Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 2)

Hari semakin gelap. Setelah cukup beristirahat di Pos tiga, Mas Vic meminta Mas Bambang untuk naik duluan sekalian mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Di pos tiga ini jarak kami dengan rombongan kami yang lain sepertinya agak jauh. Kalau di pos-pos sebelumnya kami masih semangat foto-foto, di sini sudah mulai nggak mikir foto deh, yang penting sampai puncak sebelum langit semakin gelap. Akhirnya Mas Bambang pun memimpin rombongan, sementara di belakangnya ada Eri, saya, Asmi, dan Mas Vic. Mas Herman dan Jafar masih menunggu rombongan yang lain untuk naik. Kami pun mulai mendaki lagi. Jalur menuju puncak ini memang yang paling woww deh! Selain lebih curam daripada jalur sebelumnya, medannya pun lebih sulit. Sebelumnya saya kira jarak dari pos tiga menuju ke puncak itu tidak jauh, eh ternyata perjuangannya menuju ke sana itu lho yang luar biasa! Mungkin jaraknya memang tidak jauh, tapi karena medannya yang wowww ini, kami jadi butuh waktu cukup lama untuk sampai ke atas. Selain dipersulit dengan langit yang gelap (saya agak rabun senja sih, jadi kalau suasana gelap jalannya harus lebih berhati-hati), jalur yang curam dan agak licin ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Kalau orang bilang mendaki gunung itu butuh mental yang kuat, saya rasa itu benar juga. Memacu semangat untuk terus naik dan tidak berhenti di tengah jalan merupakan salah satu hal yang penting untuk dimiliki setiap pribadi pendaki gunung. Saya sendir sempat merasa putus asa karena jalur yang sepertinya sulit ini. Apalagi karena memang sebelumnya belum pernah lewat jalan seperti ini, jadi rasanya mau naik ke puncak itu kok susah bener ya hehehe. Setelah naik agak lama, kami sampai di jalur tersulit pendakian ini (menurut saya). Bayangkan, untuk naik lewat jalur ini sampai disediakan tali untuk membantu para pendaki. Saya masih bersyukur karena ada tali ini sehingga saya sangat terbantu untuk naik. Ya, medan yang licin dan curam ini sedikit banyak membuat saya takut juga. Eh, di sini kami bertemu lagi dengan mas yang bawaannya banyak tadi (kalau nggak salah namanya Mas Andri). Dengan bawaan yang heboh di kedua tangannya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana mas ini akan naik di medan yang pakai tali tadi. Saya yang Cuma membawa badan dan tas punggung 35 liter ini saja harus ekstra hati-hati naiknya supaya tidak terpeleset. Yang mengagumkan, Mas Andri ini bisa ya naik di jalur ini dengan bawaan yang rempong begitu, tanpa pegangan di tali ini lagi!

Nahhhhh finally, setelah melewati jalan curam berliku serta mendaki sambil berpegangan pada seutas tali, kami pun semakin dekat dengan puncak! Saya dan Asmi yang sudah terpisah dari Eri dan Mas Bambang pun meneruskan perjalanan. Karena saya tidak membawa senter, saya pun bergantung pada cahaya senter Asmi yang berada di belakang saya. Waktu itu kami sempat berhasil menyusul Mas Bambang dan Eri. Saya dan Asmi sempat berpesan meminta Mas Bambang menunggu kami juga, karena Mas Vickie dan Mas Herman yang sebelumnya ada di belakang kami kini malah tidak terlihat, mungkin masih menunggu teman-teman yang lain, tapi ya susah juga ya janjian kalau sedang mendaki begini.Kita juga tidak bisa sembarangan berhenti dan beristirahat, apalagi di jalur ke puncak ini. Gimana mau istirahat kalau jalannya curam begini terus? Hahaha. Tapi syukurlah ternyata ada juga tempat yang cukup ‘landai’. Saya dan Asmi pun menyempatkan diri istirahat di sini sambil menunggu rombongan lain, karena tadinya jalur ini sepi dan sumber cahaya kami hanya senternya Asmi semata. Eh, Mas Andri yang beberapa kali berpapasan dengan kami pun memutuskan untuk ikut beristirahat. Mas ini begitu ketemu tempat yang datar langsung merebahkan dirinya. Sepertinya capek sekali dia. Sebenarnya saya cukup termotivasi juga lho dengan Mas Andri ini. Kalau mas ini dengan bawaan sebanyak itu saja bisa, saya yang hanya membawa badan sendiri dan sebuah tas ransel pasti juga bisa. Toh, gunung Prau ini juga tidak terlalu tinggi kok.

