Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 1)

Friday, 28 August 2014 

Selamat pagiii!!! Hari ini adalah langkah awal kami menuju Dieng! Pagi ini dibuka dengan sarapan nasi gudeg yang sudah disiapkan oleh Mbak Dina. Sebetulnya Mas Vickie juga sudah menyiapkan nasi gudeg untuk sarapan. Jadi rencananya, rombongan cowok-cowok dari rumah Mas Vickie akan datang ke rumah Asmi untuk sarapan bersama. Setelah itu barulah kami bersama-sama akan berangkat ke Terminal Jombor, Yogyakarta untuk kemudian menuju ke Magelang. Nah…karena Mbak Dina sudah menyiapkan sarapan, akhirnya kami cewek-cewek pun makan duluan di sini.

Waktu makan ini kami banyak ngobrol juga, salah satunya lagi-lagi kami menjodoh-jodohkan Asmi dengan Kang Indra hehehe. Mbak Dina yang penasaran pun bertanya, “Yang mana sih Indra?” dan langsung dijawab cepat oleh Teh Citra, “Itu lho Mbak, yang kemarin bawa mobilnya,” Dan Mbak Dina pun jadi ikut-ikutan bersemangat menjodoh-jodohkan Asmi hehehe. (Note: tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan ini dibuat sebelum Penulis mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya mengenai status para traveller ke Dieng ini 🙂 ) Banyak juga yang kami bicarakan sambil menyantap sarapan yang lezat ini, tapi berhubung ada beberapa topik yang sebaiknya nggak diceritakan jadi skip saja ya..hehehe lanjut ke acara berikutnya.

Setelah sarapan, kami pun merepack lagi barang bawaan kami. Kami sempat menimbang berat tas yang kami bawa. Tas saya sih karena kecil dan isinya juga segitu-gitu saja beratnya hanya sekitar tujuh setengah kilogram. Malah lebih berat bawaan saya waktu ke Singapura nih hahaha. Yang agak overweight nih sepertinya tasnya Asmi, masa beratnya sampai dua belas kilogram lebih! Hahaha..akhirnya Asmi pun membongkar barang bawaannya. Beberapa barang sempat ditinggalkan di rumah Mbak Dina, sementara kompor yang kami dapatkan dari hibahnya Widhy, salah satu teman kantor kami, akhirnya masuk ke tas saya, sedangkan refill bahan bakarnya masuk ke tas Eri. Setelah dikurangi beberapa item, akhirnya tasnya Asmi berkurang juga (lumayan berkurang satu sampai dua kilo hehe). Nah, sebelum berangkat, sebetulnya saya dan Eri mendapat tips fashion dari Kak Ade sih. Menurut Kak Ade, lebih baik saya tidak pakai celana training waktu naik gunung nanti. “Mending kamu pakai legging sama celana pendek aja,” begitu katanya. Saya pun mencoba mengikuti sarannya, tapi kok malah jadi aneh ya menurut saya hehehe…saya nggak pede sih, akhirnya saya memakai kembali celana training seperti semula (belakangan ternyata ada salah satu anggota rombongan kami yang memakai model itu lho hahaha). Untuk atasannya, saya dan Asmi memakai baju yang persis sama, yaitu kaos Transbiker (kumpulan pecinta sepeda di perusahaan tempat kerja kami) yang berlengan panjang. Memang sih modelnya kurang oke secara fashion (iya lah, cocoknya untuk sepedaan sih hehe), tapi karena ini pertama kalinya saya naik gunung, saya lebih baik mengutamakan safety dulu dan ikut saran yang sudah pernah naik gunung sebelumnya hehehe.

IMG-20140829-WA0004  P1010434

                                                        Foto-foto di Terminal Jombor, Jogja sebelum berangkat 🙂

DSCF1733  IMG-20140901-WA0022

Ini nih Mbak Dina, kakak iparnya Asmi yang sudah berbaik hati menampung kami di rumahnya dengan sangat ramah 🙂  nah kalau yang di sebelah kanan pakai topeng itu siapa ya…???!

