Menjadi Manusia ‘Surgawi’

Memang mudah bagi kita untuk bersyukur ketika keadaan yang kita alami penuh dengan kebahagiaan. Demikian pula mudah bagi kita untuk memberikan nasihat bijak ketika suasana hati kita sedang damai dan tenang.

Ketika menghadapi situasi yang sulit dimana apa yang terjadi tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, di situlah iman kita diuji. Ketika pendapatan yang kita peroleh dirasa tidak sebanding dengan tanggung jawab yang harus kita miliki, kewajiban yang harus kita lakukan, dan tidak sebanding dengan apa yang menurut kita layak untuk kita dapatkan…di situlah kita bisa dan harus memilih apa yang harus dilakukan.

Dalam situasi seperti itu kebanyakan orang akan mengeluh, menyalahkan situasi, orang lain, atau bahkan mempertanyakan Tuhan atas apa yang terjadi. Memang sangat manusiawi ketika kita tidak memperoleh ‘sebanding’ dengan apa yang kita lakukan, kita menjadi marah dan merasa diperlakukan tidak adil. Sangat manusiawi ketika kita menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih ketika kita melihat apa yang dimiliki orang lain lebih baik daripada apa yang kita punya. Sangat manusiawi ketika seseorang memberikan iming-iming dan kita terbujuk untuk meninggalkan apa yang kita miliki demi mengejar sesuatu yang lebih memberikan keuntungan. Sangat wajar kita merasa marah ketika kita diperlakukan tidak adil, hak-hak kita dirampas atau dikurangi, kebaikan dan kesabaran kita dibalas dengan sikap acuh tak acuh dan seolah tak peduli. Sangat manusiawi dan wajar ketika kita ingin memberikan semua yang terbaik dan lebih baik untuk orang-orang yang kita kasihi, kita pun berusaha untuk bisa memperoleh lebih banyak materi. Semua itu sangat wajar, sangat manusiawi, dan memang itulah sifat dasar manusia di dunia ini.

Di tengah situasi seperti itu, apa yang akan kita rasakan ketika ada seseorang yang memberikan nasihat-nasihat kepada kita untuk bersabar dan tidak menggantungkan harapan kita kepada manusia, melainkan kepada Tuhan? Bagaimana tanggapan kita ketika orang yang menasihati kita itu berada dalam situasi yang jauh berbeda dari kita? Mungkin kita akan berkata, “Tentu saja dia bisa berkata seperti itu, dia tidak merasakan apa yang saya rasakan,”

Saya boleh jadi termasuk orang yang masih beruntung karena kondisi kehidupan saya saat ini masih cukup stabil. Saya bukan tulang punggung keluarga utama meskipun orang tua saya sudah tidak lagi bekerja. Saya juga belum perlu memikirkan biaya sekolah anak, biaya perawatan dan pengobatan anak, suami, atau istri. Maka bisa dibilang apa yang saya peroleh saat ini, masih cukup bisa membuat saya bersikap tenang dan tidak terlalu terpengaruh dengan keluhan-keluhan akan ketidakadilan yang dirasakan orang-orang di sekitar saya meskipun barangkali apa yang saya peroleh sekarang pun masih di bawah rata-rata apa yang seharusnya bisa saya peroleh jika saya berada di tempat lain.

Dalam situasi yang saya alami, mudah bagi saya untuk bisa memberikan nasihat kepada orang lain yang sedang mengeluh dan resah karena pendapatannya dirasa kurang dibandingkan dengan biaya dan kebutuhan hidup untuk dirinya dan keluarganya. Saya membayangkan seandainya saya yang berada di posisi orang-orang itu, mungkin saya pun akan mengeluh dan cemas, resah, berharap kondisi akan berubah, tetapi kenyataannya kondisi tetap sama. Tidak ada perubahan positif yang tampak, seolah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari apa yang ada saat ini. Saya paham bahwa sangat sulit untuk bisa bersyukur dan tetap menjaga kualitas pekerjaan kita ketika kita merasa diperlakukan tidak adil. Demikian pula menurut saya, sangat wajar pula ketika seseorang yang sudah berada dalam situasi yang mapan, sekalipun mungkin apa yang didapatnya pun masih di bawah standar yang seharusnya bisa diperolehnya, bisa memberikan wejangan atau nasihat kepada orang-orang yang resah dan galau itu untuk tidak mempercayakan rezeki kepada manusia, tetapi hendaknya orang-orang semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Lalu orang-orang yang mendengar nasihat itu pun berkata, “Lalu bagaimana dengan kebutuhan hidup saya? Apakah dengan berdoa saja saya dan keluarga saya akan kenyang? Apakah dengan berdoa saja biaya rumah sakit anak saya akan lunas??”

