Trip to Singapore-Malaysia (Day 1~Jurong East and Road to Kuala Lumpur)

Jurong East

Sesampainya di Jurong East, kami langsung mencari food court yang katanya menjual makanan dengan harga tidak terlalu mahal. Setelah berkeliling melihat-lihat counter makanan yang ada, Vickie merekomendasikan Ananas Café, yang katanya banyak direkomendasikan oleh para traveler di blog mereka. Di sini kami membeli nasi plus bebek panggang (roasted duck) seharga SGD 1.5 per porsi. Murah sekali ya?? Kami juga terharu ternyata masih ada makanan murah di Singapore..hehe. Namun demikian, ya namanya murah, tentu porsinya juga kecil. Setidaknya lumayan lah untuk mengganjal perut kami sampai besok pagi. Yang jelas, soal rasa sih menurut saya oke kok..justru menurut kami, makanan ini lebih enak daripada makanan yang kami santap di Geylang Serai Market (bukan karena harganya murah terus jadi terasa lebih enak lhoo..hehe bener kok rasa makanan di Ananas Cafe ini oke punya). Karena tidak ada tempat khusus untuk makan di Ananas Cafe ini, maka kami pun mencari tempat yang nyaman untuk makan. Akhirnya kami memilih duduk di rerumputan tidak jauh dari countercounter makanan tadi.

Di depan kami ada sebuah panggung yang sedang menampilkan orkestra. Kami pun menikmati makan malam sederhana kami sambil mendengarkan alunan musik orkestra yang terlantun apik dari para pemainnya. Seusai makan, kami masih bersantai sejenak sembari menikmati musik orkestra tadi. Tiba-tiba ada sebuah lagu yang saya kenal (dari tadi lagunya nggak ada yang familiar sih hehehe). Lagu itu adalah instrumental dari lagu Peng You (artinya “teman”), salah satu lagu Mandarin yang cukup populer (biasanya dinyanyikan di karaoke-karaoke oleh para pecinta lagu mandarin tempo dulu).

P1000455
Setelah cukup beristirahat dan menikmati suasana di sekitar Jurong East, kami pun melanjutkan perjalanan ke MRT Jurong East. Sebelumnya kami sempat berfoto dengan background Jurong East Mall di malam hari. Cukup lah sebagai bukti rekam jejak kami di tempat ini sekalipun kami tidak sempat masuk ke mall-nya hehe. Dari stasiun MRT Jurong East, kami menuju ke Marsiling. Dari stasiun MRT Marsiling ini kami harus naik bus nomor 950 menuju ke Woodlands Check Point. Nah, inilah pertama kalinya kami naik bus di Singapore. Kami pun mencari terminal pemberhentian bus tersebut dan menemukan sebuah terminal di seberang stasiun MRT. Setelah menyeberang melalui jembatan penyeberangan, kami pun tiba di terminal pemberhentian bus tersebut. Kami sempat agak bingung karena ada ketika kami bertanya kepada seorang yang juga menunggu bus di situ, katanya kami harus naik bus nomor lain untuk menuju ke Woodlands. Ternyata bus yang ditunjukkan orang tadi sepertinya hanya berhenti di Woodlands, sedangkan bus no. 950 yang akan kami naiki akan mengantar kami sampai ke Johor Baru (untung saja kami nggak naik bus yang salah hehe)

Road to Kuala Lumpur

Setelah menunggu beberapa saat, tampaklah bus no. 950 ini dan kami pun segera naik. Ternyata banyak juga orang yang naik di bus ini. Setelah sampai di imigrasi Singapore, bus ini berhenti dan semua penumpang bergegas naik eskalator menuju ke bagian imigrasi. Sebelumnya Vickie sempat memberitahu bahwa semakin cepat sampai ke imigrasi, semakin cepat pula kita bisa kembali ke bus untuk kemudian berangkat ke Johor Baru. Jangan sampai lah kita sampai ketinggalan bus dan harus menunggu lama kedatangan bus berikutnya. Bus yang dinaiki untuk ke Johor Baru nanti juga tidak harus sama dengan bus yang kita naiki dari Marsiling sebelumnya kok, yang penting sama-sama nomor 950 J.

Sesampainya di sana ternyata antrean di imigrasi sudah cukup panjang. Beruntunglah untuk warga Singapura karena untuk warga dengan paspor Singapura ternyata ada jalur khusus yang antreannya tentu tidak sepanjang jalur antrean untuk ‘all passport’. Untunglah proses di imigrasi ini juga cukup cepat. Kami pun bergegas kembali untuk naik bus no.950 lagi untuk diantar ke Johor Baru (sekali lagi harus cepat-cepatan naik bus ini karena peminatnya banyak). Nah setelah sampai di imigrasi Malaysia, kami segera turun dari bus dan menuju bagian imigrasi. Sama seperti di keimigrasian Singapura, kami pun mengantre untuk proses imigrasi ini. Setelah beres semuanya, kami pun berjalan menuju stasiun kereta Johor Baru Sentral yang lokasinya dekat sekali dengan keimigrasian Malaysia tadi. Nah, setelah sampai di JB Sentral ini tenang sudah rasanya. Kami tiba cukup awal, sekitar pk 22.30 waktu setempat (waktu di Singapore sama dengan waktu di Johor Baru Malaysia).

