di homestay ini adalah…kamar mandi! Dan satu lagi, bukan hanya kamar mandi yang jadi concern kami. Karena udara di Dieng ini sangat dingin, maka fasilitas air hangat tentu sangat kami harapkan. Syukurlah di homestay ini ada fasilitas air hangatnya. Seusai berberes, kami pun berkumpul di ruang tengah. Sembari merecharge handphone dan kamera, kami membicarakan rencana wisata kami selanjutnya. Karena kami sudah terlambat mengikuti rangkaian acara DCF hari itu, acara selanjutnya yang bisa kami ikuti adalah Bakar jagung dan Sky Lantern Party (pesta lampion) serta Jazz di Atas Awan pukul 20.00 WIB. Kebetulan ketiga acara tersebut diadakan di kawasan wisata Candi Arjuna. Nah, sebelum mengikuti acara itu, tentu ada satu hal yang harus kami semua lakukan setelah mendaki dan turun gunung…yaitu…Mandi! Ya, kami pun mulai mengantre untuk mandi. Karena hanya ada satu kamar mandi di homestay ini, kami pun harus bersabar menunggu. Sembari menunggu antrean mandi itulah kami mulai saling ngobrol. Nah…di sini ini saya baru tahu karakter Ibnu yang sebenarnya. Kalau sebelumnya Ibnu yang saya kenal itu pendiam, tidak banyak bicara dan sok cool, di sini baru terbongkar deh karakternya yang asli!:)

Berawal dari pertanyaan iseng yang terlontar dari mulut Ibnu. Ia bertanya kepada kami tentang jurusan dan universitas kami waktu kuliah dulu. Awalnya sih pertanyaannya tampak normal-normal saja. “Mbak kuliah di mana?” tanyanya kepada Asmi. “Undip (Universitas Diponegoro),” jawab Asmi. “Oh, jurusan apa?” tanya Ibnu lagi. “Teknik Kimia,” jawab Asmi lagi. “Wah, Teknik Kimia? Angkatan berapa, Mbak?” “2007,” “Eh, kenal Mawar nggak? Itu temanku, Teknik Kimia juga,”

Sepintas obrolan ini tampak biasa saja ya, tapi setelah itu Ibnu menanyakan hal yang sama kepada Eri, Teh Citra, dan saya, yang mana semuanya berakhir dengan pertanyaan “Kenal Mawar nggak?” Hahaha…dasar si Ibnu ini ada-ada saja.

Setelah menunggu, akhirnya tiba juga giliran saya untuk mandi. Beruntung ada fasilitas air panas di kamar mandi homestay ini, karena udara di luar itu..wowww dinginnyaaa…. sampai-sampai air di dalam bak kamar mandi juga jadi dingin seperti air es! Memang waktu itu kami masih belum paham sih cara menghidupkan heaternya. Alhasil, yang mandi terakhir-terakhir harus masak air secara tradisional untuk bisa mandi dengan air hangat..masukkan air ke dalam panci, letakkan panci di atas kompor, lalu tunggu dengan sabar sambil ditinggal ngobrol sampai air mendidih  :).

Sekitar jam enam kami semua baru selesai mandi. Ya maklum lah, karena orangnya banyak dan hanya ada satu kamar mandi, butuh waktu agak lama untuk menunggu semuanya selesai mandi. Kami pun bersiap berangkat mengikuti acara DCF. Sebelum berangkat, untunglah kami diingatkan oleh Panitia DCF 2014 melalui pesan singkat untuk membawa alas buat acara Jazz di Atas Awan nanti. Karena acaranya diadakan di lapangan rumput dan tidak disediakan alas, kami pun harus membawa sendiri matras sebagai alas duduk kami nanti. Tidak lupa kami juga membawa jagung yang rencananya akan dibakar bersama nanti, ID card peserta DCF, serta lampion yang akan diterbangkan saat pesta lampion nanti.

