Trip to Singapore-Malaysia (Day 2 ~ Serenity Hostel, Alor Street, and Batu Caves)

Pagi-pagi sekitar pk 05.00 saya terbangun. Sepertinya sudah alarm alami tubuh saya untuk bangun pk 05.00 (kebiasaan persiapan berangkat ke kantor). Setelah menyadari bahwa kami masih cukup jauh dari tujuan—karena menurut jadwal kami seharusnya sampai di Kuala Lumpur sekitar pk 07.00—saya pun memutuskan untuk kembali berbaring. Ternyata celana panjang yang saya pakai cukup berguna lho, saya jadi tidak merasa terlalu dingin. Semalam tadi juga sebenarnya saya tidur cukup nyenyak, tetapi sejak bangunsaya jadi tidak bisa tidur lagi. Saya merasakan ketika kereta berhenti di stasiun-stasiun tertentu. Akhirnya sekitar pk 06.00 saya  kembali bangun dan memutuskan untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu saya merapikan barang-barang saya dan kembali berbaring sambil melihat pemandangan di luar jendela kecil di samping tempat tidur saya. Sempat terdengar suara dengkuran dari penumpang lain (saya tidak tahu dari mana asalnya..jangan-jangan dari Vickie sendiri di bed sebelah..hehehe). Saya pikir, pulas sekali ya orang-orang ini. Tapi ada juga beberapa orang yang sudah bangun dan mulai berjalan-jalan di gerbong, ngobrol dengan sesama temannya yang sudah bangun. Kebanyakan orang berbicara dengan bahasa Mandarin, jadi saya pun tidak tahu apa yang mereka bicarakan sekalipun mereka berbincang dengan suara agak keras.

Sekitar pukul tujuh pagi, ada pemberitahuan melalui speaker bahwa kereta akan segera tiba di stasiun KL Sentral. Saya pun bangkit dan membuka tirai tempat tidur saya. Saya menoleh ke samping dan melihat tirai tempat tidur Vickie masih tertutup rapi. Wah, pasti masih tidur pulas orang ini, pikir saya. Beberapa saat kemudian, seorang petugas berkeliling dan mengumumkan lagi bahwa kereta akan segera tiba di stasiun terakhir.Berhubung tidak ada tanda-tanda pergerakan daribedVickie, dengan mengabaikan rasa sungkan, saya pun membuka sedikit tirai tempat tidur Vickie itu dan mengatakan bahwa kereta sudah hampir sampai. Ternyata benar dia baru saja terbangun. Akhirnya dia pun segera bangun dan bersiap-siap untuk turun. Eh ternyata masih banyak juga yang baru saja bangun..sepertinya memang kereta api malam dengan model bed ini sangat nyaman untuk perjalanan, siapa tahu ya bisa jadi inspirasi untuk PT KAI :).

KL Sentral Station

Setibanya kami di stasiun KL Sentral, kami pun mencari tempat pembelian kartu RapidTrans (mirip MRT di Singapore). Setelah diberi petunjuk dan mencari-cari, akhirnya kami pun menemukan tempat pembelian kartu tsb. Kami membeli kartu myRapid tersebut seharga MYR 10 plus top up sebesar MYR 10 (total ‘pulsa’ yang ada di dalam kartu sebesar MYR 15). Nah, setelah itu kami pun bersiap untuk naik monorail ke Stasiun Bukit Bintang. Memang ada perubahan jadwal dari itinerary kami karena kami takut terlambat ke datang ke gereja. Setelah menemukan stasiun monorail, kami pun menaiki monorail tersebut. Kami duduk santai di dalam monorail sembari menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur yang dilewati sepanjang jalur monorail. Berbeda dengan MRT atau Rapid Trans, monorail ini melaju dengan kecepatan rendah.

my Rapid KL front my rapid KL back

                           Foto my rapid KL (mirip EZ link card)