Nah, setelah selesai sarapan, repacking dan membenahi penampilan, kami pun diantar oleh Mbak Dina ke Terminal Jombor. Karena sarapannya di lokasi masing-masing, akhirnya kami putuskan untuk mengubah meeting pointnya menjadi Terminal Jombor. Setibanya kami di sana, rombongan cowok-cowok sudah tiba lebih dulu. Nasi kotak yang seharusnya menjadi menu sarapan kami (sudah terlanjur dipesankan untuk empat belas orang sebetulnya) juga dibawa sebagai bekal perjalanan. Kami pun nyicil foto-foto dulu sebelum berangkat. Sebetulnya bus yang menuju Magelang sudah stand by dari tadi sih, tapi karena kami masih menunggu beberapa teman yang ke kamar mandi, kami pun belum naik ke bus. Setelah berfoto ramai-ramai, terdengar teriakan dari kondektur bus bahwa bus akan segera berangkat. Setelah berpamitan kepada Mbak Dina dan ayahnya Mas Vickie, kami pun bergegas mengambil barang-barang kami dan naik ke dalam bus ekonomi jurusan Yogyakarta-Magelang ini. Baru sebentar bus berjalan, tiba-tiba Mas Vickie teringat bahwa tas plastik berisi nasi kotak tertinggal di meeting point kami tadi! Hahaha..Kang Mengku pun bergegas turun dan mengambil dulu bekal makan kami itu. Untunglah kami ingat ketika bus belum keluar dari terminal :). Oh iya, di sini Eri sempat bertemu dengan kenalannya, seorang bapak yang tampaknya usianya sudah sekitar usia pensiun pegawai negeri. Sepertinya bapak ini dan beberapa orang temannya juga berencana untuk pergi ke Dieng.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Magelang ini cukup cepat. Hanya dalam waktu sekitar satu jam, kami pun sampai di terminal Magelang. Nah, di sini kami bertemu dengan anggota rombongan kami yang lain, yaitu Akbar dan Silma. Mereka ini masih kuliah lho…jadi merasa tua juga nih kalau dibandingkan dengan adik-adik yang masih kuliah ini hehehe. Tapi jujur saya salut dengan mereka, karena waktu saya kuliah dulu sama sekali tidak ada pikiran untuk travelling ke tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya. Maklum, saya anak rumahan sih, dari lahir sampai kuliah saya tinggal bersama orang tua saya di kota kelahiran saya tercinta, Semarang. Keluarga saya juga bukan keluarga yang hobi travelling. Seingat saya, trip keluarga yang paling jauh pernah kami lakukan adalah ke Cirebon, itu pun ke rumah saudara saya dan hanya sekali. Beruntung waktu SMA saya ada wisata bersama ke Pulau Bali, jadi setidaknya sudah pernah menginjakkan kaki di luar pulau Jawa hehehe. Aneh juga sebetulnya, karena papah saya sebenarnya orang yang suka bepergian, tapi sekarang bepergiannya untuk cari duit, bukan untuk wisata :).

Dari terminal Magelang ini, kami akan naik bus menuju Wonosobo. Perjalanan Magelang-Wonosobo ini diperkirakan sekitar tiga jam. Karena itu kami mampir dulu lah ke toilet terminal supaya tidak repot nanti kalau kebelet pipis di tengah jalan. Nah, setelah rombongan kami komplit (akhirnya!), kami pun naik bus ekonomi jurusan Magelang-Wonosobo. Oh iya, sejak naik bus Yogyakarta-Magelang tadi, tas-tas carrier kami tampak memenuhi bangku bagian belakang bus :). Awalnya kami semua mendapat tempat duduk. Ya itulah untungnya naik bus dari terminal, kita pasti bisa dapat tempat duduk karena ini adalah tempat keberangkatan awal bus. Nah, begitu bus melaju dan melewati jalan-jalan raya, penumpang lain pun memenuhi bus. Bahkan ada beberapa orang yang berdiri. Ada satu kejadian lucu, waktu itu Kang Indra yang sudah duduk bersikap gentleman dengan memberikan tempat duduknya kepada seorang ibu yang berdiri. Nah, baru naik sebentar, tiba-tiba ibu ini sadar kalau ternyata dia salah naik bus! Hahaha…setelah itu Kang Indra pun kembali ke tempat duduknya (tapi jangan kapok bersikap gentleman lagi ya, Kang! :)). Selama perjalanan ini sepertinya banyak yang foto-foto sih, tapi saya sudah tidak sadar karena saya tertidur dan baru bangun lagi ketika bus sudah hampir tiba di Terminal Wonosobo.