Dari homestay, kami berjalan kaki menuju kawasan wisata Candi Arjuna. Nah, berhubung sudah malam dan kami belum makan lagi sejak turun gunung tadi, kami pun mencari tempat untuk makan malam. Kebetulan kami diarahkan oleh bapak tetangga homestay kami untuk mampir ke sebuah warung yang menjual bakso, nasi goreng, dan ayam goreng.Saya, Jafar, Asmi, dan Mas Herman memesan nasi goreng bakso dan teh hangat. Kami menunggu agak lama sampai semua makanan tersaji. Untungnya nasi goreng bakso pesanan kami tiba cukup awal lah, jadi kami bisa makan duluan hehehe. Sayangnya, menu nasi goreng bakso ini tidak seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya saya kira nasi gorengnya adalah nasi goreng dengan kecap seperti yang biasanya saya makan di Semarang, tapi ternyata nasi goreng ini warnanya putih seperti nasi goreng hainan (Chinese food). Ya berhubung memang sudah lapar, yang penting saya makan dulu lah…toh kalau lapar sih makanan juga akan terasa lebih enak kok, apalagi makannya beramai-ramai hehehe. Sementara saya menikmati nasi goreng bakso, Eri dan Mas Bambang tampak resah dan gelisah. Bukan resah karena menunggu pacar sih yang jelas, hehehe melainkan karena menu pesanan mereka tak kunjung tiba. Akhirnya Mas Bambang menanyakan kepada ibu penjualnya lalu tak lama kemudian menu pesanan mereka pun diantarkan: nasi putih plus bakso. Syukurlah akhirnya Eri dan Mas Bambang pun dapat menyantap makanan mereka, meskipun akhirnya malah dua-duanya sama-sama kekenyangan hehehe. Setelah selesai makan, kami pun membayar biaya makan malam. Untuk seporsi nasi goreng bakso dan segelas teh hangat tadi, saya harus membayar Rp 15.000,00.

Seusai menyantap makan malam, kami pun bersiap menuju kawasan Candi Arjuna. Berjalan menyusuri jalanan beraspal dan melewati rumah-rumah penduduk, kami pun tiba di pintu masuk ke Candi Arjuna. Hanya saja, kami masuk tidak lewat pintu depan. Setelah masuk ke kawasan Candi Arjuna, kami pun menyadari bahwa ada satu hal yang sangat dibutuhkan saat itu: Senter! Ya, salah satu kekurangan fatal menurut kami sih kurangnya penerangan di kawasan wisata ini, apalagi pada malam hari. Aneh sebenarnya, mengapa sebuah tempat wisata tidak dilengkapi dengan lampu jalan di sepanjang jalan menuju area candi. Apalagi ada tempat yang dipisahkan oleh semacam selokan gitu, dan hanya ada ‘jembatan’ selebar sekitar satu meter yang harus dilewati bergantian. Bayangkan kalau tidak ada penerangan, bisa-bisa banyak pengunjung yang akan jatuh terperosok ke lubang selokan itu. Ini harus jadi catatan penting untuk panitia, nih…. Rombongan kami berjalan mengikuti cahaya lampu yang dibawa oleh Mas Vickie. Lampu itu juga yang jadi pedoman kami agar tidak terpisah dari rombongan.