Saya dan Asmi sempat khawatir juga karena kami terpisah dari yang lain. Mas Bambang yang kami harapkan menunggu kami ternyata sudah naik duluan, mungkin mau mencari tempat dulu di puncak untuk mendirikan tenda. Sementara itu, Mas Vic dan Mas Herman juga belum terlihat juga tanda-tanda kedatangannya. Hari semakin gelap, dan saya dan Asmi, dua orang cewek yang terpisah dari rombongan kami. Kalau sudah begini ya kami berduahanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. Saya sebenarnya cukup tenang karena Asmi sudah pernah mendaki gunung Semeru sebelumnya. Seandainya saya sendirian bersama sesama newbie pendaki…nah itu baru saya khawatir hehehe (nggak tahu gimana perasaan Asmi-nya hahaha). Saya sempat beberapa kali ragu apakah saya benar-benar bisa mendaki menuju puncak, tapi puji Tuhan saya bisa terus meyakinkan diri saya bahwa saya bisa melakukannya, ditambah lagi dengan dukungan dari Asmi dan bahkan sesama pendaki  yang belum kami kenal. Ya, beberapa kali kami berpapasan dengan sesama pendaki walau tidak saling kenal tapi kami saling menyemangati. Benar-benar ya, naik gunung itu memang bisa memunculkan ikatan persaudaraan baru :).

Karena terpisah dari rombongan kami, akhirnya kami pun ‘nebeng’ alias mengekor ikut rombongan lain yang baru saja datang. Lumayan lah, setidaknya jadi cukup ramai dan penerangan di jalur kami pun jadi lebih baik. Saya dan Asmi terus berjalan. Sesekali saya hampir terpeleset, tapi untungnya tidak sampai jatuh terseret. Sambil terus memotivasi diri dan meyakinkan bahwa saya pasti bisa mencapai puncak,akhirnya…meskipun dengan perjuangan sambil meraba-raba tanah di sekitar saya, saya berhasil mencapai puncak! Wow…rasanya benar-benar lega sekali! Sulitnya jalur yang kami lalui dan perjuangan mendaki di tengah kegelapan tadi seakan terbayar begitu saya mencapai puncak Gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl ini!

Sesampainya kami di puncak ternyata sudah ramai sekali. Asmi memanggil-manggil Mas Bambang untuk mencari lokasinya. Maklum, di sini sudah banyak rombongan yang datang dan mendirikan tenda.Kalau harus mencari satu-satu ya lama…syukurlah Asmi punya suara yang keras jadi Mas Bambang pun mendengar panggilannya dan segera menyahut memberitahu lokasinya kepada kami. Mas Bambang sudah memilih tempat untuk mendirikan tenda. Bahkan ia sedang dalam proses mendirikan satu tenda, dengan dibantu oleh seorang mbak dan mas yang juga sempat bersama-sama kami mendaki tadi. Sembari menunggu kedatangan teman-teman, saya segera mengenakan jaket, sarung tangan, syal, dan kupluk yang ada di dalam tas saya karena hawa dingin sudah mulai terasa di sini (saya baru ingat jaket saya yang tebal masih saya titipkan di tasnya Jafar). Asmi juga segera memakai jaketnya. Memang selama kita mendaki gunung tidak terasa dinginnya karena kita bergerak terus. Nah, begitu sampai di puncak dan sudah tidak banyak gerakan baru deh terasa hawa dingin yang menusuk ini.

