Trip to Singapore-Malaysia (Day 3 ~ Beary Nice Hostel, Singapore National Museum, Orchard Road, and Little India)

Sekitar pk 04.00 saya dibangunkan oleh Vickie untuk segera menuju imigrasi Malaysia. Tidak terasa kami sudah sampai di Johor Baru lagi. Setelah melewati imigrasi Malaysia, kami segera kembali ke bus dan menuju ke Woodland Checkpoint untuk mengurus imigrasi Singapore. Ketika sudah mengantre dan akhirnya tiba di depan petugas, saya baru diberitahu bahwa ternyata kami harus mengisi lagi form embarkasi hahaha. Akhirnya jadilah saya dan Vickie mengisi lagi form embarkasi itu. Setelah selesai mengisi, kami pun kembali mengantre. Seusai proses di imigrasi, kami pun kembali lagi ke bus yang sudah menunggu di tempat pemberhentian bus. Dari situ kami diantar sampai ke Golden Mile Complex, tempat pemberhentian terakhir bus Konsortium (sepertinya juga tempat pemberhentian terakhir untuk bus-bus dari KL ke Singapore lainnya). Kami tiba sekitar pk 04.30, masih sangat pagi. Langit pun masih gelap..ya iya lah..di sini langit baru mulai terang sekitar pukul tujuh. Karena sarana transportasi umum di Singapore (kecuali taksi) baru mulai beroperasi sekitar pk 06.00, kami pun harus menunggu di situ. Vickie sempat pergi sebentar melihat-lihat sekitar. Ternyata dia pergi ke kafetaria di dekat situ dan sempat menyaksikan akhir pertandingan final World Cup 2014 (katanya mau pergi sebentar eh ternyata pergi nonton..gak ngajak-ngajak haha). Setelah menunggu cukup lama, kami pun berjalan menuju tempat pemberhentian bus dan menunggu bus yang akan membawa kami ke Chinatown. Dua bus lewat dan tidak ada yang menuju ke Chinatown. Kami pun curiga dan mengecek kembali jalur bus yang lewat terminal tersebut. Ternyata…memang tidak ada bus menuju Chinatown yang lewat pemberhentian bus itu..hahaha. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju stasiun MRT terdekat, yaitu stasiun Nicoll Highway. Dari situ kami naik MRT menuju ke Chinatown(sempat change jalur MRT juga di stasiun Promenade). Stasiun MRT Chinatown ini mungkin salah satu stasiun MRT terbesar yang pernah kami temui. Setibanya di stasiun ini, kami mengikuti papan penunjuk menuju ke hostel kami, Beary Nice Hostel di Smith Street. Tidak sulit menemukan Smith Street setelah kami mengecek peta. Namun demikian, kami tidak serta merta menuju ke hostel. Kami sempat mampir di Seven-Eleven untuk membeli Sim Card, tetapi ternyata mereka tidak menjualnya. Sayang sekali pelayanan di Seven-Eleven ini kurang memuaskan. Pelayannya sama sekali tidak ramah!

20140714_052004

Ngantuk karena nggak bisa tidur selama di bus KL-Singapore 🙂

Vickie yang tidak bisa tidur sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur ke Singapura tampak mengantuk dan kelelahan. Kami pun memutuskan untuk bersantai sejenak di Smith street. Di sepanjang Smith Street (dan juga jalan lain di Pecinan) telah dipenuhi dengan meja dan kursi yang ramai digunakan pengunjung ketika malam hari. Kami bersantai sejenak di situ sambil menikmati burger yang kami beli di Petaling Street kemarin malam J. Sayangnya rasanya kurang sip..saya kira burger ayam ini menggunakan daging ayam filet, ternyata isinya abon ayam dan telur dadar hahaha. Ya setidaknya cukup lah untuk mengganjal perut kami.

Sekitar satu jam kami bersantai di situ. Di Chinatown ini ada free wifi selama lima belas menit dengan login terlebih dahulu menggunakan nomor handphone. Saya sempat sih menggunakan fasilitas ini, hanya untuk sekedar membuka facebook dan whatsapp sebentar. Setelah merasa cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Beary Nice Hostel yang mestinya tidak jauh dari situ. Ketika melewati Smith Street ini kami tidakmelihat pintu masuk Beary Nice Hostel. Ternyata setelah dilihat lagi, Beary Nice ini ada di lantai atas dengan pintu masuknya berada di sebelah sebuah rumah makan. Kami pun naik dan masuk ke Beary Nice Hostel tersebut.