Stasiun Bukit Bintang yang menjadi tujuan kami seharusnya kami capai setelah melewati Stasiun Hang Tuah dan Stasiun Imbi. Tanpa saya sadari, di Stasiun Hang Tuah, monorail ini ternyata berbalik arah kembali ke KL Sentral! Vickie bilang, semua penumpang turun di Stasiun Hang Tuah kecuali kami berdua. Saya sendiri malah tidak sadar. Memang kemudian monorail ini bergerak kembali ke arah KL Sentral. Wah..ada something wrong, nih. Apakah seharusnya kami turun di stasiun tadi lalu naik monorail lain menuju Bukit Bintang? Padahal di peta monorailnya terlihat bahwa seharusnya monorail yang kami naiki tadi juga menuju ke Bukit Bintang. Saya pun bertanya kepada seorang penumpang (seorang cicik-cicik yang baru saja selesai foto-foto selfie di dalam monorail). Saya bertanya apakah monorail ini menuju ke Bukit Bintang. Dia menjawab, katanya kami naik monorail yang salah, tapi sepertinya dia juga tidak terlalu tahu bagaimana menuju ke Bukit Bintang dengan monorail. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berada di dalam monorail dan nanti akan turun di stasiun Hang Tuah. Kami sempat turun dari monorail tadi dan melihat peta jalur monorail, kalau-kalau kami naik monorail yang salah dari KL sentral tadi, tapi ternyata memang monorail yang kami naiki sudah benar. Ya sudah, kami tunggu sampai di Hang Tuah lagi.

IMG01872-20140713-1838

Sesampainya di stasiun Hang Tuah, ternyata benar, semua penumpang turun dan sopir pun berpindah posisi ke arah KL sentral lagi. Kami pun turun dari monorail dan mencari papan petunjuk monorail menuju Bukit Bintang. Setelah mengikuti papan petunjuk itu, kami pun menunggu monorail menuju Bukit Bintang di sisi seberang tempat kami berhenti tadi (harapan kami sih begitu). Ternyata setelah Vickie bertanya kepada seorang penumpang yang baru saja datang dan menunggu monorail, tempat kami menunggu pun akan membawa kami kembali ke KL Sentral! Nah lho! Haha..akhirnya kami pun bertanya kepada petugas stasiun, dan ternyata oh ternyata…jalur monorail dari Hang Tuah menuju Bukit Bintang sedang diperbaiki (Hang Tuah-Imbi-Bukit Bintang). Jika ingin ke Bukit Bintang naik monorail, kami harus berjalan kaki menuju stasiun Imbi lalu baru bisa naik monorail ke Bukit Bintang. Kami pun bergegas keluar dari stasiun Hang Tuah dan menuju ke Stasiun Imbi yang sepertinya tidak jauh dari situ. Namun, karena sepertinya nanggung juga kalau jalan kaki ke stasiun Imbi lalu naik monorail ke Bukit Bintang, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Bukit Bintang.

Dengan berbekal peta lokasi dari Google Map dan bertanya kepada beberapa orang sepanjang jalan, kami pun sampai di Bukit Bintang. Nah, sekarang tinggal mencari lokasi hostel kami: Serenity Hostel. Kami bahkan melewati gereja yang nantinya akan kami datangi untuk kebaktian. Vickie bilang, seharusnya hostel kami tidak jauh dari situ. Setelah berjalan cukup lama dan bertanya ke sana sini, kami pun menemukan alamat hostel tersebut (saya sih hanya mengikuti Vickie saja, karena seperti sudah saya sebutkan, saya agak buta arah soal jalan hehe). Vickie mengingat alamat hostel itu ada di daerah Changkat, Bukit Bintang, nomor 60. Namun, ternyata di alamat tersebut tidak terdapat Serenity hostel. Kami pun terus berjalan sampai akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil Vickie mengecek peta dan alamat Serenity Hostel tersebut. Betapa terkejutnya kami karena ternyata alamatnya bukan nomor 60, melainkan nomor 20..hahaha. Saya langsung tertunduk lemas. Saya sudah tidak merasa kesal atau marah karena salah alamat itu…sepertinya karena lelah berjalan jadi sudah tidak ada lagi energi untuk marah atau kesal, malah bisa bikin tambah capek saja hehehe.Vickie pun menyemangati saya untuk meneruskan perjalanan kembali mencari si Serenity Hostel ini dan finally…kami pun berhasil menemukannya.

