Trip to Singapore-Malaysia (Day 1 ~ Changi Airport-Geylang Serai Market)

Day 1~Saturday, 12 July 2014

Hari ini saya bangun pk 05.00 WIB. Setelah mandi dan sarapan, saya dan Vickie diantar oleh ayah Vickie ke bandara. Bandara waktu itu masih sepi dan kami menunggu sampai sekitar pk 06.00 dimana pintu masuk untuk penerbangan internasional dibuka. Setelah membayar airport tax, kami menuju bagian imigrasi lalu pengecekan barang. Proses pra-keberangkatan ini cukup cepat. Hanya saja saat akan masuk ke ruang tunggu, saya sempat ditanya oleh petugas bandara apakah saya berangkat seorang diri. Waktu saya bilang saya berangkat dengan teman saya, saya diminta untuk menunjukkan tiket pulang dari Singapore ke Surabaya. Awalnya saya heran mengapa hanya saya yang ditanya demikian, lalu setelah saya ingat-ingat lagi, kemungkinan karena status saya di paspor masih ‘pelajar’ jadi mungkin petugas itu takut kalau saya akan lama berada di Singapore tanpa visa.

Airport Tax Adisucipto YOG Boarding pass Airasia YOG-SIN

Foto Boarding Pass Airasia YOG-SIN dan Kupon Airport tax Bandara Adisutjipto

IMG01818-20140712-0732

Suasana keberangkatan menuju pesawat Airasia rute Yogyakarta – Singapura

Kami pun menunggu di ruang tunggu penerbangan. Karena jadwal penerbangan kami pk 07.00, kami menunggu sekitar empat puluh lima menit sampai diizinkan naik ke pesawat. Oh iya, kekhawatiran kami akan pengecekan barang yang akan memakan waktu lama ternyata tidak terjadi. Kami pun naik pesawat dan menduduki kursi sesuai dengan nomor seat pada tiket kami, hanya saja saya bertukar tempat dengan Vickie yang ingin duduk di dekat jendela, mungkin karena ingin menjajal kamera barunya yang sengaja dibeli sebelum liburan kami ke Singapura ini:). Next…penerbangan Adisutjipto-Changi Airport pun dimulai…

Penerbangan kami berlangsung selama kurang lebih dua jam. Tidak lama setelah pesawat lepas landas, kami diberi kartu embarkasi yang harus kami isi dan kami tunjukkan saat pemeriksaan imigrasi nanti. Sempat agak bingung juga waktu pertama kali mengisi kartu ini (maklum, pertama kali ke luar negeri sih hehehe). Setelah membaca-baca majalah yang ada di bangku kami, saya memutuskan untuk tidur sementara Vickie beberapa kali memotret pemandangan yang tampak dari jendela pesawat (sayangnya sebagian pemandangan tertutup oleh sayap pesawat 🙂 ).

Kami tiba di Changi Airport sekitar pk 12.35 waktu setempat (waktu di Singapore satu jam lebih awal daripada waktu Indonesia bagian barat). Setelah turun dari pesawat dan sampai di Changi Airport (Terminal 1), tempat pertama yang kami cari adalah: Toilet! Hehehe.. Kebetulan di depan lorong menuju toilet itu ada free potable water. Kami pun mengisi botol minum kosong yang sudah kami siapkan dengan free potable water tersebut. Walaupun agak susah mengisi botol minum kami sampai penuh—karena sepertinya keran potable water itu memang dirancang untuk langsung minum di tempat, bukan untuk isi ulang 🙂 —tapi kami tetap bersyukur bisa memperoleh air minum gratis di sini (apalagi setelah tahu harga air mineral di Singapore). Air minum di bandara ini segar sekali lho, bahkan menurut saya lebih segar dan nikmat daripada air mineral yang saya beli di salah satu foodcourt di Singapura (apa karena gratis jadi terasa lebih segar ya? Hehehe)

Setelah merapikan diri, kami mulai mengagumi bandara yang luasnya berkali lipat luas mall yang pernah saya jumpai di Indonesia. Kami pun mulai mencari informasi peta bandara dan ke mana kami harus pergi selanjutnya. Beberapa brosur berisi wisata dan peta Singapura sempat kami ambil di bandara. Setelah berkeliling sebentar sambil mencari lokasi keberangkatan (untuk persiapan besok ketika kami pulang nanti), kami pun bertanya kepada petugas bandara ke mana kami harus pergi untuk menuju ke stasiun MRT terdekat. Petugas itu mengatakan supaya kami naik skytrain ke Terminal 2 dan kami pun segera mencari skytrain lalu menuju ke Terminal 2 Changi Airport.