Beary Nice Hostel

Pelayanan di Beary Nice Hostel ini menurut saya lebih baik daripada Serenity Hostel. Kami tidak perlu negoisasi atau membujuk petugas hostel untuk diizinkan menggunakan kamar mandi dan menitipkan barang-barang kami. Bahkan kami ditawari untuk breakfast (padahal seharusnya hari itu kami belum mendapatkan fasilitas breakfast). Di situ saya sekalian mengisi form check in sekaligus menyerahkan ‘uang jaminan’ sebesar SGD 15 per orang. Meskipun belum bisa masuk ke kamar karena bed kami masih digunakan orang lain yang belum check out, kami diizinkan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di situ, termasuk free wifi. Dengan ramah, petugas hostel ini juga menunjukkan kepada saya tempat mesin cuci yang bisa digunakan apabila saya memerlukannya.

Kwitansi uang jaminan Beary Nice Beary nice hotel voucher

Kuitansi uang jaminan SGD 15 per orang                               Voucher Beary Nice Hostel! 

Kami sempat bersantai sejenak di hostel sambil menonton film Frozen yang tengah diputar di televisi waktu itu. Sementara Vickie mengupload beberapa fotonya ke Facebook, saya mandi lebih dulu lalu kembali duduk santai menyaksikan film tadi. Setelah Vickie selesai bersiap-siap, kami pun berangkat menuju ke Singapore National Museum. Dari Chinatown, kami naik MRT menuju stasiun Dhobby Ghaut. Oh iya, sempat ada kejadian lucu lho di stasiun MRT Chinatown ini Karena stasiun MRT Chinatown ini sangat luas, kami sempat bingung bagaimana menuju MRT rute Dhobby Ghout. Ketika kami sudah masuk melewati mesin scan card, kami malah kebingungan lalu akhirnya keluar lagi. Ternyata jalur yang kami lalui tadi sudah benar dan kami hanya perlu turun ke lantai bawah dengan eskalator (yang tidak kami lihat sebelumnya). Akhirnya kami pun masuk lagi melewati mesin scan kartu hahaha. Jadinya saldo di kartu kami sempat terpotong sebesar SGD 0.8 hanya karena kami salah jalan menuju ruang tunggu MRT :).

Singapore National Museum & Singapore Art Museum

Dari stasiun MRT Dhobby Ghout, kami berjalan kaki menuju ke Singapore National Museum. Dengan berbekal peta, kami akhirnya berhasil sampai di Singapore National Museum. Dari informasi yang kami peroleh sebelumnya, untuk masuk dan menyaksikan isi dari museum ini, kami harus membayar tiket masuk sebesar sekitar SGD 10 per orang.

P1000710 P1000725

Setibanya di Singapore National Museum, kami sempat berfoto di depan gedung museum tersebut. Gedung museum ini tampak seperti  gedung-gedung pemerintahan tempo dulu. Di halamannya terdapat balok-balok tulisan yang membentuk kata ‘masak’ (entah apa artinya). Kami pun masuk ke dalam gedung museum ini. Vickie sempat agak malas masuk ke dalam, tapi saya sebenarnya ingin melihat isi museum itu. Ya masa sudah sampai di sini kita hanya foto-foto di luar museum saja. Bayangan saya sih museum ini seperti Museum Ronggowarsito yang ada di Semarang, isinya sangat beragam dan sangat informatif. Karena itu saya pun membujuk Vickie untuk masuk ke dalam dan kalau perlu membayar tiket masuk pun tidak masalah (sebenarnya masalah utamanya berat di ongkos sih hehehe). Setelah masuk ke dalam, pemikiran saya tadi pun berubah. Ketika masuk dan melihat list benda yang dipamerkan di setiap lantai museum, saya jadi tidak lagi merasa tertarik karena ternyata museum ini banyak berisi lukisan dan foto. Saya yang bukan penikmat lukisan jujur saja merasa sayang mengeluarkan uang SGD 10 hanya untuk melihat-lihat foto dan lukisan. Akhirnya kami putuskan untuk berkeliling di lantai dasar saja. Setelah puas berfoto di sini, kami pun lanjut ke tempat tujuan berikutnya, yaitu Singapore Art Museum. Nah, kalau yang satu ini, saya sudah bilang bahwa saya kurang tertarik masuk ke dalam. Selain karena harus membayar tiket masuk (sekitar SGD 10 per orang juga), seperti yang saya sampaikan tadi, saya bukan pecinta foto atau lukisan, sementara dari informasi yang saya peroleh melalui websitenya, Singapore Art Museum ini berisi pameran foto dan lukisan. Akhirnya jadilah kami hanya berfoto di luar gedung museum seni tersebut.

