Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1 : Yogyakarta, Meeting Point! (Part 1)

Thursday, 27 August 2014

Selamat pagi semuanya!!! Pagi yang cerah ini kami awali dengan mengantre menggunakan kamar mandi :). Kami bangun sekitar pukul lima pagi, tapi saya masih bersantai-santai dulu dan baru mulai keluar kamar sekitar pukul enam pagi. Rencananya kami akan berangkat ke Stasiun Gubeng pukul tujuh pagi dari rumah Mas Vickie.

Setelah semuanya siap, kami pun berjalan beriringan menuju jalan besar untuk naik angkutan kota. Baru beberapa meter kami berjalan, tiba-tiba Asmi teringat akan oleh-olehnya yang tertinggal di rumah Mas Vickie hehehe. Akhirnya Asmi dan Mas Vickie pun kembali untuk mengambil oleh-oleh itu sementara saya, Jafar, Mas Herman, dan Mas Bambang menunggu sambil sempat foto-foto (tetap eksis ya hahaha). Setelah Asmi dan Mas Vickie kembali, kami pun lanjut berjalan. Kami harus naik angkot dua kali untuk menuju ke Stasiun Gubeng. Ya jalurnya persis sama dengan jalur yang saya lewati waktu ke Stasiun Gubeng untuk pertama kalinya dulu. Angkutan kotanya juga sama, hanya saja harganya yang berbeda hahaha. Entah kenapa kalau naik angkutan umum dari Jalan S. Parman menuju Bungkuk ini selalu saja ada masalah dengan tarif angkutannya. Dulu waktu saya dan Mas Vickie naik angkot ini juga (bulan Juli), tarifnya Rp 5.000,00 per orang, tetapi karena waktu itu kami berdua dioper ke angkot lain (mungkin angkot yang tadi mau istirahat dulu), akhirnya oleh sopir angkot yang baru tadi kami dikenai tambahan charge Rp 2.000,00 per orang. Nah, kali ini tiba-tiba dari awal tarifnya sudah Rp 7.500,00 per orang! Wah wah wah…apa karena kami membawa tas carrier yang besar-besar ya jadi tarifnya dinaikkan? Only God knows. Ya sudah lah, toh kami juga memang cukup memakan tempat di angkot ini. Kami pun sampai di Bungkuk lalu naik angkot lagi menuju Stasiun Gubeng.

 DSC04445 DSCF1614

Before went to Gubeng Station

Setibanya di Stasiun Gubeng, kami memutuskan untuk sarapan dulu karena perjalanan kami nanti lumayan lama, sekitar tujuh jam. Karena kami belum mencetak tiket kereta, maka saya, Asmi, dan Mas Vickie mampir sebentar ke stasiun untuk mencetak tiket kereta kami. Ini jadi pengalaman pertama saya dan Asmi mencetak tiket kereta lhoo hehehe. Sementara saya, Asmi, dan Mas Vickie mencetak tiket, teman-teman yang lain menunggu di warung makan di seberang stasiun untuk sarapan. Setelah mencetak tiket (dan sempat foto-foto juga hehehe), kami pun menyusul untuk sarapan. Di warung ini tersedia nasi rames, nasi soto, dan nasi penyet. Saya memilih makan nasi soto karena menurut saya itu menu yang paling pas untuk sarapan hehehe. Setelah selesai sarapan, kami berenam pun menyeberang ke stasiun dan menunggu kedatangan KA Pasundan yang akan membawa kami menuju Kota Pelajar, Yogyakarta.

 P1010331 DSCF1621

Pertama kali mencetak sendiri tiket kereta api 🙂

Tiket KA SBY-YOG 280814

Tiket kereta api Pasundan Gubeng-Lempuyangan

P1010346

Yang sarapan…yang sarapan…

Sekitar pk 09.10 WIB, kereta yang kami nanti-nantikan pun tiba. Kami menyempatkan diri berfoto dengan background kereta api lalu masuk ke gerbong sesuai tiket kami masing-masing. Saya, Asmi, Mas Herman, Mas Bambang, dan Jafar masuk ke gerbong satu, sementara Mas Vickie masuk ke gerbong dua karena dia membeli tiket terpisah dari kami. Nah, karena Wima tidak jadi ikut, akhirnya ada satu tempat duduk tersisa di grup kami. saya duduk bersebelahan dengan Asmi di seat nomor 4A dan 4B, Jafar dan Mas Herman duduk di seat nomor 3A dan 3B, sedangkan Mas Bambang duduk di seat nomor 3D seorang diri. Mas Bambang tampak sangat nyaman karena bisa duduk dengan lebih leluasa di bangkunya (walau kebahagiaannya itu tidak berlangsung lama hehehe).