IMG01849-20140713-1241 IMG01847-20140713-1235

Sesampainya di Serenity Hostel, kami bermaksud untuk menitipkan barang dan numpang mandi sebelum kami ke gereja. Waktu itu sudah sangat mepet dengan jadwal kebaktian, jadi ya sudah bisa dipastikan kami terlambat datang ke kebaktian nanti. Tapi ya sudah lah, mau gimana lagi. Setelah Vickie bernegoisasi dengan si pengurus hostel, kami pun diizinkan untuk numpang mandi dan menitipkan barang-barang kami, meskipun kami belum bisa check in karena jadwal check in nya adalah pukul satu siang. Kami pun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke gereja yang kami lewati tadi. Untunglah lokasi gereja itu dekat dengan hostel kami. Dengan berjalan kaki, kami pun menuju ke gereja. Dalam perjalanan menuju gereja, saya akui mood saya agak jelek, mungkin pengaruh capek juga berjalan tadi dan karena sudah tahu akan terlambat datang kebaktian. Di situ Vickie sempat menyindir, katanya saya tidak cocok berwisata ala backpacker. Dalam hati saya kesal juga..ya gimana lagi, orang memang capek juga, dan entah kenapa sejak pagi napas saya juga tidak bisa los, seperti tertahan begitu, makanya saya juga tidak bisa jalan cepat-cepat mengimbangi dia.

Akhirnya kami pun tiba di gereja. Rupanya bukan kami saja yang baru saja datang, padahal kami sudah terlambat setengah jam dari jadwal kebaktian. Namun, kami tetap diizinkan masuk. Ini pertama kalinya saya mengikuti kebaktian di gereja Kristen. Memang sangat berbeda ya dengan perayaan ekaristi dalam gereja Katolik yang saya ikuti setiap Minggu yang sarat dengan ritual dan tata perayaan liturgi yang baku. Di sini kebaktian berlangsung denganbahasa Inggris (untunglah, bukan bahasa Melayu hehehe). Nah, waktu pertama kali datang, kami disambut oleh seorang usher. Dia menanyakan apakah kami baru pertama kali datang ke gereja itu dan saya mengiyakan. Kemudian kami diminta untuk mengisi formulir, mungkin setiap orang yang baru pertama kali datang memang diminta mengisi formulir tersebut (saya memberikan form itu kepada Vickie supaya dia saja yang mengisi J ).

Puji Tuhan setelah tiba di gereja, mood saya pun membaik (memang saya sering berubah-ubah mood sih hehehe) Kami pun mengikuti kebaktian yang berlangsung: mendengarkan khotbah, berdoa, dan menyanyikan pujian. Seusai kebaktian, kami didatangi lagi oleh usher yang menyambut kami. Kami pun diantar untuk menuju kafetaria. Di situ kami dipertemukan dengan beberapa orang yang juga baru pertama kali datang ke gereja itu. Ada seorang pemuda keturunan India dan seorang gadis keturunan Tionghoa bersama ibunya. Pemuda keturunan India ini pindah ke Kuala Lumpur untuk bekerja, sedangkan gadis keturunan Tionghoa tadi ternyata warga Singapore yang kebetulan sering berkunjung ke Malaysia untuk urusan pekerjaan. Selanjutnya kami dipertemukan dengan seorang Om, kemungkinan seorang pengurus gereja. Dia menanyakan beberapa hal tentang biodata kami seperti nama, asal, pekerjaan, dan apa yang kami lakukan di Bukit Bintang. Karena saya dan Vickie ini cuma turis, kami hanya diberi sedikit info tentang tempat wisata di Kuala Lumpur, sedangkan dua orang lainnya diberi informasi mengenai kegiatan-kegiatan gereja di luar kebaktian. Kami disuguhi segelas kopi panas (benar-benar panas lho), lumayan juga untuk sedikit melepas dahaga. Akhirnya setelah berbincang sebentar dan sempat berfoto bersama, kami pun pulang ke tempat masing-masing. Saya dan Vickie yang belum sarapan sejak pagi pun berjalan menuju Pecinan di daerah Alor untuk mencari sarapan :).

