Kemarahan dan Kekecewaan

Kamis, 9 Oktober 2014

Shalom!

Puji Tuhan, tidak terasa sudah cukup lama juga saya tidak berbagi renungan, padahal kalau melihat pengalaman yang saya dapatkan selama beberapa minggu terakhir ini, sebenarnya ada cukup banyak alasan untuk bisa membuat saya berbagi semangat melalui renungan-renungan kisah hidup saya. Namun, untuk bisa menyempatkan waktu sejenak dan merenungkan dengan tenang apa yang telah kita alami dan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari pengalaman-pengalaman kita tentu membutuhkan waktu yang khusus. Nah, setelah sempat disibukkan dengan beberapa aktivitas tambahan yang cukup menyita waktu, akhirnya tiba juga waktu yang pas untuk memulai renungan ini.

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami apa yang disebut “PMS”. Ya, ini istilah yang sudah tidak asing lagi untuk kaum hawa. Banyak orang mengatakan bahwa pada masa-masa PMS ini seorang wanita akan mengalami mood yang tidak stabil, emosi yang cepat berubah, mudah marah, mudah sedih, tetapi juga mudah gembira. Saya rasa itu juga yang saya alami pada waktu itu. Jujur saja, menurut saya memang agak sulit mengontrol emosi pada masa-masa itu, entah karena pengaruh produksi hormon atau apa, tetapi yang jelas pada masa-masa itu saya merasa cobaan yang datang lebih berat daripada biasanya. Justru pada saat seperti itulah biasanya ujian-ujian datang menempa kehidupan saya. Sering saya merasa heran, mengapa Tuhan mengizinkan berbagai pencobaan datang pada saat-saat tersulit dimana saya harus menjaga perasaan saya. Bahkan pada saat seperti itu, sangat mudah bagi saya untuk marah dan melakukan hal yang pada akhirnya hanya akan saya sesali. Saya pernah membagikan pengalaman saya ketika saya berusaha mengatasi marah, dan kalau pada waktu itu saya bilang saya sering berusaha untuk ‘menunda’ marah, pada masa-masa sulit ini rasanya tiga kali lipat lebih susah untuk menunda marah daripada pada kondisi normal.

Pada waktu itu ternyata Tuhan mencoba menguji iman saya. Ada beberapa hal terjadi di luar keinginan dan harapan saya. Saya merasa kecewa dan marah, tetapi itu tidak mengubah keadaan yang telah terjadi. Saya tahu kemarahan saya tidak ada gunanya, tetapi ketika saya merasa dikecewakan, saya pun merasa berhak untuk marah. Lebih parahnya lagi, saya merasa orang yang telah membuat saya merasa kecewa itu layak untuk menerima kemarahan saya! Sungguh luapan emosi negatif yang tidak bijak, tetapi itulah yang saya alami. Namun, ternyata Tuhan memang begitu luar biasa. Perlahan namun pasti, Dia datang menyentuh hati saya. Kemarahan saya yang meluap-luap perlahan mulai reda dan hal itu terjadi melalui berkat-berkat ‘kecil’ yang saya rasakan selama masa kemarahan saya itu. Tuhan sepertinya tidak ingin saya menyimpan marah terlalu lama. Dia menegur saya melalui pikiran dan hati saya, mengingatkan saya bahwa saya pun telah melakukan sesuatu yang salah. Apakah Tuhan melarang kita untuk marah? Tidak, tetapi jangan sampai kemarahan kita itu berakibat dosa (dan umumnya manusia cenderung akan mudah berbuat dosa ketika marah). Dalam Alkitab pun dikatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef 4:26)