P1000236

Arrival at Changi Airport

Sebagai sesama first-time traveller di negeri orang, saya dan Vickie sama-sama tidak tahu bahwa setelah tiba di bandara tujuan pun kami seharusnya pergi ke bagian imigrasi untuk pengecekan passport. Karena di Terminal 1 tadi kami sibuk berkeliling, kami sampai tidak sadar bahwa mungkin penumpang pesawat yang lain sudah pergi ke bagian imigrasi. Nah, begitu hendak mencari stasiun MRT barulah kami sadar bahwa kami harus melewati imigrasi. Di sini pun kami bingung karena bagian imigrasi ini sangat sepi. Kami sama-sama tidak tahu bagaimana prosedur pengecekan di negeri Singapura ini. Ketika Vickie bermaksud untuk maju mengantre, tiba-tiba ia seolah ‘ditolak’ oleh sang petugas imigrasi. Ternyata ada garis antrean yang tidak boleh dilewati dan kami tidak melihatnya. Tiba-tiba petugas imigrasi yang lain memanggil saya. Saya pun berjalan menuju ke tempat petugas itu. Setelah passport saya diperiksa dan ditanya berapa lama saya akan stay di Singapura, saya pun diperbolehkan lewat. Oh iya, kartu embarkasi yang sudah saya isi tadi sebagian disimpan oleh bagian Imigrasi dan sebagian diselipkan di dalam paspor saya. Yang jelas, saya ingat wanti-wanti supaya jangan sampai kartu embarkasi itu hilang. Rupanya tidak lama kemudian, Vickie juga sudah selesai pengecekannya di counter lain. Saya jadi geli sendiri kalau ingat kejadian ini…memang sama-sama baru pertama kali ke luar negeri, tidak ada yang jadi contoh pula..jadi kami seperti orang cupu saja hehe.

Setelah melewati imigrasi, kami pun mencari tempat untuk membeli EZ link card yang berfungsi sebagai semacam debit card untuk pembayaran transportasi di Singapura (bus maupun MRT). Kami mengantre di depan sebuah counter MRT, mengikuti orang-orang yang juga sepertinya mau membeli tiket MRT, sampai tiba-tiba seorang ibu menyapa Vickie dan mengatakan bahwa kami bisa membeli EZ link card di counter lain. Kami pun diantar ibu itu ke counter tsb dan ibu itu mengatakan kepada petugasnya bahwa kami ingin membeli EZ link card. Setelah itu kami membeli dua buah EZ link card seharga SGD 12 plus top up sebesar SGD 20 untuk tiap orang. Puji Tuhan ibu tadi begitu baik hati memberitahu kami sehingga kami tidak perlu mengantre di counter sebelumnya (antreannya lumayan panjang sih hehehe). Saya dan Vickie menduga, mungkin ibu itu juga orang Indonesia dan melihat kami tampak seperti orang yang baru pertama kali datang ke Singapura (Anyway, thanks a lot untuk Tante baik hati itu!)