IMG01831-20140713-1133      IMG01839-20140713-1225

Foto dengan jemaat gereja Baptist Church, KL               Suasana Pecinan (Alor) siang hari

Pada siang hari, di pinggir jalan sepanjang Alor banyak restoran menawarkan masakannya. Setelah melewati beberapa rumah makan, kami pun menjatuhkan pilihan pada sebuah kedai yang menyediakan layanan prasmanan. Jadi kami bisa memilh sendiri menu yang akan kami makan. Di situ terdapat berbagai macam pilihan makanan. Kami pun mulai memilih sendiri menu kami. Seperti halnya restoran Chinese food di Singapura, restoran di sini juga tidak segan menawarkan masakan berbahan dasar daging babi. Banyak juga ragam masakan dari daging babi ini, seperti babi kecap, babi goreng, baikut, dan lain-lain jenis masakan yang saya tidak tahu namanya J. Saya memilih menu ca sawi, babi goreng tepung, dan babi kecap. Menu makanan Vickie pun sepertinya tidak jauh beda…masih berkutat di seputar daging babi juga hehehe. Harga makanan ini per porsi nya MYR 8, cukup murah dibandingkan dengan harga makanan di Singapore. Untuk minumannya, Vickie membeli air mineral di Circle K yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Harga air mineral botol pun jauh lebih murah daripada di Singapura, yaitu MYR 2 untuk 1 liter air mineral. Kami pun menikmati makanan kami sambil bersantai sejenak. Di situ saya juga dinasihati untuk mengenakan penutup telinga jika merasa dingin. Kemungkinan sesak napas yang saya alami itu juga efek dari kedinginan. Oke, noted deh nasihat dari pak senior backpacker travelling, bisa dipraktikkan buat next trip 🙂.

IMG01834-20140713-1147 20140713_114555 IMG01836-20140713-1205

                                            Menu Makan Siang di Alor Street

Setelah mengenyangkan perut dengan masakan ala Chinese, kami pun kembali ke hotel sekalian untuk check in. Petugas hostel itu menunjukkan lokasi kamar mandi, toilet, dapur dan kamar kami. Ternyata air mineral di hostel ini tidak gratis L. Setelah check in, kami pun bersantai sejenak. Vickie juga punya kesempatan untuk mengisi baterai kameranya untuk persiapan di Batu Caves dan Petronas Tower nanti. Sekitar pk 14.00 kami bersiap untuk berangkat ke Batu Caves. Vickie menanyakan kepada penjaga hostel mengenai transportasi yang bisa digunakan menuju Batu Caves. Petugas hostel itu menyarankan untuk naik bus menuju ke Pasar Seni kemudian naik bus lagi menuju ke Batu Caves. Rute ini berbeda dengan rencana kami untuk naik monorail dari Bukit Bintang menuju Titiwangsa kemudian naik bus ke Batu Caves. Kami pun mencoba mengikuti saran dari petugas hostel. Setelah berjalan menuju tempat perhentian bus, kami naik bus untuk menuju ke Pasar Seni. Di sini saya sempat melakukan kesalahan bodoh hahaha.. Karena terbiasa scan kartu ketika naik bus, saya kira untuk naik bus ini pun kami harus scan kartu. Saya memang tidak melihat orang-orang yang naik sebelum saya scan kartu atau tidak. Nah, saya pun menanyakan kepada Vickie kenapa dia tidak menyecan kartunya. Ternyata waktu Vickie bermaksud untuk menyecan kartu, sopir bus tersebut mengatakan bahwa tidak perlu scan kartu karena ternyata bus yang kami naiki itu free of charge. Wow, enak juga ya, ada fasilitas bus gratis begini. Pantas saja penumpangnya pun berjibun. Sepertinya Vickie agak kesal karena kami terlihat seperti orang bingung di bus tadi. Dia pun berpesan, “Lain kali dilihat dulu penumpang yang lain gimana, jangan kelihatan kaya’ orang bingung.” Iya deh….

