Trip to Singapore-Malaysia (Day 4 ~Universal Studio Part 2 and Sentosa Island)

Menjelang pukul lima sore, tampak beberapa cowok berpakaian seragam seperti seragam basket sedang mempersiapkan diri untuk suatu atraksi. Para penonton pun mulai berbaris dan duduk rapi di depan gedung Palace World Premiere. Barisan duduk penonton itu memenuhi setengah lebar jalan di depan gedung itu. Kami pun tertarik untuk menyaksikan atraksi apa yang akan dilakukan oleh cowok-cowok ini. Di tengah persiapan menonton itu, saya melihat seorang tokoh fenomenal tengah berfoto bersama beberapa pengunjung. Tokoh itu adalah Marilyn Monroe! Dengan gaun putih dan rambut blondenya, tokoh ini tampak asyik berpose dengan para penggemarnya. Saya spontan memberitahu Vickie bahwa ada Marilyn Monroe yang sedang foto-foto dengan para penggemarnya. Awalnya dia sepertinya ragu untuk ikut berfoto, tapi tiba-tiba dia berkata mau foto bersama idola legendaris itu J. Rupanya Vickie tadi termasuk beruntung lho, karena ternyata jumlah penggemar yang diizinkan foto dengan Marilyn Monroe tadi dibatasi (mungkin karena show nya Marilyn Monroe akan dimulai juga). Nah, Vickie tadi adalah orang terakhir yang diizinkan foto sore itu! Hahaha..ya kalau rezeki memang nggak akan lari ke mana kok. Setelah berfoto-foto, Vickie kembali dengan wajah sumringah. Ia pun duduk dan bersama-sama kami bersiap untuk menyaksikan atraksi ini.

Ternyata oh ternyata…lima orang cowok kece ini rupanya dancer! Mereka sempat membangkitkan semangat penonton dengan yel-yel dan meminta penonton untuk bertepuk tangan supaya mereka juga semangat nanti ngedance nya (ya iya lah, kalau ngedance suasananya hening bisa mati kutu tuh dancernya 🙂 ). Para dancer ini menyapa para penggemar berdasarkan asal negaranya. And you know what, negara pertama yang disebutkan adalah… Indonesia! Hahaha…saya juga nggak tahu kenapa Indonesia yang disebutkan pertama kali, mungkin mereka tahu kalau orang Indonesia itu populasi turis terbesar di Singapura :). Setelah puas mendapat sorakan penyemangat dari penonton, musik pun mulai diperdengarkan dan para dancer telah siap pada posisinya masing-masing.

Gerakan-gerakan khas ala dancer pun ditampilkan dengan luwes dan apik. Sorakan dari penonton semakin memeriahkan suasana dan menambah semangat para dancer ini. Sesekali mereka unjuk gigi kemampuan individu dengan melakukan gerakan-gerakan yang memancing sorakan meriah dari penonton, tetapi ada pula beberapa kesempatan dimana mereka sengaja menunjukkan gerakan-gerakan centil yang memancing gelak tawa penonton. Overall, sebagai penikmat seni saya rasa atraksi ini cukup menarik dan menghibur!

