Trip to Singapore-Malaysia (Day 3 ~ Explore City Hall, Bugis, and Garden by the Bay)

Explore City Hall

Di daerah yang bisa dibilang pusat kotanya Singapura ini kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat dan berfoto dengan latar belakang bangunan serta patung-patung unik yang ada. Seperti saya sebutkan tadi, di Singapura ini banyak sekali bangunan yang unik bentuknya. Kami berjalan menuju kawasan Merlion Park untuk berfoto dengan patung Merlion. Ya, sepertinya nggak afdol kalau pergi ke Singapura tapi belum berfoto bersama si patung singa icon negeri ini. Ternyata lokasi Merlion ini agak jauh juga dari stasiun MRT tadi. Kami sempat menyeberang jalan bersama rombongan anak-anak sekolah yang sepertinya juga menuju ke kawasan Merlion.

Setelah sampai di Merlion, kami pun menikmati keindahan kota Singapura. Dari tempat kami berada, kami bisa berfoto dengan latar belakang Esplanade (gedung yang bentuknya mirip kulit buah durian), Singapore Flyer (bianglala besar), serta Marina Bay Sands, sebuah gedung unik yang terdiri dari tiga gedung tinggi yang seperti menyangga sebuah kapal di atasnya. Katanya sih gedung itu menyatukan hotel, pusat belanja, museum, teater, pameran, bahkan taman di dalamnya, sedangkan bagian atas gedung itu (yang bentuknya seperti kapal tadi) digunakan untuk kasino.

Kami pun mencari spot-spot yang bagus untuk berfoto. Seperti halnya kami, banyak juga orang yang berfoto di situ. Oh iya, kalau berfoto dekat patung Merlion hati-hati dengan semburan airnya ya, kalau terlalu dekat bisa-bisa baju kita jadi basah terkena cipratan air dari semburan air yang keluar dari mulut si patung singa ini :).

P1000791 P1000794

Selesai berfoto ria, kami berniat untuk kembali ke hostel. Kami sengaja tidak mengunjungi Gardens by the bay karena menurut informasi yang didapat Vickie, Gardens by the bay justru lebih bagus dikunjungi malam hari. Akhirnya kami pun bersiap untuk kembali ke hostel. Nah, di sini kami sebenarnya bisa memilih mau naik bus atau kembali ke stasiun MRT. Kebetulan di jalan yang kami lalui tadi ada pemberhentian bus. Kami pun mengecek jalur yang dilewati bus dan akhirnya memutuskan untuk coba naik bus yang melewati Dhobby Ghout lalu dari sana kami akan naik MRT ke Chinatown. Ternyata kali ini kami salah pilih hahaha. Kami naik bus seperti biasa. Beberapa saat kemudian Vickie bertanya kepada sopir bus apakah masih jauh menuju ke Dhobby Ghout. Sopir bus itu hanya berkata ia akan memberitahu kami ketika bus hampir sampai di Dhobby Ghout. Kami pun menunggu dengan sabar. Menunggu, menunggu, dan menunggu…kok tidak sampai-sampai ya? Bahkan kami malah melewati Orchard Road lalu bus berjalan ke arah Jurong, semakin jauh dari tempat tujuan kami. Sopir bus tadi juga tidak berkata apa-apa. Vickie yang mulai lelah menunggu mencoba melihat brosur berisi rute yang dilalui bus. Ternyata bus ini tidak melaju sesuai urutan yang ada di brosur itu. Vickie mulai kesal. Untungnya kekesalannya dilampiaskan menjadi sikap yang positif. Ia mulai mencari stasiun MRT terdekat di peta, juga sambil melihat-lihat di sekitar jalan kalau-kalau ada stasiun MRT di dekat situ. Akhirnya setelah hampir satu jam mengikuti perjalanan di dalam bus yang kami tidak tahu juntrungannya ini, Vickie melihat ada stasiun MRT di dekat salah satu pemberhentian bus. Kami pun turun dari bus itu lalu segera bergerak menuju stasiun MRT yang ternyata berada di daerah Ang Mo Kio. Setelah sampai di MRT kami langsung duduk dan menunggu sampai kami tiba di Chinatown.

