Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1: Yogyakarta, Meeting Point! (Part 2)

Sore harinya setelah selesai mandi, kami disuguhi teh hangat dan brownies kukus yang laziis rasanya :). Sembari menonton video Marsha and The Bear yang diputar di televisi, kami menikmati snack yang dihidangkan. Mbak Dina berkata kepada kami, bahwa tayangan di televisinya memang hanya video-video kartun favorit kedua anaknya. Ia juga jadi jarang menonton film atau sinetron karena ‘kalah’ oleh anak-anaknya. Hm…ini nih salah satu bentuk pengorbanan seorang ibu..demi kebahagiaan anak-anaknya, beliau rela ketinggalan update sinetron atau film terbaru…what a beautiful motherly love! Kedua keponakan Asmi ini cowok-cowok yang lucu-lucu. Mereka sepertinya hobi sekali bermain pesawat dan helikopter. Bahkan di antara video yang ditayangkan di televisi tadi, cukup banyak juga video tentang pesawat dan helikopter. Apa cita-cita mereka nanti jadi pilot, ya? Hehehe.

Sekitar jam tujuh malam, rombongan Mas Vickie dan cowok-cowok pun datang. Berhubung di antara kami, cewek-cewek ini, tidak ada yang berani mengemudikan mobilnya Mbak Dina, akhirnya Kang Indra pun turun tangan mengemudikan mobil mengantar kami para cewek traveller ini berkeliling kota Yogya. Kang Indra jadi yang paling ganteng deh di mobil ini hehehe. Di sini saya, Eri, Kak Ade, dan Kak Citra sempat menggoda Kang Indra dan Asmi yang duduk di depan. Maklum lah, karena dua-duanya masih sama-sama single jadi ya…kami godain saja mereka, siapa tahu bisa jadi beneran..toh kami hanya mengawali, selanjutnya ya terserah mereka hahaha.

Tempat tujuan pertama kami dalam wisata explore Yogyakarta di malam hari ini adalah Benteng Vrederburg, salah satu ikon sejarah di Yogyakarta. Nah, dalam perjalanan menuju Malioboro ini, Kak Ade dan Kak Citra sempat mampir ke ATM untuk membayar tiket kereta api untuk kembali ke Jakarta. Baru juga selesai transfer ke rekening PT KAI tiba-tiba muncul masalah. Sepertinya sih terjadi salah transfer. Sempat terjadi perdebatan antara Kak Ade dan Kak Citra, sementara saya, Eri, Asmi, dan Kang Indra memilih untuk diam saja (kalau cewek lagi berdebat lebih baik gak ikut-ikut deh hehehe).

Finally kami sampai juga di Benteng Vrederburg. Di sini juga rencananya kami akan bertemu dengan salah satu peserta lagi, Ibnu, yang sebelumnya sudah berada di Yogyakarta. Pertama kali bertemu Ibnu ini kesannya sepertinya sih dia orang yang pendiam. Kami pun berkenalan dengan Ibnu. Kebetulan waktu itu rombongan kami sedang foto-foto di depan pintu masuk ke benteng. Nah, waktu itu ada seorang cewek yang berdiri tidak jauh dari rombongan kami. Karena rombongan kami tampak menyalami cewek itu, saya pun ikut menyalami mbak yang ternyata bernama Gita itu. Lalu saya tanya, apa dia ikut rombongan kami juga, anehnya dia jawab, “Nggak,” Lah?? Eh ternyata oh ternyata…sepertinya sih cewek ini sempat digodain oleh cowok-cowok dari rombongan mobil Mas Vickie yang sudah tiba lebih awal. Hahaha…ada-ada saja.

