Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 3 Part 1: Trekking Down Prau Mountain

Setelah melewati malam yang dingin di dalam tenda (walau sudah tidur merapat sama Asmi masih terasa dingin juga), akhirnya panggilan yang kami nanti datang juga. Sekitar jam lima pagi terdengar ‘panggilan’ dari teman-teman untuk berfoto bersama dengan background sunrise di puncak. Ya walaupun kemarin kami tidak bisa menikmati sunset di puncak gunung Prau, kali ini kami bisa memenuhi keinginan kami untuk menikmati sunrise di puncak.

Kami pun segera bersiap-siap dan berjalan menuju spot yang bagus untuk berfoto. Berhubung kamera Asmi kemarin sudah habis baterainya untuk foto-foto malam hari dengan Milky Way, untuk sunrise ini kami pun mengandalkan kamera Mas Vickie, Mas Herman, Kang Indra, dan Akbar. Waktu kami tiba di spot. Ternyata di sana sudah ramai sekali. Memang nih orang-orang tidak ada yang mau melewatkan momen sunrise di puncak Prau. Ya, kapan lagi bisa foto-foto sunrise di puncak gunung? Apalagi buat saya yang baru pertama kali naik gunung (selain Bromo ya, kalau itu nggak dihitung hiking sepertinya..hahaha). Yang jelas, momen seperti ini sih sayang sekali untuk dilewatkan.

Menatap matahari yang masih malu-malu keluar dari peristirahatannya, dengan pancaran sinar yang masih agak pucat, kami berdiri di sini, di puncak gunung Prau. Warna langit yang masih agak gelap pun mulai diterangi oleh sang surya yang mulai bangun dari tidurnya. Berbekal bendera merah putih yang telah kami siapkan dari Tuban, kami pun mulai mengabadikan momen ini. dengan latar belakang puncak gunung Sindoro dan Sumbing yang bisa terlihat dari puncak Prau, satu per satu kami membentangkan Sang Saka Merah Putih dan mengabadikannya dalam beberapa jepretan kamera. Inilah salah satu kekayaan alam Indonesia, salah satu dari sekian banyak wisata alam, puncak gunung yang telah memberikan panorama yang begitu indah bagi kami. Sungguh, seharusnya kita sangat patut berbangga akan banyaknya dan beranekaragamnya keindahan yang ditawarkan oleh berbagai puncak gunung di negeri kita tercinta ini. Kita beruntung negeri kita bukanlah negeri yang gersang dan hanya dipenuhi dengan padang pasir. Kita beruntung negeri kita bukanlah negeri yang sangat sempit, yang bahkan sampai harus membeli pasir dan tanah dari negeri lain untuk memperluas daratannya. Kita beruntung negeri kita bukanlah negeri yang sangat metropolis, dimana kita tak dapat lagi menemukan keindahan alami yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita.

DSC04482 DSCF1861

Beautiful sunrise at Prau Mountain…

Pagi itu kami merekam jejak perjalanan kami dengan membawa serta Sang Merah Putih dalam potret kenang-kenangan kami. Cukup banyak ‘photo session’ yang kami lakukan di sini, baik foto single maupun foto bersama-sama. Sampai-sampai baterai kameranya Mas Vickie pun akhirnya tewas juga hahaha. Tapi kami bersyukur sekali bisa berfoto dengan latar belakang pemandangan yang indah yang disuguhkan oleh puncak Prau ini. Oh iya, sayangnya pagi ini kebersamaan kami kurang lengkap karena Kak Ade dan Teh Citra tidak ikut berfoto bersama kami. Saya dan Asmi sempat mengajak mereka sih, tapi ternyata mata Kak Ade sakit dan tidak bisa dibuka, sedangkan Teh Citra sepertinya malas bangun pagi-pagi hanya untuk berfoto sunrise.

