Trip to Dieng and Prau Mountain (Preparation)

Setelah berwisata ke Negeri Singa dan Negeri Jiran selama lima hari empat malam, kali ini perjalanan wisata yang saya lakukan cukup melenceng jauh dibandingkan wisata sebelumnya. Berawal dari waktu luang di tempat kerja yang dirasa harus kami manfaatkan untuk refreshing, saya dan teman-teman kantor membuat rencana untuk berwisata bersama. Awalnya ada beberapa pilihan tempat wisata yang ingin kami kunjungi, yaitu Kawah Ijen di Banyuwangi dan dataran tinggi Dieng. Setelah diskusi melalui email, akhirnya kami memutuskan untuk memilih Dieng sebagai tempat tujuan wisata kami. Ada alasan khusus mengapa kami memilih Dieng, yaitu karena pada akhir bulan Agustus 2014 ini kebetulan akan dilangsungkan Festival budaya Dieng alias Dieng Culture Festival (kami singkat DCF). Festival ini memang hanya diadakan setahun sekali di dataran tinggi Dieng. Ada banyak acara yang akan mengisi rangkaian festival budaya ini, tetapi yang jelas, puncak acara dari festival budaya Dieng ini adalah ritual pencukuran rambut gembel.

Sebelumnya saya memang pernah mendengar mitos yang ada di daerah Dieng tentang anak-anak berambut gembel (banyak orang menyebutnya ‘gimbal’, tetapi di Dieng sendiri penyebutannya ‘gembel’), tetapi saya baru lebih mendalami asal-muasalnya beberapa hari ini sebelum kami berangkat ke Dieng. Konon, rambut gembel ini tidak tumbuh sejak lahir. Pada usia tertentu barulah akan muncul rambut gembel ini. Rambut gembel ini juga bukan diturunkan secara genetik, artinya orang tua yang dulunya pernah berambut gembel belum tentu memiliki anak yang berambut gembel. Legenda mengenai asal-usul rambut gembel ini disebutkan bermula dari kutukan Kidang Garungan yang marah kepada Ratu Sintha Dewi karena dipermainkan perasaan cintanya. Kidang Garungan mengutuk setiap keturunan Ratu Sintha Dewi akan berambut gembel. Jujur saya heran sih kenapa mengutuknya Cuma berambut gembel, kurang gimana gitu..apalagi kalau dibandingkan dengan kutukan-kutukan di film Mahabharata hehehe. Atau mungkin pada masa itu kalau berambut gembel dianggap punya aib ya hehehe.  Yang jelas, menurut kepercayaan, anak yang berambut gembel biasanya akan cenderung lebih nakal dan apabila si anak meminta kepada orang tuanya supaya rambut gembelnya dicukur, maka orang tua anak tadi harus mengabulkan apapun yang diminta si anak supaya rambut gembelnya dicukur. Cerita dari beberapa orang menyebutkan bahwa terkadang permintaan si anak ini aneh-aneh juga, tapi karena kebanyakan anak-anak ini dicukur rambutnya ketika masih kecil, saya kira tidak ada yang minta mobil mewah atau emas dua puluh empat karat ya 🙂 (lebih parah lagi kalau yang dicukur sudah remaja trus minta kawin hahaha)

PREPARATION

Nah, kembali ke diary ya… Jadi, setelah memutuskan untuk memilih Dieng sebagai tempat tujuan wisata, kami mulai menyusun rencana perjalanan menuju ke Dieng, termasuk apa saja yang akan kami lakukan di sana. Nah, di sini muncullah rencana untuk sekalian melakukan pendakian ke Gunung Prau yang ada di Dieng. Saya yang belum pernah mendaki gunung cukup excited juga dengan rencana ini. Rasa khawatir saya tidak terlalu besar karena dari informasi yang saya dapatkan, medan pendakian di Gunung Prau ini tidak terlalu sulit, hanya saja memang jalannya menanjak (ya iya lah, namanya juga gunung hahaha). Kami mulai mencari informasi tentang kegiatan Dieng Culture Festival yang akan diadakan tanggal 30~31 Agustus 2014, termasuk pemesanan tiket untuk menyaksikan festival budaya tersebut.