DSCF1673  DSCF1675

Foto-foto di Benteng Vrederburg (team member almost complete)

 P1010373 P1010379
Foto-fotoo…(Kak Ade sama Kak Citra absen nih..masih ngurus tiket pulang 🙂 )

Di benteng Vrederburg ini kami berfoto-foto sebentar sebelum akhirnya kami beranjak menuju destinasi berikutnya, yaitu Malioboro. Ini nih salah satu tempat yang tidak pernah lepas dari kota Yogyakarta. Kalau pergi ke Yogyakarta tapi belum pernah mampir ke Malioboro bisa dibilang tidak afdol (mirip seperti patung Merlion di Singapura ya hehehe). Kami pun berangkat menuju Malioboro bersama-sama dengan berjalan kaki, karena kebetulan lokasi benteng ini dekat dengan Malioboro. Di sini kami berjalan sepanjang Malioboro, melihat-lihat barang-barang yang dijual di situ. Karena sebelumnya saya juga baru saja jalan-jalan ke sini, saya pun hanya melihat-lihat saja tanpa membeli barang. Toh barang bawaan saya sudah cukup untuk membuat tas saya penuh hehehe.

Di tengah perjalanan ini, kami melihat sebuah kesenian dengan alat musik tradisional. Menarik juga menyaksikan atraksi ini. Atraksi seperti ini sepertinya hanya ada pada malam hari ya, soalnya waktu saya jalan-jalan siang hari suasananya sepi, hanya ada orang-orang yang berjualan souvenir dan baju saja. Di sini sepertinya Kang Indra sempat merekam atraksi seni musik tradisional ini juga dengan kamera GoPro-nya—yang sudah banyak mengabadikan momen-momen perjalanan kami juga.

DSCF1688 DSCF1683

Malam semakin larut. Tadinya kami berencana untuk mampir ke House of Raminten dan Alun-alun Kidul (Alkid) juga, makanya kami tidak boleh terlalu lama juga di Malioboro ini. Sampai di tengah Malioboro, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami di Malioboro dan melanjutkan wisata ke Alkid. Nah, di sini ada teman kami yang ngebet ingin naik delman..ini nih si Eri, hehehe. Setelah tawar-menawar bersama bapak kusir delmannya, akhirnya disepakati harga sewa untuk mengantar kami dari Malioboro sampai ke Alkid sebesar Rp 60.000,00 per delman. Satu delman bisa diisi sekitar enam orang, jadi per orang cukup membayar Rp 10.000 saja. Akhirnya jadilah Eri, saya, Jafar, Mas Herman, Mas Bambang, dan Kang Mengku naik delman itu demi memenuhi keinginan Eri (kalau nggak kesampaian nanti takutnya anaknya ngiler..hahaha—emangnya ibu hamil…) Jafar duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja; saya, Eri, Mas Herman, dan Mas Bambang duduk di tengah, sedangkan Kang Mengku memilih posisi strategis di bagian belakang hehehe. Sementara kami naik delman, teman-teman kami yang lain pun kembali ke Benteng Vredeburg untuk naik mobil menuju Alkid.

DSC04462 DSCF1695

Sebelum naik delman, coba ditawar dulu harganya ya biar bisa dapet murah 🙂

DSCF1697 DSCF1698

 Berangkaaaat….!

Delman pun melaju pelan, diiringi dengan suara tepak-tepok langkah kuda yang khas. Sepanjang perjalanan dari Malioboro ke Alkid, banyak tempat yang kami lewati.Salah satunya adalah Alun-alun Lor. Dalam bahasa Jawa, “Lor” artinya utara, sedangkan “kidul” artinya selatan. Penamaan ini sesuai dengan lokasi kedua alun-alun ini terhadap Kraton Yogyakarta. Yang satu berada di sisi utara keraton, sedangkan yang lain ada di sisi selatan kraton. Kami juga melewati bagian Kraton yang bernama Taman Sari, yang konon katanya merupakan tempat mandi putri-putri kraton. Saya sempat menggoda cowok-cowok ini untuk mampir ke sana, tapi ya malam-malam begini mana ada tuan putri yang mandi di situ juga sih hahaha. Oh iya, tarif Rp 60.000,00 ini sudah all in lho, artinya kalau dalam perjalanan kami mau mampir ke tempat tertentu, kami tidak perlu menambah ongkos.