Dari Singapore Art Museum, menurut itinerary kami seharusnya kami kembali ke hostel lalu kemudian menuju ke Orchard Road. Karena lokasi Orchard berdekatan dengan lokasi kami saat itu, rasanya nanggung juga kalau kembali ke hostel lalu nanti balik lagi ke sini. Akhirnya kami putuskan untuk langsung lanjut jalan-jalan ke Orchard. Kami pun berjalan kaki dari Singapore Art Museum tadi menuju ke Orchard Road. Dalam perjalanan menuju Orchard, kami sempat juga berfoto di depan School of Art Singapore (SOTA).

Di Singapore ini banyak sekali bangunan yang bentuknya unik. Jadi tidak bosan rasanya melihat bentuk-bentuk bangunan di sini. Ini juga yang mungkin menjadi alasan kuat Singapura bisa menjadi tempat wisata kota yang sangat menarik.

Orchard Road

Kami pun berjalan menyusuri Orchard Road. Ternyata yang namanya Orchard Road itu panjang juga ya hehe. Kami berencana untuk menuju ke Lucky Plaza karena saya mau membeli simcard untuk berkomunikasi dengan Vina yang berangkat dari Semarang, serta mencari Uncle Ice Cream yang sering disebut-sebut para wisatawan Singapore ketika berkunjung ke Orchard. Vickie sendiri sudah ngidam sejak dari Indonesia. Bahkan sepertinya buat dia yang penting bisa mencicipi Uncle Ice Cream ini, terserah deh makan siangnya mau apa. Apapun makannya, yang penting harus makan Uncle Ice Cream:). Vickie sempat putus asa karena mengira hari itu sang pedagang Uncle Ice Cream tidak berjualan. Lalu saya bilang, sepertinya Uncle Ice Cream itu dijual di dekat Lucky Plaza. Jadilah kami semakin bersemangat untuk menuju Lucky Plaza:).

Sepanjang Orchard Road ini banyak sekali mall dan countercounter merek ternama. Oh iya, salah satu hal yang sangat mengesankan dan menyenangkan bagi saya selama berwisata di Singapore ini adalah betapa ramahnya kota ini kepada para pejalan kaki. Hampir di setiap jalan raya ada lampu khusus untuk pejalan kaki yang dilengkapi dengan tombol untuk menyalakan lampu hijau. Jika lampu penyeberangan ituberwarna hijau artinya para pejalan kaki boleh menyeberang. Sebaliknya, ketika lampu berwarna merah, pejalan kaki tidak boleh menyeberang. Selain itu, setiap kendaraan benar-benar menghormati penyeberang yang melalui zebra cross. Jika ada pejalan kaki yang hendak menyeberang melalui zebra cross, kendaraan akan memperlambat lajunya dan mempersilakan pejalan kaki untuk menyeberang lebih dahulu. Hal ini sangat berkesan buat saya, karena di Indonesia kenyataan yang terjadi kontras sekali. Saya jadi ingat kata-kata Tante saya yang sempat berkunjung ke Indonesia dari Belanda. Beliau waktu itu berkata, “Percuma saja di Indonesia dikasih zebra cross kalau mobil-mobil dan kendaraan lain nggak mau ngalah sama pejalan kaki,”. Sayangnya, kenyataannya itulah yang terjadi di Indonesia. Bahkan mungkin bagi kita, hal itu sudah menjadi sesuatu yang wajar. Ketika akan menyeberang, walaupun sudah lewat zebra cross, bukan kendaraan yang mengalah pada pejalan kaki melainkan pejalan kaki yang harus mengalah pada kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan menurut saya. Saya membayangkan jika orang-orang di Singapura ini berkunjung ke Indonesia dan menyeberang lewat zebra cross…kira-kira bagaimana pendapat mereka, ya?