Akhirnya saya pun melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan kemarahan saya. Saya meminta maaf kepada orang yang telah membuat saya kecewa karena saya merasa telah bersikap tidak menyenangkan kepadanya. Saya memang tidak tahu apakah dia pun memaafkan saya dengan tulus, tetapi yang jelas tanggapannya pada waktu itu sangat positif. Waktu itu saya merasa bahwa kasih Tuhan begitu luar biasa. Pengampunan terhadap orang lain dan diri sendiri tidak hanya membuat kita setingkat lebih baik, tetapi juga membebaskan diri kita dari belenggu kemarahan, dendam, dan kekecewaan. Kalau saja saya mau lebih tekun mendekatiNya dan membiasakan diri untuk bersikap benar seperti yang Ia ajarkan, tentu saya tidak akan terlarut dalam kemarahan yang terlalu lama yang bahkan mungkin sampai menyakiti perasaan orang lain yang harus menerima kemarahan saya itu.

Dalam perjalanan hidup, tentu ada banyak sekali hal yang bisa membuat saya kecewa dan marah. Mengenai hal itu, ada sebuah pepatah menarik yang pernah saya baca, “Expect nothing and you’ll never be disappointed”. Cukup masuk akal bukan? Jika kita tidak memiliki harapan, tentu kita tidak akan merasa kecewa. Akan tetapi, bisakah manusia hidup tanpa harapan? Bahkan sejak kita lahir, kita telah menerima tanggung jawab akan harapan orang tua dan keluarga kita. sepanjang hidup kita telah terbiasa dan terlatih untuk selalu memiliki harapan akan sesuatu. Tidak mungkin seorang manusia bisa hidup tanpa ekspektasi apapun, kecuali ia sungguh telah bermatiraga seperti pertapa-pertapa suci. Itu pun kita tidak tahu apakah sungguh para pertapa itu tidak memiliki keinginan apapun.

Memiliki harapan dan keinginan tertentu adalah sesuatu yang sangat manusiawi, namun bagaimana kita menyikapi harapan itu dan kepada siapa kita meletakkan harapan, itulah yang menjadi dasar dari kondisi batin kita. Kita telah terbiasa untuk berharap pada manusia dan membebankan ekspektasi-ekspektasi kita kepada orang lain, orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, ketika orang-orang itu ternyata tidak mampu memenuhi harapan kita, kita menjadi kecewa dan bahkan mungkin marah. Inilah salah satu contoh akibat dari terlalu berharap kepada manusia. Berharap yang paling benar seharusnya kita lakukan hanya kepada Tuhan seorang. Mengapa? Jawabannya sudah jelas, karena pada akhirnya Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Perlu dicatat dan diingat kata-kata ‘pada akhirnya’ atau in time (in God’s perfect time), pada waktunya Tuhan, karena mungkin sesaat kita merasa kecewa dengan keputusan dan takdir yang digariskan Tuhan, tetapi ‘pada akhirnya’ kita akan menyadari bahwa semua hal yang dibiarkan Tuhan untuk terjadi dalam hidup kita akan membawa kita kepada suatu tujuan yang baik, yang bahkan jauh lebih baik daripada apa yang kita pikirkan.

Tidak mudah memang, membiasakan diri untuk meletakkan harapan hanya kepada Sang Ilahi, terlebih karena kita lebih senang mendapat jawaban yang instan. Namun, jika kita sungguh-sungguh ingin berupaya untuk mendekatkan diri padaNya dan hidup seturut ajaranNya, maka satu hal penting yang harus kita pelajari dan mulai kita biasakan adalah meletakkan harapan kita pada Tuhan.  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mzm 43:5)

Tuhan tidak akan mengecewakan kita, sekalipun awalnya mungkin segalanya tampak begitu buruk dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapan. Kalau kita sungguh percaya kepadaNya, maka nantikanlah semuanya dengan tenang dalam iman, karena kita benar-benar yakin bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik. Berharap kepada Tuhan tidak akan pernah membawa kita kepada kehancuran. Memang butuh ketekunan dan kesabaran dalam penantian, karena mungkin tujuan dari rencana Tuhan itu tidak segera tampak, tetapi percayalah bahwa penantian kita dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s