Kebetulan pada trip kali ini, senior backpacker traveller saya sebelumnya juga menjadi salah satu penggagas acara. Dia juga yang menyusun itinerary perjalanan kami, termasuk mencari informasi-informasi terkait lokasi wisata yang bisa kami kunjungi, sarana transportasi, serta ketersediaan homestay untuk penginapan kami di Dieng nanti. Seperti itineraryitinerary buatan Mas Vickie sebelumnya, kali ini pun itinerary yang dia susun sangat detail dan bahkan ada estimasi biayanya juga. Sepertinya sih memang dia cocok juga jadi travel agent 🙂

Setelah itinerary disusun, kami mulai mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk trip nanti. Nah, karena jumlah peserta trip kali ini cukup banyak, Mas Vickie membuatkan grup khusus untuk peserta perjalanan ke Dieng ini di whatsapp. Nama grupnya DCF 2014. Jumlah peserta awalnya delapan orang dari tempat kerja kami serta dua orang temannya Mas Vickie dari grup Backpacker Indonesia (Kak Ade dan Kang Indra), yang sebelumnya sudah pernah trip bareng di Banyuwangi bersama Mas Vickie. Nah, untuk tiket masuk festival Dieng ini ada tiga kelas tiket: VVIP, VIP, dan festival. Berhubung kami berniat untuk wisata sederhana saja, kami pun memilih untuk membeli tiket kelas festival, yang penjualannya baru akan dibuka tanggal 1 Agustus 2014 pk 00.00 WIB. Beberapa hari sebelum pembelian tiket, kami memastikan jumlah peserta yang ikut. Waktu itu Kang Indra belum pasti ikut, tapi karena rencananya saudaranya Mas Vickie mau ikut, jadi total peserta waktu itu masih tetap sepuluh orang.

Pada H-1 penjualan tiket festival, saya sempat bertanya ke Mas Vickie apakah perlu dibantu untuk pembelian tiketnya. Kebetulan waktu itu saya sedang off, jadi saya tengah bersantai saja di rumah dengan keluarga saya di Semarang. Mungkin waktu itu Mas Vickie sudah tidur jadi dia tidak membalas pesan saya. Entah kenapa tanggal 1 Agustus 2014 pk 00.00 WIB itu saya pun tergugah untuk bangun dan iseng mencoba memesan tiket DCF. Saya pun mencoba masuk ke website pemesanan tiket DCF itu dan ternyata susah sekali untuk bisa membuka websitenya, mungkin karena banyak sekali yang mengakses ya. Akhirnya setelah berjuang dan bersabar, saya bisa juga membuka website itu dan mulai mencoba memesan tiket. Di situ tertulis “500 ticket in stock”. Pemesanan tiket festival ini juga dibatasi maksimum dua tiket untuk satu nama pemesan. Untuk bisa memesan tiket ini, kita juga harus membuat akun lebih dulu dengan cara input nama, alamat, serta alamat email. Nah, waktu itu awalnya saya hanya berniat memesan dua tiket, tapi iseng saja saya pun memesan sepuluh tiket dengan lima nama yang berbeda dan tiga alamat email yang berbeda juga. Karena waktu itu saya juga tidak tahu alamat pasti dari teman-teman yang saya cantumkan namanya, untuk gampangnya ya saya tulis saja alamatnya “Mess TPPI Tuban”, yaitu tempat tinggal saya sekarang di Tuban. Untunglah perbedaan alamat antara data invoice dengan data di kartu identitas ini akhirnya tidak menjadi masalah. Namanya juga iseng, yang penting pesan duluan, toh batas maksimum pembayarannya 1×24 jam setelah pemesanan. Artinya, kalau Mas Vickie ternyata sudah pesan ya sudah, saya nggak perlu membayar tiket yang saya pesan online ini. Jujur saja memang sepertinya banyak sekali yang berminat membeli tiket DCF ini. Dalam kurun waktu setengah jam saja jumlah tiket in stock yang awalnya tertulis 500 buah hanya tinggal 300 tiket saja. Setelah itu, pada pemesanan tiket saya yang terakhir, sudah tidak ada lagi tulisan jumlahnya. Yang tertera hanya tulisan ‘ticket in stock’ saja. Karena nothing to lose, saya cuek saja dan tidak berpikir terlalu jauh. Sekitar pk 01.15 WIB saya pun kembali tidur.