Dalam perjalanan menuju Alkid, kami sempat melewati gerbang FKY alias Festival Kesenian Yogyakarta. Acara ini dilangsungkan di Plasa Pasar Ngasem sejak tanggal 20 Agustus 2014 yang lalu. Dari luar sepertinya sih festival ini menarik juga, tapi karena sudah sepakat untuk mengunjungi Alkid, kami pun hanya melewati gerbang festival itu. Kami juga melewati toko-toko yang menjual souvenir dan kaos-kaos khas Yogyakarta. Pokoknya pemandangan sepanjang jalan naik delman ini tidak mengecewakan kok, khas kota Yogyakarta di malam hari 🙂

Nah, akhirnya kami sampai juga di gerbang menuju Alkid. Ternyata kami sampai duluan lho di sini…ternyata delman lebih cepat daripada mobil ya hehehe. Setelah anggota rombongan kami lengkap, kami pun berjalan memasuki Alun-alun Kidul Yogyakarta ini. Nah, di gerbang ini kami sudah melihat mobil kayuh bersliweran mengitari alun-alun. Mobil kayuh ini ada juga yang menyebutnya ‘odong-odong’. Bentuk kerangkanya seperti mobil, tetapi penggeraknya bukan motor, melainkan tenaga kayuh manusia jadi seperti mengayuh sepeda beroda empat 🙂 Bentuk mobil kayuh ini pun beragam. Ada yang bentuknya seperti mobil biasa, ada juga yang dihiasi dengan bentuk binatang bahkan ada yang dihiasi bentuk roket. Semua mobil kayuh ini dihiasi dengan lampu warna-warni. Inilah yang membuat ‘pawai’ mobil kayuh ini begitu menarik. Kerlip warna-warni dari lampu mobil kayuh ini tampak indah bergerak melintasi sekeliling Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Setelah negoisasi harga dengan pemilik mobil kayuh, kami pun mendapat harga Rp 25.000,00 per mobil kayuh untuk satu kali putaran alun-alun. Rombongan kami pun dibagi menjadi dua grup untuk naik dua mobil kayuh. Kami memilih mobil kayuh yang modelnya simpel saja, agak malu juga sih kalau naik mobil kayuh yang model dan hiasannya agak norak hehehe. Saya, Eri, Jafar, Mas Herman, Mas Vickie, dan Asmi berada dalam satu mobil dan start lebih dulu. Tidak lama kemudian, mobil kayuh yang satunya yaitu rombongan Kak Citra, Kak Ade, Kang Mengku, Kang Indra, dan Ibnu pun menyusul dengan dikemudikan oleh Kang Mengku yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengemudikan mobil (ngarang nih hehehe).

DSCF1699 DSCF1707

Ayo foto-foto duluu….               Mas Herman besok kalau beli mobil mau yang kaya gitu ya? Hehehe

Mobil kayuh ini dilengkapi dengan empat pasang pedal; dua di bagian tengah dan dua di bagian belakang. Bagian depan malah tidak ada pedalnya. Setiap baris tempat duduk bisa diisi dua sampai tiga orang, jadi orang yang duduk di sisi kanan dan kiri inilah yang berkewajiban mengayuh sepeda. Selain itu, di bagian tengah sebelah kanan ada setir dan rem yang digunakan seperti halnya pada mobil atau sepeda. Sebetulnya aneh juga ya, kenapa kemudianya ada di bagian tengah, bukan di bagian depan. Mas Vickie berperan sebagai pengemudi utama dengan memegang setir untuk mobil kami, ditemani Jafar yang duduk di sampingnya. Di bagian belakang, Mas Bambang dan saya yang bertugas mengayuh, sementara Eri duduk di tengah di antara kami berdua. Sedangkan di bagian depan ada Asmi dan Mas Herman yang duduk dengan manis :). Nah, setelah siap kami pun mulai mengayuh mobil ini mengitari alun-alun. Alun-alun pada malam hari memang sangat ramai. Mobil kayuh kami pun harus bersaing dengan mobil betulan yang juga melewati alun-alun kidul. Seringkali terjadi kemacetan karena jalan di sekitar alun-alun ini penuh dengan kendaraan. Ya begitulah, sudah banyak mobil, masih ditambah dengan wahana mobil kayuh seperti yang kami naiki ini.