Setibanya kami di lokasi, kami sebenarnya masih bingung harus ke mana, di mana lokasi acara yang mau kami saksikan? Kalau menurut jadwal acara yang dibagikan di brosur sih, seharusnya waktu itu festival lampion sudah akan segera dimulai, tapi masih tidak tampak ada tanda-tanda penerbangan lampion. Kami pun berjalan mengitari area candi dan melihat panggung yang mungkin nanti akan digunakan ketika acara Jazz di Atas Awan. Di situ tampaknya sedang ada check sound. Nah, kami yang agak bingung mencari lokasi acara pun menunggu di satu spot sementara Mas Vickie dan Mas Herman pergi menemui salah seorang teman kantor kami yang kebetulan juga berada di Dieng bersama keluarganya. Rekan kerja kami ini bernama Pak Purwono. Sebenarnya siang tadi sewaktu kami akan turun gunung, Pak Pur—demikian panggilan akrabnya—sudah menghubungi Mas Herman dan menawarkan makan siang untuk kami, sekalian memperingati ulang tahun istrinya hari itu. Namun sayang, kami saja sampai di posko Patakbanteng sudah sekitar jam dua siang, jadi batal deh makan siang bersama Pak Pur dan keluarganya. Nah, karena makan siang yang sudah disiapkan untuk kami sudah kadaluarsa, Mas Vickie dan Mas Herman mau sowan sebentar ke tempat Pak Pur sekalian mengambil sumbangan minuman dari Pak Pur untuk kami ^o^ /. Waktu itu kami sempat miskomunikasi sih, kami kira Mas Vickie ini cari tempat atau gimana, soalnya kami jadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya hahaha. Sambil berdiri menunggu, kami sempat menyaksikan ‘pemanasan’ festival kembang api. Sempat kami berkomentar, “Masa festival kembang apinya Cuma gini aja sih?” karena memang menurut kami sih kembang apinya biasa saja hehehe.

Sambil menunggu Mas Herman dan Mas Vickie, kami pun berjalan menuju area panggung dan bergabung dengan peserta DCF lain yang ternyata sudah banyak berkumpul di depan panggung Jazz di Atas Awan. Di sini kami sempat bingung juga sih, karena ternyata acara ini terbuka untuk umum ya, jadi sepertinya sih pengunjung yang tidak membawa ID card pun bisa masuk menyaksikan acara ini dari dekat. Kami yang datang agak terlambat pun harus puas mendapat tempat di bagian belakang. Sambil menunggu Mas Vickie dan Mas Herman, kami mengamati kondisi sekeliling. Ternyata ada panitia yang melemparkan lampu fosfor kepada pengunjung. Nah, kebetulan nih ada panitia yang lewat sambil membawa lampu fosfor berwarna-warni tersebut. Daripada menunggu lemparan yang tidak jelas dapat atau nggak, kami pun langsung menodong panitia yang membawa lampu itu. Ya karena lampunya masih banyak, si panitia ini pun membagi-bagikan lampu itu dengan sangat murah hati..dua seringgit, dua seringgit :P.

DSCF1876

Nah itu tuh si Ibnu udah mulai pakai lampu fosfornya di kepala 🙂

Tak lama kemudian, Mas Vickie dan Mas Herman datang sambil membawa minuman kaleng titipan dari Pak Pur. Kami pun segera mencari tempat untuk menggelar matras lalu mulai duduk menyaksikan acara Jazz di Atas Awan ini. Oh iya, penasaran nggak sih kenapa kok dinamakan “Jazz di atas awan” ya? Katanya sih, karena pagelaran musik jazz ini dilangsungkan di dataran tinggi yang seakan-akan ada di atas awan, makanya dinamakan seperti itu hehehe. Pertunjukan ini semakin dimeriahkan dengan kedatangan Robby Purba, hostnya X-Factor Indonesia. Penampilan band-band lokal yang disajikan di awal menurut saya sih biasa saja. Walaupun saya sendiri juga tidak bisa memainkan musik jazz, tapi sebagai seorang penikmat musik, menurut saya penampilan band-band di awal ini kurang spesial lah. Nah, di tengah-tengah kekhusukan menikmati alunan musik jazz yang ditampilkan di panggung, kami melihat ratusan lampion mulai terbang menghiasi langit malam. Lokasi pelepasan lampion sendiri ternyata bersebelahan dengan lokasi panggung Jazz di Atas Awan. Daripada kami harus berjalan ke lapangan sebelah, kami pun memutuskan untuk menerbangkan lampion dari tempat kami sekarang. Kang Indra yang sangat bersemangat untuk mencoba menerbangkan lampion pertama. Percobaan pertama kami ini sempat gagal sih, namanya juga coba-coba karena kami juga sebelumnya tidak mempelajari dulu cara menggunakan lampion ini hehehe. Pertama kami gagal karena api lampion malah mengenai kertas lampionnya. Tapi kami pantang menyerah lah, langsung deh kami keluarkan lampion-lampion yang lain..mumpung ada banyak nih hahaha. Percobaan kedua ini ternyata berhasil lhoooo….ternyata ada tips and trick nya juga nih untuk menerbangkan lampion:

1. Jadi untuk menerbangkan lampion ini nggak bisa dilakukan seorang diri, butuh kerja sama tim juga hehehe. Ada yang bertugas menyalakan api lampionnya, dan ada yang bertugas memegang dinding kertas lampionnya agar tidak terkena api.

2. Nah, selanjutnya tinggal tunggu beberapa saat sampai lampion mulai mengembang karena panas. Setelah lampion mengembang, angkat lampionnya dan naikkan perlahan-lahan sampai dia melayang sendiri ke atas!

Horeeee…percobaan kedua kami berhasill! Nah setelah berhasil, langsung deh pada berebut mau menerbangkan lampion ini. Kebetulan waktu itu juga festival kembang api sedang dimulai dan langit malam di atas kawasan Candi Arjuna tampak berkelip-kelip dengan hiasan letusan kembang api. Nah kalau yang kali ini lumayan lah kembang apinya….

DSCF1902 DSCF1936

Hati-hati pegang lampionnya yaa 🙂

Oiya, masalah lain yang muncul waktu percobaan menerbangkan lampion ini adalah memastikan lampion kita bisa melayang tinggi. Beberapa kali juga sempat lampion kami tidak mau melayang tinggi, malah setelah naik sebentar, dia turun lagi dan jatuh di area penonton Jazz di Atas Awan. Tentu saja ini sedikit bahaya sih…bahanyanya kalau apinya terkena kepala orang hehe. Jadi ketika ada lampion yang hampir jatuh ke lokasi penonton, kami langsung memperingatkan penonton supaya mereka juga aware dengan lampion-lampion yang mulai berjatuhan. Bahkan sempat lho ada lampion yang jatuh pas di atas panggung..mungkin si lampion ingin nebeng terkenal juga ya hehehe. By the way, ternyata setelah kami mengawali menerbangkan lampion di lokasi itu, banyak juga yang mengikuti jejak kami. Alhasil, lampion-lampion pun tampak terbang tinggi menghiasi langit panggung Jazz di Atas Awan bersama dengan kembang api yang masih memancarkan percik sinarnya. Di sini Kang Indra sempat mengambil foto Asmi dan Silma yang sedang menerbangkan lampion. Yang mengagumkan, momen itu pas dengan adanya kembang api yang juga menghiasi langit. Foto itu sampai diretweet oleh banyak orang lho, juga masuk dalam foto pilihan di salah satu situs lomba foto di internet dan akhirnya dimuat di majalah National Geographic Indonesia! Wow…keren kan? 🙂

DSCF1952Ini nih fotonya yang masuk National Geographic, gan! Emang keren kan? ^o^

Saking asyiknya kami menerbangkan lampion, kami sampai lupa dan meninggalkan daerah kekuasaan kami. Ketika kami kembali, eh ternyata matras kami sudah diduduki orang lain. Wah-wah…ini mirip ceritanya orang Israel dan Palestina saja ya hahaha. Kami pun ‘mengusir secara halus’ mas-mas dan mbak-mbak yang menduduki matras kami. Untungnya ya beberapa cukup tahu diri untuk minggir hehehe. Nah, seusai penerbangan lampion, Kang Indra, Teh Citra, Akbar, Ibnu, Kang Mengku, dan Silma memutuskan untuk kembali ke homestay. Mungkin karena mereka kurang tertarik dengan acara yang ditampilkan ya. Kalau saya sih sayang juga kalau begitu cepat kembali ke hostel. Sudah terlanjut beli tiketnya sih, sayang juga kan kalau Cuma sebentar menikmati pertunjukan ini. Akhirnya rombongan kami pun berpisah. Kang Indra cs kembali ke homestay sambil membawa salah satu matras, sementara saya, Asmi, Kak Ade, Eri, Mas Herman, Mas Vickie, Mas Bambang, dan Jafar tetap tinggal sambil menikmati pertunjukan musik jazz yang sepertinya semakin menarik ini.