Vickie tadi kelihatan begitu capek, bahkan ia langsung tertidur setelah duduk di MRT :). Ya wajar saja sih, seperti tadi saya ceritakan, sepanjang malam perjalanan di bus dari Kuala Lumpur ke Singapura dia tidak bisa tidur. Setibanya di Singapura pun kami hanya beristirahat sebentar lalu segera memulai perjalanan lagi. Niat kami untuk kembali ke hostel lebih awal agar bisa beristirahat sejenak pun kacau gara-gara waktu kami habis di dalam bus yang keliru. Saya maklum saja kalau dia kecapekan. Saya bayangkan juga kalau saya tidak tidur semalaman lalu harus beraktivitas dengan begitu padat, pasti saya juga akan ambruk hahaha.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke stasiun MRT Chinatown. Keluar dari stasiun MRT Chinatown ini ternyata rute yang kami lalui berbeda dengan rute kedatangan kami tadi. Tapi tidak masalah sih, kami tetap bisa kembali ke Beary Nice Hostel dengan berjalan kaki kok :).

20140714_174804

Kurang tidur plus kecapekan –> Tepar 🙂

Sesampainya di Beary Nice Hostel, kami diberi kunci kamar dan diberitahu cara penggunaannya. Kami juga diberitahu bedyang akan kami gunakan di dalam kamar yang berisi lima bed bertingkat plus satu bed itu. Kami pun membawa barang-barang kami masuk ke dalam kamar. Saya memilih bed yang atas, sedangkan Vickie di bed yang bawah. Kami juga mendapat fasilitas loker untuk meletakkan tas kami. Loker ini bisa diberi gembok sendiri (kami sudah mempersiapkan gembok yang kami beli di Ace Hardware Indonesia). Selain itu di setiap bed juga ada fasilitas sambungan listrik, lumayan lah untuk charge handphone masing-masing hehehe. Oh iya perlu diingat, di Singapura ini koneksi listriknya agak berbeda dengan di Indonesia. Jadi, untuk bisa menggunakan charger di sini kita harus menyiapkan kaki tiga (bukan larutan penyegar cap kaki tiga lho 🙂 ) untuk menghubungkan charger kita dari Indonesia yang normalnya berkaki dua ke koneksi listrik di Singapura yang berkaki tiga.

Sore hari ini sebenarnya saya sudah janjian dengan Vina untuk bertemu di Bugis. Waktu itu kami baru tiba di hostel sekitar pukul enam sore. Saya pun menego Vina untuk bertemu jam delapan malam karena kami masih harus bersiap-siap dan mau istirahat sebentar sebelum jalan-jalan lagi. Vina pun setuju dan dia bilang dia akan berangkat duluan, dan nanti kami bisa bertemu di Bugis Junction jam delapan malam. Saya dan Vickie pun menggunakan waktu yang ada untuk mandi, merapikan barang-barang, dan charge handphone serta kamera. Sekitar pukul delapan kurang, kami pun berjalan ke stasiun MRT Chinatown untuk menuju ke Bugis. Di sini lagi-lagi mood saya berubah. Entah apa yang membuat mood saya jelek waktu itu, tapi yang jelas saya lebih banyak diam sepanjang perjalanan ke Bugis. Vickie yang menyadari perubahan ini pun bertanya kepada saya kenapa saya diam saja. Saya hanya menjawab, kalau saya diam itu berarti mood saya sedang tidak baik. Dia hanya perlu diam saja sampai mood saya kembali seperti semula. Hahaha…memang butuh kesabaran ya pergi dengan paraCancerian, karena mood kami memang sering berubah-ubah dengan alasan tak jelas. Tapi seperti saya bilang, kami cepat pulih kok. Jadi ya biarkan saja kami merenung sendiri sampai akhirnya kami sadar sendiri kalau sudah berbuat bodoh dengan merasa kesal sendiri 🙂