DSCF1700 DSCF1701

 IMG-20140903-WA0003 DSCF1705

Ayo semuanya siap formasi odong-odong…! 🙂

Kami mengayuh dengan kecepatan sedang. Awalnya saya merasa ayunan kaki saya begitu ringan, nyaris seperti tidak ada artinya saya mengayuh. Namun selang beberapa saat, ayuhan kaki saya terasa berat. Ternyata ketika orang di bagian depan sudah mengayuh, tentu yang duduk di bagian belakang akan merasa lebih ringan dalam mengayuh, begitu pula sebaliknya. Pantas saja, waktu saya merasa ayuhan saya agak berat tiba-tiba Jafar yang duduk di depan saya berkata, “Ini aku nggak ngayuh lho, Mbak,” Eh….pantas saja rasanya agak berat hehehe. Oh iya dalam mengemudikan mobil kayuh ini diperlukan naluri pengemudi mobil yang sip juga lho, karena nggak tanggung-tanggung, lawannya juga mobil betulan sih. Seringkali Mas Vickie harus rem mendadak atau membanting setir untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain. Sempat juga sih ada yang menyeletuk “Sopirnya ugal-ugalan nih…” hahaha…bukan apa-apa sih, tapi kami memang terkadang semangat sekali mengayuh mobil ini sehingga mobil kami melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Akibatnya, ketika tiba-tiba kami harus menghindari kendaraan lain, Mas Vickie segera mengeluarkan jurus saktinya sebagai pengemudi tadi..tarik rem dan dengan cepat memutar kemudi ke arah yang aman hehehe. Sementara kami mengendarai mobil kayuh ini, sepupu Mas Vickie yang juga ikut dengan rombongan kami untuk jadi guide lokal pun mengikuti kami sambil merekam aksi kami lewat kameranya. Kadang-kadang kasihan juga sih karena dia harus mengimbangi kecepatan mobil kayuh kami, tapi ya demi kenang-kenangan sih kami menyemangati beliau saja hehehe.

Tak terasa satu putaran di alun-alun kidul pun selesai. Kami pun mengembalikan mobil kayuh ini ke tempatnya dan membayar ongkosnya sesuai kesepakatan. Setelah itu kami berkumpul untuk menikmati wedang ronde di pinggiran Alkid. Dengan beralaskan tikar, kami duduk berkumpul dan mulai menikmati minuman hangat khas Jawa Tengah-Yogyakarta ini. Sementara kami menikmati wedang ronde, sesekali datang pengamen yang menyanyikan lagu untuk menemani kami di malam yang ramai ini. Setelah puas menikmati hangatnya wedang ronde, kami pun berdiskusi mengenai tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi. Untuk mengunjungi House of Raminten sepertinya sudah terlalu malam. Nah, kebetulan rombongan kami ternyata penasaran juga dengan FKY yang tadi sempat kami lewati sebelum menuju Alkid. Akhirnya kami putuskan untuk menengok Festival Kesenian Yogyakarta itu.

DSCF1711 DSCF1714

Makan ronde dulu ya..biar hangat badannya dan hatinya 🙂

Untuk masuk ke FKY ini tidak dipungut biaya lho, Cuma parkirnya saja sih yang bayar hehehe. Sebelum masuk ke tempat festival, kami sempat berfoto ria di depan pintu masuk FKY. Lumayan sih, backgroundnya kukusan nasi berwarna-warni, yang bentuknya mirip caping pak tani yang disusun memenuhi dinding. Nah, setelah berfoto di sini, barulah kami masuk ke dalam area festival. Mungkin karena sudah malam juga ya, kalau tidak salah waktu itu sekitar jam sembilan malam, jadi sudah banyak stand yang tutup. Kalau melihat dari bentuknya, kebanyakan yang dijual di sini sih makanan dan snack. Di bagian tengah tampak ada sebuah panggung yang dilengkapi dengan alat-alat musik tradisional seperti gamelan dan kawan-kawannya. Di depan panggung tersebut ada tempat duduk bertingkat seperti di stadion. Sayangnya pertunjukan di panggung ini juga sudah selesai. Kami pun hanya berfoto sebentar di sini, kemudian kami keluar lagi untuk acara selanjutnya: Makan malam! 🙂