Band-band yang tampil di festival Jazz di Atas Awan ini memang bukan band-band terkenal seperti Noah, Ungu, atau band-band nasional lainnya. Saya sempat geli sewaktu ada band yang berasal dari Semarang membawakan lagu JKT 48 yang dijadikan versi jazz hehehe. Ya menurut saya kurang cocok saja sih, tapi ya sudah lah, toh mereka bebas berekspresi yang penting penonton tetap ramai hehehe. Setelah band asal Semarang ini, tampil lagi salah satu band (saya lupa darimana band ini). Yang jelas, menurut saya penampilan band yang kali ini terbaik di antara band yang lain. Selain pemilihan lagunya yang oke, pertunjukannya juga sangat menghibur. Penonton pun menyanyi bersama sambil mengayun-ayunkan lampu fosfor yang dibagikan tadi.

DSCF1872 Gemerlap panggung Jazz di atas Awan

Sekitar jam sepuluh malam, kami memutuskan untuk kembali ke homestay. Rencananya sih kami mau mengadakan acara perkenalan yang resmi. Ya walaupun kenyataannya kami sudah saling kenal, tapi alangkah baiknya kalau kami juga bisa perkenalan secara resmi lah, sekalian untuk mengenal lebih dekat. Sewaktu akan kembali ke homestay, saya, Asmi, Mas Herma, Jafar, dan Mas Bambang sempat terpisah dengan Eri, Kak Ade, dan Mas Vickie yang sudah jalan terlebih dahulu. Berhubung penerangan terbatas, kami pun berjalan beriringan seperti bebek yang digiring oleh tukang angonnya hehehe. Kami saling memegang bahu orang di depan supaya tidak terpisah. Susah juga nih kalau sampai terpisah di tempat ini, karena gelap jadi susah mencarinya. Sepanjang jalan menuju pintu keluar kawasan wisata Candi Arjuno, saya sempat dikawal oleh Jafar supaya tidak hilang hahaha…makasih banyak ya dik Jafar, tahu aja nih kakaknya agak buta arah dan gampang kesasar hehehe. Sempat ada kejadian lucu nih sewaktu kami berjalan pulang. Masih ingat kan lampu fosfor yang dibagi-bagikan tadi? Nah…kebetulan Mas Herman memasang lampu fosfor yang berwarna hijau itu di kedua telinga dan kepalanya. Ketika kami berpapasan dengan rombongan lain, tiba-tiba salah seorang cewek dari rombongan itu berteriak kaget, “Ih, apaan itu???!” katanya dengan nada takut. Rupanya ia takut melihat sosok Mas Herman yang tampak bercahaya hijau dalam kegelapan hahahaha…sontak kami pun tertawa. Ada-ada saja sih…mungkin dikira mbak tadi, Mas Herman ini makhluk luar angkasa atau gimana ya hehehe.

Di tengah perjalanan menuju homestay, kami bertemu dengan rombongan Mas Vickie. Kami pun bersama-sama berjalan kembali ke homestay. Sekali lagi, jalan di Dieng ini sepertinya benar-benar butuh sumbangan lampu jalan, deh. Untungnya kami membawa senter yang sangat membantu kami dalam menentukan langkah :).