EZ Link Card SG EZ link card front EZ link card back

EZ Link Card

Setelah memegang EZ link card, kami pun menuju ke tempat keberangkatan MRT dan menunggu bersama penumpang lain. Oh iya, pertama kali akan menggunakan EZ link card ini saya sempat kebingungan. Sebelum masuk ke ruang tunggu keberangkatan, kita harus mescan EZ link card tsb di suatu mesin, barulah pintu menuju ruang tunggu akan terbuka. Nah waktu itu saya mencoba menscan EZ link card saya tapi tidak terjadi apa-apa..rupanya saya salah meletakkan kartu saya! Saya ternyata menempelkan EZ link card saya di layar monitor yang seharusnya menampilkan saldo EZ link card saya, bukan di tempat scanning seharusnya..what a stupid mistake..haha. Untunglah petugas di stasiun MRT memberitahu saya dan akhirnya saya pun bisa masuk melewati pintu itu :). Oh iya, di setiap stasiun MRT selalu ada papan penunjuk dan peta MRT yang memudahkan setiap pengunjung untuk menentukan MRT yang akan dinaikinya. Ini sangat membantu lho, apalagi untuk pendatang pertama kali seperti kami :). Nah kami pun menaiki MRT pertama kami dari Changi Airport menuju stasiun MRT Paya Lebar. Sesuai itinerary yang sudah dirancang, kami berencana untuk makan siang di Geylang Serai Market Food court yang lokasinya tidak begitu jauh dari Stasiun Paya Lebar.

Perjalanan menggunakan MRT ternyata bukan hanya cepat, tapi super cepaaaaat! Ini harus jadi contoh untuk Indonesia..selain kendaraan umum yang dilengkapi AC, bersih, dan nyaman, ternyata selang waktu antarkedatangan MRT pun tidak terlalu lama. Sejauh yang kami alami, paling lama lima menit kami menunggu MRT selanjutnya datang. Kalau fasilitas transportasi umum di Indonesia seperti ini, saya yakin kok akan banyak orang yang memilih untuk naik kendaraan umum sehingga banyaknya jumlah kendaraan pribadi yang berpotensi meningkatkan kemacetan dan polusi pun bisa ditekan. Lama perjalanan antarstasiun juga begitu cepat, nyaris tak terasa. Rasanya baru sebentar duduk kok sudah sampai hehehe…ini juga yang membuat saya kadang-kadang malah agak malas duduk dan memilih untuk berdiri (kecuali waktu saya merasa capek) karena perjalanan antarstasiun rata-rata hanya 2 menit! Benar-benar sesuai dengan namanya: Mass Rapid Transit, bukan hanya sekedar nama tapi benar-benar “rapid” alias cepaaat! 🙂

Dari stasiun MRT Changi ke Paya Lebar kami melewati tiga stasiun MRT. Sepanjang perjalanan, kami sempat melihat apartemen dan gedung-gedung tinggi dengan beraneka model. Yang menarik perhatian saya adalah begitu banyaknya apartemen di Singapura ini. Kalau di Indonesia orang lebih banyak memilih tinggal di rumah, ternyata di Singapura ini justru apartemen yang banyak peminatnya. Mungkin karena harga tanah yang sangat mahal ya. Coba saja bandingkan luas daratan Singapura dengan Indonesia (jadi merasa beruntung tinggal di Indonesia, masih bisa punya rumah dan tanah sendiri).

Nah, di apartemen-apartemen yang kami lihat ini tampak banyak ‘tiang jemuran’. Jadi, dari jendela apartemen tampak sebatang tiang yang menjulur keluar untuk digunakan sebagai tempat menggantung pakaian. Lucu juga sih melihat teknik menjemur yang digunakan di rumah-rumah susun di Indonesia ternyata dipakai juga di negara modern seperti Singapura :).

Hanya dalam waktu beberapa menit, kami sampai di stasiun Paya Lebar. Dengan mengikuti Vickie yang mengikuti arah petunjuk di stasiun (jujur saja saya agak buta arah dan sulit mengingat-ingat jalan hehehe), kami pun keluar dari stasiun MRT dan bersiap menuju Geylang Serai Market.

Perjalanan menuju Geylang Seri Market food court ternyata tidak semulus bayangan kami.Dari stasiun MRT Paya Lebar, kami berjalan mengikuti papan penunjuk jalan yang ada sambil mencari tulisan ‘Geylang’. Kami berjalan cukup lama sampai akhirnya kami merasa perjalanan kami sudah terlalu jauh. Kami pun bertanya kepada orang lewat..orang pertama yang kami tanyai ternyata sama-sama turis juga..lalu orang kedua yang kami tanya malah menyarankan kami untuk naik taksi saja :).