DSCF1626Ayo foto-foto dulu di depan kereta… (pic by Asmi 🙂 )

Mengawali perjalanan, kami mulai berbincang dan sesekali melihat pemandangan di luar. Mas Vickie dari gerbong sebelah pun akhirnya ikut nimbrung bersama kami. Nah, ketika kereta berhenti di salah satu stasiun (kebetulan saya lupa stasiun apa hehe), tiba-tiba serombongan keluarga (seorang bapak, ibu, dan anaknya yang masih kecil) masuk ke gerbong kami dan duduk di bangku dekat Mas Bambang. Sebenarnya saya heran juga sih, kok kursi yang seharusnya kursi rombongan kami bisa diduduki orang. Tapi yang karena toh tempat duduknya masih cukup, kami juga diam saja. Yang membuat kami geli, Mas Bambang yang sebelumnya tampak ceria kini tampak nelangsa (bahasa Jawa, artinya kurang lebih ‘tampak kasihan’ 🙂 ). Karena di sampingnya duduk seorang ibu-ibu dan di depannya duduk seorang bapak dan anaknya, dia jadi tidak bisa lagi bebas bergerak. Saya dan teman-teman bahkan sempat memotret kondisi itu dan menjadikannya komik singkat hehehe. Nah, yang membuat kami semakin geli, tiba-tiba rombongan si ibu tadi baru menyadari bahwa ternyata mereka salah kursi! Hahaha…si bapak langsung berjalan mencari nomor kursi mereka lalu ia memberitahu istrinya bahwa kursi mereka seharusnya ada di bagian depan. Si ibu segera meminta maaf kepada Mas Bambang karena salah duduk, lalu barulah Mas Bambang mengatakan bahwa memang seharusnya kursi itu adalah kursi temannya…telat, Mas! Hahaha… ada-ada saja kejadian sepanjang perjalanan ini.

IMG-20140828-WA0007IMG-20140828-WA0008

IMG-20140828-WA0009IMG-20140828-WA0010

Jadi komik empat panel..hehe..cerita ini hanya fiktif belaka, harap disikapi dengan bijak..

Setibanya di stasiun Madiun, Eri pun bergabung dengan kami. Sebenarnya ia sudah memesan tiket di gerbong dua, tapi karena tempat duduk yang seharusnya ditempati Wima kosong, Eri pun duduk bergabung dengan kami. Eri juga membawa snack stik bawang dan brem Madiun yang membuat perjalanan kami menuju Yogyakarta semakin menyenangkan. Snack stik bawang ini home made Eri dan keluarganya sendiri lho..rasanya juga enak, gurih, dan renyah. Saya, Asmi, dan Mas Vickie sampai request spesial stik keju untuk dibuatkan waktu Eri pulang ke Madiun lagi :). Kalau ada yang berminat pesan, silakan hubungi kami, dijamin tidak menyesal, sekali coba pasti langsung suka hehehe.