Karena proses pemesanan tiket sudah kami lakukan secara online di Indonesia beberapa hari sebelumnya melalui website KTM online (pembayarannya dengan credit card juga—yang sekali lagi kami pinjam dari kenalan kami hehe), kami tidak perlu lagi ribet membeli tiket kereta. Kereta yang akan kami tumpangi adalah kereta api malam Senandung Sutera. Vickie juga sudah bertanya ke bagian tiket dan memastikan bahwa E-tiket yang sudah kami print dan kami siapkan dari Indonesia tidak perlu lagi ditukar dengan tiket.

Tiket Senandung Sutera Tiket Senandung Sutera VHP
E-Ticket KA Senandung Sutera

Awalnya kami berencana untuk numpang mandi di stasiun ini. Maklum lah, sudah sejak siang kami berjalan berkeliling ke sana kemari dan bekas keringat yang mengering pun menempel di badan kami. Seandainya bisa mandi tentu sangat menyegarkan. Vickie meminta saya menunggu di ruang tunggu sementara dia mencari lokasi kamar mandinya. Setelah agak lama berkeliling, Vickie pun kembali sambil senyum-senyum. Dia bercerita bahwa setelah berkeliling lama dan mencari tulisan ‘toilet’, dia tidak bisa menemukannya. Namun, dia melihat papan penunjuk dengan gambar mirip gambar yang biasa digunakan untuk petunjuk toilet, tetapi di situ bukan tertulis ‘toilet’ melainkan ‘tandas’. Setelah coba dicek, ternyata benar bahwa ‘tandas’ itu adalah ‘toilet’….hahaha. Ya, ini sih baru permulaan kami menemukan nama-nama ‘unik’ dalam bahasa Melayu yang mungkin menurut kita sebagai orang Indonesia, terasa lucu dan janggal J. Sayangnya tandas di stasiun ini tidak bisa dipakai mandi karena tidak ada shower atau bak mandinya, murni hanya toilet saja. Akhirnya kami hanya membersihkan diri seperlunya dengan tissue basah lalu menunggu kedatangan kereta yang akan membawa kami ke Kuala Lumpur.

P1000481 P1000488
Suasana stasiun kereta JB Sentral             Upper bed di Kereta Senandung Sutera menuju KL

Sembari menunggu kereta datang, ada seorang wanita berhijab yang duduk di samping saya mengajak saya mengobrol. Kacaunya, dia mengajak saya ngobrol dengan bahasa Melayu. Untunglah dia segera sadar bahwa saya orang Indonesia, mungkin dari cara bicara saya ya hehe. Tapi tetap saja..dia mengajak bicara dan bertanya dengan bahasa Melayu (ampun deh!) Pokoknya bagi saya bahasa Melayu ini susah dimengerti. Meskipun dibilang mirip dengan bahasa Indonesia, tetap saja saya susah mencerna pembicaraan dengan bahasa Melayu ini. Menurut saya lebih baik berkomunikasi dengan bahasa Inggris saja deh..haha.

Sekitar pk 23.45 kereta pun tiba. Kami segera mengantre untuk pengecekan tiket sampai akhirnya kami masuk ke dalam kereta sesuai dengan gerbong yang tertera di tiket kami. Kami memesan coach tipe ADNS, yaitu gerbong berisi tempat tidur susun dengan model seperti bangsal. Gerbongnya sama dengan gerbong biasa kok, hanya saja kalau gerbong kereta api biasanya diisi dengan kursi, untuk coach tipe ini isinya adalah tempat tidur susun. Kalau mau sih ada juga coach yang tipe VIP, jadi satu ruangan berisi satu bunch bed (1 upper bed dan 1 lower bed) serta dilengkapi kamar mandi dalam.

Saya dan Vickie memilih upper bed. Katanya sih supaya nggak terganggu dengan orang yang lalu lalang di gerbong. Tempat tidur di coach tipe ADNS ini cukup nyaman. Walau tidak luas, tapi cukup ruang untuk bisa tidur dengan leluasa (asal nggak ekstrim-ekstrim amat posisi tidurnya). Sayangnya di sini hanya disediakan kain tipis sebagai selimut. Alhasil, saya yang tadinya hanya mengenakan celana pendek akhirnya memakai celana panjang saya juga sebagai antisipasi kalau-kalau nanti kedinginan. Dengan mengenakan jaket, celana panjang, dan kaos kaki, saya pun bersiap untuk tidur sementara kereta melaju menuju ke Kuala Lumpur. Oh iya, soal barang bawaan tidak perlu khawatir, masih ada ruang kok di tempat tidur ini untuk tempat tas. Di sini juga disediakan kantong untuk tempat sepatu. Selain itu, di setiap tempat tidur juga dilengkapi dengan tirai, jadi buat yang tidur suka ngiler atau bergaya aneh-aneh nggak perlu khawatir jadi tontonan khalayak umum :). Jadilah malam hari pertama kami di negeri asing ini kami lewatkan di dalam kereta api Senandung Sutera rute Johor Baru-Kuala Lumpur. Have a nice dream and good rest, prepare for tomorrow’s new adventure!

To be continued~ Day 2:Serenity Hostel, Alor Street, and Batu Caves

Advertisements

2 thoughts on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 1~Jurong East and Road to Kuala Lumpur)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 1~Jurong East and Road to Kuala Lumpur) | Makjoel's Blog

  2. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 1~Botanic Garden, Holland Village, Chinese Garden) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s