Keesokan harinya sekitar pk 05.30 WIB, saya bangun dan membaca pesan di grup DCF 2014 dari Mas Vickie bahwa tiket DCF-nya sudah habis. Saya hanya tertawa geli. Ternyata benar ya, tiket ini larisnya seperti kacang goreng saja (ngalahin penjualan iPhone 5 nih hehehe). Lalu saya kabari Mas Vickie bahwa kemarin saya sempat pesan sepuluh tiket, tapi saya belum cek apakah ada email konfirmasi dari panitia DCFnya. Langsung lega deh karena ternyata kami tidak kehabisan tiket (Note: kebahagiaan ini ternyata hanya kebanggaan sesaat karena berhasil dapat tiket festival DCF..nanti kami baru akan menyadari bahwa mendapatkan tiket ini ternyata tidak seindah bayangan kami hehehe) Nah, waktu saya coba cek inbox email saya, ternyata hanya ada tiga email konfirmasi dari lima pemesanan tiket yang saya lakukan. Satu email konfirmasi tidak saya terima karena sepertinya setting email saya di Yahoo Mail memblokir semua email masuk dari Gmail (untung juga ada kejadian ini, jadi saya bisa langsung mengubah setting email yahoo saya 🙂 ), sedangkan yang satu lagi saya tidak tahu kenapa saya belum menerima email konfirmasinya. Lalu Mas Vickie meminta saya untuk coba membayar salah satu pemesanan. Prosedurnya sih, setelah menerima email konfirmasi, dalam rentang waktu maksimal 1×24 jam kita harus melakukan pembayaran. Nah, setelah melakukan pembayaran dan mencantumkan nomor order kita di berita pembayaran, kita harus menginformasikan kepada panitia DCF 2014 ini (bisa lewat whatsapp atau email yang tercantum di websitenya), kemudian nanti panitia akan mengirimkan email balasan berupa invoice. Invoice inilah yang nantinya akan ditukarkan dengan ID card untuk masuk ke area acara Dieng Culture Festival 2014.

Saya pun mencoba mengikuti prosedur itu dan membayar dua tiket yang saya pesan (@ Rp 125.000,00)sekitar pk 08.00 WIB dan mendapatkan balasan email dari panitia dengan kata-kata “Mohon tunggu invoice dari kami,”. Saya menunggu email invoice itu dari siang sampai sore tapi masih belum ada balasan. Mas Vickie yang ternyata kemarin malam juga berhasil memesan dua tiket pun sudah mencoba membayar tiket itu dan belum juga mendapatkan invoice. Akhirnya saya membayar enam tiket lainnya yang saya pesan (total yang kami bayar ada sepuluh tiket) dan menunggu invoice dari Panitia. Cukup lama kami menunggu, sampai-sampai Mas Vickie jadi emosi juga (coba deh cek di tweeternya panitia DCF hahaha). Kami berusaha menanyakan lewat twitter, whatsapp, dan email, tetapi jawabannya tetap sama: intinya kami diminta bersabar. Eh usut punya usut, dari berita di twitter saya baru tahu bahwa ternyata petugas yang mengurus pemesanan dan konfirmasi tiket ini hanya satu orang! Wah wah wah…sepertinya perlu personel tambahan lagi nih hahaha. Kami juga sempat was was kalau-kalau kami tidak menerima email invoicenya. Namun puji Tuhan, keesokan harinya kami pun menerima invoice untuk semua tiket yang telah kami bayar.

Setelah lega karena berhasil mendapatkan sepuluh tiket (sudah sesuai dengan jumlah peserta trip kami), eh kami justru mendapat kabar bahwa akan ada tambahan peserta yang ingin ikut, yaitu Kak Citra, temannya Kak Ade. Waktu itu saudaranya Mas Vickie kebetulan tidak jadi ikut, jadi tiket DCFnya bisa dipakai oleh Kak Citra. Nah..semakin mendekati hari-H, tiba-tiba jumlah peserta trip pun bertambah. Kang Indra yang tadinya belum pasti ikut kini memberi kabar kalau dia juga mau ikut bersama tiga orang temannya: Kang Mengku, Ibnu, dan Akbar. Kemudian Akbar juga ternyata berangkat bersama temannya, Silma. Jadilah akhirnya jumlah peserta trip kami bertambah menjadi empat belas orang. Nggak masalah mau nambah berapa, selama masih muat, angkut! 🙂 Cuma ya risiko yang gabung di akhir, mereka jadi tidak kebagian tiket DCF dan harus berusaha mencari sendiri. Semangat ya, Kakak-kakak!