P1010054 P1010065

Foto sama idolanya nih :p        Aksi para dancer mendukung si bocah untuk dance                                  

Nah, selesai berunjuk kemampuan, para dancer ini kemudian meminta sukarelawan dari penonton. Ada empat orang yang maju ke depan: seorang pemuda dengan perawakan cukup kekar berkulit gelap, seorang pemuda keturunan China,  dan dua orang anak kecil: yang seorang keturunan India, yang seorang lagi keturunan China. Keempat orang ini awalnya diminta untuk melakukan gerakan wave lalu dikembangkan lagi dengan gerakan lain. Satu hal yang menjadi perhatian adalah salah satu anak yang keturunan China tadi (sepertinya usianya juga paling muda sih) tidak bergerak ketika gerakan wave dilakukan. Dia hanya berdiri sambil membentangkan tangannya, sampai-sampai seorang dancer harus membantu anak itu untuk menggerakkan tangannya! Ketika si dancer menggerak-gerakkan anak tadi, anak itu juga tidak menunjukkan ekspresi apapun, ekspresinya datar-datar saja…hahaha..ini yang semakin membuat penonton merasa geli. Nah, pada sesi terakhir, keempat orang sukarelawan tadi diminta untuk unjuk gigi secara individu kemudian akan diikuti dengan jam session dengan para dancer. Kedua pemuda tadi menunjukkan gerakan cukup luwes dengan gerak dancenya, sementara si bocah India juga cukup membuat kagum dengan gerakan break dance nya. Akhirnya…tibalah giliran si bocah cilik tanpa ekspresi tadi..penonton sudah penasaran gerakan seperti apa yang akan ditampilkan bocah itu. Rupanya ia juga berusaha melakukan gerakan patah-patah, tapi tetap saja gerakannya itu mengundang tawa. Para dancer pun mendukung bocah tadi dengan dance bersama (so nice deh kakak-kakak ini 🙂 ). Akhirnya, para sukarelawan dance tadi kembali dan para dancer pun kembali mempertontonkan aksi dance mereka yang enerjik. Para penonton memberikan applause meriah atas penampilan para dancer itu. Di akhir acara, ada beberapa orang yang berfoto bersama para dancer. Kami berempat memilih untuk berjalan-jalan keliling area USS sekalian persiapan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.

Seperti telah dijanjikan Vina kepada Ricko (yang sejak awal ngebet membeli souvenir khas Transformer), sebelum pulang kami pun mampir ke toko souvenir Transformer. Ada banyak barang menarik bertema Transformer dijual di sini, mulai dari gantungan kunci, kaos, botol minum, hingga tas dan miniatur Transformer. Vickie sempat membeli botol minum berbahan dasar logam dengan logo Transformer seharga SGD 15, sementara Vina dan Ricko juga sepertinya membeli souvenir sampai seharga SGD 50 karena mereka menggunakan juga kupon diskon souvenir yang didapat waktu kami membeli tiket.

Setelah kembali berfoto di depan bola dunia USS, kami pun berembug mengenai rencana selanjutnya. Tadinya, Vina dan Ricko bermaksud langsung kembali ke hostel, tetapi akhirnya mereka setuju juga untuk menengok Siloso Beach dan pantai lainnya di Pulau Sentosa. Kami pun kembali ke stasiun Sentosa Express lalu turun di stasiun berikutnya, Imbiah Station. Di sini terdapat taman dengan patung Merlion juga! Kami hanya berfoto-foto sebentar di sini tanpa masuk lebih dalam ke taman, sebelum akhirnya kembali ke stasiun Sentosa Express untuk menuju ke stasiun berikutnya, Beach Station. Di sini kami melihat Siloso Beach yang ternyata tak seindah bayangan kami. Soal wisata alam sih, Indonesia masih menang jauh lah daripada Singapura, kata Vickie. Di situ kami hanya berjalan sebentar dan berkeliling. Palawan Beach dan Tanjong Beach pun tak jauh beda dengan Siloso Beach. Dari pinggir pantai kita bisa melihat kapal-kapal dermaga. Kali ini benar seperti apa yang dikatakan Vickie, pantai-pantai di Indonesia masih jauh lebih indah kok hehehe. Di Siloso ini sebetulnya ada atraksi Wings of Time, atraksi pengganti Song of The Sea yang biasanya diadakan di Siloso beach.Akan tetapi, karena kami memang tidak berencana untuk menyaksikannya, jadi kami pun tidak membeli tiketnya.

P1010090 P1010094

Foto-foto di Taman hiburan di Imbiah Station

P1010104          P1010099

Foto bareng elang di Siloso Beach                     Foto di pantai di Beach Station

Selesai melihat-lihat pantai di Pulau Sentosa ini, kami pun kembali menuju Vivocity Mall. Seperti disampaikan di awal tadi, kami tidak perlu membayar lagi untuk naik Sentosa Express jalur kembai ke Vivocity. Di sini kami hanya melihat-lihat mall ini sebentar (toh yang namanya mall ya dimana-mana seperti itu hehehe). Setelah itu kami pun kembali ke Chinatown untuk membeli oleh-oleh dan makan malam. Kami sepakat untuk bertemu di Smith Street dan makan malam di situ pukul sembilan malam. Sementara itu, kami pun berburu oleh-oleh murah meriah di Chinatown.