DSCF1644  P1010351

Kurang lebih dua jam kemudian, sekitar pk 14.00 WIB, kami pun sampai di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Wah…akhirnya sampai juga! Kang Indra dan Kang Mengku ternyata sudah lebih dulu tiba di sana. Berhubung kami belum tahu seperti apa wajah kedua orang ini, kami pun hanya mengikuti Mas Vickie yang berjalan paling depan. Nah akhirnya kami bertatap muka juga dengan Kang Indra dan Kang Mengku (karena tiba-tiba Mas Vickie berhenti dan menyalami orang ini, berarti ya pasti ini yang namanya Kang Indra, soalnya Mas Vickie juga belum kenal dengan Kang Mengku). Kami pun bergabung dengan mereka dan mulai berkenalan. Setelah itu kami berjalan kaki menuju rumah Mas Vickie sambil menunggu Kak Ade dan Kak Citra yang keretanya baru akan tiba sekitar satu jam lagi. Oh iya, Mas Herman sempat ‘menandai wilayah’ nih di stasiun Lempuyangan ini..mungkin sudah ngempet sejak di dalam kereta tadi ya hahaha. Ya memang sih toilet di dalam kereta tadi sepertinya kurang bersih. Bahkan terkadang bau toiletnya sampai tercium di gerbong kami.

DSCF1665  DSCF1664

Ayo coba tebak..yang mana Kang Mengku dan Kang Indra…?

Setibanya di rumah Mas Vickie, kami disambut oleh orang tuanya. Waktu itu Om sedang duduk di seberang rumah dan teman-teman yang lain memang belum tahu bahwa Om itu adalah ayahnya Mas Vickie. Karena saya masih ingat wajah beliau, saya pun mendatangi dan menyalami beliau. Si Om ternyata masih ingat wajah saya (walaupun potongan rambut saya sudah banyak berubah hehehe) “Eh, datang lagi ya Mbak,” sapanya dengan ramah. “Iya, Om,” jawab saya sambil tersenyum. Kemudian kami pun masuk ke dalam rumah dan menyalami mamanya Mas Vic. Tante juga ternyata masih ingat wajah saya. “Gimana kabarnya, Tante, sudah sehat?” tanya saya. “Iya, sudah, sudah,” jawab Tante sambil tersenyum lebar. Puji Tuhan, Tante memang sudah terlihat jauh lebih segar dibandingkan waktu saya datang bulan Juli yang lalu. Menurut cerita Mas Vic, sekarang mamanya sudah sehat dan sudah tidak perlu cuci darah lagi. Thank God! Kami pun diterima dengan sangat ramah oleh keluarganya Mas Vic.

Setelah itu kami pun bersantai dan menikmati es sirup dan snack mendoan alias tempe kemul buatan mama dan tante-tantenya Mas Vic. Rasanya benar-benar maknyussss! Semua mendoan di Tuban sih kalah rasanya dengan mendoan ala Mas Vic’s family ini. Tak heran, snack ini pun langsung habis dalam hitungan menit! Hahaha… Nah selanjutnya kami pun beramah tamah dengan Kang Indra dan Kang Mengku. Mereka saling membicarakan tentang pendakian gunung yang telah dan akan mereka lakukan. Kang Indra dan Kang Mengku sempat juga bercerita tentang pengalaman mereka mendaki Gunung Guntur yang baru saja mereka lakukan. Katanya sih di situ ada aura mistisnya juga, karena teman mereka yang pergi mencari minum sempat tersesat, lalu ketika mereka pergi menyusul teman mereka itu, eh…malah mereka yang tersesat. Wah, sepertinya memang banyak cerita ya kalau pergi ke alam bebas. Dibandingkan Gunung Prau yang akan kami daki, tentu Gunung Guntur ini medannya jauh lebih berat. Bahkan Kang Mengku juga katanya sudah hampir saja ngambek tidak mau naik ke puncak. Lucu dan seru juga mendengarkan cerita akang-akang dari Bandung ini. Untunglah mereka juga orang-orang yang supel dan menyenangkan ketika diajak ngobrol,  jadi suasananya tidak kaku :).