P1010441  P1010439

Foto-foto di bus menuju Wonosobo 🙂

Ketika saya membuka mata, saya merasakan hawa dingin mulai menyentuh kulit saya. Rupanya bus yang kami naiki sudah mulai naik ke Wonosobo. Kota yang masih termasuk bagian dari provinsi Jawa Tengah ini memang terletak di dataran tinggi. Sepanjang jalan tampak pemandangan asri perkebunan. Pemandangan ini sungguh menyegarkan mata saya karena selama ini setiap hari yang saya lihat hanya layar monitor laptop! Tak lama kemudian kami akhirnya tiba di Terminal Wonosobo. Sebelum lanjut berangkat ke Dieng, saya, Asmi, Kak Ade dan Teh Citra pun segera mencari toilet, mumpung masih ada nih :). Nah, dalam perjalanan menuju toilet, kami bertemu dengan rombongan tiga orang cewek. Rupanya mereka juga menuju ke Dieng dan tadi juga sempat naik bus yang sama dengan kami dari Yogyakarta. Kak Ade pun mengajak mereka bergabung dengan rombongan kami. Akhirnya mereka berangkat bersama kami menuju basecamp pendakian, Posko Patakbanteng, Dieng. Untuk menuju ke Patakbanteng, kami mencarter sebuah bus kecil. Dengan kapasitasnya yang memang kecil, beberapa orang dari tim kami pun harus berdiri sepanjang perjalanan ini. Perjalanan menuju Patakbanteng dari Terminal ini lumayan jauh juga, tapi jadi tidak terasa membosankan karena obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan. Mas Vickie sempat mengajak ketiga orang cewek yang baru bergabung tadi untuk juga bersama-sama dengan kami mendaki Gunung Prau dan mendirikan tenda di puncak, toh mereka juga sudah membawa perlengkapan camping. Ternyata ketiga cewek ini berangkat tanpa tau medan lokasi  yang mereka tuju lho! Wow…berani amat ya, kalau saya sih nggak bisa berangkat ke tempat tanpa ada tujuan yang jelas dan tidak ada panduannya. Mereka juga baru lulus kuliah, masih cukup muda bila dibandingkan usia rata-rata rombongan kami. Di sini saya juga baru tahu kalau ternyata Silma yang baru bergabung dengan kami di Magelang ternyata masih mahasiswa angkatan 2014! Wow..tidak terasa sekarang jarak umur saya dengan mahasiswa baru semakin jauh ya hehehe.

P1010448

Menuju Patakbanteng…

Di tengah perjalanan menuju Patakbanteng, sempat terjadi miskomunikasi. Saya sendiri kurang paham apa yang terjadi sih, tapi sempat dikira kami ini salah jalan, padahal bus sudah melaju cukup jauh dari terminal. Untungnya ternyata dugaan itu salah; kami sudah berada di jalur yang benar menuju Patakbanteng (fyuh…). Sekitar satu jam perjalanan, kami pun tiba di Posko Patakbanteng. Sampai di sini sudah agak siang, sekitar jam dua. Rasa lapar pun mulai terasa. Sesampainya di posko, kami meletakkan barang-barang sementara Mas Vickie mendaftarkan kami untuk pendakian. Di sini kami juga sempat menyantap nasi gudeg yang seharusnya menjadi menu sarapan kami tadi. Beberapa orang dari rombongan kami juga ada yang pergi ke warung makan di dekat posko dan makan siang di sana. Ya lagipula nasi gudeg ini juga hanya tersedia beberapa kotak, sih..nggak cukup untuk semua peserta hehehe.