Di dalam Alkitab tertulis, Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibr 13:5)

Ayat Alkitab tersebut mengingatkan agar manusia tidak terpaku pada pencarian materi. Maka dalam hal ini, nasihat supaya orang tidak mempercayakan rezekinya kepada orang lain, menurut saya memang benar. Manusia sepanjang hidupnya tetap harus percaya bahwa Tuhan yang Mahabaik itu tidak akan membiarkan umat yang setia kepadaNya hidup dalam kelaparan dan penderitaan. Pertanyaannya, seberapa besar iman kita untuk bisa tetap percaya bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhan hidup kita ketika situasi yang kita alami sepertinya bertolak belakang dengan hal itu?

Namun demikian, bagi orang-orang yang memberikan nasihat kepada orang lain untuk tetap bersabar dalam keadaan yang berkekurangan, Tuhan pun mengingatkan melalui firmanNya,

15Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!,” tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yak 2:15-17)

Di sini kita diingatkan bahwa memang mudah untuk memberikan nasihat, tetapi semua nasihat itu akan percuma saja jika kita tidak juga melakukan sesuatu yang dapat membantu meringankan penderitaan orang lain. Memberikan nasihat itu baik, tetapi kata-kata bijak tanpa tindakan nyata ibarat mobil mewah yang tidak pernah dinyalakan mesinnya, ia tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya sebuah mobil; ia tidak lebih dari sebuah pajangan. Jangan sampai kata-kata bijak kita pun tak ubahnya seperti mobil mewah itu; memang indah ketika dilihat, tetapi apa gunanya jika hanya bisa dilihat? Apa gunanya nasihat bijak jika tidak ada tindakan nyata dari diri kita untuk bisa membantu orang lain yang kita nasihati itu?

Demikian pula sebagai orang yang tengah berada dalam situasi sulit, kita diingatkan bahwa pencobaan apapun yang kita alami sesungguhnya akan membentuk kita menjadi semakin kuat dalam iman jika kita mampu menghadapi ujian itu dengan senantiasa percaya kepada Tuhan.

2Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yak 1:2-4)

 

Mengeluh, menyalahkan keadaan, menyalahkan atasan, atau bahkan mempertanyakan rencana Tuhan, tidak akan mengubah apapun kecuali suasana hati kita. Pada akhirnya, sukacita yang kita rasakan tergantung dari apa yang kita tanamkan dalam diri kita sendiri. Keputusan untuk tetap bergembira sekalipun keadaan yang kita alami sulit, atau mengutuk kesulitan yang kita hadapi dan hidup dalam kepahitan dan kemarahan, adalah sepenuhnya tergantung dari diri kita. Alih-alih mengeluh akan keadaan yang menurut kita tidak adil dan tidak memuaskan, tetap bersyukur atas apa yang masih boleh kita miliki dan mengusahakan hal lain yang dapat kita lakukan daripada berdiam diri dan menyesali hidup, adalah perbuatan yang jauh lebih bijaksana.

 

Untuk mengingatkan kita tentang bersyukur dalam keadaan sulit sekalipun, mungkin kita bisa belajar dari kisah Ayub, yang sekalipun menerima banyak pencobaan yang bertubi-tubi tetap masih bisa bersyukur dan memuliakan Tuhan. Dalam keadaan sulit yang penuh dengan tantangan itulah kita bisa menjadi teladan sebagai orang-orang yang berusaha untuk menjadi ‘manusia-manusia surgawi’ yang tidak serupa dengan dunia, yang tidak hanya mengejar materi tetapi lebih mengejar harta surgawi. Memang tidak mudah dan akan banyak orang yang mungkin berkata hal itu mustahil, namun justru dengan demikian kuasa Tuhan yang memampukan kita untuk berusaha hidup penuh syukur di tengah kesulitan, akan menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Oleh karena itu, apapun kondisi kita saat ini, marilah mengusahakan yang terbaik demi kebaikan semua orang. AMDG J

 

1Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. 2Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. 3Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. 4Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. 5Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. 6Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. 7Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” 8Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

9Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?

10Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.

11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” 12Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. 13Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, 14datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, 15datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” 16Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” 17Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” 18Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, 19maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” 20Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, 21katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” 22Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:1-22)

 

Ayb 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

 

 

Advertisements

One thought on “Menjadi Manusia ‘Surgawi’

  1. Pingback: Menjadi Manusia ‘Surgawi’ | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s