P1000742 P1000746

                                                 Foto-foto di sepanjang Orchard Road

Setelah berjalan cukup lama, kami pun tiba di Lucky Plaza. Waktu itu tampak sang ‘kakek’ penjual Uncle Ice Cream sedang mempersiapkan dagangannya di dekat Lucky Plaza. Sepertinya beliau juga baru saja sampai di situ. Kakek dan nenek penjual Uncle Ice Cream itu menggunakan kereta mini dengan tulisan merek Walls, mirip dengan gerobak es krim Walls yang digunakan di Indonesia. Karena kami merasa sepertinya persiapan kakek ini masih agak lama sebelum kami bisa membeli es krim yang terkenal itu, kami pun memilih untuk masuk ke Lucky Plaza terlebih dahulu. Kami segera menuju ke Seven-Eleven untuk membeli simcard, tapi ternyata stok di situ sudah habis. Kami pun disarankan untuk membeli di counter handphone di dekat situ, tetapi ternyata setelah kami cek harga di counter itu mahal sekali..SGD 28 untuk simcard operator Starhub. Kami pun mencoba naik ke lantai dua dan melihat counter handphone lagi. Di situ saya membeli simcard Starhub seharga SGD 18 dengan fasilitas internet 1GB plus pulsa untuk telpon dan SMS.

Setelah itu kami berkeliling Lucky Plaza sebentar sambil melihat-lihat barang-barang yang dijual di sana. Ternyata isinya ya nggak jauh-jauh beda lah dengan plaza-plaza di Indonesia. Pakaian, makanan, produk-produk rumah tangga, alat elektronik..mungkin ya yang namanya plaza memang seperti itu saja hehehe. Karena tidak berencana membeli sesuatu, kami pun hanya melewati toko-toko tersebut. Setelah itu kami berencana untuk membeli Uncle Ice Cream yang kami harapkan sudah selesai persiapannya. Ternyata…setelah kami kembali pun, si kakek dan nenek tadi masih belum selesai bersiap-siap. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli minuman di Lucky Plaza. Kami membeli Lemon and Barley ice seharga SGD 1.2 per gelas. Untuk membeli minum ini saja kami harus mengantre lho..mungkin karena dibandingkan yang lain, counter ini yang harga minumannya lumayan murah. Minuman ini lumayan enak juga kok dan cukup lah untuk mengobati rasa haus kami. Setelah membeli minuman tadi, kami pun kembali ke dekat kakek penjual Uncle Ice Cream. Kali ini ternyata beliau sudah mulai melayani pembeli. Ketika kami datang, antrean sudah terbentuk. Rupanya sejak tadi pun sudah banyak orang yang menanti untuk bisa membeli Uncle Ice Cream ini. Kami pun ikut mengantre. Nah, dalam bayangan kami yang namanya Uncle Ice Cream ini hanya ada satu macam rasa saja. Eh ternyata…pilihan rasanya ada banyak, mulai dari vanilla, coklat, termasuk rasa buah-buahan. Vickie memilih membeli es krim rasa coklat sedangkan saya memilih rasa blueberry. Harga Uncle Ice Cream ini SGD 1.2 per potongnya. Rupanya si opa ini sudah punya stok es krim balok dengan berbagai rasa. Ketika ada yang membeli, beliau tinggal memotong es krim balok itu dengan ketebalan tertentu lalu menyelimuti es krim balok tersebut dengan roti tawar yang berwarna-warni.

P1000750 20140714_085659

                                                The famous Orchard ‘Uncle Ice Cream’

Saya dan Vickie pun mulai menikmati Uncle Ice Cream yang terkenal itu di tempat duduk di dekat situ. Bersama kami, banyak juga pembeli es krim yang langsung menikmati es krimnya sambil duduk-duduk di situ. Mulai dari anak-anak sampai om-om dan tante-tante yang sudah berumur pun tampak senang menikmati es krim lezat ini. Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang-orang di blog mereka, Uncle Ice Cream ini nikmaaat sekali. Es krimnya yang berbentuk balok tadi ternyata lembut sekali ketika digigit. Rasa blueberry yang saya pilih pun sangat terasa tapi tidak berlebihan. Rasanya seperti bercampur dengan rasa vanilla atau susu. Roti tawar yang menyelimutinya juga enak dan lembut. Pokoknya tidak rugi dan tidak menyesal deh mengeluarkan SGD 1.2 untuk bisa menikmati Uncle Ice Cream ini..hmmm 🙂

Sembari menunggu saya menghabiskan es krim, Vickie yang sudah lebih dulu menghabiskan es krimnya (ngidamnya akhirnya keturutan juga..hahaha) pergi melihat-lihat rute bus di pemberhentian bus dekat Lucky Plaza, mungkin sambil mengambil beberapa foto. Setelah itu kami menyusun ulang jadwal perjalanan kami. Seharusnya sih kami makan siang di Orchard Road lalu menuju ke City Hall untuk foto-foto dengan Merlion. Nah, karena waktu itu kami merasa masih punya cukup waktu, akhirnya kami putuskan untuk sekalian mengunjungi Little India yang sejatinya akan kami kunjungi besok pagi sebelum ke Universal Studio (USS). Di sana kami berencana untuk sekalian makan siang di Tekka Center, food court terkenal di daerah itu.