IMG-20140903-WA0002

Foto di rumah Mas Vickie

Kira-kira pk 15.00 WIB, Mas Vic dan ayahnya pergi menjemput Kak Ade dan Kak Citra yang sudah tiba di Stasiun Lempuyangan. Setelah keduanya tiba di rumah Mas Vic, kami pun saling berkenalan lalu lanjut dengan makan siang bersama. Semua menu yang kami santap siang itu home made oleh keluarganya Mas Vic, lho! Memang kalau soal masakan, keluarganya Mas Vic ini top markotop deh! Hehehe. Sambil ngobrol dan nonton TV, kami menikmati hidangan ayam goreng, tempe dan tahu goreng, ca kangkung, serta ikan asin plus sambal yang telah disediakan. “Hati-hati, sambalnya pedas sekali lho,” pesan Tante seusai menghidangkan makan siang untuk kami. “Iya, Bu,” jawab kami serempak. Sekitar pk 15.40 WIB, kami semua sudah selesai makan dengan kenyang. Selanjutnya, kami mulai menyusun acara untuk hari ini. Karena nantinya peserta yang cewek akan istirahat di rumah kakaknya Asmi, sedangkan peserta cowok akan istirahat di rumah Mas Vic, maka kami sepakat untuk bertemu pk 19.00 WIB di rumah Asmi untuk selanjutnya bersama-sama berangkat ke Malioboro dan explore Yogyakarta di malam hari. Sekitar pk 16.00 WIB, kami pun diantar oleh Mas Vickie dan ayahnya ke rumah kakaknya Asmi.

Waktu mencari rumah kakaknya Asmi ini kami sempat sedikit nyasar, tapi untunglah rumahnya cukup mudah untuk ditemukan. Kami pun diterima oleh Mbak Dina, kakak iparnya Asmi. Kebetulan memang sehari-hari Mbak Dina ini hanya tinggal bersama kedua anaknya dan seorang pembantu, karena suaminya bekerja di luar pulau Jawa. Sebenarnya ada seorang lagi anak sulungnya, tetapi putrinya itu tinggal di sekolah asrama. Akhirnya kami pun berpamitan dengan Mas Vic dan ayahnya dan masuk ke rumah kakaknya Asmi. Mbak Dina langsung menjelaskan kamar-kamar yang tersedia. Ada satu kamar dengan ranjang bertingkat di lantai satu, serta ada dua kamar di lantai dua. Setelah menimbang dan memilah, akhirnya saya dan Asmi tidur di kamar bawah yang ada ranjang susunnya, sedangkan Eri, Kak Ade, dan Kak Citra tidur di kamar di lantai dua. Kami pun beristirahat dan mandi sembari menunggu rombongan cowok-cowok dari rumahnya Mas Vickie datang. Nah, di sini kami cewek-cewek sempat ngerumpi sebentar (ngerumpi itu salah satu cara efektif membangun kedekatan relasi antarcewek). Dari obrolan kami itu kami juga baru tahu kalau ternyata Teh Citra ini juga baru pertama kali nanti naik gunung..dan sama seperti kami-kami, dia juga baru saja membeli tas dan perlengkapan untuk naik gunung lainnya hehehe. Di sini kami juga baru tahu lho kalau ternyata (mungkin) usia Kak Citra dan Kak Ade ini agak jauh di atas kami…soalnya waktu kami sebutkan usia kami, mereka langsung menyeletuk, “Wah, masih muda-muda ya,” Saya dan Eri yang ada di situ langsung saling berpandangan dalam diam. Akhirnya Kak Ade pun menyadari kalau dia salah bicara..wah…ini namanya membongkar rahasia sendiri nih…hahaha. Yah nggak masalah kok mau umur berapa, yang penting semuanya masih berjiwa muda! Hehehe. Oh iya ternyata cewek-cewek ini (kecuali Eri) sedang dalam periode kedatangan tamu bulanan. Hahaha…saya sendiri sudah was-was bagaimana nanti kalau pas mendaki tiba-tiba perut saya kram atau kepala saya pusing. Saya memang agak khawatir karena dulu pernah merasa hampir pingsan waktu sedang kedatangan tamu bulanan ini dan harus mengikuti percobaan di plant ketika cuaca panas terik. Saya pun berdoa semoga diberikan kekuatan selama perjalanan nanti agar tidak merepotkan yang lain, supaya kami semua bisa menikmati perjalanan ini.

To be continued ~ Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1 : Yogyakarta, Meeting Point! (Part 2)

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng Plateau and Prau Mountain ~ Day 1 : Yogyakarta, Meeting Point! (Part 1)

  1. Pingback: Trip to Dieng and Prau Mountain ~ Day 0: Road to Surabaya | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s