Akhirnya jadi juga satu tenda didirikan. Waktu itu kira-kira pukul tujuh malam. Tak lama kemudian Mas Vickie dan yang lain pun tiba. Jafar segera memberikan jaket tebal saya yang saya titipkan kepadanya. Tahu saja nih kalau saya kedinginan hehehe. Cowok-cowok pun mulai mendirikan tenda dengan bentuk melingkar. Rencananya di bagian tengah nanti akan dipakai untuk masak-memasak dan makan bersama. Nah, sementara yang lain mendirikan tenda, saya dan Asmi sempat mau memasak teh. Setelah cukup lama memasak, anehnya kok warna tehnya tidak coklat juga ya…ternyata tehnya juga dingin! Eh ternyata…api di kompor yang kami gunakan untuk masak ini padam dan kami tidak menyadarinya hehehe. Rupanya kita memang harus mengecek juga apakah api di kompor ini tetap menyala atau tidak. Saya sendiri baru belajar menggunakan kompor yang dibawa Mas Bambang ini di sini. Sempat bingung juga sih bagaimana cara mematikan dan menyalakannya (harus ditraining dulu sama yang empunya hehe).

Dalam mendirikan tenda ini diperlukan kerja sama juga lho. Saya sempat melihat cara mendirikan tenda ini waktu kami mengecek kondisi tenda yang kami punya. Mendirikan tenda seorang diri mungkin bisa ya (kalau tendanya kecil), tapi akan lebih cepat kalau dilakukan bersama. Terlebih karena waktu itu sudah gelap, jadi butuh pencahayaan juga dalam mendirikan tenda ini. Jadi selain mendirikan tenda, ada juga yang bertugas menyinari para petugas pendiri tenda ini.Nah setelah menata-nata, akhirnya semua tenda kami sudah berdiri! Kegiatan berikutnya adalah pembagian tenda. Saya dan Asmi kebagian berada dalam satu tenda kecil. Kami pun mulai memasukkan tas kami ke tenda masing-masing. Setelah itu barulah kami bersiap-siap untuk masak.

Ada tiga kompor yang dibawa rombongan kami. Kami pun mulai mengeluarkan persediaan logistik kami. Seperti saya sebutkan sebelumnya, rombongan kami hanya membeli beberapa makanan instan. Malam itu kami pun memasak nasi (berasnya ambil dari rumahnya Mas Vickie di Yogyakarta) dan indomie goreng yang dicampur dengan orak-arik telur dan kornet. Semua ini yang masak justru yang cowok-cowok lhooo hehehe. Nggak apa-apa kan, toh masakan cowok itu justru biasanya lebih  lho (alasan hehehe). Selain itu, kami juga membuat kopi dan teh hangat. Oh iya, teh yang saya dan Asmi buat tadi sempat kami panasi lagi. Teh tadi enak juga lho, soalnya dicampur dengan madu (kami kira tadi nggak ada yang membawa gula, ternyata ada..hahaha). Satu hal yang terlupakan dalam hal logistik ini adalah peralatan makan. Saya sendiri hanya membawa sendok dan garpu sih, jadi saya makan berdua dengan Asmi memakai kotak makannya Asmi.

IMG-20140901-WA0036Para Chef Gunung Prau 🙂

Kalau sudah di gunung, makan mie instan pun nikmat rasanya. Karena jumlahnya juga terbatas, dalam hal pembagian makanan ini kami dijatah. Jadi ketika menyodorkan wadah, kami sebutkan itu wadah untuk porsi satu orang atau dua orang. Di sini petugas pembaginya Kang Mengku nih, sebagai yang dituakan hehehe. Kami pun menikmati makan malam sederhana kami dengan senang. Waktu makan, perjuangan pendakian tadi sudah tidak terasa lagi karena yang ada hanyalah kebersamaan kami di puncak. Oh iya, Kang Mengku sempat mau mempertunjukkan sulap kartu nih, tapi gagal melulu sih hahaha…. Seusai makan sebetulnya kami berencana untuk mengadakan sesi perkenalan supaya bisa lebih mengenal antarpeserta, tapi karena sepertinya sudah banyak yang lelah, akhirnya kami pun masuk ke tenda masing-masing dan beristirahat. Saya dan Asmi sempat minta tolong diantarkan oleh Mas Herman untuk mencari ‘toilet’ (di sini toiletnya semak-semak hehehe). Nah, karena Asmi masih ingin memotret Milky Way (yang sudah digadang-gadang sejak masih di Tuban dulu), dia pun berangkat bersama Mas Herman, Mas Vickie, Jafar, dan Kang Indra yang menyusul belakangan, untuk mencari lokasi pemotretan sementara saya menyusun tempat untuk tidur.