Sebelum berangkat, saya dan teman-teman sempat mempersiapkan dulu barang-barang yang perlu kami bawa. Kebetulan Mas Vickie juga sudah membuatkan list perlengkapan pribadi maupun kelompok yang harus dibawa. Untuk melengkapi keperluan pribadi, saya pun membeli sebuah sleeping bag merek Rei yang cukup tebal dan hangat seharga Rp 275.000,00 (titip Mas Vickie waktu dia beli di Surabaya), sebuah daypack merek Consina ukuran 35 liter seharga Rp 395.000,00, serta sepasang sandal gunung merek Eiger tipe Lightspeed Cross Bar seharga Rp 175.000,00 (beli di Semarang bersama cicik saya dan tunangannya seminggu sebelum berangkat ke Dieng). Lumayan juga ya perlengkapan yang saya beli hehehe…tapi nggak apa-apa. Toh, semua perlengkapan itu ‘kan bisa dipakai untuk triptrip selanjutnya. Apalagi tas daypack dan sandal gunungnya…berkaca dari pengalaman jalan-jalan di Singapore sebelumnya, sepertinya trip dengan tas daypack dan sandal gunung akan terasa jauh lebih nyaman. Waktu di Singapore dulu, saya memakai tas ransel yang biasa saya pakai ke kantor untuk membawa laptop serta sepatu kats. Akibatnya, saya jadi harus membawa sandal lagi untuk jalan-jalan di pantai (nambah bawaan nih). Kemudian karena waktu itu melihat Mas Vickie yang sepertinya nyaman sekali memakai tas daypacknya (yang sepertinya juga lebih ringan dan ringkas daripada tas ransel saya pada kondisi kosong), saya juga jadi berkeinginan membeli tas serupa untuk dipakai di trip berikutnya. Akhirnya, kebetulan waktu saya ada keperluan di Yogyakarta, saya minta tolong Mas Vickie yang juga kebetulan sedang ada di Yogyakarta, untuk mengantar saya melihat-lihat tas daypack di beberapa counter tas dan perlengkapan hiking (kalau saya sendirian sih nggak tahu tempatnya hehehe). Ternyata di Yogyakarta banyak juga counter semacam Eiger, Consina, dan counter-counter lain yang menjual berbagai merek produk perlengkapan untuk hiking. Mungkin karena di Yogyakarta ini banyak mahasiswanya ya (namanya juga Kota Pelajar) dan juga dekat dengan Gunung Merbabu dan Merapi, jadi kegiatan-kegiatan pecinta alam tumbuh subur. Pada akhirnya, toko-toko yang menyediakan perlengkapan hiking pun menjamur. Bahkan menurut ceritanya Mas Vickie, counter di Yogyakarta ini sepertinya lebih lengkap daripada counter serupa yang ada di Surabaya. Saya sendiri membuktikan sih, di counter Consina yang kami kunjungi, pilihan tasnya lengkap sekali. Sepertinya hampir semua model dan warna tas yang ada di website Consina tersedia di sini. Setelah memilih dan memilah, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada tas Consina tipe Surrey dengan kapasitas 35 liter warna ungu yang sebenarnya sudah saya incar waktu searching di websitenya Consina juga hehehe. Sebetulnya ada warna biru dan hijau juga sih, tetapi supaya terlihat lebih girly, saya pilih yang warna ungu saja hehehe.

69037911_5416421b3ebf3   DayPack-Surrey-35L sandal_eiger

 Perlengkapan hiking yang baru dibeli nih 🙂

Begitulah saya membeli perlengkapan untuk trip kali ini.Saya juga sempat membeli cokelat dan snack untuk persiapan bekal pribadi selama perjalanan nanti. Tidak lupa, saya juga meminjam jaket tebal milik kakak saya yang sebelumnya pernah saya pakai ketika wisata ke Bromo dengan teman-teman kantor, mengingat pesan beberapa orang yang mengatakan bahwa temperature di Dieng pada bulan-bulan ini sangat dingin, bahkan bisa mencapai minus derajat Celsius! Yang jelas, saya berusaha melengkapi semua peralatan untuk memastikan perjalanan nanti lancar dan perlengkapan saya komplit demi kenyamanan. Oh iya, ternyata saya bukan satu-satunya yang ribet membeli berbagai perlengkapan untuk trip kali ini lho. Asmi juga ternyata membeli sleeping bag merek Eiger (yang ukurannya..wow..besar sekalii..) serta sebuah tas carrier merek Eiger juga (ini nih yang namanya karyawan World Class company sejati 🙂 ). Tas carrier Asmi ini berukuran 55 Liter..ini kalau saya pakai sih saya bakal kelihatan seperti kura-kura hehehe.