DSC04472 DSC04471

Pak team leader sedang mendaftarkan kami untuk mendaki Gunung Prau

P1010450Rute Pendakian Gunung Prau

Setelah mengisi energi, kami pun  bersiap untuk pendakian. Saya penasaran juga nih, seperti apa ya rasanya mendaki gunung…maklum ini pengalaman pertama saya sih :). Sebelum berangkat, kami sempat berkumpul, saling memberikan masukan dan nasihat sebelum mendaki, seperti: kalau ada yang capek langsung bilang saja, pokoknya kalau ada apa-apa disampaikan saja. Intinya yang terpenting kalau saya simpulkan sih, kami harus saling menjaga satu sama lain. Ada satu hal yang mencuri perhatian kami sebelum kami berkumpul untuk berdoa dan hal itu adalah…kostumnya Ibnu! Seperti saya bilang tadi, ada juga anggota tim kami yang memakai kostum seperti sarannya Kak Ade. Nah, si Ibnu ini memakai spandex hitam merk Elastico kemudian memakai celana pendek berwarna hijau. Kami sempat tertawa geli melihat kostum Ibnu ini karena dibandingkan kostum yang lain, kostumnya memang unik. Tapi secara keilmuan pendakian, apa memang kostum seperti itu mungkin yang tepat ya..saya sih nggak terlalu paham juga :). Setelah saling sharing, kami pun berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, intinya supaya perjalanan kami nanti aman dan lancar. Mengakhiri doa bersama ini, kami pun menyatukan tangan dan meneriakkan yel-yel untuk menambah semangat kami dalam pendakian ini. So…let’s start to hike!

IMG-20140901-WA0016  P1010460

Ayooo semuanya pose dulu sebelum mendaki! 🙂  Ini baru naik bentar udah istirahat haha

Rombongan kami pun berangkat menuju pendakian Gunung Prau. Ada tiga pos  pendakian yang harus kami lewati sebelum mencapai puncak gunung Prau. Setiap pos ini ditandai oleh sebuah papan yang bertuliskan nama pos tersebut. Perjalanan kami diawali dengan menuju ke Pos satu. Perjalanan ini bisa dibilang cukup lancar, karena jalan menuju pos ini sudah dibuatkan jalurnya berupa jalan setapak. Sepanjang perjalanan yang menanjak, kami bisa melihat hamparan lahan perkebunan dan pemandangan desa dari atas. Di sini kami masih bisa tertawa-tawa dan bercanda satu sama lain. Pokoknya jalur ini masih oke lah, kalau jalur pendakian di semua gunung seperti ini sih saya mau-mau saja diajak mendaki semua gunung di Indonesia hahaha (tapi mungkin jadi kurang tantangannya ya 🙂 ). Setelah berjalan beberapa saat, kami pun sampai di Pos pertama. Eh, di pos satu ini ternyata ada pos tukang ojek juga lho! Mungkin karena jalannya masih oke untuk dilakui motor ya, jadi ada juga yang menyewakan ojek di sini. Pos satu ini bernama Sikut Dewo. Di sini kami yang sampai duluan sempat foto-foto dulu. Lalu setelah semua anggota rombongan sampai di Pos satu, kami pun berfoto bersama dengan bantuan tripodnya Mas Herman. Ya, di tim kami ini memang sudah ada sistem pembagian tugas. Ada yang bawa kameranya, ada yang bawa tripodnya juga :).