Tidak lama, kami pun tiba di homestay. Di situ tampak sebagian teman-teman kami sudah berbaring, mungkin sudah pada kecapaian ya. Nah setelah kami tiba, persiapan acara kenalan pun dimulai. Kami duduk melingkar di ruang tengah. Sambil ditemani kue cemilan dan teh hangat, kami mulai memperkenalkan diri masing-masing. Berawal dari Kang Mengku, sohibnya Kang Indra yang saya kira usianya sudah hampir 40-an hehehe. Ternyata beliau tidak setua dugaan saya, sih. Kang Mengku memperkenalkan diri sebagai teman kerjanya Kang Indra. Mereka memang memiliki bisnis yang dikelola bersama, yaitu bisnis sepatu. Tertarik? Silakan kunjungi fan facebook mereka di KokuFootwearJ. Bisa pesan custom juga lho! Hehehe. Secara umum, kami menyebutkan nama, pekerjaan atau kuliah, tanggal lahir, serta kesan pesan selama perjalanan ini. Satu per satu kami memperkenalkan diri. Selama perkenalan ini juga seringkali ada celetukan-celetukan lucu yang membuat suasana perkenalan ini semakin terasa akrab dan menyenangkan, termasuk kegetolan Kang Indra cs menggoda Kak Ade dan Teh Citra untuk memaksa memberitahukan umur mereka :). Pokoknya malam itu kami banyak sekali dibuat tertawa oleh celetukan-celetukan spontan yang muncul, apalagi dari Mas Herman dan Kang Mengku yang sepertinya jadi soulmate sejak perjalanan ini. Di akhir acara, kami sempat membahas rencana perjalanan kami besok pagi. Ada sebagian dari kami yang sangat ingin mengunjungi Kawah Sikunir dan menyaksikan sunrise di sana. Tapi untuk bisa mencapai Kawah Sikunir, kami harus naik mobil pick up dari homestay menuju ke sana,masih plus trekking selama kurang lebih satu jam. Kalau dihitung-hitung, supaya bisa sampai di sana pagi dan tidak ketinggalan acara Ritual Pencukuran Rambut Gembel, kami harus berangkat jam lima pagi! Itu saja berarti kami akan melewatkan sunrise di Sikunir. Saya dan Eri sempat ngobrol, karena kaki kami sudah sakit (ditekuk saja sudah susah nih), kami akan pikir-pikir lagi kalau diajak trekking lagi selama satu jam hehehe. Selain Kawah Sikunir, kami juga berencana untung mengunjungi Batu Pandang. Dari Batu Pandang ini katanya kita bisa berfoto dengan background Telaga Warna tampak dari atas, lho. Ini nih spot yang sejak tadi pagi dicari-cari Kang Indra sewaktu kami berfoto sunrise di Puncak Prau.

IMG-20140901-WA0017Kebersamaan yang tak terlupakan..new comrades, new family  🙂

Secara global, kami semua sangat senang dengan trip kali ini. Walaupun banyak di antara kami yang juga baru saling kenal, tapi syukurlah kami bisa akrab juga. Perjalanan naik turun gunung pun jadi terasa menyenangkan karena anggota tim yang solid dan menyenangkan 🙂 /. Selesai perkenalan, kami pun bersiap untuk tidur. Ibnu yang sejak tadi merajuk minta tidur di dalam kamar akhirnya kesampaian juga niatnya. Setelah diwanti-wanti oleh para tante di kamar (Eri, saya, dan Asmi), Ibnu pun tidur di dalam kamar bersama kami. Kasihan juga sih kalau tidur di luar dan kedinginan. Kami saja tidur di dalam kamar menggunakan sleeping bag meskipun sudah dialasi kasur. Sementara kami yang di dalam kamar sudah tertata rapi dan bersiap untuk tidur, di ruang tengah sepertinya masih terjadi perdebatan tempat hehehe. Yang jelas, malam itu kami bersiap untuk tidur nyenyak dan nyaman setelah kemarin malam tidur di dalam tenda di tengah hawa dingin puncak Prau.

To be continued Day 4 : Dieng Culture Festival 2014

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain Day 3 Part 2: Welcome to Homes Tay and DCF 2014

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 3 Part 1: Trekking Down Prau Mountain | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s