IMG-20140905-WA0013 DSC04499
 Membentangkan Sang Merah Putih di Puncak Prau 🙂

Nah, setelah puas berfoto di salah satu spot, kami pun pindah ke spot yang lain hehehe. Pokoknya kami cari spotspot yang sepertinya bagus. Pagi ini memang temanya masih photo session. Bahkan sampai sunrise berakhir kami pun masih juga mencari spot untuk foto-foto. Nah, setelah selesai foto-foto di spot kedua, Kang Indra mengajak kami untuk naik lagi ke spot berikutnya. Di sini sempat terjadi miskomunikasi sih, saya kira semuanya akan ikut naik, ternyata Asmi tidak ikut naik dan kembali ke tenda. Kami yang ikut naik pun mengikuti Kang Indra mencari tempat yang bagus untuk background foto. Eh kami juga sempat bertemu dengan tiga orang cewek yang berangkat bersama kami ke Patakbanteng kemarin, ternyata akhirnya mereka ngecamp juga di puncak ini, dekat dengan spot kedua kami foto-foto tadi. Di sini beberapa cowok sempat ngobrol sebentar dengan mereka (kayaknya semalem juga ada yang ngobrol tentang mereka di tenda deh hehehe ) :).Ada pengalaman kurang menyenangkan nih waktu kami naik ke spot foto ketiga. Kang Indra yang sudah naik duluan memperingatkan kami yang berjalan di belakangnya, “Awas ada ranjau!” kata Kang Indra berkali-kali. Eh…ternyata….di jalur yang kami daki itu ada ‘ranjau’ manusia…waduuuuh….jorok amat siiiih….. kok ya dibuangnya di jalur orang jalan lho….kenapa nggak di semak-semak tersembunyi gitu -___-; Untunglah karena sudah diperingatkan, kami bisa menghindari ranjau itu (jijik juga nih lihatnya..wekss).

DSC04523 DSC04507

Foto di spot kedua dan ketiga nih.. (Teh Citra sudah mulai ikut bergabung)

DSC04530

Menatap masa depan dari puncak gunung 🙂

Sesampainya di spot ketiga, kami bertemu dengan rombongan salah satu teman kantor saya, Mbak Seri, yang ternyata juga datang ke sana bersama dengan teman-temannya (termasuk bapak kenalan Eri yang sebelumnya bertemu di bus di Terminal Jombor). Nah, di sini kami juga sempat foto-foto bareng dengan Mbak Seri dan rombongannya (lumayan, nambah lagi nih koleksi fotonya hehehe). Ternyata Mbak Seri dan rombongannya ini tidak menginap di puncak, jadi mereka berangkat pagi-pagi buta untuk naik ke puncak Prau lalu setelah sampai langsung foto-foto dan setelah foto-foto nanti mereka juga langsung turun gunung. Mereka juga ditemani oleh seorang guide dari Dieng yang akhirnya sempat membantu kami sebagai fotografer waktu foto dengan Mbak Seri cs. Puas foto-foto dan kangen-kangenan sesaat dengan Mbak Seri, kami pun lanjut untuk foto-foto lagi dengan Kang Indra dan kawan-kawan yang lain. Dari spot tiga ini, tampak Telaga Warna, salah satu obyek wisata yang terkenal juga di Dieng. Memang sih kalau dari foto kami tidak kelihatan Telaga Warnanya, karena terlalu jauh dari spot kami. Di sini tampak juga asap putih yang mengepul dari Kawah Sikidang; semuanya tampak dalam ukuran yang kecil. Rupanya pemandangan yang ditawarkan di spot tiga ini tidak kalah menarik juga dari spot foto sebelumnya. Di sini kami pun foto-foto bersama dengan kameranya Mas Herman dan Teh Citra. Eh iya, Teh Citra akhirnya menyusul kami ke sini lho…nah gitu dong Teh, masa’ ketinggalan foto session pagi sih hehehe.

DSC04521Foto bareng rombongan Mbak Seri cs

DSC04535 DSC04533

Selesai foto-foto ayo balik ke tenda dulu 🙂

Puas berfoto session di puncak, kami pun kembali ke tenda. Nah, setelah kemarin seharian saya tidak merasakan lapar, akhirnya pagi ini mulai deh perut ini bersuara hehehe. Kami pun berkumpul di depan tenda dan mulai menyiapkan sarapan. Menunya masih sama seperti menu makan malam kami kemarin: mie instan goreng, corned, dan telur orak-arik. Saya hanya membantu mencampur bumbu mie instannya, sementara mas-mas juru masak ini menyiapkan lauknya. Selain makanan, kami juga membuat kopi hangat. Setelah sarapan kami siap, kami pun mulai membagi makanan. Mekanismenya sama seperti makan malam kami kemarin, hanya saja untuk sarapan ini tidak ada nasi putihnya. Ya nggak apa-apa deh, yang penting cukup isi energi untuk turun gunung nanti. Eh, di akhir-akhir sarapan ternyata Kang Indra membawa sup krim instan juga lho..hehehe kami pun berbagi dan mencicipi sup krim instan tersebut. Sungguh kebersamaan yang terasa ketika kami sarapan bersama-sama. Walaupun sarapannya Cuma makanan-makanan instan, tapi karena saling berbagi inilah jadi makanan yang kami santap terasa lebih nikmat :).