Selain keperluan pribadi, kami juga mempersiapkan keperluan grup seperti tenda, matras, kompor, dan nesting. Soal obat-obatan sih sudah dihandle oleh Mas Vickie. Puji Tuhan, semua kebutuhan grup ini bisa kami dapatkan dengan jumlah yang mencukupi. Walaupun nantinya jumlah pesertanya juga bertambah, untungnya jumlah perlengkapan grup juga masih mencukupi.

Perihal transportasi dan akomodasi juga kami persiapkan. Kami yang berangkat dari Tuban berencana untuk bermalam dulu di Surabaya hari Rabu malam, baru keesokan harinya kami akan naik kereta ke Yogyakarta. Nah, Yogyakarta inilah yang rencananya akan menjadi meeting point kami dengan traveller yang lain (yang dari Bandung dan Jakarta). Kami pun membeli tiket kereta secara online di kantor (ini salah satu cara mengoptimalkan fasilitas kantor hehehe). Saya, Asmi, Mas Bambang, Mas Herman, Jafar, dan Wima memesan tiket bersama, sedangkan Mas Vickie memesan tiketnya sendiri tapi untuk kereta yang sama. Kami memesan tiket KA Pasundan yang akan berangkat hari Kamis pagi pk 09.10 WIB dari Stasiun Gubeng, Surabaya menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Kereta ini persis sama dengan kereta api pertama yang saya naiki dulu waktu mau ke Singapura. By the way, ternyata di antara kami berenam, ada juga beberapa orang yang baru pertama kali ini naik kereta lhoo…hehehe. Saya jadi bisa sedikit berbangga walaupun baru dua kali juga naik kereta api :).

Nah, perihal cost alias biaya perjalanan, dari hasil hitung-hitungan kasar yang sudah dibuat oleh team leader kami, Mas Vickie, biaya travelling ini per orangnya dipatok Rp 350.000,00 sudah termasuk biaya makan siang dan sarapan di Yogyakarta, tiket DCF yang seharga Rp 125.000,00 tadi, serta biaya transportasi dari Yogyakarta ke Dieng. Saya pun diminta untuk menjadi ‘bendahara’ alias pengepul duit untuk trip ini. Mungkin wajah saya ini sudah ada bayangan duitnya ya, karena sering sekali saya didapuk menjadi bendahara hahaha. Kami pun mulai menyetorkan biaya perjalanan yang waktu itu dibilang paling lambat dikumpulkan tanggal 19 Agustus 2014, walau pada akhirnya banyak yang mundur juga hehehe.

Kami baru mulai packing H-1 keberangkatan kami ke Surabaya. Maklum lah, orang-orang sibuk semua..pegawai kantoran..hahaha. Saya pun berusaha menata barang-barang bawaan saya, termasuk sleeping bag yang cukup memakan tempat di tas saya. Setelah saya packing, akhirnya sleeping bag baru saya terpaksa harus saya letakkan di luar tas karena isi tas saya sudah penuh! Saya juga tidak membawa tas kecil. Semua barang saya masukkan di dalam tas daypack Consina baru saya :). Jujur agak sullit memasukkan semua barang ke dalam tas ini, apalagi tas saya ini modelnya air comfort (ada jarak antara punggung kita dengan permukaan tas yang memungkinkan sirkulasi udara sehingga punggung tidak terasa panas dan akan lebih nyaman tentunya). Nah, kelemahan dari tas model ini, space untuk menyimpan barang jadi berkurang deh..tapi ya syukurlah bawaan saya masih bisa masuk ke dalam tas (kecuali sleeping bag dan salah satu jaket saya).

To be continued ~ Day 0 : Road to Surabaya

Advertisements

One thought on “Trip to Dieng and Prau Mountain (Preparation)

  1. Pingback: MENGAGUMI INDAHNYA NEGERI DI ATAS AWAN | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s