Bugis

Akhirnya kami tiba juga di Bugis. Sesuai rencana, kami menunggu di Bugis Junction. Nah di sini sebetulnya saya bermaksud untuk menelpon Vina dan Ricko, tapi ketika saya coba hubungi nomor mereka ternyata tidak bisa. Entah apa yang menyebabkan saya tidak bisa menelpon mereka. Saya pun mengirimkan SMS bahwa kami sudah tiba di Bugis. Karena pulsa Ricko habis, dia jadi tidak bisa membalas SMS saya (soal pulsa habis ini sebelumnya saya sudah diberitahu lewat whatsapp lewat fasilitas free wifi di hostel). Di sini saya sempat bingung juga bagaimana ya caranya supaya bisa bertemu. Vickie menyarankan untuk sambil jalan saja di dalam Bugis Junction Mall, semoga bisa bertemu di dalam. Akhirnya sambil jalan-jalan di mall, saya mengirimkan SMS kepada Ricko untuk bertemu di depan mall pukul setengah sembilan malam. Puji Tuhan akhirnya kami bisa bertemu juga di depan mall :). Vina dan Ricko memakai kaos bertuliskan “I Love Singapore”, ternyata kaos itu mereka beli di Chinatown Singapura karena nyaris kehabisan pakaian hahaa. Ketika bertemu dengan Vina dan Ricko, mereka tampak membawa barang-barang belanjaan…wah ternyata habis borong-borong nih mereka hahaha. Mereka bilang sudah berkeliling mall sejak jam tujuh tadi dan sudah membeli beberapa barang juga. Akhirnya kami putuskan untuk sekalian mencari makan malam. Kami sempat melihat-lihat food court di dalam mall, tetapi kok ya sepertinya mirip dengan mall-mall biasa ya hehehe. Vickie mengusulkan untuk makan di Albert Centre, food court di Bugis juga, tapi di luar mall. Kami pun setuju dan berangkat menuju Albert Centre.

Di Albert Centre, pilihan makanannya sebenarnya cukup beragam, mirip dengan Tekka Centre dan Geylang Serai Market. Namun, mungkin karena buka sejak siang hari, jadi malam harinya ada beberapa gerai yang tutup. Kami pun memesan makanan ala Chinese (again! Hahaha). Vina dan Ricko memesan nasi dan ayam goreng, sementara Vickie memesan nasi dengan olahan daging babi seharga SGD 6.8. Ada yang lucu waktu kami mau memesan makanan di situ. Waktu itu kami padahal baru melihat-lihat saja menu yang ada dan bermaksud untuk tanya-tanya dulu, eh malah langsung diorderkan oleh si penjual hahaha. Saya sendiri memesan nasi plus baikut di gerai lain seharga SGD 9 seporsi. Memang agak mahal sih harga makanan yang kami beli, tapi melihat porsi makanannya sih menurut saya harga segitu termasuk wajar lah (untuk di Singapura lho ya…) Kami pun menyantap makan malam kami sembari bercerita pengalaman perjalanan kami masing-masing. Ternyata Vina dan Ricko yang sampai di Singapura hari Minggu siang juga sudah berkeliling ke banyak tempat.

Oh iya, sekedar pendapat pribadi, menurut saya masakan Chinese food di Singapore ini agak kurang ‘nendang’ bumbunya. Rasa masakannya agak plain. Kata Vina sih, makanan di Singapore memang seperti itu, bumbunya mungkin kurang terasa bagi lidah orang Indonesia. Ya yang penting kami bisa menikmati makanannya 🙂

P1000835 P1000850

Bugis Street di malam hari                       Ketemu juga dengan Vina dan Ricko 🙂