IMG-20140903-WA0005 IMG-20140901-WA0035

                          Festival Kesenian Yogyakarta…                                             The Team’s Angels 🙂 

Sebagai pendatang, kami ikut saja rekomendasi tuan rumah untuk lokasi makan malam ini. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Bakmi Kadin. Di sini kami memesan menu bakmi, seperti mi goreng, mi godhog, dan mi nyemek. Bagi yang belum familiar dengan istilah ‘nyemek’, ‘nyemek’ ini artinya mie yang kuahnya sedikit. Setau saya sih kalau di Semarang, mie nyemek itu seperti mie goreng (diberi kecap juga) hanya saja diberi kuah sedikit. Kalau mie godhog, kuahnya lebih banyak dan biasanya tidak pakai kecap.

Sembari menunggu pesanan kami datang, kami ditemani dengan hiburan live music lagu-lagu Jawa yang mengalun dari sekelompok bapak-bapak. Ada yang jadi penyanyi, ada yang memainkan seruling, dan ada yang memainkan gitar. Lumayan juga penampilan bapak-bapak ini. Suasana di dalam rumah makan ini pun jadi terasa lebih meriah. Oh iya soal tempat makan kami ini, sebenarnya nuansanya sih sederhana sekali, hanya saja tempatnya memang cukup luas. Banyak juga pengunjung yang datang ke Bakmi Kadin ini, mungkin karena memang tempat ini sudah punya ‘nama’ di Yogyakarta ya.

P1010430 IMG-20140828-WA0018

Kang Indra: Ayo…siapa yang dukung saya jadi caleg?? 🙂                    Final foto today

Nah, akhirnya pesanan kami mulai datang. Mie goreng, mie godhog alias mie kuah, sampai akhirnya mie nyemek pun tiba di hadapan kami. Ini nih yang bikin saya dan teman-teman heran. Ternyata mie nyemek di sini itu seperti mie kuah, Cuma kuahnya sedikit hehehe. Jadi ya kalau menurut saya sih rasanya jadi tidak sesuai dengan bayangan saya. Saya sendiri karena tidak begitu lapar jadi separuh porsi saya sumbangkan ke Mas Vickie hehehe. Anyway, bakmi Kadin ini lumayan juga menjadi penutup makan malam kami hari ini.

Setelah puas makan malam, kami pun bergerak menuju Indomaret untuk belanja kebutuhan logistik untuk perjalanan kami besok. Makanan cepat saji seperti mie instan dan kornet, serta telur ayam, blueband, dan teh pun kami beli di sini. Setelah selesai belanja, kami pun bersiap untuk kembali ke tempat istirahat kami masing-masing. Kang Indra yang selesai mengantar kami sepanjang sore sampai malam ini pun kembali ke rombongan Mas Vickie untuk beristirahat di rumah Mas Vickie, sementara kami cewek-cewek kembali ke rumah Asmi.

Seperti biasa, saya pun mencuci muka dan menggosok gigi sebelum akhirnya bersiap untuk tidur. Oh iya, tidak lupa saya juga men-charge kedua handphone saya dan memenuhi kantong minum saya untuk persiapan besok pagi :). Setelah itu lampu kamar pun dipadamkan. Selepas berdoa malam, bersyukur atas setiap saat yang boleh kami alami dan berdoa untuk kelancaran perjalanan kami besok, saya pun melanjutkan perjalanan malam itu ke alam tidur….

To be continued : Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 2: Road to Dieng, Prau Mountain Hiking

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1: Yogyakarta, Meeting Point! (Part 2)

  1. Pingback: Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1 : Yogyakarta, Meeting Point! (Part 1) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s