Pintu-pintu yang Tertutup

Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya? (Ams 20:24)

Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan ceramah Joel Osteen dalam salah satu rekaman video youtube dengan topik “Tuhan yang menutup Pintu”. Ceramah itu begitu menarik, karena Joel mengajak kita untuk tidak hanya bersyukur atas “pintu-pintu yang terbuka”, tetapi juga atas “pintu-pintu yang tertutup”.

Seringkali kita lebih berfokus pada permohonan-permohonan kita yang dikabulkan Tuhan dan malah cenderung menanggapi secara negatif ketika Tuhan tidak mengabulkan permohonan dan doa kita. Padahal justru seringkali ada maksud tersembunyi yang indah ketika Tuhan menunda atau tidak mengabulkan permohonan kita. Salah satu contoh yang diceritakan oleh Joel Osteen dalam ceramahnya adalah kisah seorang gadis yang sangat depresi ketika kekasihnya memutuskan hubungan mereka. Gadis itu datang setiap hari ke gereja dan berdoa, serta minta untuk didoakan agar dapat kembali menjalin hubungan dengan kekasihnya dulu. Selama berminggu-minggu ia berdoa, tetapi ternyata mantan kekasihnya itu malah menikahi gadis lain. Joel telah menasihati gadis ini dan bertanya kepadanya, apakah ia tidak mau membuka hati untuk pria lain, tetapi waktu itu gadis ini dengan tegas menjawab bahwa menurutnya, mantan kekasihnya itulah yang terbaik untuknya. Selang beberapa waktu, gadis ini pindah ke kota lain dan ketika suatu saat ia kembali dan bertemu dengan Joel, rupanya ia telah menikah dan memiliki seorang anak. Gadis ini berkata kepada Joel, “Joel, kamu ingat pria yang dulu aku minta didoakan untuk kembali bersamanya? Ternyata dia telah menikah dua kali dan bercerai..kehidupan rumah tangganya berantakan. Aku sangat bersyukur waktu itu Tuhan tidak mengabulkan doaku,”

Salah satu pengalaman saya sendiri tentang Tuhan yang “menutup pintu” ini adalah ketika saya tengah mencari pekerjaan seusai lulus kuliah. Waktu itu saya bersama teman-teman mengikuti jobfair di salah satu universitas dan kami mengajukan lamaran untuk lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan di Jakarta. Dari presentasinya sepertinya perusahaan tersebut cukup besar dan bonafit. Kami mengikuti tes awal di perusahaan tersebut yang dilaksanakan selama jobfair, dari tes interview dan psikotest. Hari berikutnya, peserta yang lolos psikotest akan diinterview lagi. Jika lolos interview kedua ini, maka tes yang tersisa hanya tes kesehatan. Waktu itu saya dan beberapa teman merasa cukup percaya diri dengan tes yang kami jalani. Namun, nyatanya tidak ada satu orang pun dari kami yang diundang untuk mengikuti tes kesehatan. Tentu saja awalnya kami agak kecewa, tetapi itulah yang terjadi. Akhirnya saya dan teman-teman saya pun memperoleh pekerjaan di tempat lain. Selang beberapa bulan kemudian, orang tua saya menunjukkan sebuah artikel di surat kabar. Dalam artikel itu, tertulis bahwa perusahaan dimana saya mengajukan lamaran dulu tersebut ternyata tersangkut masalah pajak. Saya cukup terkejut, lalu saya dan orang tua saya pun bersyukur karena dulu saya tidak diterima bekerja di perusahaan tersebut.

Seringkali Tuhan menutup pintu untuk melindungi kita, agar kita tidak terjebak dalam situasi yang pada akhirnya malah akan membuat kita menderita. Ada sebuah ayat yang sangat menarik yang mengingatkan kita tentang hal ini:

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Ams 14:12)

Kita sudah sering mendengar nasihat bahwa jalan dan rencana Tuhan lah yang terbaik bagi kita, tetapi kita sering kali mengabaikan nasihat itu dan lebih memilih untuk mempercayai naluri kita, pikiran kita, dan kehendak kita sendiri. Padahal Tuhan yang Mahabaik dan Maha Pengasih itu telah menutup pintu demi kebaikan kita, tetapi kita sendiri yang dengan pikiran kita sendiri, sering kali justru berusaha membuka pintu yang tertutup itu. Kita begitu yakin dengan pendapat kita untuk memilih suatu jalan, tanpa menghiraukan peringatan Tuhan yang berusaha menjauhkan kita dari jalan-jalan yang akan membawa penderitaan bagi kita.

Namun, begitu baiknya Tuhan itu, bahkan ketika kita masih juga bandel dan tetap berusaha masuk dalam pintu-pintuNya yang tertutup itu, Tuhan akan berusaha mengembalikan kita ke jalanNya. Tentu tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali Tuhan akan berusaha mengingatkan kita dan menghindarkan kita dari jalan itu, tetapi jika kita bersikeras untuk melawan kehendakNya, maka mungkin saja akhir hidup kita akan seperti akhir hidup Raja Saul yang dikisahkan dalam Alkitab Perjanjian Lama, dimana “Roh Tuhan meninggalkannya…”. Seperti yang pernah saya dengar dari sebuah renungan, karena Saul tidak menghiraukan peringatan-peringatan Tuhan yang disampaikanNya melalui Samuel, akhirnya “Roh Tuhan pun meninggalkannya…”

Marilan berdoa, memohon hikmat dari Tuhan, agar kita dapat mengenali jalanNya dan hidup dengan setia di jalanNya, seturut kehendakNya. Marilah bersyukur atas ‘pintu-pintu yang tertutup’ yang justru melindungi kita dari hal-hal yang akan membuat kita menderita. Marilah percaya dan berserah kepada Tuhan, serta mohon bimbinganNya agar kita dapat hidup sesuai dengan rencanaNya. AMDG J

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. (Yes 48:17)

 

Advertisements
Uncategorized

One thought on “Pintu-pintu yang Tertutup

  1. Pingback: Pintu-pintu yang Tertutup | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s