Selesai makan, kami sempat jalan-jalan sebentar di pasar malam di Bugis Street ini. Beragam barang dijual, mulai dari pilihan oleh-oleh seperti gantungan kunci, bolpoin, pakaian, sampai hiasan-hiasan rumah. Saya dan Vickie sempat membeli minuman di Bugis Street seharga SGD 1 per gelas. Di sini kami berpisah dengan Vina dan Ricko yang sudah mau kembali ke hostel, sementara saya dan Vickie masih mau pergi ke Garden by the bay yang sudah dikunjungi Vina tadi sore. Oh iya, sebelum berpisah, Vina sempat menyerahkan tiket masuk USS plus voucher makan dan voucher souvenir milik saya dan Vickie. Memang saya sengaja titip sekalian dibelikan tiket ini oleh Vina dari Indonesia.Setelah itu saya dan Vickie pun berjalan menuju stasiun MRT Bugis untuk menuju Gardens by the bay.

Garden by the Bay

Sesampainya di Garden by the Bay, dari gerbang masuk sudah tampak keindahan Garden by the bay di malam hari. Kami pun berjalan mendekat memasuki taman wisata flora ini. Di dekat pintu masuk, terdapat danau yang memisahkan lokasi kami dengan tempat wisata Garden by the bay. Setelah mencoba mengambil foto di situ (agas sulit ya karena suasananya gelap berhubung sudah malam 🙂 ), kami pun naik hendak menuju jembatan yang akan membawa kami menyeberangi ‘danau’ di bawah tadi. Namun, kami memutuskan untuk naik sebentar ke bagian atas dekat pintu masuk. Di sini kita bisa melihat pemandangan kota Singapura dari kejauhan serta lalu lintas jalan Singapura di malam hari. Kerlip lampu yang menghiasi suasana malam di kota Singapura ini sungguh menarik. Sementara Vickie sibuk mengambil foto keindahan lampu di Garden by the Bay, saya pun berjalan-jalan berkeliling melihat-lihat sekitar. Ternyata banyak juga pengunjung yang memilih untuk datang malam hari. Meskipun sudah tidak bisa masuk ke dalam taman, mereka juga sudah cukup puas melihat-lihat Garden by the bay dari sisi luarnya. Banyak juga fotografer yang lengkap dengan kamera dan tripodnya tampak berusaha mengabadikan keindahan Garden by the bay di malam hari.

Suasana yang hening ditemani keindahan pancaran lampu berwarna-warni di Garden by the bay ini membuat saya tiba-tiba terkenang akan kilas balik kehidupan saya: betapa banyak berkat yang telah saya terima dari Tuhan, betapa banyak kebaikan yang boleh saya terima melalui orang-orang di sekitar saya. Saya sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba teringat begitu, tetapi yang jelas suasana di Garden by the Bay itu menghanyutkan pikiran saya dan membawa saya dalam permenungan yang lebih dalam.

P1000869 P1000868

     Garden by the bay at night                                      Marina Bay Sands at night

Setelah puas mengambil foto, kami berjalan melewati jembatan. Di ujung jembatan itu kami bisa melihat sosok di balik keindahan cahaya lampu Garden by the bay tadi dari dekat. Ternyata kalau dilihat dari dekat, kita bisa tahu bahwa sebenarnya keindahan yang terpancar di Garden by the Bay ini tercipta dari sesuatu yang cukup sederhana. Kami hanya sebentar melihat-lihat di situ lalu kemi putuskan untuk kembali ke pintu masuk. Berhubung sudah malam, kami putuskan untuk kembali ke hostel. Rencananya besok pagi kami akan menjajal petualangan di Universal Studio.

Kami pun naik MRT ke Chinatown lalu kembali ke hostel. Setelah beres-beres sebentar, mencuci muka, dan gosok gigi, saya pun bersiap untuk tidur (Vickie sepertinya sudah tidur duluan haha). Selamat malam semuanya, selamat beristirahat dan bersiap untuk petualangan besok! 🙂

To be continued Day 4 ~ Universal Studio and Sentosa Island!

Advertisements

One thought on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 3 ~ Explore City Hall, Bugis, and Garden by the Bay)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 3 ~ Beary Nice Hostel, Singapore National Museum, Orchard Road, and Little India) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s