P1010473 P1010482

Arrived at Pos 1 Sikut Dewo 🙂

P1010485 P1010487

Ayo…yang sudah kumpul foto duluu (kelihatan tuh Pos Ojeknya hehehe)

Selesai berfoto ceria di Pos Satu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Nah, menuju pos dua jalan setapaknya sudah nggak ada nih..tapi medannya masih lumayan dibandingkan jalur menuju puncak yang sudah menunggu kami nanti hehehe. Dalam perjalanan ini, Kak Ade sempat merasa kurang enak badan. Ya namanya juga perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanan, wajar lah kalau merasa tidak enak badan. Jadi rombongan kami pun terbagi. Memang dalam setiap perjalanan, termasuk pendakian, ada hal-hal yang terjadi di luar perkiraan dan kehendak kita. Pada saat seperti itulah kesetiakawanan diuji. Apakah kita mau berjalan bersama rekan kita yang harus perlahan mendaki? Saya bersyukur teman-teman dalam rombongan ini kesetiakawanannya sudah teruji :). Kami pun berjalan dengan hati-hati melewati jalan yang cukup sempit. Di sini saya sudah mulai merasakan pemanasan untuk jalur pendakian ‘yang sebenarnya’. Ya, berjalan mendaki menuju pos dua ini suasananya sudah mulai suasana penjelajahan gunung. Kami harus berhati-hati juga nih dalam menyusuri jalan karena terkadang ada bagian tanah yang licin. Namun, meski jalannya menanjak, kemiringan di jalur ini tidak terlalu curam, kok. Indikasinya ya karena saya masih berani saja melangkah dengan nyaman di sini. Semakin tinggi kami naik, semakin susah juga jalurnya. Tapi ada yang unik nih dalam perjalanan kami sebelum sampai di pos dua. Ketika melewati salah satu belokan, kami melihat ada sebuah ‘tenda’ di pojokan belokan itu. Di situ tampak beberapa orang duduk dan menikmati hidangan snack dan minuman. Tadinya saya kira tempat itu adalah pos panitia DCF, tapi ternyata tempat itu adalah warung! Eh eh eh…ternyata ada juga ya yang buka warung di tengah jalur pendakian begini..hehehe. Ya sebetulnya bagus juga sih, warung ini bermanfaat juga, bisa menjadi tempat istirahat dan charge energi jika kami merasa lelah dalam perjalanan. Karena masih ada semangat berkat nasi gudeg yang kami santap tadi siang, kami pun hanya melewati warung tadi dan melanjutkan perjalanan (sambil bergumam, besok deh kami mampir hehehe).

Setelah melewati jalan berpasir, tanah pegunungan yang menanjak, dan sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat, akhirnya kami sampai juga di pos dua! Lumayan…sudah setengah perjalanan, nih. Di Pos dua yang bernama Canggal Walangan ini, kami pun kembali berfoto ria sembari menunggu semua anggota rombongan kami sampai di Pos dua. Untunglah kami juga ada tripodnya Mas Herman, jadi nggak perlu repot mengambil foto seluruh anggota rombongan kami hehehe. Di pos ini, saya sempat dimintai tolong Asmi untuk mengambil foto siluet dirinya, tapi dasar sayanya yang gaptek soal kamera, jadi ya nggak berhasil deh ambil foto siluetnya hehehe..maap ya Mi.. 🙂

DSCF1810 DSCF1784 DSCF1783 DSCF1768

DSCF1765 DSCF1772

Menuju Pos Dua… Ayo tebak..bayangan siapakah ini? 🙂

DSCF1811 P1010512

P1010515 P1010510

Pos Dua “Canggal Walanggan”