Saya dan Vickie sempat masuk ke salah satu toko. Di situ saya melihat tas yang cukup bagus dengan harga 10 SGD untuk empat buah tas. Saya dan Vickie pun sepakat untuk join membeli oleh-oleh ini. Ketika melihat-lihat barang-barang di toko itu, saya menemukan lagi tas yang bisa dilipat menjadi kecil dengan harga sama, 10 SGD untuk empat buah tas. Akhirnya kami membeli kedua tipe tas itu. Nah kami pun melanjutkan perburuan oleh-oleh kami. Di seberang toko yang kami masuki tadi, kami melihat kaos Singapore dengan harga 10 SGD untuk 4 buah kaos. Saya membeli satu buah kaos untuk ayah saya, sementara Vickiemembeli tiga kaos untuk kerabatnya. Oh iya, kami juga sempat membeli bolpoin mini dengan gambar Merlion di bagian ujungnya untuk oleh-oleh teman-teman kantor kami. Ketika melihat-lihat barang yang dijual di toko ini, kami menemukan juga tas yang sama yang baru saja kami beli dari toko di seberangnya. Harganya sama sih, SGD 10 untuk empat buah tas, tapi kalau di toko ini masih dapat bonus sebuah dompet..jadi agak menyesal juga, kenapa tadi nggak beli di sini ya hehehe. Kami pun jadi teringat lagi kata-kata bos nya Vickie, ‘ketidaktahuan itu mahal’ 🙂

Dari situ sebetulnya uang SGD kami sudah menipis dan rencananya akan kami pakai untuk makan malam nanti. Tiba-tiba Vickie punya ide untuk menukarkan sisa MYR dengan SGD. Akhirnya kami pun berkeliling mencari money changer. Setelah bertanya kepada seorang penjual, kami pun menemukan money changer dan menukar sisa MYR yang ada pada kami. Lumayan lho, uang hasil penukaran MYR itu kami gunakan untuk beli oleh-oleh lagi nantinya. Sementara karena sudah hampir jam sembilan malam, kami pun berjalan kembali menuju Smith Street. Sebelumnya kami sempat berburu minuman murah dan akhirnya kami menemukan counter minuman seperti  yang ada di Bugis :). Saya membeli wintermelon tea seharga SGD 1.5 sedangkan Vickie membeli lemon tea seharga SGD 1.

Sambil menunggu Vina dan Ricko yang ternyata sempat kembali ke hotel dulu, saya dan Vickie duduk di salah satu meja di Smith Street. Suasana malam hari di Chinatown memang jauh lebih ramai daripada suasana di siang hari. Banyak sekali penjual makanan menjajakan beraneka masakan. Mulai dari masakan ala Chinese sampai masakan ala India pun ada. Vina dan Ricko lebih dulu berkeliling mencari makanan yang cocok. Akhirnya mereka membeli nasi dengan roasted duck seharga SGD 5 per porsi. Saya tertarik juga dengan menu itu, jadi akhirnya saya pun memesan menu yang sama ditambah segelas aloevera seharga  SGD 1.2 (saya lebih banyak minum daripada makan di sini), sementara Vickie memesan nasi dengan sup mutton seharga SGD 6.5. Kami juga sempat memesan roti prata seharga SGD 7 (hasrat makan roti prata yang sempat gagal di Little India akhirnya terlampiaskan di sini hehehe). Ternyata yang namanya roti prata itu kalau di Indonesia namanya Martabak telur! Rasanya juga mirip, bahkan menurut saya sih masih lebih enak (lebih berbumbu) martabak di Indonesia hahaha…. Nah, karena kami sudah terlalu kenyang, akhirnya roti prata yang kami beli tadi hanya kami makan sebagian dan sisanya pun kami bungkus :).