 IMG-20140830-00605 IMG-20140830-00606

Persiapan sarapan 🙂

Selesai sarapan dan membersihkan alat masak (kami lap pakai tissue basah hehehe), kami pun bersiap-siap untuk turun gunung. Kami kembali ke tenda masing-masing dan mulai repacking. Nah, ini nih salah satu tantangan packing buat saya dan Asmi: melipat sleeping bag! Hahaha…ya tahu sendiri sleeping bag ini memakan tempat cukup banyak di tas kami. Sleeping bag saya sih masih mendingan lah, masih bisa kok masuk ke dalam tas walaupun tas saya jadi tampak lebih menggembung daripada sebelumnya. Nah, untuk sleeping bagnya Asmi ini butuh bantuan profesional untuk bisa  mengemasnya kembali supaya bisa masuk di tas carrier Asmi. Untunglah ada Akbar yang siap sedia menolong menggulungkan sleeping bagnya Asmi sehingga bisa masuk lagi ke dalam tas Asmi. Saya dan Asmi pun mulai mengemas barang-barang kami, termasuk melipat jas hujan dan menggulung matras yang kami jadikan alas tidur. Selesai packing barang-barang pribadi, kami pun mulai membongkar tenda. Satu per satu tenda pun dibongkar dan kembali dilipat ke kemasan masing-masing. Tanah tempat lokasi tenda kami pun akhirnya kembali kosong. Ya, memang sudah saatnya juga kami harus turun gunung. Ini pun sebenarnya kami sudah melenceng dari itinerary, karena seharusnya kami dijadwalkan untuk sudah mengikuti salah satu acara dalam rangkaian DCF, yaitu minum purwaceng massal, yang seharusnya dilakukan pk 10.30—11.00 WIB. Oh iya, bagi yang belum familiar, purwaceng ini sejenis minuman herbal yang dipercaya bisa meningkatkan stamina tubuh. Saya juga baru tahu nih kalau ternyata purwaceng itu termasuk minuman khas Dieng ya hehehe. Meski gagal ikut minum purwaceng massal, tapi ya sudahlah, toh itinerary kemarin juga fleksibel. Nah ini lho enaknya bikin itinerary sendiri, kita bisa lebih bebas dan fleksibel dalam mengatur waktu. Berbeda kalau kita menggunakan jasa travel agent, mungkin kita akan dikejar-kejar untuk bisa mengikuti jadwal yang ada.

Setelah urusan membongkar tenda dan repacking selesai, kami pun kembali berkumpul dalam lingkaran untuk persiapan turun gunung. Seperti pada waktu keberangkatan, kami pun sharing sebentar dan berdoa untuk keselamatan selama turun gunung nanti. Oh iya, di sini mata Kak Ade masih sakit..Kak Ade yang sebelumnya memakai softlens pun harus melepas softlensnya dan ganti memakai kacamata. Saya nggak bisa membayangkan sih, bagaimana nanti turun gunungnya ya, kan matanya masih sulit dibuka (tapi syukurlah nanti ada guardiannya yang membantu Kak Ade turun gunung 🙂 ).

Berdoa sudah, beres-beres sudah, mengumpulkan sampah sudah (sudah ada wanti-wantinya juga supaya para pendaki membawa turun sampahnya, supaya kebersihan puncak ini tetap terjaga ya 🙂 ), nah kami pun bersiap untuk turun gunung. Jalur yang kami lalui ketika turun ini sama dengan jalur yang kami lalui saat mendaki kemarin. Saya sudah membayangkan jalur yang harus menggunakan tali untuk turun nih. Mas Bambang yang bertugas membawa turun sampah berjalan paling depan, diikuti Kak Ade dan Mas Vickie. Karena Kak Ade masih sakit, dia pun pelan-pelan jalannya sambil dijagain oleh Mas Vickie. Waktu turun gunung menggunakan tali pun, Mas Vickie menjaga Kak Ade di belakangnya…wow…gentleman sekali ya, ini lho salah satu contoh kesetiakawanan dan tanggung jawab yang luar biasa dari team leader kami (sayang gak ada dokumentasinya nih hehehe). Ketika ada salah satu anggota yang membutuhkan treatment khusus, langsung deh beliau dengan sigap membantu. Buat cewek-cewek single di luar sana, ini salah satu high quality single di tim kami nih. Bagi yang ingin naik gunung tapi masih ragu, jangan khawatir, pak team leader kami pasti akan selalu siap menolong hehehe.