Nah setelah puas foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos ketiga. Tenaga sudah mulai terkuras, walau saya sebenarnya belum merasa lelah. Saya juga tidak merasa berat membawa tas saya karena saya tahu tas bawaan teman-teman saya yang lain jauh lebih berat daripada tas saya :). Perjalanan menuju Pos tiga semakin berat medannya dibandingkan pos-pos sebelumnya. Sepanjang pendakian ini saya juga banyak mendapat masukan mengenai jalur yang sebaiknya saya lalui dari mas-mas dan adik-adik pendaki ini. Ya memang sepanjang pendakian ini dibutuhkan juga kejelian memilih jalur. Ada jalur yang lebih mudah dilalui, ada juga jalur yang lebih sulit. Saya pun terus berjalan mengikuti Mas Herman dan Eri yang ada di depan. Di sini kemiringan tanahnya semakin curam. Indikasinya, saya mulai harus berpegangan ketika mendaki naik :). Jalur yang semakin curam ini ternyata memang menguras lebih banyak energi. Kalau di pos-pos sebelumnya rasa capeknya masih capek biasa, menuju pos tiga ini rasanya lebih capek daripada sebelumnya. Entah karena rasa lelah ini sudah akumulasi, atau memang karena medan pendakian yang ini lebih berat, mungkin karena keduanya ya. Yang pasti, saya masih berusaha untuk bisa mencapai pos tiga sambil disemangati oleh Mas Herman yang kelihatannya masih enjoy-enjoy saja mendaki. Di sini saya juga jadi sadar pentingnya rutin berolahraga. Jujur memang saya bukan termasuk orang yang rajin berolahraga. Nah, melihat Mas Herman yang rajin olah raga melenggang dengan santai di jalur pendakian ini, saya seperti ditegur untuk memperbaiki pola hidup saya. Saya pun berjanji kelak akan lebih rajin berolahraga supaya badan sehat dan stamina kuat :).

Setelah melalui perjuangan mengalahkan rasa cemas dan rasa lelah, akhirnyaaa saya sampai juga di pos tiga!! Thank God! Pos yang ketiga yang juga pos terakhir sebelum puncak ini bernama Cacingan (LOL..kaya nama penyakit saja hehehe ^v^). Setibanya di pos tiga ini, kami menyempatkan diri untuk beristirahat. Katanya sih jalur menuju puncak nanti jauh lebih berat dan akan sulit menemukan tempat untuk beristirahat.. What?? Masih ada yang lebih sulit lagi? Ini saja saya sudah ngos-ngosan hahaha…tapi ya saya cukup tenang sih karena saya percaya kalau kami bersama-sama pasti semuanya juga akan lancar. Katanya ‘kan “Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena kalau yang seorang jatuh, yang lain akan menolongnya,”.

Di Pos Tiga ini kami pun menatap matahari yang mulai terbenam. Walaupun niat awal kami untuk menyaksikan sunset di Puncak Prau sepertinya tidak akan tercapai, kami bersyukur masih bisa menikmati indah terbenamnya sang mentari di atas gunung. Warna biru langit siang hari perlahan berganti dengan warna kemerahan dari sang surya. Sungguh indah menatap matahari yang mulai terbenam dari spot kami sekarang. Anyway, terbenamnya sang surya ini juga menjadi alarm bagi kami bahwa hari akan semakin gelap.

DSC04476  P1010527

Pos Tigaaaa!! “Cacingan” (Setelah dari sini kami sudah gak sempat deh mikir foto-foto, yang penting sampai Puncak dulu hehehe)   Ini wajah-wajah kelelahan di Pos Tiga 🙂 (itu masnya yang bawaannya rempong orang kelima dari kanan)

Oh iya, dalam pendakian ini, kami juga bertemu dengan seorang mas-mas yang membawa beberapa tenda dan matras seorang diri. Ketika kami bertanya di mana rombongannya yang lain, katanya sih rombongannya masih di bawah. Wow…jadi mas ini naik seorang diri sambil membawa barang bawaan seperti itu..luarrr biasaaaa.. Saya nggak bisa membayangkan nih kalau saya jadi mas itu. Walaupun teman-temannya masih di bawah dan ia seorang diri membawa barang-barang bawaan itu naik, meskipun sepertinya ia tampak agak repot juga membawa barang-barang itu, ia tetap bersemangat mendaki dan tidak mengeluh lho! Wah..semangatnya harus dicontoh, nih. Saya rasa tidak semua orang mau juga lho melakukan apa yang dilakukan mas ini. Mungkin ada yang akan bersungut-sungut atau saling lempar tanggung jawab, tapi ya menurut saya hal seperti itu juga tidak akan terjadi di rombongan kami sih, karena sepertinya semuanya orang yang berkomitmen dan tidak suka lempar tanggung jawab :).

DSCF1834  DSCF1820

Sunset at Prau Mountain…         

To be continued Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 2)

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking (Part 1)

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1: Yogyakarta, Meeting Point! (Part 2) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s