Akhirnya dengan berbekal peta hasil print dari Google Map, kami pun kembali menelusuri jalan yang sudah kami lalui tadi sambil mengira-ngira lokasi Geylang Serai Market tersebut. Kata Vickie sih, tersesat itu justru yang mewarnai perjalanan seorang backpacker haha…

Setelah memutari lagi suatu kompleks pasar rakyat, kami berhenti sejenak dan membuka peta Singapore yang kami ambil di bandara Changi tadi. Saat itu lewatlah seorang om-om mengendarai sepeda. Awalnya beliau berlalu melewati kami, tapi tiba-tiba saja beliau kembali lalu menghampiri kami yang sedang membuka peta Singapore. Beliau bertanya dengan ramah, “Where are you going?” Vickie pun menjawab, “Geylang serai market food court,”. Kemudian Om tadi memberi petunjuk arah food court yang beliau tahu. Ternyata lokasi yang ditunjukkan oleh Om itu sebetulnya sudah dekat dengan tempat yang kami lewati tadi..bahkan sudah dua kali kami mengitari daerah tersebut. Ini jadi pengalaman juga untuk kami agar lebih berhati-hati mencari lokasi lewat Google Map..hehehe. Anyway, finally kami pun berhasil menemukan Geylang serai market food court itu..What a relief!

Geylang Serai Market Food court

Kami pun masuk ke food court itu dan memilih tempat untuk membeli makanan. Di Geylang Serai Market ini ada berbagai counter makanan yang menjual beraneka jenis masakan. Ada masakan ala India, melayu, Chinese food, bahkan ada juga masakan Indonesia. Setelah berkeliling, kami memutuskan untuk memesan nasi lemak dan nasi jenganan di kedai “Sinar Harapan Nasi Padang” (meskipun namanya ‘nasi padang’ tapi penjualnya bukan orang Padang lho..hehehe). Namun, karena nasi jenganan tidak tersedia, saya pun beralih memesan kweetiauw goreng di counter “Al-Rahman Muslim Food”. Nasi lemak yang kami beli seharga 3 SGD sedangkan kweetiauw goreng seharga 3.5 SGD. Nasi lemak ini lebih mirip nasi rames..nasi dilengkapi sayur dan lauknya berupa ayam goreng. Kata Vickie sih, masih jauh lebih enak nasi campur di Indonesia hehehe. Kweetiauw goreng yang saya santap pun citarasanya berbeda sekali dengan kweetiauw goreng yang biasa saya makan di Indonesia. Kalau biasanya kweetiauw goreng di Indonesia identik dengan Chinese food, di sini penjualnya orang keturunan India.Tidak heran kweetiauw goreng yang biasanya terasa soft kini terasa sekali bumbu rempah-rempahnya. Lauk pelengkapnya pun bukan daging ayam atau udang seperti di Indonesia, melainkan daging kambing. Bagi saya yang terbiasa menyantap kweetiauw goreng ala Chinese food, tentu saja makanan ini terasa asing di lidah saya.Tapi ya berhubung sudah lapar dan sudah terlanjur pesan, akhirnya kami habiskan kedua menu makanan itu. Di sini saya juga membeli sebotol air mineral 600 ml seharga 1 SGD..cukup mahal ya dibandingkan dengan harga air mineral di Indonesia (ini yang membuat kami bergerilya mencari minuman murah termasuk free refill potable water).

P1000238 P1000240

Beli nasi lemak di sini nih…                                              Kalau beli kweetiauw nya di sini..

To be continued…(Day 1~Botanic Garden, Holland Village and Chinese Garden)

Advertisements

2 thoughts on “Trip to Singapore-Malaysia (Day 1 ~ Changi Airport-Geylang Serai Market)

  1. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Day 1 ~ Changi Airport-Geylang Serai Market) | Makjoel's Blog

  2. Pingback: Trip to Singapore-Malaysia (Preparation~Day 0) | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s