Waktu kami turun gunung ini memang agak lebih lama daripada waktu kami naik. Selain karena kaki sudah agak capek juga, waktu turun ini kami juga harus mengantre untuk jalur turun yang menggunakan tali tadi. Saya sempat juga mempersilakan mas-mas dan mbak-mbak yang mau turun duluan untuk mendahului kami, karena memang saya sendiri menyadari kalau kecepatan turun saya lambat hehehe. Oh iya, di jalur turun yang pakai tali ini, saya juga sempat hampir terpeleset. Untung saja masih ada pegangan talinya. Memang sih, jalur ini dari kemarin juga agak licin. Untunglah ada dik Jafar yang siap sedia menolong saya. Jafar pun menjaga saya dari belakang dan memberitahu saya jalur-jalur yang mudah untuk dilalui (thanks a lot ya Far, you’re my hero today deh! 🙂 ). Belakangan si Jafar baru bercerita kalau dia sebenarnya khawatir juga menjagai saya dari belakang, karena seandainya saya jatuh, pasti akan langsung mengenai dia dan mendorong dia jatuh juga. Untungnya hal itu tidak terjadi hehehe. Asmi yang sudah turun duluan sepertinya sudah bisa mandiri dan tidak perlu treatment khusus seperti saya dan Eri. Eri yang kakinya juga sudah capek pun memilih untuk turun dengan model pelosotan (waduh celananya kotor semua tuh hehehe). Memang sih kalau turun dengan cara itu kakinya tidak lebih capek, tapi ya risikonya pantatnya yang tepos hahaha. Saya sendiri lebih memilih untuk jalan selama bisa jalan, walau memang turun gunung dengan berjalan ini agak berat karena kaki kita juga menahan badan supaya tidak jatuh terguling hahaha.

IMG-20140830-00623 IMG-20140830-00627

Turun gunung…hati-hati ya semuanya,

Kombinasi kaki yang pegal, stamina yang berkurang, dan melihat medan yang harus kami lalui untuk turun ternyata membuat saya was-was juga. Memang betul kalau ada yang mengatakan lebih mudah naik daripada turun. Waktu naik, saya tidak khawatir akan jatuh terperosok. Terpeleset pun paling-paling tidak jauh, masih ada tahanannya lah. Apalagi kemarin kami mendaki ketika suasana gelap, jadi tidak tampak jalur yang harus kami lalui. Sementara sekarang…kami melihat sendiri jalur pendakian kami. Rasanya memang jadi lebih ngeri daripada kemarin hahaha. Tapi ya saya berusaha untuk berjalan pelan-pelan. Istilah orang Jawa sih “alon-alon asal kelakon” yang artinya kurang lebih, “biarpun pelan-pelan, yang penting terlaksana”. Saya, Eri, dan Teh Citra, tiga orang cewek newbie ini pun berusaha turun gunung dengan lancar. Sambil diawasi oleh Jafar dan Mas Herman, kami pun berjalan turun melewati pos tiga. Fyuh…lega juga sudah sampai ke pos tiga. Ya maklum lah, jalur yang paling berat itu ya jalur dari pos tiga ke puncak tadi. Puji Tuhan kami sudah bisa melewatinya. Di sini Kak Ade juga beristirahat sebentar. Saya sebenarnya antara tidak tega dan salut dengan Kak Ade ini. Walaupun matanya sakit, Kak Ade bukannya bersikap manja, tapi tetap berusaha untuk turun dengan kedua kakinya sendiri. Memang sih harus dijaga dan dibantu oleh Mas Vickie, tapi menurut saya, untuk bisa menyemangati diri dalam kondisi sakit dan harus turun gunung seperti itu bukan sesuatu yang mudah juga lho, apalagi untuk seorang cewek. Salut deh sama Kak Ade! 🙂