Little India

Kami pun mencoba naik bus bertingkat dari Orchard menuju ke Little India.Vickie sempat menanyakan kondisi mamanya yang rencananya akan menjalani operasi pengambilan batu ginjal di Yogyakarta, dengan nomor yang baru kami beli di Lucky Plaza tadi. Rencananya operasinya akan dilakukan hari Rabu. Semoga semuanya lancar dan tante bisa sehat kembali seperti sedia kala, amiiin.

Saya sempat bertanya kepada Vickie, kalau duduk di atas bagaimana kita bisa tahu kita sudah sampai di Little India? Nah, kebetulan di dekat kami duduk seorang keturunan India. Vickie pun berkelakar bahwa kalau orang itu turun, berarti kita sampai di Little IndiaJ. Syukurlah ada papan petunjuk yang memudahkan kami untuk tahu bahwa kami sudah hampir sampai di Little India. Kami pun turun dari bus (ternyata orang India tadi malah tidak turun hahaha).

Dengan berbekal peta, kami pun mencari Tekka Center untuk makan siang di sana. Setelah agak nyasar sedikit, kami pun berhasil menemukan Tekka Center (ternyata kami sempat memutar padahal lokasi Tekka Center ini ternyata dekat dengan tempat kami turun dari bus tadi J ). Nah, seperti halnya di food court lain, di sini tersaji beragam pilihan makanan. Kebetulan waktu itu sepertinya juga pas jam istirahat siang sehingga situasinya cukup ramai. Tampak beberapa orang berpakaian seragam (sepertinya dari kantor yang sama) juga makan di situ.

Setelah berkeliling, kami putuskan untuk makan nasi briyani. Nasi briyani ini sebetulnya menjadi menu pilihan kami di Geylang Serai Market, tapi karena waktu itu tidak ada yang menjualnya, kami putuskan untuk menjajal menu khas India itu di sini. Saya memesan nasi briyani dengan daging ‘mutton’ sedangkan Vickie memesan daging ayam. Awalnya saya juga tidak tahu apa itu ‘mutton’ (maklum, kosakata bahasa Inggris terbatas hehe), tapi saya menerka-nerka saya kalau ‘mutton’ itu daging kambing. Ketika kami tanyakan kepada penjualnya apakah mutton = lamb, penjualnya mengiyakan. Sambil menunggu nasi briyani dihidangkan, kami memesan kelapa muda di sebuah counter minuman. Di sini sempat terjadi salah paham. Waktu itu si penjual minuman (orang India juga) menawarkan kelapa muda dan Vickie pun bertanya berapa harganya. “How much?” tanya Vickie. Si penjual menjawab “Two,” Kami kira harganya SGD 2 per porsi. Kami pun memesan dua porsi. Eh ternyata ketika kelapa muda itu dihidangkan, si penjual berkata total harganya SGD 14. Nah lho…hahaha. Sepertinya tadi terjadi salah paham deh. Mungkin si penjual berkata ‘two’ tadi untuk mengkonfirmasi kami memesan dua buah kelapa muda, tapi kami kira harga kelapa mudanya yang SGD 2 per porsi. Karena sudah terlanjur ya sudah lah kami bayar juga SGD 14 untuk dua buah kelapa muda yang segar itu.