Setelah tiba di ‘Pasar Seni’ kami pun turun. Dari situ seharusnya kami naik bus lagi menuju Batu Caves. Ternyata setelah bertanya kepada seseorang, untuk ke Batu Caves kami seharusnya tidak berhenti di tempat tadi, tetapi di dekat gedung HSBC. Jadilah kami berjalan lagi ke dekat HSBC. Di situ banyak bus yang lewat, dan akhirnya ada bus bertuliskan ‘Pinggiran Batu Cave’. Kami pun menaiki bus tersebtu. Ternyata bus itu tidak bisa membawa kami ke Batu Caves, hanya ke daerah pinggirnya saja. Untuk ke Batu Caves sendiri kami harus naik bus lagi (Rapid KL Bus) menuju ke sana. Oke lah…namanya juga sudah terlanjur, yang penting kami bisa sampai ke Batu Caves. Bus yang kami tumpangi ini tidak jauh beda dengan bus-bus di Indonesia. Armada busnya yang sudah tidak muda lagi, bus yang sering ngetem sesuka hati, jalan yang macet…rasanya benar-benar seperti di Indonesia. Bahkan saya sempat mengambil gambar yang tampak seperti kemacetan di daerah Johar, Semarang hehehe. Oh iya, untuk ongkos bus (metro bus) ini kami membayar cash, per orang sebesar MYR 2.

Perjalanan kami ke Batu Caves terkendala oleh macet. Benar-benar deh…ternyata di Malaysia macet juga sepertinya jadi makanan sehari-hari. Saya pun memutuskan untuk tidur saja sembari menunggu bus sampai di pemberhentian nanti. Akhirnya sekitar pk 15.00 kami tiba di pemberhentian bus untuk selanjutnya naik Rapid KL menuju ke Batu Caves. Sekali lagi di sini kami diminta untuk bersabar. Rapid KL yang seharusnya kami naiki memang sudah ada dan mesinnya pun menyala…yang kurang hanya sopirnya! Kami menunggu cukup lama sampai Rapid KL dengan nomor armada yang samadatang. Mungkin memang Rapid KL ini akan berangkat setelah armada yang lain datang. Benarlah, setelah sekitar setengah jam menanti, akhirnya kami pun berangkat menuju Batu Caves. Vickie sudah sempat uring-uringan karena para petugas Rapid KL itu tampak santai-santai saja membaca koran dan main catur sementara penumpang menunggu tanpa kepastian hehe. Ini juga nih yang membuat jadwal kami kacau. Jam empat sore kami baru sampai di Batu Caves, padahal seharusnya jam 4 kami sudah kembali ke KLCC untuk foto-foto dengan background Petronas Tower :).

P1000513       P1000551

Patung Dewa Murugan setinggi 140 kaki    Di dalam gua Batu Caves setelah naik 272 anak tangga

Finally, tiba juga kami di Batu Caves. Dari gerbang masuk sudah tampak patung Dewa Murugan yang menjulang tinggi. Kami sudah sepakat untuk cepat saja di sini. Kami pun mulai menaiki anak tangga menuju ke gua tempat kuil-kuil pemujaan agama Hindu. Ternyata setelah tiba di atas, masih ada lagi anak tangga menuju ke tempat kuil pemujaan yang lain. Kami hanya foto-foto saja di sini dan tidak masuk ke kuil-kuil atau tempat pemujaan di situ.Setelah selesai berfoto-foto ria, kami pun bergegas menuruni kembali anak tangga itu agar tidak terlalu sore sampai di Petronas Tower, karena menurut Vickie, Petronas Tower itu bagus dijadikan background foto ketika langit masih terang.

To be continued (KLCC, Petaling Street, Terminal Bersepadu Selatan)

Advertisements

One thought on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 2 ~ Serenity Hostel, Alor Street, and Batu Caves)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 1~Jurong East and Road to Kuala Lumpur) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s