Kami beristirahat sejenak di pos tiga. Kang Indra, Akbar, dan Ibnu masih belum terlihat. Setelah menunggu agak lama, barulah terlihat Kang Indra yang ternyata tadi masih sempat foto-foto dulu sebelum kami turun gunung hahaha. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos dua. Nah, masih ingat kan di perjalanan ke pos dua waktu mendaki kemarin ada apa? Yup, ada warung yang menjual makanan ringan dan minuman! Kami pun berencana untuk mampir ke sana. Saya sempat beberapa kali meminta tolong Mas Herman untuk menunggu saya karena jujur saja waktu itu kaki saya sudah mulai susah ditekuk sehingga saya pun berjalan lambat sekali. Sepertinya Eri juga mengalami masalah yang sama dengan saya hehehe. Tapi apapun yang terjadi, kami tetap harus turun! Setelah sampai di Pos dua dan beristirahat sejenak, kami lanjut berjalan dan mampir di warung yang saya sebutkan tadi. Saya sebenarnya heran dan kagum juga sih, kok ada juga ya yang membuka warung di tengah jalur pendakian begini haha. Saya, Asmi, Eri, Teh Citra, Kak Ade, Jafar, Mas Vickie, dan Mas Herman pun mampir dan beristirahat sejenak di warung ini. Sembari menikmati segelas es teh dan gorengan tempe mendoan yang disediakan, kami meluruskan sebentar kaki kami. Di sini kami juga sempat merefill air mineral bekal perjalanan kami. Ya, dua kantong dan sebotol air mineral bekal saya sudah habis sejak sampai di Pos Dua tadi.

Sudah cukup nih istirahat dan minumnya, kami pun membayar es teh Rp 4000 per gelasnya dan Rp 1000 untuk mendoan per bijinya. Memang agak mahal ya, tapi ya namanya juga harga ‘gunung’, sama halnya harga air mineral yang dijual di kapal laut pun pasti lebih mahal daripada harga air mineral yang dijual di toko-toko biasa. Lokasi juga menentukan harga sih hehehe. Nah, setelah energi kembali terisi (berkat es teh dan tempe mendoan), kami pun melanjutkan perjalanan turun gunung. Sepanjang perjalanan kami juga sempat ngobrol supaya perjalanan kami lebih menyenangkan. Iya lah, kalau sudah capek, jalannya masih jauh, masih juga diem-dieman…wah-wah…capeknya bisa naik dua kali lipat tuh. Hahaha. Dalam perjalanan turun gunung ini, kami juga sempat berpapasan dengan para pendaki yang baru mau naik. Wah, semangat ya kakak-kakak!

Berkat energi jasmani dan rohani tadi, kami pun berhasil mencapai pos satu! Yay!!! Nah, di sini Kak Ade, Eri, dan Teh Citra memilih untuk turun ke Patakbanteng dengan naik ojek (masih ingat kan Pos Ojek yang available di pos satu ini? hehehe). Sementara saya merasa nanggung juga kalau turunnya naik ojek. Kata Jafar, “Mbak Yulia pengen sempurna nih perjalanannya” Hehehe ya itu ada benarnya juga sih. Walaupun sebenarnya kaki saya juga sudah agak susah ditekuk, tapi kok rasanya ada yang mengganjal kalau turunnya naik ojek. Saya pun memutuskan untuk turun dengan berjalan kaki, meskipun memang pelan-pelan jalannya. Sementara menikmati perjalan turun melewati jalan setapak menuju posko Patakbanteng, Kang Indra dan Ibnu sempat berhenti sebentar membeli stiker kenang-kenangan Dieng, sementara saya dan Jafar berhenti di sebuah warung untuk menikmati es campur. Akhirnya Kang Indra dan Ibnu pun ikut bergabung bersama kami menikmati es campur yang ada buah caricanya juga. Oh iya, buah carica ini salah satu buah khas di Dieng. Banyak sekali toko oleh-oleh yang menjual carica ini sebagai buah tangan dalam bentuk manisan. Ada yang dikemas dalam bentuk toples, ada pula yang dikemas dalam wadan plastik seperti agar-agar. Buahnya sendiri mirip dengan pepaya, tetapi ukurannya lebih kecil dan warna buahnya kuning. Rasanya manis dan segar, sementara teksturnya mirip dengan buah pepaya. Nah, kami pun puas menikmati es campur ala Dieng ini (walau nggak ada es-nya sebetulnya hehehe). Kalau nggak salah waktu makan ini kita ditraktir Kang Indra deh hehehe…makasih ya Kang :). Kami pun meneruskan perjalanan sampai akhirnya tiba juga di jalan dekat Patakbanteng. Oh iya, sebelumnya Mas Herman sempat menelepon dan memberitahu kalau mereka sedang ngantre di kamar mandi dekat Patakbanteng.

IMG-20140901-WA0015

Menikmati es campur ala Dieng setelah turun gunung 🙂

To be continued ~ Day 3 Part 2: Welcome to Homes Tay and DCF 2014

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 3 Part 1: Trekking Down Prau Mountain

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 2) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s