P1000758         P1000759

Nasi Briyani ala Kedai Yakader, Tekka Market          Suasana Tekka Center, Little India

Tidak lama kemudian, dua porsi nasi briyani dihidangkan di meja kami. Begitu melihat porsinya…wow…hahaha saya sempat terpana duluan. Bagaimana tidak, nasi briyani ini dihidangkan di atas nampan yang dilapisi daun pisang, dengan lauk sepotong besar daging kambing serta kuah kental sebagai bumbu pelengkapnya. Bagi saya yang terbiasa makan dengan porsi ‘normal’, melihat satu porsi nasi briyani ini tentu sempat membuat saya kaget hehehe. Dengan kemampuan makan saya, satu porsi nasi briyani ini bisa saya makan dua kali lho..benar deh, porsinya besar sekali! Potongan daging kambingnya pun besar. Ya menurut saya sih dengan harga SGD 4.5 per porsi, makanan ini nggak mahal lah. Saya sendiri agak menyesal kenapa kami pesan dua porsi ya hehehe. Kalau dengan porsi segini sih satu porsi bisa dimakan dua orang. Karena sudah terlanjur pesan, kami pun mulai menikmati nasi briyani pesanan kami masing-masing. Seperti halnya makanan khas India, bumbu rempah sangat terasa di nasi briyani ini. Kalau kata Vickie, nasi briyani ini mirip dengan nasi kebuli di Indonesia. Saya pribadi sebenarnya sangat menikmati menu nasi briyani ini. Bumbu rempahnya juga tidak over (tidak seperti kweetiauw goreng yang saya makan di Geylang Serai Market hari Sabtu yang lalu) dan yang sangat penting..daging kambing pelengkapnya ini lembuuuut sekali. Benar-benar nikmat lah makanan ini. Sayangnya, karena porsinya terlalu besar (untuk saya), akhirnya saya tidak bisa menghabiskan seporsi nasi briyani ini…maaf ya pak penjual…saya jadi agak merasa bersalah nih. Kalau boleh jujur memang kalau soal rasa sih oke punya, saya terpaksa nggak menghabiskan bukan karena rasanya tidak enak kok, melainkan karena memang kapasitas perut saya sudah full! Hehe.. Vickie yang biasanya makan dengan porsi dua kali lipat dari porsi makan saya saja mengaku kekenyangan setelah menghabiskan satu porsi nasi briyani tadi (tapi habis lho..itu saja sudah hebat menurut saya..hehehe). Belum lagi kami masih punya kelapa muda yang siap menjadi menu berikutnya. Saya sempat menikmati air kelapa muda ini sembarimenyantap nasi briyani tadi. Menurut saya, rasa air kelapa muda yang agak plain ini bisa menjadi penetral bagi nasi briyani yang kaya rasa. Akhirnya saya pun menghabiskan air kelapa muda tadi meskipun daging buahnya tidak saya habiskan..pokoknya perut saya benar-benar kekenyangan di situ…kenyang tapi puas! Haha…

Sebenarnya waktu melihat-lihat menu makanan, kami tertarik untuk membeli roti prata, tetapi kebetulan tempat yang menjual roti prata itu tutup. Kalau dipikir-pikir untunglah kami tidak jadi membeli roti prata. Bayangkan saja, dengan makan nasi briyani plus minum air dari satu buah kelapa muda kami sudah kekenyangan. Bagaimana ceritanya kalau kami masih harus makan roti prata?? Hehehe…yang jelas setelah makan kami tidak segera beranjak dari tempat duduk kami. Sebentar kami memberi waktu supaya makanan ini turun dulu 🙂

P1000764   P1000768

                                           Foto di depan kuil Hindu yang sedang direnovasi

Setelah memastikan diri kami bisa berjalan, kami pun beranjak dari Tekka Center menelusuri jalan-jalan di Little India. Tempat wisata yang bisa didapatkan di kawasan ini adalah beberapa kuil pemujaan agama Hindu. Kami pun sampai di depan sebuah kuil besar yang ada di Little India, tetapi sayangnya kuil itu sedang direnovasi. Kami pun hanya berfoto di depan kuil tersebut lalu melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan banyak terdapat toko yang menjual perlengkapan persembahan, wangi-wangian dan bunga tabur. Aroma wewangian pun semerbak menemani perjalanan kami sepanjang jalan di Little India ini. Suasana ini jauh berbeda dengan suasana di sekitar Tekka Center dimana aroma masakan dan bau ikan mentah begitu kentara (di dekat Tekka Center terdapat pusat perbelanjaan yang juga banyak menjual ikan mentah). Akhirnya kami pun mengakhiri petualangan kami di Little India. Dari sini kami berangkat menaiki MRT menuju Merlion dan sekitarnya.

To be continued (Day 3 ~ City Hall, Bugis, Garden by the Bay) 

Advertisements

One thought on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 3 ~ Beary Nice Hostel, Singapore National Museum, Orchard Road, and Little India)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 2 ~KLCC, Petaling Street, Terminal Bersepadu Selatan) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s