Saya pun mengeluarkan sleeping bag saya dan mulai memposisikan diri untuk tidur. Saya pun memejamkan mata berusaha untuk tidur, tapi kok susah sekali ya hehehe. Waktu itu sebenarnya tidak terasa terlalu dingin juga, mungkin karena saya sudah memakai jaket dobel plus saya berada di dalam sleeping bag yang tebal dan hangat, tapi toh saya masih tidak bisa tidur. Tiba-tiba saja Kang Indra dkk kembali ke tenda dan menunjukkan hasil foto mereka dengan background pemandangan di atas gunung pada malam hari. Pemandangannyaaa wowwww…..baguuuuusss bangeeettt!! Langit di malam hari di atas gunung benar-benar berbeda deh dengan langit di dataran rendah. Dalam foto itu tampak jajaran bintang yang apik menghiasi langit. Pantas saja Kang Indra semangat sekali dan dengan bangga menunjukkan hasil jepretannya itu, memang bagus banget sih! Akhirnya kesampaian juga nih si Asmi foto-foto dengan background Milky WayJ. Nah, di sini Kang Indra juga mengajak siapa yang mau ikut foto dengan background Milky Way tadi. Saya pun memilih untuk ikut, daripada bengong juga sendirian di tenda karena belum bisa tidur. Akhirnya peserta fotografi malam hari di Prau ini bertambah dua orang, yaitu saya dan Ibnu. Si Ibnu ini begitu lihat foto Milky Way langsung jatuh cinta deh, “Waaah bagus banget!!!!” serunya. Hahaha…tapi jujur, memang bagus banget tuh fotonya. Nggak menyesal kan naik sampai ke puncak…kalau di kota mah mana ada tempat yang bisa memberikan latar belakang foto pemandangan seperti ini?

P1010542Ini nih foto yang dipamerin Kang Indra ke kami..nggak salah kan kalo saya dan Ibnu langsung tertarik untuk bergabung 🙂

Nah, sewaktu saya dan Ibnu bergabung dengan grup foto-foto malam ini, kami diwanti-wanti untuk tidak bergerak sedikit pun selama sekitar tiga puluh detik. Katanya sih kaitannya dengan shutter speedkamera. Kalau kami bergerak, nanti hasil gambarnya akan jadi kabur. Saya yang kurang paham soal fotografi ikut saja dengan nasihat mas-mas dan mbak fotografer ini. Rupanya mengambil foto malam hari ini tidak mudah, lho. Perlu disetting pencahayaannya (pakai senter), selain itu posisi juga menentukan kualitas foto karena harus dipaskan dengan pemandangan puncak gunung di belakang kami. Di sini Kang Indra, Mas Vickie, dan Asmi bekerja sama untuk mendapatkan foto dengan hasil yang bagus. Sempat beberapa kali percobaan dan setiap kali pengambilan gambar, kami harus menahan diri untuk tidak bergerak selama kurang lebih tiga puluh detik. Lama juga ya…kalau harus tidak bergerak selama tiga puluh detik dalam cuaca biasa sih masih oke, masalahnya ini malam hari di gunung yang temperaturnya sepertinya sekitar lima derajat Celcius! Saya sempat bertanya apakah kita boleh berkedip, soalnya kalau harus menahan diri nggak berkedip selama tiga puluh detik susah juga tuh! Hehehe untungnya sih boleh kok berkedip 🙂

Setelah beberapa kali take, beberapa kali didapat foto yang kurang fokus, kurang cahaya…akhirnya berhasil juga diambil gambar yang bagus. Wah senangnyaaa….. Tidak sia-sia juga perjuangan kami menahan diri untuk tidak bergerak selama tiga puluh detik di tengah hawa dingin Gunung Prau yang membelai lembut kulit tubuh kami. Kesulitan terbesar dalam pengambilan foto ini mungkin kalau pindah lokasi ya, karena semuanya harus disetting lagi dari awal. Salut deh pokoknya sama Kang Indra, Mas Vickie, dan Asmi soal ini…You’re the best! Hehehe ini nih untungnya punya teman yang suka fotografi, jadi kita juga bisa sering jadi objek foto mereka :).