Selesai makan, kami pun kembali melihat-lihat toko souvenir. Saya dan Vickie pun berpisah dengan Vina dan adiknya. Ketika berjalan sambil melihat-lihat, saya melihat sebuah toko yang menjual kaos Singapore dengan desain cukup menarik. Harganya juga sama, SGD 10 untuk 4 buah kaos. Saya pun membeli dua buah kaos dan Vickie juga membeli dua buah kaos. Malam semakin larut. Vickie bermaksud membeli oleh-oleh yang bisa dibagi-bagikan untuk orang banyak. Setelah berkeliling, kami pun kembali ke toko tempat kami membeli kaos pertama kali tadi. Setelah memilih dan memilah, pilihan kami akhirnya jatuh pada gantungan kunci—padahal teman-teman di kantor sudah berpesan supaya oleh-olehnya jangan gantungan kunci karena setiap orang pulang dari Singapore oleh-olehnya selalu sama, itu-itu saja hehehe—oleh-oleh yang murah meriah. Harganya pun tidak jauh  beda dengan harga gantungan kunci yang kami beli di Malaysia. Nah, waktu itu saya masih mengantongi SGD 6. Karena besok pagi juga kami akan mendapatkan SGD 30 dari hostel sebagai pengembalian uang jaminan, kami sepakat untuk menggunakan sekalian SGD 6 itu. Ketika melihat-lihat barang apa yang bisa kami beli untuk kami berdua di situ, si penjual toko yang ternyata mengingat kami pun menyapa kami. Waktu itu tokonya sudah hampir tutup (karena memang sudah malam). Akhirnya saya memutuskan membeli sebuah gantungan handphone dengan inisial huruf pertama nama saya yang dilengkapi hiasan mini Merlion, sementara Vickie membeli sebuah kalung dengan liontin berupa huruf mandarin sesuai dengan shio-nya. Oh iya, soal shio ini Vickie sempat ragu. Kebetulan karena yang tercantum di kalung itu hanya tahun kelahiran, Vickie mengira ia bershio Macan. Tapi saya berusaha meyakinkan bahwa pergantian shio itu tergantung tahun baru Imlek, bukan tahun baru Masehi. Karena tahun baru Imlek dulu terjadi sekitar pertengahan bulan Februari, menurut saya seharusnya Vickie itu masih masuk shio kerbau, sama seperti kakak saya. Karena masih ragu juga (mungkin karena saya seperti keturunan Tionghoa yang abal-abal), akhirnya saya carikan bukti otentik lewat Om Google dan akhirnya dia pun percaya lalu membeli kalung dengan liontin bertuliskan huruf kanji untuk shio ‘The Ox’J.

Setelah puas berbelanja oleh-oleh, kami pun kembali ke hostel. Karena malam ini adalah malam terakhir kami di Singapura, kami pun menata ulang barang bawaan kami. Dengan mengikuti petunjuk pak Senior backpackertraveller, puji Tuhan kedua tas saya masih muat untuk menampung oleh-oleh yang kami beli tadi. Sementara saya mempacking ulang barang-barang bawaan saya, Vickie mencetak boarding pass untuk penerbangan kami besok siang. Berbeda dengan Airasia yang bisa mencetak boarding pass dua belas hari sebelum penerbangan, boarding pass untuk penerbangan dengan JetstarAirways ternyata baru bisa dicetak 48 jam sebelum penerbangan. Karena itu, kami harus mencetak boarding pass di hostel (untunglah di Beary Nice Hostel! ini menyediakan fasilitas free wifi dan printing dengan harga murah). Setelah selesai mencetak boarding pass, packing, dan mencuci muka serta menggosok gigi, saya pun bersiap untuk tidur, sementara Vickie masih sibuk menata barangnya. Malam terakhir perjalanan kami di Singapura…semoga semuanya bisa tidur nyenyak!

To be continued~ Day 5 (Last Day)

Advertisements

One thought on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 4 ~Universal Studio Part 2 and Sentosa Island)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 4 ~Universal Studio Part 1) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s