Anyway, saya jadi kepikiran nih, sepertinya bagus juga ya kalau besok foto prewedding di puncak gunung dengan background Milky Way seperti tadi hehehe >v<.

P1010544(1) P1010549

Tuh…keliatan Milky Way nya kaaan…bagus ya…siapa coba yang nggak mau foto pakai background bagus gini? 🙂

Nah, setelah puas berfoto di tengah gelap dan dinginnya malam hari di Gunung Prau, dengan latar belakang langit yang berhiaskan Milky Way dan pemandangan puncak beberapa gunung yang tampak dari puncak Prau ini, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Ya, besok pagi kami sudah harus turun gunung untuk mengikuti rangkaian acara festival Dieng. Lagipula terlalu lama di sini juga logistiknya nggak cukup hehehe. Akhirnya kami pun kembali ke tenda masing-masing. Asmi sepertinya sudah merasa lapar lagi, kalau saya sih mungkin karena sedang kedatangan tamu ini ya jadi rasanya nggak terlalu lapar. Saya dan Asmi pun mengatur posisi di dalam tenda. Setelah kami masuk ke dalam sleeping bag, kami pun berusaha untuk tidur sekitar jam satu pagi. Sempat terdengar suara pembicaraan cowok-cowok di tenda sebelah. Ternyata mereka sedang membicarakan tiga orang cewek yang bergabung bersama kami menuju Patakbanteng tadi..hahaha. pokoknya hati-hati deh kalau ngobrol di tenda, karena mungkin akan terdengar di tenda yang berada dekat dengan tenda kita. Saya kembali mencoba untuk tidur, tapi kok susah juga ya. Akhirnya saya hanya memejamkan mata, yang penting istirahat lah. Hawa dingin pun mulai semakin kuat terasa, padahal saya sudah pakai jaket dobel plus di dalam perlindungan sleeping bag. Ketika saya tengah terpejam, saya merasa Asmi seperti sedang mengambil sesuatu. Oh sepertinya dia mengambil coklat untuk makan, ya karena tadi juga dia sudah bilang sih kalau merasa lapar. Kalau lapar, saya juga biasanya semakin sulit tidur, apalagi hawa dingin begini. Nah, setelah Asmi memakan coklatnya dan mencoba kembali tidur, tak lama dia membangunkan saya (sebetulnya bukan membangunkan juga sih, lha wong dari tadi saya juga sebenarnya nggak tidur, hanya memejamkan mata saja). Asmi bertanya kepada saya, apakah saya menggigil. Saya jawab tidak, Cuma memang terasa dingin di tangan saya, tapi saya tidak menggigil. Rupanya Asmi merasa menggigil, dan melihat saya diam saja dia takut kalau-kalau saya malah jangan-jangan sudah nggak sadar karena menggigil kedinginan. Dia pun lega karena saya baik-baik saja (makasih banyak perhatiannya ya Mi… 🙂 ) Kami pun merapatkan diri supaya lebih hangat karena memang malam itu terasa begitu dingin. Ya sebelumnya juga kami sudah diperingatkan sih kalau bulan-bulan itu memang temperature di Dieng pas rendah-rendahnya. Makanya admin acara DCF pun mengingatkan kami untuk tidak memakai hotpants karena udaranya akan sangat dingin (waktu itu sampai diposting contoh orang yang nekat memakai hotpants dan kedinginan hahaha). Anyway, setelah merapatkan barisan dengan Asmi, rasanya lumayan berkurang juga nih si hawa dingin. Akhirnya kami pun melanjutkan tidur kami sambil menunggu panggilan matahari terbit :). Good night, everyone, have a good rest yaa….

To be continued Day 3 Part 1: Trekking Down Prau Mountain & Welcome to Homestay

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 2)

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 1) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s